The Dreamer

The Dreamer
Ingin jadi satu-satunya



..iwao to narite..


ko.. ke.. no..


musu.. made...


...


Lagu Kimigayo menggema di Stadion utama. Inilah kali pertama Hiro menyanyikan lagu kebangsaannya di tengah lapangan sebagai pemain. Kemarin ketika menang melawan Chile, Hiro hanya menjadi penghangat bangku cadangan.


Hari ini, malam ini, tepatnya di Tokyo, tempat berlangsungnya pertandingan persahabatan antara Jepang melawan Honduras. Perbedaan rangking yang cukup jauh membuat Jepang optimis bisa mengatasi perlawanan Honduras.


...


duk duk.. duk duk..


...


Detak jantung yang cepat dirasakan oleh Hiro ketika wasit tengah bersiap untuk meniup peluit untuk memulai pertandingan ini. Hiro dan 60.000 orang lainnya menunggu pertandingan ini.


"Aku harus memanfaatkan setiap kesempatan yang diberikan!" Batin Hiro.


...


PRIIITT!


Pertandingan pun di mulai. Hiro bermain pada posisi gelandang serang di belakang penyerang dalam formasi 4-2-3-1. Perannya begitu vital menjaga keseimbangan antara sisi serang dan lini tengah tim.


Berkali-kali peluang di dapat oleh Jepang, namun itu belum cukup untuk menembus pertahanan Honduras yang berlapis. Para suporter pun masih berharap penampilan apik dari pasukan Jepang. Ryota yang hadir di Stadion juga terus memberikan dukungan dan berharap yang terbaik. Sementara itu, jauh di tanah Eropa, Saki juga sedang menonton pertandingan ini dari televisi di rumahnya.


Terlihat di tepi lapangan, Yamamoto belum puas dengan performa anak asuhnya di lapangan. Dia terus memberikan instruksi kepada para pemainnya khususnya Hiro. Yamamoto berkata, "Ayolah Hiro..! Jangan sampai aku menyesal karena lebih memilihmu untuk pertandingan ini daripada Daichi!"


...


Sungguh ucapan yang begitu menusuk. Rasa khawatir Hiro akan bayang-bayang Daichi terus menghantuinya. Babak pertama belum usai, namun Hiro sudah tidak yakin apakah dirinya masih akan bermain pada babak ke dua.


...


Half time


...


Pada jeda babak, skor masih 0-0. Yamamoto ingin merombak formasi dengan memasukkan nama-nama pemain berpengalaman pada babak ke dua nanti.


Sebelum pertandingan kembali di mulai, Yamamoto secara khusus berbicara kepada Hiro. "Aku masih ingin melihatmu bermain," Kata Yamamoto singkat.


Hiro hanya mengangguk pelan. Dia sangat ingin menjawab kepercayaan yang diberikan pelatih kepadanya.


...


PRIITT!!


Babak kedua di mulai. Empat pergantian pemain dilakukan Jepang, diantaranya dengan memasukkan pemain beken seperti Daichi.


Ya, Hiro dan Daichi bermain bersama. Tentu bukan ini keadaan yang diinginkan Hiro. Seharusnya hanya Hiro satu-satunya gelandang kreatif pada pertandingan ini. Bagaimana jadinya jika ada dua gelandang dengan tipikal yang sama bermain sekaligus?


...


Jawabannya pasti hanya satu, salah satu dari mereka harus mengalah supaya peran di lini tengah tidak bertabrakan. Salah satu pemain harus menurunkan ego mereka.


...


...


GOLL!


...


Penonton bersorak-sorai. Daichi secara mengejutkan mencetak gol jarak jauh untuk menembus tembok Honduras pada menit 54. Inilah tendangan keras yang pada babak pertama tidak ada pemain Jepang yang berani melakukannya. 1-0 Jepang memimpin.


...


Hiro semakin ter determinasi untuk juga segera mencetak gol. Namun sayangnya, pusat serangan terus datang dari kaki Daichi. Hiro jarang mendapatkan peluang. Hal ini semakin menegaskan betapa royalnya Daichi bagi tim.


Puncaknya, pada menit 75, Hiro di tarik keluar oleh pelatih. Yamamoto merasa jika Hiro sudah cukup lama diberikan kesempatan.


Saat pergantian pemain di pinggir lapangan, Hiro membungkukkan badannya sebagai permintaan maaf kepada suporter karena dirinya masih belum bisa menciptakan debut yang indah bersama timnas. Ketika sedang menuju bangku cadangan, Hiro mendapatkan tepukan pada pundaknya dari sang pelatih. "Kau harus lebih banyak berlatih, " Kata Yamamoto saat menepuk pundak Hiro.


Hiro pun mengangguk dan meminta maaf kepada Yamamoto. Hiro juga merasa malu kepada Ryota karena dia tahu Ryota sedang melihat di Stadion.


Di rumahnya Belanda, Saki langsung mematikan televisi begitu melihat bahwa Hiro di tarik keluar. Bagi Saki, kehadiran kekasihnya di lapangan merupakan alasan mengapa dirinya melihat pertandingan ini. Jika sudah tidak ada Hiro, maka Saki sudah tidak memiliki alasan untuk melihat pertandingan ini.


...


Jelang bubaran laga, Jepang justru berhasil menggandakan keunggulan menjadi 2-0 atas Honduras lewat gol penalti penyerang senior, Kagawa.


...


Pertandingan telah usai. Tepuk tangan penonton menghiasi kemenangan sempurna Jepang. Di pertandingan ini Jepang mendominasi dengan 75% penguasaan bola, 16 tendangan, 6 diantaranya mengarah ke gawang, 2 menjadi gol.


Hampir semua pemain Jepang pada malam ini pasti akan tidur dengan nyenyak, kecuali Hiro. Dia masih memikirkan performanya yang tergolong buruk pada pertandingan tadi. Hiro sama sekali tidak melepaskan satu tembakan ke gawang.


...


✨✨🌙


...


Pukul 01.27. Hiro masih bangun. Besok lusa Yamamoto akan membubarkan tim dan seluruh pemain akan kembali ke klub mereka masing-masing.


...


Keesokan paginya, Hiro sedang membereskan barang-barang di kamar asramanya. Dia bersiap untuk berangkat kembali menuju ke Belanda dari Tokyo malam ini.


Ketika sedang beres-beres, seseorang mengetuk pintu kamarnya. Tok.. tok.. tok..


"Masuk saja," Sahut Hiro.


Pintu pun terbuka. Seseorang terlihat tersenyum dari balik pintu itu. "Selamat pagi Hiro."


Hiro tidak menjawab sapaannya. Dia hanya sibuk dengan barang-barangnya.


"Ayolah Hiro, jangan seperti itu. Akui saja aku lebih baik darimu...,"


Hiro masih diam seribu bahasa. Namun sebenarnya Hiro sama sekali tidak menginginkan suasana seperti ini di dalam timnas. Hiro hanya ingin terus menjadi bagian penting bagi timnas untuk masa yang mendatang.


"Tapi kenapa? kenapa aku tidak bisa menyingkirkan orang ini dari pikiranku??!!" Kesal Hiro di dalam Hati.


Karena merasa tidak dipedulikan oleh Hiro, beberapa menit kemudian Daichi pun meninggalkan Hiro sendiri di kamarnya. Sebelum pergi, Daichi berkata, "Oh iya, Ngomong-ngomong soal pertandingan kemarin, sepertinya banyak suporter yang tidak puas dengan cara mainmu."


Walaupun Hiro mengabaikan Daichi, namun dia sepenuhnya mendengarkan.


Hiro pun mencoba membuka ponselnya untuk melihat media sosial federasi sepak bola Jepang. Pada postingan yang memperlihatkan Highlight pertandingan melawan Honduras semalam, banyak orang yang berkomentar buruk terhadap Hiro.


...


"Siapa itu Takehiro? mengapa dia di panggil timnas?"


"Sepertinya pemain Liga 3 Jepang dapat bermain lebih baik darinya(Hiro)"


"75 menit main 0 Tendangan, Hahaha."


"Semoga Yamamoto tidak memanggilnya lagi untuk Piala Asia nanti."


...


Setelah membaca komentar-komentar itu, Hiro berpikir, "Andai akulah satu-satunya," Gumam Hiro. "Walaupun bukan sekarang, namun suatu saat nanti. Aku ingin semua ujaran ini menjadi sanjungan."


...


...


Dan setelah beres-beres pagi ini usai, Hiro pergi ke Sapporo untuk berpamitan dengan Ayahnya serta Ryota sebelum dia kembali ke Tokyo untuk terbang ke Belanda.


"Jangan putus asa nak!"


...


"Halah, kau ini semalam sedang tidak beruntung saja, hehe. Aku tahu kau bisa lebih dari itu!"


...


Saran serta semangat yang ia dapat dari orang-orang terdekat di hidupnya itu setidaknya berhasil memberikan sedikit rasa lega dan nyaman.


...


...


Belanda, 5 April dini hari.


...


Hiro sudah kembali tiba di Belanda. Dia mendapatkan pesan singkat dari Saki, untuk segera pulang dan istirahat. Selain pesan dari Saki, Hiro juga mendapatkan pesan dari pelatih serta Sahabatnya dari Heerenveen, Eduardo dan Matthew. Mereka masing-masing memberikan selamat serta semangat kepada Hiro. Beberapa teman Hiro di Belanda juga memberikannya semangat.


Hiro menutup ponselnya dan menarik kopernya keluar dari Bandara. Raut muka datar serta dingin terpampang nyata di tengah musim semi yang hangat.


Walaupun sudah banyak orang yang menunjukkan kepedulian terhadap Hiro, tetap saja rasa simpati itu masih tertutupi oleh kekecewaan Hiro akan diri sendiri. Hiro merasakan ada hal yang terasa sia-sia. Segiat apapun dia berlatih, tetap saja tidak bisa mengalahkan seseorang Daichi.


Sepertinya Hiro lupa, jika tidak ada sesuatu yang sia-sia di dunia ini. Dan impiannya, bukanlah impian yang sia-sia.