
Setiap target.. setiap tujuan.. setiap hasil.. setiap perjuangan..setiap harinya.., semua itu butuh proses. Ada orang yang percaya dengan kalimat itu, ada pula orang yang selalu menginginkan sesuatu secara instan.
Namun selain dua tipe orang tersebut, ada satu tipe yang percaya dengan proses, namun juga menginginkan agar proses itu dipercepat, layaknya memesan makanan cepat saji.
...
...
Pada siang hari ini, Hiro dan Ryota bersama dengan para pemain Akihabara FC datang ke kantor Darwin untuk melakukan pertemuan pasca Liga musim ini berakhir. Mereka belum tahu apa perihal yang akan dibahas hingga mereka sampai di tempat.
Di sebuah gedung bertingkat yang kosong, hanya ada meja panjang dengan kursi-kursi yang berjejer ke samping. Ada sebuah kursi yang menghadap ke arah yang berbeda dari yang lain, tampak berada di sisi meja paling jauh.
Gedung ini terasa baru. Masih tercium aroma cat dan serutan kayu. Hiro dan yang lain pun kemudian duduk di kursi yang sudah terdapat nama mereka masing-masing. Hanya ada orang-orang dari tim Akihabara FC di ruangan luas ini.
"Di mana Darwin?" Pikir Hiro.
...
Baru saja memikirkan tentang Darwin, namun tiba-tiba saja terdengar suara langkah sepatu yang keluar dari sudut pintu di ruangan ini. Orang yang keluar itu adalah Darwin. Dia terlihat sedang merapikan kemeja dan Dasinya sembari melangkah menuju meja pertemuan.
"Maaf terlambat," Ucap Darwin saat mendekati kursinya yang berbeda di sisi terjauh meja panjang.
Orang-orang di sekitarnya hanya bisa memaklumi.
"Baiklah, kalau begitu, langsung kita mulai saja pertemuan kali ini," Ucap Darwin.
"Baik..," Balas yang lain.
"Eh, sebentar," Darwin melipat tangannya di atas meja. "Sebelumnya, kalian sudah tahu mengapa kalian aku panggil ke sini?" Tanya Darwin. Keningnya mengerut.
Semuanya hanya diam.
...
"Oh, jadi belum ada yang sadar ya..?" Desis Darwin.
Kemudian Darwin pun menyalakan proyektor dan mulai melakukan presentasi dengan layar tancap yang besar. Orang-orang tim Akihabara kebingungan. Mereka tidak paham dengan apa yang terjadi. Mengapa tiba-tiba Darwin menyalakan proyektor?
Dari dalam laptopnya, Darwin menampilkan sebuah diagram besar dengan nama setiap pemain Akihabara FC di dalamnya. Di dalam diagram besar yang ditampilkan, terdapat statistik dari setiap pemain yang bermain untuk Akihabara FC musim ini.
Sudah 5 menit berlalu, Darwin masih diam saja sambil menampilkan presentasi diagram dari laptopnya itu.
...
"Apa-apaan Darwin??" Hiro juga semakin bingung dengan Darwin yang terlihat aneh. "Jangan-jangan--,"
Tok..
Darwin memukul meja didepannya, membuat orang-orang disekitarnya memperhatikannya kembali. Wajahnya terlihat serius.
"Kalian bisa lihat apa yang ada di layar?" Tanya Darwin.
Hiro pun mengangguk. Begitu juga dengan yang lain.
Dalam halaman pertama presentasi, diperlihatkan kepada semuanya tentang siapa pemain terbaik Akihabara FC musim ini. Di perlihatkan kepada semua nama Hiro yang menjadi pemain terbaik sekaligus assist terbanyak bagi tim, sementara Aaron Carletty menjadi pencetak gol terbanyak di Akihabara.
...
Di sela-sela penayangan, tiba-tiba Darwin mengganti topik. "Oh iya, sebelum saya langsung ke intinya.., saya ingin mengatakan bahwa saya bangga memiliki pemain seperti kalian di tim yang saya kelola. Saya menyaksikan setiap perjuangan kalian di pertandingan Liga.., bahkan di pertandingan terakhir, saya datang langsung ke stadion," Ucap Darwin dengan senyum yang tidak penuh.
Mendengar ucapan Darwin, Hiro jadi termenung. Dia masih ingat dengan jelas pertandingan terakhir melawan Osaka itu. Dia malu karena kalah di depan Darwin yang datang langsung ke stadion.
...
"Hmm? kenapa kalian semua diam saja?" Sejauh pertemuan ini berlangsung, hanya Darwin yang berbicara. "Ayolah.., aku tidak ingin perpisahan kita harus menyedihkan seperti ini..,"
...
...
"!!!"
"Hah?"
...
Semua pemain serta pelatih Akihabara FC langsung menahan napas mereka ketika mendengar kata 'perpisahan kita' dari ucapan Darwin barusan.
"Apa yang dikatakannya?" Dalam hati Hiro.
Semua orang masih terlihat kebingungan. Terdengar suara orang berbisik dan bergumam, saling menggema di ruang pertemuan ini.
Akhirnya Hiro mencoba bertanya kepada Darwin apa yang sebenarnya dia ingin sampaikan. "M--Mohon maaf Darwin.., kalau boleh tau, apa maksud dari perkataanmu? apa artinya perpisahan itu?"
Darwin menatap Hiro dan berkata, "Oh, maaf aku belum memberitahu kalian," Ucap Darwin. Dia melipat kacamatanya dan berdiri dari tempat duduknya sebelum melanjutkan, "Pertemuan kali ini tujuannya untuk menseleksi pemain Akihabara FC yang masih layak bermain, dan mana pemain yang akan meninggalkan tim ini karena bermain belum memuaskan."
Hiro pun paham. "Jadi, kau memanggil kami kemari hanya untuk memecat kami?" Tanya Hiro.
"Iya," Ucap Darwin. "Tapi tidak semua."
Darwin pun kembali duduk. Dia langsung menjalankan presentasi yang terlihat di layar lebar belakangnya.
"Perhatikan semuanya! Aku sudah melakukan seleksi bersama beberapa ahli yang aku sewa beberapa hari lalu. Aku mendapatkan bahwa 80% dari skuat saat ini harus di putus kontrak!" Nada Darwin semakin tinggi.
...
"!!!"
"Apa?"
"Kenapa?"
"Bagaimana bisa?"
"Sungguh tidak adil!"
Desas-desus kepanikan makin terdengar. Banyak pemain yang jarang mendapat kesempatan bermain terlihat pasrah, termasuk Ryota yang sepertinya sudah menduga bahwa dirinya pasti akan disingkirkan dari skuat.
...
Keputusan Darwin yang tiba-tiba ini membuat semua orang terkejut dan langsung panik. Apakah mereka semua akan dipecat?
"Bisa dilihat di layar bahwa nama-nama yang tertera adalah nama-nama yang aman dan akan menjadi bagian dari tim Akihabara FC di musim berikutnya," Ujar Darwin. "Jika ada nama yang tidak dicantumkan, maka mohon maaf, kau harus mencari tim lain."
Seluruh pemain melihat layar dengan seksama. Merela mencari nama mereka namun memang hanya sedikit nama yang ada di layar itu.
Dari total 30 pemain Akihabara, hanya 6 pemain yang dipastikan bertahan di musim berikutnya. Nama-nama itu seperti Kato, Aaron, Hiro, Nakata, Mayashi, dan Yui yang sudah menjadi tim inti dan tidak tergantikan.
Sementara itu, nama-nama lain seperti Ryota hanya bisa menerima kenyataan bahwa mereka tidak lagi diinginkan.
"Sudah kuduga," Batin Ryota.
Banyak dari pemain Akihabara FC yang menggantungkan hidupnya dari sepakbola. Ada juga pemain yang sudah nyaman berada di tim karena sudah seperti sebuah keluarga. Namun Darwin menghancurkan semua itu begitu saja.
...
"K--kenapa kau memecat kami?! apakah kami melakukan kesalahan?!" Tanya salah satu pemain Akihabara dengan panik karena tidak terpilih.
"Iya.., bukankah keputusanmu terlalu buru-buru?!"
Sambil bersandar santai di kursinya Darwin menjawab, "Ya, menurutku banyak dari kalian yang belum sempurna. Hanya sedikit pemain yang masih layak memakai Jersey Akihabara FC di sini!" Tegas Darwin.
"T--Tapi kau tahu jika semua itu butuh proses kan?!" Hiro menentang.
Darwin menghela nafas. Dia sudah menduga bahwa pasti banyak pemain yang tidak setuju dengan keputusannya. "Iya.., aku tahu, oleh sebabnya aku memecat sebagian besar kalian karena aku melihat proses kalian belum sempurna dan harus meneruskan proses kalian. Namun sayangnya kalian tidak melanjutkan hal itu di Akihabara," Ujar Darwin.
"Mohon untuk pergi dari sini dan mencari klub lain untuk berproses."
"T--Tapi--,"
BRUAKK!!!
"TAPII APA LAGI?!!!" Darwin menggebrak mejanya.
"KALIAN TIDAK TAHU BERAPA BANYAK UANG YANG AKU KELUARKAN UNTUK KLUB INI!" Darwin meluapkan emosinya. Darwin berdiri dari kursinya dan mengacak-acak rambutnya. "AKU SUDAH MEMBERIKAN SEGALANYA! TEMPAT LATIHAN YANG BAGUS! ASRAMA YANG BAGUS! GAJI YANG SESUAI! NAMUN APA YANG KALIAN BERIKAN KEPADAKU?!!"
Pemain-pemain Akihabara FC merasakan sakit yang dirasakan oleh Darwin. Setiap orang pasti pernah merasakannya. Mereka jadi paham mengapa Darwin tiba-tiba bertingkah gegabah dalam mengambil keputusan.
"SEICHI! AKU SUDAH MENGELUARKAN BANYAK UANG UNTUK SETIAP PEMAIN YANG KAU INGINKAN! TAPI KENAPA TARGET TIGA BESAR YANG KUINGINKAN TIDAK DAPAT KAU BERIKAN!!"
"Maaf,"
Sebagai pelatih, Seichi juga ikut bertanggung jawab. Dia merasa bersalah seolah sudah menghabiskan uang Darwin begitu saja dalam membeli pemain incarannya.
...
Seorang pengusaha yang baru saja terjun ke bisnis sepakbola besar. Segala sesuatu sudah dia berikan namun dia tidak mendapatkan keuntungan apapun ketika tidak ada target yang tercapai.
Melihat Darwin sedang kesulitan, Hiro mencoba berbicara dengannya. Hiro pun meninggalkan kursinya dan menghampiri Darwin.
"Tenanglah Darw--,"
"Sssttt...," Belum sampai Hiro selesai berbicara, Darwin sudah mengehentikannya. "Sudah, jangan berbicara denganku Hiro, emosiku sedang tidak karuan. Maaf sudah melepaskan emosiku di sini,"
"Huh..? Darwin? kau tidak apa-apa?" Hiro mengkhawatirkan Darwin.
Namun Darwin tidak memedulikan Hiro dan langsung menyuruhnya untuk kembali duduk di kursinya. "Sudah-sudah, pertemuan kali ini saya akhiri, terimakasih atas kehadirannya, terimakasih atas kerjasama satu musim terakhir ini. Mohon maaf kepada pemain yang tidak terpilih. Mohon maaf karena belum bisa menjadi pemimpin yang baik."