
Ketika anak-anak lain sedang bermain saat liburan musim panas datang, Hiro hanya bisa melihat mereka dari dalam rumah.
Sore itu, Hiro memutuskan untuk membuat beberapa botol minuman segar untuk jualannya besok. Tidak ada seseorang yang membantunya. Dia hanya sendirian.
Dalam remang-remang cahaya lampu yang menerangi seluruh rumah, Hiro akhirnya bisa selesai mengemasi 10 botol minuman. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Perutnya sudah keroncongan sejak tadi, namun dia hanya bisa menahan lapar sampai Ayahnya pulang nanti.
"Huuhh.., akhirnya selesai.., semoga besok laris!" Ucap Hiro.
Hiro lantas membersihkan sisa-sisa bahan dan alat pembuatan botol minuman. Dia juga mencuci bajunya yang basah keringat karena seharian ini sudah menemaninya kesana-kemari.
...
Kicauan burung menemani hati Hiro yang sedang bergejolak dengan semangat perubahan. Sepatu bola yang diletakkan di sudut kamarnya selalu ia perhatikan. Sepatu bola pemberian Ryota itu menjadi sebuah motivasi besar baginya untuk terus melanjutkan cita-citanya menjadi pemain sepakbola terhebat.
...
Hiro menatap kosong ke depan di saat dia sedang duduk di depan rumah, menunggu Ayahnya pulang.
Sebelum pukul enam petang, Ayahnya sudah kembali kembali dari tempat kerjanya. "Ayah pulang!" Ucap Ayah Hiro.
"Selamat datang Yah!"
Ayah Hiro kemudian meletakkan topi dan seragamnya di gantungan baju. Wajah dan tangannya dipenuhi debu proyek pembangunan. Bibirnya kering seperti belum minum sejak tadi.
"Ayah mau minum atau mandi dulu?"
"Ahh, Ayah mandi dulu saja, sudah gerah," Jawab Ayah dengan senyumannya.
"Baiklah,"
Dan seperti malam-malam sebelumnya, Hiro dan Ayahnya selalu makan malam bersama menggunakan sisa makan siang Ayahnya.
"Maaf ya nak, Ayah belum bisa memberimu makanan yang enak,"
"Tidak apa-apa Yah, Kari ayam ini selalu menjadi favoritku! hehe," Ucap Hiro yang masih mengunyah makanannya.
Ayah Hiro terlihat senang walaupun sebenarnya hatinya sangat sengsara melihat putranya hidup serba kekurangan seperti ini. "Semoga kelak di masa depan, kau bisa hidup tanpa kesusahan seperti ini ya nak..,"
"Ayah..," Hiro menatap wajah Ayahnya yang masih penuh tanah dan debu. "Iya Yah! akan kuubah nasib keluarga kita! haha!"
Ayah Hiro mengacak-acak rambut anaknya, "Kau memang anak yang baik..,"
Lantas merekapun melanjutkan makan hingga selesai.
Setelah selesai, Hiro dan Ayahnya sudah bersiap untuk tidur setelah lelah dengan kegiatan masing-masing seharian ini. Mereka tidur di kamar yang sama, hanya di pisah sebuah tirai.
"Selamat malam!"
Walaupun waktu masih menunjukkan pukul delapan malam, namun mereka berdua sudah terlalu lelah. Mereka juga harus selalu bangun pagi untuk menyiapkan hari sibuk mereka lebih awal.
Ayahnya sudah terlalu lelah dan hanya memikirkan tidur secepatnya. Setelah mandi, Hiro memutuskan untuk memberitahu tentang usaha jualannya kepada Ayahnya besok saja.
...
...
Fajar telah tiba, Hiro dan Ayahnya juga sudah bangun. Mereka mandi dan kemudian sarapan.
Saat sarapan, Hiro pun memberitahu kepada Ayahnya dengan bangga bahwa dia saat ini sedang mencoba berjualan sendiri.
Hiro menunjukkan keranjang berisi botol-botol minuman kepada ayahnya. "Liat Yah! aku sekarang berjualan minuman ini!" Ucap Hiro di sela-sela sarapan.
"Hiro?!" Ayah Hiro terlihat terkejut, "B--Bagaimana..? dari mana kau mendapatkannya?"
"Hehehe.., aku menggunakan uang tabunganku untuk membeli bahan-bahannya sendiri..,"
"U--Uang tabunganmu..?" Ayah Hiro kehabisan kata-kata.
"Hehe..Iya, bagaimana menurut Ayah?"
"Eee.., untuk apa kau melakukan ini?" Jari-jari tangan Ayah Hiro bergetar.
"Hmmm..., aku ingin menghasilkan uang tambahan Ayah! Aku ingin mendaftar ke sekolah sepakbola bersama dengan Ryota!"
"Ughh!" Ayah Hiro terkejut hingga sedikit tersedak. Dia tidak menyangka anaknya mau berusaha sendiri demi impiannya.
Entah kenapa, air mata mulai mengalir di pipi Ayah. "Hiro..," Desis Ayah Hiro. "Kau tidak perlu melakukan ini...,"
"Huh? kenapa Ayah?" Hiro menunjukkan wajah datarnya.
"Kau masih kecil..., belum layak untuk menanggung beban separuh keluarga seperti ini..," Tangisan Ayah Hiro mulai terlihat jelas. "Kalau kau ingin uang untuk mendaftar ke sekolah sepakbola, cukup beritahu Ayah! Ayah pasti akan bekerja lebih keras lagi..,"
"Ayah..," Ucap Hiro dengan lirih ketika dia mulai mengerti perasaan Ayahnya.
Hiro pun turun dari kursi, dan berjalan memutari meja menuju kursi Ayahnya yang tertunduk dengan air mata membasahi celana jeans-nya.
"Ayah sudah bekerja keras. Ayah sudah berjuang sendirian selama ini. Sekarang aku akan membantu Ayah, tapi kenapa Ayah malah menolak?"
Ayah Hiro tidak bisa berkata apapun. Bayangkan, anak 12 tahun seperti Hiro, sudah mengerti dengan keadaan yang dialaminya. Dia sudah sadar bahwa Ayahnya selalu berusaha sendiri. Dia tidak mau terus menunggu, dia ingin melaju.
"Nak.., Ayah hanya ingin mengatakan jika aku sangat bangga kepadamu..," Tangan Ayah Hiro merangkul pundak putranya. "Ayah beruntung memiliki anak setangguh dirimu nak..,"
"Terimakasih Yah..,"
"Ayah yakin Hiro! Ayah yakin bahwa kelak kau akan menjadi pemain terhebat! terus perjuangkan mimpimu!"
"Iya Ayah.., jika aku sudah berhasil nanti, aku akan membelikanmu makanan yang enak!"
"Hehehe, lebih enak dari Kari yang kita makan ini kan?" Ayah Hiro masih sempat bercanda.
"Ihihi.., pasti lebih enak dari Kari!"
"Hahaha!"
...
"Baiklah, Ayah akan segera berangkat. Sampai nanti petang!" Dengan sudah memakai seragam dan topi proyek, Ayah Hiro pun berangkat ke tempat kerja.
"Hati-hati Ayah!"
Hiro pun juga harus segera menuju toko untuk menitipkan dagangannya di sana.
...
Hiro sudah tiba di toko, dan mencari pemilik toko. "Permisi! Bibi!"
Celingukan kesana-kemari, akhirnya Bibi pemilik toko datang dari dalam. "Loh? kamu anak kecil kemarin sore kan? ada apa datang kemari sepagi ini?"
"Ini Bi.., aku mau menitipkan minuman ini di toko Bibi!" Hiro menunjukkan keranjang penuh minuman.
"Eh?" Pemilik toko terkejut. Dia tidak menyangka kalau Hiro bersungguh-sungguh untuk menitipkan dagangannya.
"Aku jual 75..eh bukan! 80 Yen ya Bi!" Ucap Hiro.
"I--Iya," Bibi pemilik toko hanya bisa menerima barang-barang Hiro.
"Ya sudah.., aku pulang dulu ya Bi! aku akan kembali nanti malam!" Hiro melambaikan tangannya dan pergi melewati pintu toko.
Namun sebelum itu, "Hey nak! siapa namamu?!" Teriak Bibi.
"Namaku?" Hiro menoleh usai dipanggil. "Namaku adalah Hiro!"
"Oh.., Hiro ya..," Gumam Bibi.
"Ya sudah ya..! aku pergi dulu!" Akhirnya Hiro benar-benar pergi.
...
Hari berikutnya, Hiro melakukan hal yang sama. Terus..Terus melakukan hal yang sama, yaitu berjualan minuman.
Hingga saat tiba malam liburan musim panas terakhir, Hiro datang ke toko Bibi untuk mengambil uang hasil penjualan.
"Halo Bi!" Sapa Hiro.
"Oh..Hiro! kau datang mau mengambil uangnya?" Si Bibi tersenyum melihat Hiro datang.
"Iya Bi!"
Sudah sebulan Hiro terus datang ke toko Bibi ini hanya untuk mengantar dan mengambil dagangan. Pastinya mereka berdua juga semakin akrab.
"Ini ya Hiro.., hasil daganganmu hari ini, seperti biasanya habis terjual!" Bibi memberikan uang hasil penjualan kepada Hiro.
"Terimakasih Bi!"
"Sama-sama!"
Hiro kemudian pulang ke rumah malam itu dengan berhasil mengantongi 200 Yen. Hiro terus berjalan dengan senyum yang terpancar dari wajahnya.
Di tengah jalan, Hiro bertemu dengan Ryota. "Oh hei Ryo!"
"Hiro? Habis darimana saja? kenapa senyum-senyum sendiri?" Tanya Ryota, namun Ryota sudah tahu jawabannya. "Ohh.., pasti kau habis dari toko Bibi untuk mengambil uang hasil penjualanmu kan?"
"Hehe, iya..," Hiro menggaruk-garuk kepalanya.
Sama seperti Ayahnya, Hiro juga sudah memberitahu kepada Ryota tentang usaha jualannya, dan Ryota sangat mendukung Hiro.
"Bagaimana? apakah jualanmu sukses?"
"Bulan ini, aku sudah mendapatkan keuntungan kotor sebesar 6.000 Yen(Rp. 700.000), tapi setengah sudah kugunakan untuk membeli bahan-bahan dan alat untuk jualan, Jadi keuntunganku sebenarnya 3.000 Yen( Rp. 350.000) bulan ini." Jelas Hiro.
"Ahh.., kau terlalu banyak menghitung..," Ryota sangat sebal dengan yang namanya 'perhitungan'. "Ya sudah, jadi bagaimana? Kau sudah memutuskan untuk mendaftar sekolah sepakbola bukan?" Tanya Ryota kembali.
"Pastinya dong!" Jawab Hiro bersemangat. "Tapi kita mau mendaftar sekolah sepakbola yang mana? kan ada banyak sekali?"
"Oh.., tenang saja, seorang teman Ayahku ada yang menjadi pelatih di sebuah sekolah sepakbola. Mungkin nanti kita berdua akan mendaftar di sana saja,"
"Wah! itu bagus! beruntung Ayahmu punya seorang teman pelatih!" Hiro senang karena dia yakin sekolah sepakbola yang akan dia datangi pasti tidak buruk. "Kalau begitu, kapan kita akan mendaftar!"
"Ahaha, kau sudah tidak sabar ya sepertinya? Hmmm.., mungkin aku akan bilang kepada Ayahku saja dan dia yang akan mendaftarkan kita. Bagaimana?"
"Oh..Oke! Begitu juga boleh!"
"Ya sudah, aku akan langsung pulang ya Hiro.., selamat malam. Sampai jumpa besok di sekolah!"
"Sampai jumpa!"
Hiro dan Ryota pun kembali ke rumah masing-masing.
Di rumah, Hiro masih begitu semangat. "Ayah! aku akan segera mendaftar sekolah sepakbola!"
"Wah.. bersemangat sekali! di mana tempatnya?"
"Hmm, sepertinya di tempat teman Ayahnya Ryota,"
Ayahnya menghela napas lega. Ayah Hiro yakin bahwa putranya tidak akan direndahkan lagi di sekolah sepakbolanya kali ini. "Syukurlah, semoga kau betah di sana ya nak. Ayah selalu mendukungmu!"
...
Sepertinya yang selalu diyakini, Matahari selalu tenggelam pada malam malam hari, namun ia akan kembali bersinar terang keesokannya. Itulah yang dialami Hiro. Dia muncul dari dalam gelapnya kehidupan, dan mulai merangkak mencari cahaya harapan.
Tapi apakah Matahari yang bersinar itu akan selalu bersinar terang? Ataukah mungkin akan ada awan dan kabut tebal yang menghalangi?
...
Hari ini akan menandai awal bagi lahirnya pemain bola terhebat dari Jepang. Takehiro Miyoko.