
...❄️❄️❄️...
...27 Desember...
...08.31...
......................
Sekumpulan anak bersenang-senang bermain di persimpangan jalan yang sepi tertutup oleh salju. Hiro yang sedang berjalan di sampingnya melirik sambil tersenyum ke arah mereka.
Namun balasan dari senyuman hangat Hiro itu tidak terduga. Sebuah bola salju melayang tepat ke wajah Hiro.
Plookk!!
"Waahh!! M--maaf Kak..,,"
Salah seorang anak laki-laki terkejut melihat bola salju lemparannya mengenai target yang salah.
Hiro mencoba membersihkan wajah serta pandangannya dari salju yang menempel. Hiro pun bisa melihat wajah-wajah ketakutan dari anak-anak di depannya.
"Maafkan kami Kak, kami tidak sengaja," Ucap seorang anak lainnya sambil membungkuk.
...
Hiro bergeming. Dia masih bingung cara menanggapi anak-anak ini. Sebenarnya Hiro sama sekali tidak masalah dengan salju yang menimpa wajahnya tadi. Namun Hiro harus memberikan sesuatu kepada anak-anak ini agar mereka bisa lebih berhati-hati kedepannya.
Dengan mengubah Gimik wajah serta suaranya menjadi lebih serak dan berat, Hiro berteriak kepada anak-anak didepannya seakan dia memarahinya.
"HEI! KALAU BERMAIN LEMPAR-LEMPARAN SALJU LIAT SEKITAR LAH! JANGAN ASAL LEMPAR!"
Anak-anak pun semakin ketakutan. Mereka membungkuk, bahkan sampai mencium tanah untuk meminta maaf kepada Hiro.
Sebenarnya Hiro ingin tertawa, namun dia tidak ingin merusak suasana ini. Melihat bahwa ada kesempatan untuk membalas perbuatan mereka, Hiro pun mengambil beberapa genggam salju dan dengan cepat melemparkannya kepada anak-anak yang sedang membungkuk itu.
Plook..! plook..!
"SANA..BUBAR-BUBAR!!" Teriak Hiro sambil melemparkan salju.
Anak-anak pun terkejut.
"Ayo lari!"
"Aku mau pulang!"
"Selamatkan diri!"
Anak-anak itu lari tunggang-langgang menghindari lemparan bola salju Hiro.
"Hei! mau kemana kalian?! Ayo bermain! Hahaha."
Hiro tertawa terbahak-bahak melihat kekonyolan mereka. Saat masih kecil dirinya juga pernah mengalami hal yang sama.
...
...
Hiro pun melanjutkan perjalanannya menuju rumah Ryota. Hiro ingin mengunjungi rumahnya sekaligus menceritakan kepada Ryota tentang peluangnya untuk bermain bola di Benua Biru, tepatnya di Belanda dan Bulgaria. Saat malam natal kemarin memang Hiro belum sempat memberitahu Ryota tentang hal ini karena lupa sebab pulang terlebih dahulu.
...
Setelah sampai, Hiro langsung masuk gerbang rumah dan mencari Ryota.
Tok..tok..tok.., "Permisi, Ryo..," Panggil Hiro.
Beberapa saat kemudian seorang wanita keluar dari balik pintu. Pada awalnya Hiro mengira bahwa dia adalah ibunda Ryota. Namun setelah diperhatikan, Hiro baru sadar kalau dia adalah adiknya Ryota, yaitu Ruka. Hiro hampir lupa dengan namanya. Ruka terlihat lebih dewasa di banding terakhir kali mereka bertemu.
"Eee.., kakakmu ada?" Tanya Hiro.
Ruka Ryota pun mengangguk dan mempersilakan Hiro masuk ke dalam rumah. "Silahkan masuk dulu, akan kupanggil kakak,"
Setelah mengantarkan Hiro, Ruka pergi tanpa mengucapkan sepatah kata. Hiro pun menunggu Ryota sendiri di ruang tamu.
...
Lima menit kemudian, Ryota datang membawa banyak pernak-pernik lampu natal.
"Eh, Hiro," Ucap Ryota ketika dia melihat Hiro yang duduk menunggunya. "Sebentar ya, aku mau naruh ini di belakang,"
"Oh, ya," Sahut Hiro.
...
Setelah itu Ryota pun kembali ke ruang tamu dan duduk di depan Hiro. "Ada apa Hiro? pagi-pagi sudah mampir,"
Hiro membetulkan posisi duduknya. "Gini nih Ryo, aku kesini mau ngasih tau aja..,"
"Itu.., nanti siang aku sama Saki mau pergi ke Eropa," Sambung Hiro.
"Eh?! nanti? mendadak sekali..,"
"Iya, maaf kemarin belum sempat memberitahumu.., ini aku juga sedang buru-buru,"
"Waah, seru kayanya..! mau ngapain ke sana?"
Hiro bersandar di sofa sebelum dia menjawab Ryota. "Melanjutkan perjalanan," Ucapnya.
"Perjalanan?"
Hiro mengangguk. "Kamu pasti masih ingat ketika aku memutuskan pergi dari Akihabara FC, kan?"
...
Mulut Ryota bahkan belum sempat menjawab, namun alisnya yang semula terangkat kini mulai turun. Wajahnya langsung datar. Dirinya ingat mengapa Hiro memutuskan untuk meninggalkan klub pertamanya, yaitu Akihabara FC. "Oh," Desis Ryota setelah mengerti dengan apa yang dimaksud Hiro. "Jadi kamu mau berkarir di Eropa?"
"Iya," Jawab Hiro.
Ryota langsung paham ke mana arah pembicaraan ini. Hiro juga masih diam karena bingung ingin menyampaikan sesuatu kepada Ryota.
...
Suasana di ruang tamu menjadi lebih dingin dari udara di luar. Rasa canggung yang belum pernah dirasakan oleh dua orang ini sebelumnya. Sebuah topik pembicaraan yang paling mereka hindari.
...
...
"Ekheemm..," Hiro membersihkan tenggorokannya, memecah suasana yang dingin. "Tapi.., sayangnya kali ini aku gak bisa ngajak kamu Ryo, maaf."
"Aku harus pergi sendiri ke Eropa. Kali ini aku tidak bisa membantumu," Pungkas Hiro.
...
Ryota yang mendengar ucapan Hiro serasa ingin memukul sahabatnya itu. Walaupun Ryota sudah siap untuk mendengarkannya secara langsung, namun tetap saja ada rasa sakit di hatinya.
Ryota pun memejamkan matanya dan menarik napas panjang. "Iya Hiro, tidak mengapa,"
Hiro termenung sejenak. "Jika aku pergi ke Eropa, apa yang akan kau lakukan?"
"Yaa.., begitulah, aku akan mencoba cara lain supaya tetap bermain sepakbola. Namun tidak menutup kemungkinan untuk mencari profesi lain."
"Wah, kalau bisa jangan sampai berhenti di sepakbola ya, Ryo."
"Iya, akan kuusahakan,"
...
Hiro masih ingat ketika dirinya masih belum siapa-siapa seperti sekarang jika bukan karena bantuan dari sang sahabat.
Mulai dari bermain bola bersama di lapangan kompleks perumahan, di anggap remeh teman-teman, kemudian mendaftar di sekolah sepakbola bersama Ryota, sempat berjualan minuman di toko Bibi, bertemu rival bernama Daichi di akademi, bahkan sempat kehilangan semangat, walaupun akhirnya Hiro kembali menemukan semangatnya bermain sepakbola. Hingga kehidupan Perkuliahan yang rumit.
...
"Kalo diingat-ingat masa kecil dulu seru ya, gak kaya sekarang.., pusing..! hehe,"
"Iya betul,"
...
Mereka mengarungi susah dan senangnya bersama. Bertahun-tahun lamanya mereka menunggu kesempatan untuk membalas kerja keras mereka selama ini. Namun sayangnya, hari ini di mana harapan itu berakhir.
Ryota menyadari bahwa Hiro dan dirinya tidak bisa selalu bersama sebagai sahabat. Masing-masing orang memiliki jalan yang berbeda. Tidak semua orang memiliki nasib serta takdir yang sama, dan Ryota sudah mempelajari tentang itu.
"Kamu bisa pergi ke Eropa dan melanjutkan perjalananmu menuju panggung sepakbola terbesar. Sama seperti yang kau inginkan sejak dulu, kan?"
"Terimakasih Ryo..,"
"Tidak masalah," Ryota tersenyum dan mengangguk ringan. "Mulai sekarang, kita harus menjalani hidup ini dengan cara yang paling tepat."
"Maaf ya, kalo selama ini aku hanya bisa menghambat karirmu," Wajah Ryota menjadi lesu ketika mengingat dirinya sebagai beban di setiap pertandingan.
"Eh.., tidak perlu meminta maaf Ryo," Hiro menenangkan pikiran sahabatnya. "Aku tidak pernah keberatan dengan apa yang telah terjadi."
"Aku bersyukur karena kita telah dipertemukan dan menjadi sahabat baik." Sambung Hiro.
"Terimakasih Hiro," Ucap Ryota.
Pada akhirnya, dua sahabat ini saling mengerti tentang sebuah komitmen. Di mana komitmen setiap orang itu berbeda. Sepertinya halnya Hiro yang masih mengejar mimpinya demi membanggakan diri sendiri serta Ayahnya. Karena itulah Ryota tidak berhak mengatur keputusan Hiro untuk masa depannya.
...
...
"Kau jangan sampai menyerah ya! tetap semangat! percayalah bahwa kau juga bisa!" Hiro menyemangati Ryota.
"Yeee..,, kalau aku memang tidak mudah menyerah! memangnya kamu, dikit-dikit berhenti.., hahaha,"
"Hush, Masa lalu tidak perlu di bahas lagi, hahaha!"
Hiro dan Ryota pun mengingat masa-masa ketika Hiro sempat kehilangan semangat bermain sepakbola.
...
🍃🍃🍃
...
Di kamarnya, Ruka yang sedari tadi menguping pembicaraan Hiro dengan kakaknya, hanya bisa menahan pilu dihatinya. Tidak dia sangka ternyata Hiro, sahabat kakaknya yang sudah dia kagumi sejak kecil karena keteguhan hati dan semangat yang tinggi, akan pergi jauh darinya.
Ruka tidak bisa begitu saja keluar dari kamar dan memberikan ucapan selamat tinggal kepada Hiro.
Air mata yang mengalir di pipinya, ia seka sebisanya. "Kenapa aku menangis? perasaan apa ini?"
Lebih baik Ruka menahan perasaan ini di hatinya selama mungkin. Biar hanya dia dan hati kecilnya yang tahu segalanya.
...
"Hati-hati kak Hiro..," Desis Ruka yang mengintip dari balik pintu kamarnya. "Semoga kita bisa bisa bertemu lagi."
...
...
🍃🍃🍃
...
Pukul 09.47
"Yah, dah siang," Ucap Hiro ketika sadar melihat jam tangannya.
Tak terasa waktu semakin siang. Hiro segera pamit dengan Ryota. Dia menitipkan salam kepada orang tua Ryota serta Ruka Sebelum pergi.
"Salam untuk orangtuamu dan adikmu ya! Aku pergi dulu! Waktunya dah mepet nih,"
"Hahaha, baiklah! Kalau kau sudah sukses di Eropa kabari aku! Nanti ku ajak berkeliling dunia!" Ucap Ryota dengan nada bercanda yang khas.
"Pastinya! Haha, tunggu saja Ryo!" Hiro tertawa. "Sampai jumpa lagi!"
Hiro melangkah pergi melewati pintu rumah Ryota.
"Hati-hati di jalan!"