
Senyum lebar Hiro terlihat ketika ia keluar dari kantor klub FC Heerenveen. Saki juga ikut senang ketika diberitahu oleh Hiro tentang kontraknya dengan Heerenveen yang telah rampung di urus. Ini berarti Hiro sudah dipastikan akan berseragam Heerenveen untuk satu musim kedepan.
Musim baru Liga Belanda akan dimulai dua bulan lagi, tepatnya pada bulan Februari. Ini berarti Hiro masih memiliki beberapa waktu untuk mempersiapkan kepindahannya ke Belanda.
...
"Sampai jumpa nanti Hiro, aku akan kembali ke Jepang terlebih dahulu sebelum musim baru sepakbola di mulai. Jika ada sesuatu yang bisa ku bantu, telpon saja ya," Pesan Darwin kepada Hiro ketika di kantor Heerenveen beberapa saat lalu.
Kini Hiro bebas ingin melakukan apapun sembari menunggu Liga kembali bergulir. Dikabarkan oleh manajemen Heerenveen bahwa seluruh pemain baru akan memulai latihan perdana satu bulan lagi. Hiro kini tinggal memilih, apakah dia ingin menunggu di Belanda, atau pulang terlebih dahulu ke Jepang.
Apapun pilihan Hiro, pada akhirnya dirinya juga akan tetap bergulat di benua Eropa, mempertaruhkan reputasinya sebagai pesepakbola profesional.
...
Saat ini Hiro dan Saki sedang duduk melamun di halte bus yang sepi. Mereka menunggu sambil berharap cemas akan bus selanjutnya yang datang.
Saki melihat wajah Hiro yang menatap kosong ke arah jalan sambil tersenyum lega. Saki paham akan perasaan yang dirasakan pasangannya ini.
"Selamat ya, kamu akhirnya bisa main sepakbola di Eropa..," Ucap Saki dengan lembut sambil bersandar pada bahu Hiro.
"Makasih ya, udah nemenin aku selama ini," Sahut Hiro. Tangannya membelai rambut Saki yang terurai.
...
βββ
Di luar rintik salju yang bersenandung, Tatapan Hiro menoleh cepat ketika mendengar klakson bus yang datang. Matanya membulat senang setelah lama menunggu, akhirnya bus yang di tunggu itu datang.
"Hiro, busnya sudah datang," Panggil Saki.
Hiro dan Saki pun memasuki bus itu dengan perasaan aneh. Mereka berdua diperhatikan oleh orang-orang di sekitar mereka.
Hiro sempat canggung, namun beberapa saat kemudian seorang wanita tua menyapa mereka dengan senyuman dan lambaian tangan. Hiro pun tersenyum kearahnya.
"Good..A--Afternoon," Ucap Hiro menyapa dengan bahasa Inggris yang ia tahu.
Hiro sedikit terkejut dengan reaksi orang-orang lokal di sini. Sebelum ini, dia dan Saki juga banyak mendapatkan perilaku menyenangkan di kantor Heerenveen dan dari seorang pedagang yang menyalakan api penghangat untuk mereka.
...
"Welcome.. to.. Netherland..!" Ucap seorang remaja yang tiba-tiba juga ikut menyapa Hiro dan Saki. "Where are you come from?"
"We're from Japan," Jawab Saki.
"Oh! From Japan! good.. good," Ucap remaja itu sambil mengangkat kedua jempolnya.
Hiro dan Saki tersenyum. Mereka pun lanjut bercakap-cakap ringan selama berada di dalam bus. Mereka selalu tersenyum ketika Hiro dan Saki tidak sengaja menatap ke arah mereka. Akhirnya percakapan berhenti setelah remaja dan wanita tua itu turun satu-persatu di halte yang berbeda.
...
Seperti inilah gambaran orang-orang yang akan menemaninya selama di sini. Hiro senang karena orang Belanda baik-baik.
Mereka berdua duduk di dalam bus yang dikelilingi suasana bersalju, namun kekeluargaan didalamnya membuatnya terasa begitu hangat.
...
...
Hampir 3 jam berlalu.
...
Hiro dan Saki kini telah tiba di Amsterdam, dan harus berjalan untuk menuju Hotel tempat mereka menginap.
"Huuhh.., Capek ya hari ini," Saki meregangkan tangannya setelah turun dari bus. "Ayo kita langsung pulang ke hotel!"
Saki pun berjalan dengan semangat mendahului Hiro menuju hotel mereka menginap.
...
Hanya butuh satu hari di Belanda agar Hiro bisa merasakan kenyamanan dari tempat ini. Jauh lebih nyaman daripada di Jepang. Oleh karena itu, Hiro sudah berbicara kepada Saki tentang rencana mereka untuk menetap di Belanda demi memudahkan Hiro berkarir di Eropa. Dan dengan apa yang dialaminya hari ini, Hiro semakin yakin dengan keputusannya untuk menetap di Belanda untuk saat ini.
...
"Saki," Panggil Hiro.
Saki yang berjalan beberapa langkah di depan Hiro pun berhenti dan menoleh, "Ada apa?"
"Sebentar," Hiro merogoh saku celananya untuk meraih ponselnya. "Aku mau telpon Ayahku dulu. Aku ingin mengatakan kepadanya tentang rencana kita."
"Kamu mau ngasih tau sekarang ini? Apa lebih baik kita mencari tempat tinggal terlebih dahulu sebelum memberitahu Ayahmu?"
"Tidak perlu, aku akan memberitahunya sekarang,"
"Oh, oke, aku duduk di sana dulu ya," Saki menunjuk pada kursi panjang di pinggir jalan.
...
Setelah itu, Hiro pun langsung mencari kontak Ayahnya dan segera menelponnya.
tuut.. tuuut...
...
"Halo Ayah? Bagaimana kondisi Ayah? baik-baik saja?"
"Hei kau ini.., tentu saja Ayah sehat. Perawat yang datang ke rumah sudah sangat membantu Ayah. Terimakasih ya nak,"
"Nggak perlu terimakasih, Yah, kan aku putramu,"
"Hehe,"
"Oh iya, Yah, Hiro mau nelpon Ayah soalnya mau ngomong sesuatu sama Ayah."
Ayah Hiro berpikir sebentar. "Bicara apa?"
Hiro menarik dan menghembuskan nafasnya beberapa kali sebelum bicara. "Aku akan menetap di Belanda, Yah. Aku sudah menyetujui kontrak dengan FC Heerenveen, klub Liga 1 Belanda. Hiro bakal tinggal di sini setidaknya satu tahun kedepan, dan mungkin akan lebih lama jika kontraku di perpanjangan," Terang Hiro.
Telepon hening sesaat. Perlahan terdengar isak tangis sang Ayah dari ponselnya. Entah mengapa Hiro juga ingin menangis ketika mendengarnya.
"Kenapa Ayah?" Hiro bertanya dengan napasnya yang tersenggal-senggal menahan air mata.
"Ah, tidak apa-apa nak, Ayah hanya sedang senang saja. Ayah gak nyangka kamu udah bisa hidup sendiri jauh dari rumahmu."
"Hehe, iya..., aku juga harus berterima kasih kepada ayah atas didikan selama ini," Ujar Hiro sambil menyeka air matanya yang akhirnya mengalir. "Terimakasih Ayah."
"Iya nak, Ayah selalu mendoakanmu,"
tuuutt.. ttuuut..
Telepon berhenti. Hiro tersenyum lega. Dalam dua menit dia berhasil mengucapkan hal yang setiap orang selalu sulit mengatakannya kepada orang tua mereka, yaitu berpisah untuk waktu yang lama.
Hiro memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya dan kembali berjalan menelusuri pinggiran kota Amsterdam.
"Yuk, Saki, kita jalan lagi,"
Saki berdiri, dan kali ini berjalan seiringan dengan Hiro. "Apa kata Ayahmu?"Tanya Saki.
"Dia bersyukur," Jawab Hiro singkat.
...
...
...
πΏπΏπΏ
...
29 Januari.
...
Sudah satu bulan telah berlalu sejak kedatangan mereka. Belanda telah memberikan banyak cerita untuk mereka ceritakan di kemudian hari.
...
Hiro dan Saki sudah menempati sebuah rumah bekas yang di beli murah oleh Hiro. Sekali lagi Hiro harus menguras habis seluruh tabungannya untuk ini. Hiro berani mengeluarkan seluruh uang tabungan untuk membeli sebuah rumah karena gajinya di Heerenveen jauh lebih besar daripada sebelumnya bersama Akihabara. Hiro yakin dia akan memulai awal baru di sini.
...
Dinginnya udara tak lagi sama. Salju mulai mencair di mana-mana. Jejak-jejak peralihan musim dari dingin menuju semi terlihat dengan jelas melalui sungai di samping rumah baru Hiro yang belum sepenuhnya mencair.
Hiro membuka jendela rumahnya dan menghirup udara segar. "Hmmmphh, ahhh....,"
Hari ini, Hiro dan seluruh tim Heerenveen akan mulai latihan bersama untuk mempersiapkan bentuk permainan yang sempurna. Dia turun dari kamarnya dan memakan sarapan yang sudah disediakan oleh Saki.
Hiro sedang menyantap makanan dengan lahap sebelum Saki bertanya kepadanya, "Kamu mau berangkat ke Heerenveen sekarang?"
Terlebih dahulu Hiro menelan makanannya sebelum menjawab, "Iya, kemarin malam pelatihnya sudah menghubungiku."
Jam di ponsel Hiro menunjukkan pukul 06.45
"Oh gitu, okedeh, nanti pulang jam?"
"Eee, gak tau, aku tidak diberitahu tentang jam pulang, kau tunggu saja. Semisal aku tidak pulang jangan khawatir, itu berarti aku akan bermalam di Heerenveen." Jelas Hiro.
"Iya-iya, aku ngerti kok,"
...
Selesai sarapan, Hiro segera berpamitan dengan Saki untuk pergi dahulu ke tempat latihannya di Kota Heerenveen.
"Hati-hati ya!"
"Siap bu! hehe," Hiro menunjukkan gestur hormat kepada Saki.
Saki pun tertawa dan terus melihat Hiro dari depan rumah hingga Hiro masuk ke dalam taksi. "Dadah!"
Terakhir kali, Saki melambaikan tangannya kepada Hiro, sebelum Hiro benar-benar berangkat dengan taksinya.