
✈....✈....✈....
...
Sudah lebih dari sepuluh jam Hiro duduk di dalam pesawat terbang yang mengantarkannya dari Belanda hingga ke Jepang. Guncangan saat pesawat hendak mendarat membuatnya terbangun dari tidur lelapnya.
Hiro bangun dan membuka jendela pesawat. Namun Hiro hanya melihat pantulan wajahnya yang masih sayu karena mengantuk pada jendela itu. "Ternyata masih gelap," Gumam Hiro.
Lantas Hiro mengecek jam tangannya dan melihat bahwa sekarang masih belum ada jam empat pagi waktu Jepang. Ketika Hiro melihat ponselnya ia bisa melihat bahwa hari juga sudah berganti dan sekarang sudah tanggal 16 Maret. Hiro menghela nafas panjang saat mengingat bahwa pada 18 Maret, dia dan pemain yang di panggil timnas harus mulai berkumpul dan mulai berlatih untuk menghadapi pertandingan persahabatan FIFA melawan Chile dan Honduras.
"Aku masih lelah..., " Batin Hiro sambil meregangkan kakinya.
...
...
Ketika pesawat sudah berhenti sempurna, Hiro pun turun menghirup udara segar yang sudah empat bulan ini tidak ia rasakan.
...
Ketika Hiro sedang menunggu barang-barang bawaannya diturunkan dari pesawat, Hiro mendapatkan telepon dari Ryota.
"Halo, Ryo..,"
"Halo Hiro.., kau sudah sampai di Tokyo ya?"
"Iya, Gimana bisa tau? aku aja belum ngasih tau..,"
"Ya tau lah, soalnya cuman pesawatmu yang datang dari Belanda pagi ini,"
"Oh begitu. Jadi Ryo? kenapa menelponku?"
Hiro bisa mendengar suara Ryota menghela nafas dari ponselnya. "Bukannya aku sudah memberitahu bahwa aku akan menjemputmu ketika sudah sampai di Tokyo?"
"Oh iya! aku lupa! hehe," Semua hal yang terjadi membuat Hiro lelah dan lupa.
"Ya sudah, aku tunggu di mobil. Nanti akan ada pembantuku yang akan menjemput di dekat pintu."
"Oh, oke,"
...
Hiro menutup teleponnya tepat ketika barang-barang miliknya sudah diturunkan dari pesawat. Hiro pun mengambil dan menata barang-barangnya. Hiro pun berjalan menuju pintu keluar.
Benar saja, di pintu keluar sudah ada seorang pria yang memegang papan bertuliskan nama 'MIYOKO, TAKEHIRO'. Langsung saja Hiro menghampiri orang itu dan mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang dia tunggu sambil memperlihatkan kartu tanda pengenalannya kepada orang itu.
Setelah mengangguk, orang itu pun mengantarkan Hiro menuju sebuah mobil yang familiar. Hiro di sambut oleh Ryota yang menyapanya dari dalam mobil.
"Halo Hiro!" Panggil Ryota.
Hiro menghampiri mobil itu melambaikan tangannya kepada Ryota.
Hiro pun meletakkan barang-barangnya di bagasi mobil. Setelah itu ia langsung masuk ke mobil dan duduk bersama Ryota di kursi barisan kedua.
...
05.13 pagi waktu Tokyo.
Hiro sudah berada dalam perjalanan menuju Kota Sapporo bersama Ryota. Di dalam mobil, Hiro tidak melakukan hal lain selain berbincang dengan Ryota. Hiro bertanya, Ryota menjawab. Ryota bertanya, Hiro menjawab.
Ryota bertanya kepada Hiro tentang bagaimana suasana di Belanda, apakah nyaman, serta hal apa yang menjadi tantangan untuk menjadi pesepakbola di Eropa?
"Wah, di sana sih nyaman banget, Ryo! penduduknya baik-baik. Kalo di minta tolong gak pake alasan," Ungkap Hiro. "Terus.., pas aku main bola di Liga mereka, sebenarnya tidak ada tantangan khusus sih. Hanya saja, kau harus bekerja keras agar pelatih menghargai usahamu."
Ryota pun mengangguk pelan seperti mengiyakan semua penjelasan dari Hiro. Sekarang giliran Hiro yang bertanya kepada Ryota. "Kalo kamu gimana nih? masih lanjut di dunia sepakbola kan?"
Ryota menghela nafas. "Iya masih. Hanya saja progresku sangat lambat."
"Lambat bagaimana?"
"Iya.. lambat. Bahkan setelah aku meninggalkan Akihabara FC empat bulan lalu, kini aku hanya bermain untuk klub Liga 3 Jepang. Orang tuaku saat ini masih sibuk dengan perusahaan mereka, dan masih jarang memperhatikanku."
Hiro pun menepuk bahu kawannya dan hanya bisa memberikan semangat. "Hhhh..., Oke-oke. Walaupun gitu, kamu harus tetap semangat! Inget, banyak orang di luar sana yang nasibnya gak seberuntung kamu!"
Ryota hanya bisa tersenyum.
...
...
🚗...🚗...🚗...
Beberapa jam berlalu. Hiro dan Ryota telah sampai di Sapporo, Kota kelahiran mereka sekaligus menjadi rumah bagi Hiro.
Hiro turun dari mobil Ryota ketika sampai di dekat rumahnya. Hiro berterima kasih kepada Ryota karena telah menjemputnya sepagi ini.
"Hehe, tidak masalah, kau kan kawanku," Ryota tersenyum. "Besok saat pertandingan melawan Chile dan Honduras, aku akan datang ke stadion! hehehe."
Dengan begitu, Hiro menutup pintu mobil Ryota dan menatap mobil Ryota pergi meninggalkannya. Kini tatapan Hiro berpaling ke samping melihat potret rumahnya yang telah pudar termakan usia.
...
Hiro mengetuk pintu rumahnya dan memanggil Ayahnya. "Ayah..., aku pulang..,"
Hiro pun hanya bisa duduk di depan rumah menunggu sang Ayah membukakan pintu untuknya.
...
...
08.33
Akhirnya pintu terbuka setelah Hiro mendengar langkah kaki yang di seret dari dalam rumah.
ckleek...
Hiro sudah berdiri ketika Ayahnya membuka pintu. Hiro tersenyum dan memberikan pelukan hangat kepada sang Ayah.
"Hehe, Ayah lupa jika hari ini kau datang." Ujar sang Ayah sambil menggaruk bagian belakang kepalanya. "Kapan kamu dateng?" Tanya Ayah.
"Oh, barusan kok," Jawab Hiro.
"Syukurlah, ayo masuk dulu,"
...
...
Hiro pun menghabiskan sisa waktu pada hari ini di rumah bersama Ayahnya yang sudah mulai terlihat semakin lemah daripada empat bulan yang lalu sebelum Hiro berangkat ke Belanda. Hiro mengerjakan semua tugas rumah hingga Ayahnya senang, hingga minum teh hijau di teras rumah pada sore hari sambil berbicara santai.
...
Ayah Hiro bangga dengan putranya yang sekarang menjadi bagian dari timnas senior Jepang, walaupun belum tentu Hiro akan menjadi bagian penting dari tim.
...
...
Keesokan harinya, Hiro ingin membalas semua kebaikan yang telah diberikan oleh orang tuanya ini. Dia membawa pergi Ayahnya menuju akuarium dalam ruangan terbesar di Jepang. Mereka melihat segala jenis ikan yang menakjubkan. Ayah Hiro sangat senang.
Kemudian pada malam hari, Hiro dan Ayahnya berada di restoran daging bintang lima dan membeli menu terbaik untuk mereka berdua.
...
"Ayah.., Ayah masih ingat tidak ketika dulu aku pernah bilang suatu saat akan mengajak makan-makanan yang enak bersama Ayah?" Hiro tersenyum, mencoba untuk membuat Ayahnya ingat janjinya dulu.
"Sekarang aku udah tepatin janji itu,"
"Terimakasih ya, nak. Hari ini Ayah benar-benar bahagia. Sudah lama tidak jalan-jalan ke tempat yang mewah seperti ini." Mata Ayah berkaca-kaca.
...
...
Dua hari sudah berlalu di Sapporo.
...
Sekarang tanggal 18 Maret, dan Hiro harus segera menuju Tokyo untuk berlatih bersama timnas. Hiro begitu semangat sekaligus tegang.
Sebelum pergi pagi ini, Hiro memberikan pelukannya kepada sang Ayah, dan berpesan untuk selalu menjaga kesehatan.
"Hiro berangkat dulu ya. Kalo Ayah sakit lagi tinggal telepon nomor yang sudah kuberi ya..,"
"Iya-iya, Ayah tau,"
...
...
Hiro pun berangkat ke menggunakan taksi menuju stasiun kereta cepat. Hiro sampai di stasiun dalam satu jam, dan naik kereta cepat ke Tokyo kurang dari satu jam.
...
Saat ini pukul 10.50. Hiro sudah tiba lebih awal dari jadwal yang telah ditentukan oleh Hajime, pelatih Jepang, yaitu pukul 12.30.
Sebelum tengah hari, Hiro sudah berada di lapangan tempat di mana pemusatan latihan diadakan. Saat ini baru Hiro sendiri yang terlihat di lapangan. Belum ada kabar dari yang lain. Namun sudah ada beberapa tool man yang terlihat membawa alat-alat latihan, jaring gawang, serta jersey latihan para pemain.
Hiro pun meletakkan tasnya di pinggir lapangan. mengganti pakaiannya dengan jersey latihan.
Hiro memulai pemanasan mandiri dan berlari keliling lapangan beberapa kali. Selang beberapa lama, Hiro melihat satu-persatu dari pemain timnas telah datang ke lapangan untuk bergabung pemanasan dengannya. Namun belum ada tanda-tanda kehadiran sang pelatih, Hajime.
Sudah pukul 12.12 saat Hiro mengecek jam di ponselnya. Sat ini ia sedang menepi untuk istirahat sebentar. Hiro melihat sebuah notifikasi dari ponselnya bahwa dirinya sudah dimasukkan ke dalam sebuah grup percakapan para pemain dan ofisial timnas Jepang, dan mendapatkan info langsung dari Hajime bahwa dia akan datang sebentar lagi.
...
Hiro pun memasukkan ponsel ke dalam tasnya dan bersiap untuk kembali ke lapangan. Namun saat hendak berdiri, Hiro mendengar suara seseorang yang memanggilnya dari lapangan.
...
"Wahh, sekarang kau sudah kembali ya, Hiro? Bahkan sampai dapat panggilan timnas? Hebat!"
Hiro menoleh ke asal suara, tetapi Hiro tidak bisa menjawab apapun ketika tahu siapa orang yang memanggilnya.
Orang itu pun melanjutkan perkataannya, "Bagaimana kabarmu sejak keluar dari Akademi, Hiro?? Lama tidak berjumpa!"