The Dreamer

The Dreamer
Nomor 9



🚕🚕🚕


...


Laju taksi kian melambat. Suara rem mobil tua yang berdecit menjadi tanda bahwa Hiro dan Saki telah tiba di tempat tujuan, yaitu Kota Heerenveen.


Salju yang menumpuk pada jendela mobil pun rontok ketika Hiro membuka pintunya.


...


"Bdankt," Hiro berterimakasih kepada sopir taksi menggunakan bahasa setempat.


Si sopir tersenyum ramah seraya mengangkat topinya. Pria taksi itu pun kemudian menutup jendela mobilnya dan kembali menginjak pedal gas untuk mengantar penumpang selanjutnya.


...


Mendengar Hiro berbicara bahasa Belanda, Saki tertawa. "Hahaha, suara kamu gak cocok ngomong bahasa Belanda,"


Hiro melirik ke arah Saki yang masih terpingkal. "Biarin, yang penting udah berusaha semaksimal mungkin, hehe."


...


❄❄❄


...


Di udara yang dingin hampir nol derajat Celcius, Hiro dan Saki menepi dan beristirahat pada sebuah truk makanan di pinggir jalan dan memesan beberapa menu mereka. Aroma bahan makanan. Api unggun yang sengaja dibuat oleh si pedagang, membuat suasana serta tubuh Hiro dan Saki menjadi sedikit lebih hangat.


...


Setelah selesai istirahat dan makan, Hiro kembali mengajak Saki untuk kembali melangkah menuju ke kantor milik klub Heerenveen.


"Yuk, kita lanjut," Ucap Hiro sambil melihat peta di ponselnya. Dia menelusuri jalan tercepat menuju kantor FC Heerenveen.


Saki pun mengangguk dan berdiri. Kemudian dia menggandeng tangan Hiro yang bersarung tangan. "Tempatnya jauh gak?"


"Gak kok. Mungkin jalan kaki sepuluh menit," Jawab Hiro.


"Oke," Sahut Saki.


Merek berdua pun berjalan melewati dinginnya angin musim dingin Eropa. Sejak salju membekas di belakangnya. Sesekali mereka berhenti dan mengambil segenggam salju dan melemparkannya lagi tanpa alasan.


...


...


Dan tepat 10 menit kemudian, Hiro dan Saki tiba pada sebuah gedung lantai dua di pinggir jalan besar. Halamannya begitu luas hingga ditumbuhi berbagai macam pohon cemara yang terlihat putih di sepanjang sisi tembok bangunan itu.


"Ini ya tempatnya?" Tanya Saki. Wajahnya sudah merah karena kedinginan.


Hiro mengecek ponselnya untuk memastikan bahwa ini adalah tempat yang tepat, yaitu kantor dari klub sepak bola Heerenveen.


"Iya, betul, ini tempatnya," Jawab Hiro.


Saki tersenyum lega. "Akhirnya sampe, aku dan kedinginan di luar."


Saki berlari menuju lobi gedung. Hiro mengikutinya. Para penjaga keamanan hanya bisa tersenyum melihat dua orang ini seperti anak-anak yang bermain di luar.


...


Sampai di depan gedung, Hiro pun menelpon Darwin untuk bertanya di mana dia berada. Hiro mengatakan jika dirinya telah sampai di depan kantor klub.


"Kau tinggal masuk saja, namun sebelum itu kau harus konfirmasi kedatanganmu pada resepsionisnya," Ucap Darwin melalui telepon.


"Oh, begitu. Baiklah."


"Ya, sudah, aku tunggu di dalam,"


Tuutt.. tuuutt...


Telepon tertutup begitu saja. Hiro menggelengkan kepalanya. "Dimana resepsionisnya?" Pikir Hiro.


...


Hiro pun melepaskan jaket-jaket tebal, topi, serta sarung tangannya. Begitu pula dengan Saki. Kini Hiro tinggal mengenakan setelan jas dan syal yang menggantung dilehernya.


Setelah merasa dirinya cukup layak untuk masuk kedalam gedung, Hiro pun melangkah masuk bersama Saki sambil tersenyum ke arah para penjaga keamanan yang dari tadi sudah memperhatikannya.


Di dalam gedung, Hiro mencari tahu tempat resepsionisnya. Setelah beberapa saat, akhirnya Hiro menemukannya.


Dengan bahasa Inggris yang terbata-bata, Hiro mencoba bertanya kepada wanita di bagian resepsionis.


...


"Atas nama Miyoko,Takehiro? apakah benar? "


"Eh, iya..,"


Hiro dikejutkan dengan jawaban salah satu resepsionis yang ternyata bisa berbahasa Jepang.


...


"Manajer anda telah berpesan kepada saya untuk menyampaikan pesan ini kepada anda." Wanita itu mengambil sesuatu dari laci meja.


"Baiklah, ini kartu pengenal anda. Anda sudah di tunggu oleh Tuan Darwin di lantai dua, tepatnya di ruangan 206. Nanti setelah naik tangga, anda tinggal mencari sebelah kiri. Terimakasih." Ucap wanita resepsionis dengan bahasa Jepang yang fasih.


"T--Terimakasih," Hiro mengambil kartu pengenalnya.


Hiro pun pergi meninggalkan resepsionis dan mengajak Saki pergi ke sisi lain ruangan. Saki yang berada disebelahnya tertawa melihat Hiro yang sedikit cemberut.


"Hahaha, kamu kenapa?"


"Ah, gapapa. Dah capek-capek belajar bahasa Inggris pas di taksi tadi, eh ternyata ada yang bisa bahasa Jepang. Sia-sia jadinya."


"Hahaha, gak usah nangis. Nanti di hotel kita belajar lagi ya?"


Hiro mengangguk.


...


"Kita duduk dulu di sana yuk," Ajak Hiro sambil menunjuk barisan kursi di tengah ruangan.


Saki duduk santai di kursi tunggu yang nyaman. Sementara Hiro sedang mengumpulkan niat untuk naik ke atas. Hiro terlihat mondar-mandir.


5 menit berlalu...


...


...


"Eh, iya juga," Hiro menggosok-gosok tangannya yang berkeringat. Dia sedang mengumpulkan tekad dan keberanian untuk pergi ke atas.


"Ih, ngapain sih kamu? gausah takut. Udah sana cepet naik," Saki memburu-buru Hiro untuk segera naik ke atas.


"Ee, sekarang ya?"


"Iyalah, mau kapan emangnya?"


"Yaudah deh. Tunggu ya," Pesan Hiro.


"Iya, udah sana cepetan,"


Hiro pun berjalan perlahan ke arah tangga sembari melihat Saki yang duduk santai di kursi. Saki yang menunggu di bawah masih tersenyum geli melihat tingkah laku Hiro.


...


Sampai di atas, Hiro pun mencari ruangan yang di maksud sang resepsionis sebelumnya. Tingkah lakunya tampak gugup. Dan akhirnya Hiro menemukan ruangan yang di maksud. Ruangan 206.


"Benar ini kan ruangnya?"


Sekali lagi Hiro merapikan dasi serta sisiran rambutnya supaya terlihat rapi. Setelah itu, dia pun membuka pintu ruangan itu secara perlahan.


Hiro melihat ke dalam ruanganan itu dengan rasa gugup. Namun rasa gugup itu hilang ketika Hiro melihat ada Darwin yang sudah duduk menunggu di dalam.


...


"Ah, dia sudah tiba. Masuklah Hiro." Ucap Darwin.


Hiro pun masuk dengan sopan santun. Dia sampai lupa kalau dia berada di Belanda, bukan di Jepang lagi. Hiro segera duduk di kursi yang tersedia di samping Darwin.


"Permisi," Ucap Hiro.


...


Di dalam ruangan yang terlihat modern dengan gaya khas dinding coklat kayu, terdapat sebuah lemari yang terlihat menjadi tempat penyimpanan piala yang didapatkan sejak tahun berdirinya klub.


Namun sayangnya, Lemari itu tampak tidak penuh. Hanya beberapa piala domestik, serta piala pra-musim, itupun bisa dihitung dengan jari.


Perasaan gugup kini berganti menjadi tantangan baru yang harus diselesaikannya. Kesan pertama setelah melihat lemari piala klub FC Heerenveen adalah untuk terus menambah koleksi piala di dalam lemari itu. Bahkan kalau perlu hingga menambah jumlah lemarinya.


"Aku ingin melihat lemari itu penuh," Batin Hiro.


Sementara itu dihadapannya saat ini, ada seorang pria kulit putih sekitar umur 50 tahun dengan warna rambut yang bercampur antara hitam dengan putih. Wajahnya terlihat ramah namun dengan aura yang tetap berwibawa.


"Apakah ini pemilik klubnya?" Pikir Hiro.


...


"Nha, Hiro, beliau ini adalah manajer pada bagian pemasaran dari klub FC Heerenveen. Tolong perkenalkan." Darwin membuka pembicaraan.


Ternyata pria didepannya adalah manajer pemasaran klub. Pria itu nampak tersenyum dan mengajak Hiro bersalaman.


"My name is Danny,"


"Nice to meet you,"


Nama manajer itu adalah Danny.


"Me too," Ucap Hiro.


...


Kemudian, Darwin menjelaskan maksud kedatangan dirinya serta Hiro ke sini. Jauh-jauh dari Jepang ke Belanda, untuk menjawab tawaran dari pihak klub. Apalagi yang harus dilakukan untuk membuktikan keseriusan Hiro untuk menjadi bagian dari klub Heerenveen?


Seorang pemain bertalenta tinggi ini bisa di bilang sudah masuk pada usia matang pada tahun ini, yaitu 23 tahun.


Darwin berkata, "Hiro sudah yakin dengan keputusannya untuk memilih klub ini sebagai rumah barunya di Eropa. Itu semua berkat anda dan tim anda yang bisa meyakinkan pemain saya. Dia juga selalu bekerja keras demi performa yang lebih baik dari sebelumnya. Saya harap anda bisa menjawab keyakinan Hiro, karena saya tahu Hiro adalah pemain yang bagus dan akan cocok bagi tim anda."


...


...17.12...


......................


Pertemuan berjalan lancar. Itu karena kedua pihak sama-sama meminta kerjasama sejak awal. Ini hanyalah sebuah formalitas dalam rangkaian perkenalan pemain dari pihak agen kepada manajemen. Sekarang, Hiro tinggal meminta gaji serta persyaratan yang dia inginkan untuk menyepakati perjanjian kontrak dengan FC Heerenveen.


...


"20.000..,"


"14.000?"


"I will take 15.000,"


"Deal?"


Hiro pun kembali bersalaman dengan manajer klub. Mereka telah sepakat untuk bekerja sama dalam durasi kontrak dua tahun dengan gaji 15.000 Euro per pekan. Itu sudah termasuk yang tinggi di tim ini. Hiro merasa terhormat sekaligus menjadi beban berat baginya untuk terus membuktikan dirinya layak.


...


Sekarang, Hiro sudah resmi menjadi pemain FC Heerenveen, dan akan bertanding di Liga 1 Belanda musim ini.


...


Danny bertanya kepada Hiro kembali tentang sesuatu yang menurutnya cukup penting. Dia bertanya berapa nomor punggung yang diinginkan oleh Hiro?


Hiro mengatakan kepada Danny bahwa hal itu akan ia pikiran nanti. Namun Danny bersikeras bahwa Hiro harus segera menjawabnya, sebab setelah ini jersey dengan nama 'Takehiro' akan segera di buat.


Hiro pun berpikir sejenak dan menjawab dengan mantap, "Sembilan,"


...


Darwin terlihat bingung dengan keputusan Hiro. "Kenapa sembilan? Posisimu kan bukan Target man?"


Wajar saja Darwin mempertanyakan hal ini, sebab nomor 9 ini biasanya digunakan oleh pemain yang tinggi tang berposisi sebagai penyerang. Sementara Hiro merupakan Playmaker setinggi 179 cm yang semestinya memakai nomor punggung tujuh, delapan, sebelas, ataupun nomor Playmaker lainnya.


Hiro tidak ingin diragukan atas keinginannya. Saat itu juga Hiro langsung menjelaskan alasannya kepada Darwin.


"Aku memilih nomor ini karena ini adalah sebuah nomor untuk memperingati lama perjuanganku untuk bisa sampai pada titik ini. Tepat sembilan tahun lalu, saat masih 14 tahun, adalah kali pertama aku bisa bermimpi menjadi pemain sepak bola. Itulah mengapa aku yakin nomor punggung ini akan membawa keberuntungan bagiku di Eropa."