
Suatu ketika, di malam yang sunyi.
…
BUAKK!!!
Hiro terdorong dengan keras ke tembok. Kejadian ini terjadi di depan gedung asrama mahasiswa. “Aduhh..,” Hiro mengerang kesakitan.
“Hanya itu yang kau punya Hiro? Ayo! Lawan aku!”
Itu ternyata adalah ulah dari sekelompok mahasiswa lain yang sudah lama tidak menyukai Hiro yang berprestasi ini. Hiro diajak berkelahi dengan salah seorang mahasiswa, namun itu hanya jebakan untuk mengeroyoknya satu lawan lima.
...
Wajah Hiro sudah babak belur, namun mereka masih belum berhenti memukuli Hiro. Hiro sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk melawan balik. Dia hanya terpojok dan pasrah dengan keadaan.
Semuanya terlihat abu-abu bagi Hiro setiap dia menerima pukulan. Pandangan Hiro kabur ketika pukulan terakhir itu malayang ke wajahnya.
BUAKK!!
…
Seketika Hiro tidak sadarkan diri. Dia tidak tahu apa yang terjadi setelahnya pada malam itu.
…
...
Keesokan harinya, dia sudah bangun di kamar yang berbeda dari asramanya. Matanya melihat sekeliling, semuanya berwarna putih dan bersih. “Apa aku sudah mati?” Pikir Hiro.
Namun setelah beberapa saat Hiro sadar dan mencoba untuk bangun, dia merasakan sekujur tubuhnya sakit. Dia juga sadar jika pakaiannya sudah berganti menjadi berwarna hijau muda. Ternyata Hiro berada di rumah sakit. “Kenapa aku bisa di sini? Apa yang terjadi?” Hiro mencoba mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi namun tidak bisa.
Hingga seseorang kemudian masuk ke dalam ruangan. Hiro bisa mengenali seseorang itu, dia adalah salah rektor di Universitas, namanya Pak Taniguchi yang sering membanggakan prestasi Hiro di bidang olahraga.
“Tuan? Pak..Taniguchi?” Tanya Hiro menebak karena sebenarnya matanya masih sedikit kabur.
“Iya, ini saya, Taniguchi. Pasti kamu bingung kan kenapa ada di sini?”
“Tuan tahu alasannya?” Hiro penasaran.
“Iya, saya tahu persis kejadiannya,”
Pak Taniguchi pun mulai menceritakan kejadian kemarin malam di mana Hiro di keroyok oleh beberapa mahasiswa hingga tidak sadarkan diri.
Hiro mulai mengingat kejadian itu. “Lantas, apa yang terjadi?”
Pak Taniguchi pun mengatakan jika setelah Hiro tidak sadarkan diri, ada seorang mahasiswi yang memergoki pengeroyokan itu. Dia lah orang yang menyelamatkan Hiro dari penyerangan lebih parah. Jika bukan karena dia, bisa saja Hiro menderita lebih parah dari ini.
“Hah? Mahasiswi? Jadi bukan Ryota?” Pikir Hiro. “Tuan.., kalau boleh tahu, siapa mahasiswi itu?”
“Dia itu teman satu jurusanmu, namanya Izumi Misaki,”
“Izumi?”
“Iya, sayangnya kemarin malam saat mengantarkanmu ke rumah sakit, dia langsung pulang. Dia hanya menitipkannya kepadaku jika kau berada di rumah sakit,”
“Tunggu.., dia menggendongku ke rumah sakit ini? sendirian? Tengah malam?”
“Iya, begitulah,”
“Oh begitu,”
Taniguchi kemudia berdiri dan pamit kepada Hiro. “Baiklah, saya mau izin kembali ke kampus dulu. Hari ini kau beristirahatlah hingga pulih.”
“Baik tuan,”
“Kau tidak perlu cemas Hiro. Orang-orang yang mencelakaimu sudah kami kantongi identitasnya, dan saya berjanji akan memberikan hukuman setimpal,”
“Terimakasih tuan,”
“Baiklah, saya undur diri. Mohon maaf atas ketidak nyamanannya. Pihak kampus akan menanggung semua biaya rumah sakit.”
Dengan begitu, Pak Taniguchi melangkah keluar ruangan meninggalkan Hiro sendiri.
...
“Izumi.., aku harus berterima kasih kepadanya ketika sudah pulih,” Desis Hiro.
…
...
Proses pemulihan Hiro memakan waktu hingga 2 minggu lamanya. Ayah Hiro begitu mengkhawatirkan keadaan putranya itu, namun Hiro selalu bersikap kuat ketika Ayah menjenguknya.
Di saat Hiro kembali masuk ke sekolah, dia tidak lagi menerima perlakuan buruk, sepertinya semua orang telah kapok karena sekelompok orang yang terkahir kali mengeroyok Hiro sudah dikeluarkan dari Universitas dan dikenai hukuman pasal.
...
Keadaan Hiro sudah membaik dan sudah siap untuk kembali ke kampus.
Hari-hari Hiro di kampus akan berjalan lebih baik mulai saat ini. Namun Hiro masih harus melakukan sesuatu. “Izumi Misaki! Ada yang bernama Izumi Misaki?”
Hiro memanggil nama itu dihadapan 100 orang di kelas yang sama. Dari 100 orang itu, hanya beberapa yang Hiro kenal. Izumi tidak termasuk di dalamnya.
“Siapa dia?”
“Bukankah dia siswa yang habis dikeroyok itu?”
“Hiro kan namanya?”
"Iya itu Hiro.., aku kenal dia,"
Hingga kemudian, ada seorang perempuan yang mengangkat tangannya dan menjawab, “Saya.., Saya Izumi,”
“Oh, kau ya.., bisa tolong keluar sebentar?”
Perempuan itu mengangguk dan berdiri. Sambil menunduk dia berjalan keluar kelas menemui Hiro. “Ada apa Hiro?” Tanyanya.
“Apakah kau itu yang menolongku waktu di keroyok dua minggu lalu?”
“Iya,”
"Aku hanya ingin berterima kasih kepadamu,"
"Baiklah," Sahut Izumi.
“Tapi aku penasaran, Kenapa kau melakukannya? itu tindakan yang begitu berani!”
“Karena kau temanku,”
“Benarkah? Aku bahkan tidak mengenalmu?”
“Benar. Tapi aku mengenalmu.”
Hiro menghela napas. “Baiklah. Sebenarnya aku memiliki banyak sekali pertanyaan kepadamu, namun akan kusingkat saja,”
“Baiklah,”
“Baiklah, namamu Izumi kan?”
“Benar,” Ucap Izumi.
“Apakah kau yang menolongku semalam dan menggendongku ke rumah sakit berjarak 600 meter dari asrama?”
“Benar,”
Hiro sedikit terkejut. “Apa benar semua itu kau lakukan kepadaku karena menganggapku teman?”
“Benar dan tidak,” Jawab Izumi.
“Benar dan tidak? Maksudmu?”
Izumi mulai menjelaskan semua kepada Hiro. “Sebenarnya, sejak pertama kali kita masuk ke ke kampus, aku sudah terus memperhatikanmu tanpa kau sadari,”
“Heh?”
Izumi juga lanjut mengatakan jika dia selalu menguntit Hiro kemanapun. Bekal makan siang favoritnya, Kebiasaanya, teman dekatnya, sampai ke seluk beluk kehidupannya.
“Ah, benarkah? Aku tidak percaya, coba aku tes.”
“Silahkan,”
“Siapa nama Ayahku?”
“Takehiro Moriyasu,”
“Warna favoritku?”
“Oranye,”
“Hobiku?”
Izumi mengehela napas dan menjawab, “Sepakbola. Semua orang di sini tahu jika kau pesepakbola hebat Hiro..,"
“Baiklah, itu sudah cukup,” Hiro sudah cukup yakin. “Intinya, kenapa kau melakukan semua ini?”
"Kau yakin ingin tahu intinya?"
"Oh ya tentunya," Ucap Hiro.
"Baiklah, untuk mempersingkat waktu, aku akan mengatakannya," Izumi memejamkan matanya. “Semua ini aku lakukan, karena aku menyukaimu, maukah kau menjadi pacarku?”
“Hahaha lucu,”
“Kau bertanya, tapi kenapa kau tertawa?" Izumi heran. "Kau bisa tertawa sekarang, tapi kau tidak tahu betapa banyak teman-temanku yang menyukaimu!” Izumi berkata serius.
“Heh?? Kau berkata serius?”
“Iya.., itu tentu saja! Hanya aku yang seberani ini mengungkapkan perasaan kepadamu! Yang lain tidak berani karena takut..,” Rupanya Izumi benar-benar mengatakan sebenarnya.
Hiro tidak bisa mengucapkan sepatah katapun saat ini. Dia masih ragu dengan kebenaran ucapan Izumi.
“Maka dari itu, aku tanya sekali lagi.., maukah kau menjadi pacarku?” Tanya Izumi sekali lagi. Dia benar-benar mengharapkan jawaban dari Hiro saat ini juga.
“Eee.. bagaimana ya..?” Hiro bingung mau mengatakan apa. Semuanya terlalu cepat untuk Hiro.
Mendadak bel masuk kelas sudah berbunyi.
KRRIINGG!!
“Ahhaa! Kau dengar itu! Saatnya masuk kelas.., hehe,” Hiro pun langsung berlari ke dalam kelas dan meninggalkan Izumi di luar.
“Hiro! Apa jawabanmu!!”
“Nanti!! Teriak Hiro.
…
Ini bukanlah Hiro. Dia tidak pernah merasakan sesuatu seperti ini sebelumnya. Hiro adalah tipe orang yang lebih sering tersakiti daripada disayangi.
Tidak ada sebuah rasa yang Hiro rasakan ketika bersama orang lain. Faktor keluarga sangat mempengaruhinya. Kehilangan sosok Ibu di masa kecil, sudah menjadi trauma yang cukup bagi Hiro untuk tidak lagi merasakan kehilangan.