
Yokohama, 11 September
...
Sesi latihan terakhir pada hari ini sudah selesai dilaksanakan. Entah kenapa Yamamoto memberikan porsi latihan yang cukup ringan daripada biasanya. Hiro sendiri sampai tidak sadar jika waktu sudah sore.
...
Hiro mengambil handuknya di tepi lapangan, mengusap setiap keringat yang mengalir di tangan dan wajahnya. Ryota beserta beberapa rekan lainnya juga menepi dan bersenda gurau bersama Hiro.
Kali ini, memang banyak muka-muka baru yang ada di timnas Jepang, salah satunya adalah Ryota. Pemain-pemain yang biasanya dipanggil dari Benua Eropa, ataupun Amerika, kini digantikan oleh para pemain yang datang dari Liga lokal Jepang ataupun Liga-liga regional Asia.
Hiro sadar bahwa pertandingan FIFA Matchday kali ini, melawan Hongkong dan Indonesia, merupakan sebuah bagian dari eksperimen Yamamoto untuk mencari pemain-pemain baru ataupun menguji taktik barunya.
...
"Ryo, setelah melakukan pendinginan tolong bantu aku menata alat-alat latihan ya,"
Ryota mengangguk, "Baiklah,"
...
Hiro dan Ryota mengangkut alat-alat latihan menuju gudang yang terletak di sudut lapangan. Kondisi lapangan sudah remang-remang ketika mereka selesai menata barang-barang di dalam gudang. Mereka pun segera kembali ke ruang ganti dan menyusul pemain yang lain.
...
"Ah.. udah nggak usah buru-buru Hiro. Lagian juga pasti udah ditinggal duluan sama yang lain." Ucap Ryota sambil berjalan santai di belakang Hiro yang terlihat tergesa-gesa.
"Benar juga, kenapa juga buru-buru? haha." Hiro tertawa dan memperlambat laju langkahnya.
Suasana seketika sunyi. Hanya terdengar suara langkah kaki Hiro dan Ryota yang masih mengenakan sepatu bola.
...
"Hiro.., sebentar...,"
...
Hiro menoleh. Ryota berhenti di belakangnya. "Kenapa?" Tanya Hiro.
"Bagaimana ya..cara memberitahumu..," Ryota terlihat gelisah. "Begini Hiro--,"
"Kenapa?"
"Sebenarnya..," Ryota menghela napas. "Aku di suruh oleh orangtuaku untuk berhenti menjadi pesepakbola." Wajah Ryota datar.
Hiro terdiam. Dia masih mencoba untuk memastikan apa yang dia dengar. "Apa katamu?"
"Iya beginilah akhirnya..," Ryota tersenyum. "Aku diminta tolong oleh Ayahku untuk menjadi manajer pada salah satu divisi di perusahaannya. Kata Ayahku, hanya aku yang bisa memahami seluk perusahaan dan kemauan Ayahku sendiri."
Ryota mulai kembali berjalan pelan. Hiro hanya terdiam dan merasakan angin dari tubuh Ryota yang melewatinya.
"Ya sudah, aku hanya ingin mengatakan itu. hehe," Ryota menoleh ke arah Hiro yang masih terdiam. "Maaf sudah membuatmu jadi kepikiran. Tapi, aku memang harus memberitahumu keadaanku sebenarnya."
...
Sudah lima menit, namun Hiro masih diam di tempat yang sama.
...
"Hiro? Hei..? Kau tidak mau kembali ke asrama?"
Hiro masih terdiam.
...
"Ya sudahlah, kalau begitu aku duluan ya," Ryota menepuk pundak Hiro. "Sekali lagi aku minta maaf ya Hiro. Mungkin aku memang tidak ditakdirkan untuk menjadi seorang pesepakbola. Tapi aku yakin jika kau pasti bisa melanjutkan perjalanan karirmu, walau tanpa diriku."
Dengan begitu, Ryota pun berjalan mendahului Hiro yang masih mematung.
Sebenarnya Ryota tidak tega meninggalkan sahabatnya sendirian dalam keadaan kebingungan seperti saat ini. Namun inilah yang harus terjadi. Jika bukan sekarang, kapan lagi bisa mengatakan hal ini kepada Hiro. Lebih baik mengatakannya lebih awal daripada terlambat mengatakannya.
...
...
Ryota sudah cukup jauh berjalan keluar lapangan. Suara jangkrik masih sayup-sayup terdengar seperti menjadi pengisi latar suara yang begitu hening di antara mereka berdua.
...
...
"Terimakasih, sudah menemani perjalananku sampai momen-momen terakhir, Ryo..,"
...
...
Tiba-tiba Hiro mengatakan sesuatu. Keadaan yang hening membuat Ryota bisa mendengar apapun disekitarnya, termasuk suara Hiro yang hanya merambat kecil di udara.
"Huh?" Ryota terkejut mendengar suara Hiro setelah hanya diam dari tadi. "Hiro..,"
...
"Tapi, walaupun begitu, kita harus tetap menjadi sahabat, walaupun sudah tidak satu mimpi. Oke?"
...
"Pasti..," Ryota mengangguk pelan. Senyum tipisnya menjadi yang terakhir dilihat Hiro malam ini sebelum menuju kamar asramanya untuk bersiap menghadapi hari esok.
...
...
🌤🌤🌤
...
Keesokan harinya.
Kota Yokohama menjadi tempat berlangsungnya pertempuran antara Jepang dengan Hongkong di lapangan hijau. Kesebelasan utama dari setiap negara telah siap untuk bertanding.
Hiro, termasuk juga Ryota, diberikan kepercayaan oleh sang pelatih, Hajime Yamamoto untuk menjadi yang pertama. Saat ini juga adalah kali terakhir bagi Hiro untuk keluar dari lorong stadion menuju lapangan bersama Ryota.
Walaupun Stadion tidak begitu penuh, tetapi suara dukungan masih jelas terdengar. Jepang bertekad untuk menang dihadapan publik sendiri. Hiro sudah menyatukan kedua telapak tangan dan berdoa kepada Tuhan agar pertandingan ini bisa berjalan lancar.
...
PPRRRIIITTT!
Bola sudah bergulir di kaki-kaki para pemain Jepang dengan mulus.
Hiro yang di pasang di sektor penyerangan, mendapatkan peluang pertama dari sundulan kepala pada menit 28', sayangnya sundulannya masih bisa digagalkan oleh penjaga gawang Hongkong, Chen Lee Soo.
Beruntun setelah ini, Hidetoshi Kagawa, Yutaro Yamaguchi, Bahkan Ryota, mendapatkan peluang untuk membuka keunggulan bagi Jepang, namun gagal.
Hingga pada akhirnya, Genta Furuhashi membuat Jepang unggul 1-0 dari Hongkong yang bermain sangat dalam di pertahanan mereka. Hingga akhir babak pertama, skor masih 1-0.
Tatapan kurang puas dari sang pelatih Yamamoto seakan menusuk hati para pemain Jepang. "Apakah aku sudah bermain dengan baik?" Ucap setiap pemain Jepang, tidak terkecuali Hiro.
Namun secara mengejutkan, tidak ada pemain yang diganti oleh Yamamoto untuk babak kedua ini. Dia hanya memberikan instruksi tambahan untuk para pemain agar mereka bisa bersabar dalam membangun serangan.
...
"Hongkong bermain sangat dalam. Mereka hanya melakukan pressing di daerah sendiri. Kita jangan sampai salah umpan. Kita harus memainkan bola-bola cepat ketika masuk ke sepertiga akhir pertahanan lawan." Ujar Yamamoto di ruang ganti.
...
PPRRRIIITTT!
Ketika babak kedua dimulai, para pemain Jepang berhasil melakukan instruksi Yamamoto dengan sangat sempurna. Para pemain Hongkong seperti bingung harus bertahan dengan menutupi pergerakan salah satu pemain atau menerapkan sistem jebakan offside?
Yang pasti, kombinasi permainan antara Hiro->Furuhashi->Hiro->Furuhashi begitu padu dengan formasi 4-4-2. Umpan satu-dua yang membingungkan bek lawan. Hingga kemudian... Goolll!
"YAAAAA!!!"
...
Hiro mengepalkan tangannya ke udara. Bola sepakan kerasnya berhasil menghujam sudut kiri bawah gawang Hongkong pada menit 56'. Seluruh rekan setimnya memberikan selamat kepada Hiro yang berhasil mencetak gol pertamanya untuk timnas senior Jepang.
Hiro berharap dalam hati, bahwa gol ini akan menjadi awal dari gol-gol lainnya bersama dengan timnas Jepang di pentas dunia yang lebih bergengsi.
...
...
Rasa senang Hiro kembali bertambah ketika dia menyumbang juga dua assist untuk gol ketiga dan keempat Jepang pada menit 78' dan 90+2' membuat kemenangan mutlak 4-0 atas Hongkong.
...
Begitu pertandingan usai. Hiro adalah pemain yang paling banyak disorot oleh kamera. Wajahnya terus terlihat pada layar LED stadion dan juga layar kaca dari orang-orang yang melihat pertandingan ini dari TV ataupun ponsel mereka. Saki di Amsterdam, Ayah Hiro di Sapporo, mereka adalah dua dari ratusan ribu orang yang kini sudah mengetahui wajah Hiro dan kemampuan Hiro.
Kini, rasanya Hiro sudah selangkah lebih maju untuk menulis kisah baru di buku perjalanan hidupnya. Gelar Man Of the Match layak disematkan kepada Hiro hari ini.
"Kerja bagus sobat..," Hiro menghampiri Ryota seusai pertandingan. "Kemampuanmu sepertinya hampir sama dengan Sergio Ramos, hahaha." Canda Hiro kepada Ryota.
Ryota hanya bisa tertawa lepas.
...
...
Memang, lawan dari Jepang kali ini 'hanyalah' Hongkong. Namun kemenangan ini merupakan sebuah pembuktian bahwa tim Jepang ini bisa bermain tidak kalah bagusnya dengan Jepang yang biasanya bermain dengan seluruh skuat utamanya.
...
...
Selanjutnya, Samurai Biru akan bertandang ke Jakarta menghadapi Indonesia di FIFA Matchday terakhir bulan ini pada tanggal 18 September.
Hiro dan Ryota sudah tidak sabar. Ini adalah kali pertama bagi Hiro menjalani pertandingan Internasional di luar Jepang. Tentu saja, atmosfer laga akan jauh berbeda daripada yang selama ini Hiro rasakan di Jepang ataupun Belanda.
Apalagi, beberapa bulan lagi, Jepang akan melakoni laga-laga Internasional untuk kualifikasi Piala Dunia dan juga Piala Asia. Ini merupakan pertandingan yang penting untuk melatih mental pemain Jepang dalam menghadapi tekanan mental dan psikologi ketika bermain kandang musuh yang memiliki basis supporter fanatik.