The Dreamer

The Dreamer
Kerja keras



“Fyuuh..,”


Hiro menghela napas ketika dia sudah selesai melakukan lari mengelilingi lapangan 20 kali seperti apa yang selalu dilakukannya setiap kali dia berlatih bersama Takashi.


“Baiklah.., istirahat lima menit!”


“Terimakasih pelatih!”



Setelah beberapa kali berlatih bersama Takashi, Hiro mulai menemukan sentuhan terbaiknya lagi. Dia sudah mulai pandai menggiring bola lagi. Tembakannya selalu tepat mengarah ke sudut gawang yang sulit di jangkau kiper.


Kecepatannya juga sudah meningkat seiring waktu. Kelincahannya juga tidak buruk untuk seorang penyerang. Tampaknya tidak lama lagi, Hiro akan segera menjadi penyerang yang hebat seperti dulu lagi.


“Ayo lagi-lagi! jangan lelah sebelum langit gelap!” Teriakan Takashi terus membakar semangat Hiro ketika berlatih.


Diam-diam, Ayah Hiro selalu memperhatikan ketika Hiro latihan di lapangan kosong bersama Takashi. Lapangan tempat Hiro berlatih itu begitu dekat dengan proyek pembangunan tempat Ayahnya bekerja. Tidak ada salahnya sang Ayah selalu memberikan dukungan kan harapan yang terbaik untuk putranya. Dia selalu berharap yang terbaik untuknya.


“Jadilah yang terbaik nak, Ayah akan selalu mendukungmu dari sini,”



Namun semua itu butuh proses.



3…


..tahun..


..kemudian.



Musim panas, musim dingin, musim gugur, musim semi, telah dilalui Hiro selama 3 tahun semenjak dia kembali berlatih bermain sepakbola secara khusus bersama dengan Takashi.



Takashi adalah satu-satunya pelatih yang percaya dengan kemampuan Hiro waktu pertama kali dia datang ke akademi 8 tahun lalu. Waktu itu semua orang meremehkannya. Namun lihatlah sekarang, seorang remaja 20 tahun setinggi 178 cm. Tubuh kurusnya kini juga telah menjadi tubuh yang atletis.


Kini Hiro dan Ryota sudah berada di universitas untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Berkat beasiswa yang ia dapat semasa SMA, Hiro bisa kembali menempuh pendidikan. Mereka bersama-sama lagi di Universitas Sapporo.


Di Universitas ini, Hiro bergabung dengan klub sepakbola Universitas. Hiro dan Ryota sama-sama menjadi andalan di klub Universitas dan selalu mengikuti berbagai macam perlombaan hingga mendapatkan banyak penghargaan.


Hiro mulai merasa jika keputusannya yang dia anggap sebagai kesalahan, kini malah menjadi sebuah jalan bagi mimpi lama Hiro. Jika bukan karena beasiswa, Hiro tidak mungkin bisa melanjutkan hingga universitas, dan Hiro juga tidak akan pernah merasakan piala-piala dan gelar bersama timnya di universitas.


Tetapi karena Hiro itu bisa di bilang anak kurang mampu di kampusnya, dia sering mendapatkan perlakuan kurang baik dari teman-temannya. Ryota saja sampai tidak mampu membelanya.


...


"Hahaha! anak miskin sok-sokan menjadi pahlawan kampus! haha!"


...


Banyak teman-teman di kampusnya yang tidak suka dengan Hiro karena menurut mereka, Hiro sangat menonjol dan menarik semua perhatian yang ada.


Orang-orang yang sering menghina Hiro berkata jika Hiro terlalu di lebih-lebihkan. Hiro merupakan mahasiswa baru yang sudah membuat eksistensi senior-seniornya tertutupi oleh sinar Hiro.


Mulai dari hal itu, Hiro mulai mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari teman-temannya di kampus. Seringkali, bekal makanannya hilang entah kemana. Dia juga sering di kunci dari luar oleh orang tidak dikenal ketika sedang berada di kamar mandi. Dan masih banyak hal tidak patut lainnya.


Seringkali Hiro mampu menutup mulut orang-orang yang membencinya dengan cara mempersemahkan prestasi kepada Universitas. Namun semua prestasi itu seakan tidak pernah cukup untuk orang yang selalu mencari kesalahan dari Hiro.


Hiro juga tidak mengerti kenapa teman-temannya tidak menyukainya. Hanya Ryota yang bersikap baik terhadap Hiro selama ini.



Sore hari, ketika Hiro dan Ryota sedang berlatih sepakbola di lapangan kampus bersama rekan-rekannya. Mereka berdua meratapi nasibnya.


“Kau sabar saja ya Hiro, badai pasti akan berlalu,” Ucap Ryota menenangkan Hiro.


“Iya, hanya saja..aku tidak mengerti kenapa mereka membenciku,”


“Sepertinya itu karena mereka tidak bisa menjadi seperti dirimu,”


“Benarkah?” Sahut Hiro.


“Iya. Bukankah kau juga melakukan hal yang sama kepada Daichi?”


“Haha, Benar juga ya,”


Mulai hari itu, Hiro menjadi lebih percaya diri setiap kali dia dibenci. Itu artinya, orang lain ingin menjadi sepertinya.


Hiro tidak bisa merubah kenyataan bahwa dirinya dibenci, namun dia masih bisa merubah kebencian itu menjadi kekuatan untuknya.



Suatu hari, Hiro pernah bercerita kepada Ayahnya tentang perilaku yang didapatkannya ketika di Universitas. Kini Ayahnya sudah tidak menjadi kuli bangunan lagi. Usianya yang semakin tua membuat bos Ayahnya terpaksa memutus kontraknya. Sekarang Ayah Hiro hanya bekerja sebagai kurir paruh waktu. Oleh karena itu, Hiro menjadi bisa bertemu dengan Ayahnya lebih lama pada setiap harinya.


“Ayah.., apakah Ayah pernah di bully ketika sekolah?” Tanya Hiro ketika dia pulang dari asramanya malam itu.


“Hmm? Tentu saja Ayah pernah,” Jawab Ayah Hiro sambil menyeruput kopi di depan rumah.


“Habis itu? Apa yang Ayah lakukan?”


Ayah Hiro meletakkan cangkirnya dan menjawab, “Ayah hanya diam nak dan juga tidak melawan,”


“Oh begitu--,”


“Tapi.., Ayah sadar jika sikap Ayah waktu itu benar-benar salah,” Nampaknya Ayah Hiro masih belum menyelesaikan ucapannya. “Ayah pikir, seharusnya pada saat itu, Ayah seharusnya melawan mereka dengan mengatakan jika perbuatan mereka telah menyakiti hati Ayah. Namun ayah tidak melakukan itu, hingga akhirnya Ayah harus menahan rasa sakit selama sisa masa sekolah,”


“…” Hiro tidak bisa berkata apapun. Hiro hanya menepuk punggung Ayahnya , menandakan dia juga merasakan apa yang Ayahnya rasa.


Hari semakin larut, Hiro memutuskan untuk kembali ke asrama. “Baiklah Yah, Hiro mau kembali lagi ke asrama,”


“Kau yakin tidak mau menginap di rumah saja?”


“Tidak Yah, Hiro mau kembali ke asrama, setelah ini ada acara. Jika terlambat, nanti aku akan ketinggalan bus.” Ucap Hiro. “Sepertinya minggu depan aku akan mampir kembali ke sini,”


Ayahnya tersenyum. “Baiklah kalau begitu, sampai jumpa lagi.”


Ayah Hiro sangat senang, walaupun sekarang sudah tidak lagi bisa melihat putranya di rumah setiap saat. Ayah Hiro paham dengan keadaan yang ada. Sejak kecil, Hiro hanya ingin membuat keluarga kecil ini hidup lebih baik.



Ketika di dalam bus menuju asramanya, Hiro kembali meyakinkan dirinya sendiri agar kuat dalam menghadapi setiap cobaan dalam dirinya. Jika bukan dirinya sendiri, siapa yang bisa menolongnya ketika sedang berada di dalam lubang terdalam?


Walaupun ada teman dan orang yang menyukai Hiro, namun yang tidak menyukai jauh lebih banyak. Hiro harus siap dengan semua itu. Karena hati seorang bintang, tidak boleh kalah dan terjerembab ke dalam lubang hitam di angkasa. Dia harus mempertahankan dirinya sendiri bagaimanapun caranya.