The Dreamer

The Dreamer
Petualangan baru



"Selamat tinggal Ayah, aku dan Saki pergi dulu,"


...


Itulah yang disampaikan oleh Hiro ketika dia berpamitan dengan Ayahnya Sebelum pergi menuju bandara pada siang hari ini.


Hiro dan Saki sama-sama berdiri membelakangi pintu rumah Hiro. Sang Ayah melihat dari dalam rumah ketika putranya bersama dengan kekasihnya berjalan menjauh sambil membawa banyak barang bawaan.


Ayah Hiro menarik napas panjang lalu tersenyum. Dia melihat di kejauhan tampak Hiro dan Saki bercakap-cakap sambil bercanda dihiasi dengan butiran salju yang turun dari langit.


Kini Hiro sudah dewasa, dan memiliki pasangan. Bahkan sekarang sudah berani untuk mencari petualangan baru.


...


Dalam benak hatinya, Hiro juga merasakan hal yang sama seperti Ayahnya. Dia sadar jika sudah dewasa. Sekarang Ayahnya juga membutuhkan dirinya.


Walaupun telah dibekali tekad dan membentuk semangat yang lebih tebal dari baja, Hiro tetap tidak melupakan orang-orang yang menjadi alasan kenapa dirinya masih berdiri hingga saat ini menuju Bandara.


Sang Ayah yang telah memberikan kebahagiaan serta pelajaran hidup paling pertama kepadanya. Sahabatnya, Ryota, yang selalu ada untuk Hiro di saat suka maupun duka.


Lalu ada Takashi, pelatih pertama Hiro di Akademi Zekka. Tidak lupa di sana ada anak laki-laki yang memang dan akan selalu Hiro ingat namanya, yaitu Daichi Furuoka, yang menjadi cerminan bagi Hiro untuk bisa melampaui batasnya. Jika bukan karena mereka berdua, mungkin Hiro tidak akan bertemu dengan seorang agen pemain sepak bola bernama Darwin ketika Hiro memenangkan Piala UFF saat masa kuliah.


Hingga akhirnya Hiro berkesempatan untuk menjadi pesepakbola profesional dan sekarang ini karirnya masih terus berkembang.


...


...


"Hiro?"


"..."


Panggilan Saki membuat Hiro tersentak dari lamunan panjangnya.


"Iya Saki? Kenapa?"


"Ini taksi online nya dah mau sampe," Ujar Saki sambil menunjukkan ponselnya.


"Oh, iya," Hiro pun kembali mengangkat koper yang sempat dia letakkan di bawah.


Mereka berdua pun melambai ke arah sebuah mobil sedan yang bergerak mendekati. Mobil itu berhenti di dekat mereka dengan kaca samping yang terbuka sehingga memperlihatkan wajah si sopir.


"Atas nama Saki?" Tanya sopir mobil itu.


"Iya, benar," Sahut Saki.


...


Hiro dan Saki pun memasukkan barang-barang mereka ke bagasi sebelum berangkat ke Bandara. Bawaan mereka cukup banyak untuk seminggu kedepan.


...


Dan setelah selesai memasukkan barang, mereka pun bergegas masuk ke mobil dan berangkat dengan sedikit tergesa-gesa karena waktu sedikit mepet.


"Jalannya agak cepet ya pak," Ucap Hiro kepada sopir di sampingnya.


"Oke,"


...


...


......12.05......


Hiro dan Saki telah sampai di tujuan. Bandara haneda di Tokyo, terlihat sangat sibuk dengan rute-rute penerbangan internasional mereka. Turis-turis asing serta orang-orang penting berpakaian jas memenuhi lobi. Inilah kali pertama Hiro di Bandara dan langsung dihadapkan pada bandara internasional.


"Tempatnya luas sekali!" Hiro terkagum dalam hati.


...


Dari Jepang menuju Belanda menggunakan pesawat memang tidak murah. Hiro merogoh kocek hampir 800.000 yen(85 juta rupiah±) untuk tiket 2 orang pulang pergi Jepang-Belanda. Hiro selalu menghela napas saat mengingat harganya.


Namun semua itu akan terasa memuaskan jika nanti akhirnya Hiro bisa menetap di Eropa dan menjadi pemain profesional di sana. Ini adalah sebuah pertaruhan yang setimpal dengan usahanya.


...


...


......12.55......


Pesawat lepas landas dari Tokyo. Hiro telah resmi meninggalkan tanah kelahirannya.


Hiro menggenggam tangan Saki yang duduk di sampingnya. Tubuhnya merasakan sesuatu yang tidak enak saat lepas landas tadi. Saki pun menenangkannya.


"Tidak apa-apa," Ucap Saki sambil tersenyum yang sudah cukup membuat Hiro lebih tenang dan kembali bernapas teratur. Tangannya terus menggenggam.


"Kamu dah pernah naik pesawat Saki?" Tanya Hiro.


Saki cukup mengangguk pelan untuk menjawab pertanyaan Hiro.


"Ke mana?" Tanya Hiro lagi.


"Ke China, bertemu dengan Papaku di sana,"


"Heeh?! Ayahmu orang China?"


"Bukan, Papaku hanya bekerja di sana,"


"Oh, begitu,"


"Iya," Mendadak raut wajah Saki menjadi pilu. "Tapi udah lama aku gak ketemu sama Papaku lagi. Terakhir ketemu udah hampir 5 tahun lalu sebelum aku kuliah."


Hiro juga ikut merasakan rasa kerinduan yang dialami kekasihnya. "Yang sabar ya, Saki. Papa kamu pasti juga merasakan hal yang sama. Suatu saat pasti kalian ketemu lagi kok."


Saki pun menoleh dan menatap Hiro dengan penuh Arti. "Sebenarnya bukan itu masalahnya," Genggaman tangan Saki terasa merenggang. "Aku tidak bertemu Papaku lagi sebenarnya karena Papa dan Mamaku sudah bercerai. Sekarang aku tinggal sama Mama di Jepang."


"Oh..," Hiro menjadi merasa bersalah telah bertanya kepada Saki. "Maafkan aku ya,"


"Tidak perlu meminta maaf. Aku rasa kita memilih nasib yang sama ya, hehe."


Hiro pun baru menyadarinya. "Iya juga ya,"


"Iya, tapi sebenernya aku masih sayang sama Papa aku. Aku masih belum mau pisah sama dia."


"Sabar ya Saki," Ucap Hiro sambil menepuk-nepuk pundak Saki.


...


Ternyata mereka berdua memiliki nasib yang hampir sama. Sama-sama dibesarkan oleh orang tua tunggal. Namun Saki sedikit lebih beruntung di banding Hiro karena sempat merasakan memiliki keluarga utuh. Mereka juga pasti memiliki alasan yang berbeda dibaliknya.


"Sebaiknya jangan kutanya alasan orangtuanya bercerai," Dalam hati Hiro.


...


"Kayaknya pertemuan kita memang sudah takdir untuk saling melengkapi." Hiro mencoba mencairkan suasana sedih ini.


"Iya, bisa pas gini ya? Jadi kayak saling melengkapi gitu sih, hehe."


...


Hiro senang melihat tawa Saki yang dia kenal. Hiro tidak menyangka bahwa Saki juga memiliki sebuah tragedi di kehidupannya. Hiro sangat salut kepada Saki karena bisa kuat menghadapi realita.


Kini mereka harus kembali menatap ke depan dan melihat masa depan. Jam-jam berharga di hidup mereka berdua. Kini mereka tinggal menunggu untuk sampai di Benua Biru, Eropa, dan memulai petualangan baru.