
Jantung Hiro berdegub kencang. Kakinya melangkah masuk ke gerbang besar bertuliskan ‘Zekka Football Academy’. Tempat itu sangat luas. Lapangan-lapangan hijau terhampar. Hiro masih terpaku tidak percaya bahwa di sekolah sepakbola elit ini dia akan mengasah kemampuannya.
“Ngapain bengong Hiro? Ayo langsung masuk ke lapangan!” Celetuk Ryota membuat Hiro tersentak.
“Eh? Langsung masuk ke lapangan?” Tanya Hiro.
“Iya! Kan udah di daftarin Ayahku..,” Ucap Ryota.
“Iya juga ya,”
Hiro dan Ryota pun masuk ke salah satu lapangan khusus untuk kelompok usia 12-14 tahun. Di lapangan ini banyak anak-anak yang seumuran dengan Hiro.
Pertama kali masuk ke lapangan, Hiro menjadi pusat perhatian karena tubuh kecilnya. Mereka semua berpikir apa yang dilakukan anak seperti Hiro di sini.
“Kenapa yang lain melihatku seperti itu? Apakah aku terlihat aneh?” Dalam hati Hiro.
Samar-samar Hiro mendengar beberapa orang membicarakannya.
“Siapa anak itu?”
“Heh.., tubuhnya kurus sekali,”
“Apa dia anak baru? Siapa namanya?”
Namun Hiro tidak menghiraukan pandangan buruk teman-temannya di lapangan. Jika dengan tampilan tidak bisa dipercayai, maka Hiro akan membuktikannya dengan tindakan.
PRIIIT!!
Seorang pemuda yang mengenakan topi meniup peluit dengan kencang. “Semuanya berkumpul!”
Pemuda itu adalah pelatih yang khusus menangani kelompok usia 12-14 tahun. Namanya adalah Takashi, umurnya masih 20 tahun. Dia merupakan alumni akademi ini dan pernah menjadi lulusan terbaik.
Setelah semuanya sudah berkumpul, Takashi mengumumkan jika hari ini ada dua murid baru yang akan bergabung dengan Zekka Football, yaitu Ryota dan Hiro. “Saya harap kalian semua dapat saling bekerjasama di lapangan satu sama lain,” Ucap Takashi.
Walaupun begitu, masih tidak ada satupun anak yang berkenalan dengan Hiro. Berbeda dengan Ryota yang sudah berkenalan dengan banyak teman seumuran. Hiro juga malu ingin berkenalan karena orang-orang terus memandangnya dengan tatapan aneh.
Hari itu, Hiro harus menjalani latihan dengan tidak berbicara sama sekali. Dia hanya mendengarkan dan menjalankan perintah pelatih. Setiap dia memberikan bola kepada temannya selain Ryota, Hiro tidak pernah diberikan bola kembali. Alhasil hari itu, Hiro tidak begitu banyak menyentuh bola ketika latihan.
Takashi adalah seorang pelatih yang perhatian. Dia melihat sesuatu ada yang tidak beres dengan Hiro. Takashi pun menghampiri Hiro di pinggir lapangan saat istirahat. “Hey, namamu Hiro bukan?”
Hiro hanya mengangguk. Kepalanya tertunduk tidak berani melihat ke atas.
“Dari tadi aku memperhatikanmu, apa kau dikucilkan teman-temanmu?” Tanya Takashi.
“Ah?” Hiro terkejut pelatih menghampirinya. Dia hanya diam saja tidak menjawab.
“Kalau iya akan kumarahi mereka,” Takashi pun ingin segera pergi ke tempat lain.
“Jangan!” Namun tangan Hiro menahan sang pelatih.
“Kenapa?” Takashi bingung.
Namun Hiro diam saja seolah tidak memiliki penjelasan. Tanganya masih menahan Takashi agar tidak pergi memarahi teman-temannya.
Takashi menghela napasnya. “Baik..baik, aku tidak akan memarahi teman-temanmu. Sekarang bisa lepaskan tanganku?”
“B—Baiklah, maaf,” Hiro melepaskan cengramannya.
Takashi kemudian duduk di samping Hiro yang masih tertunduk sambil memainkan rumput di depannya. Suara-suara orang sedang bermain sepakbola terdengar dari setiap lapangan yang ada.
“Dengarkan aku Hiro, mereka itu tidak mengucilkanmu. Mereka hanya belum mengenalmu.”
“Huh? Apa maksud pelatih?” Tanya Hiro.
Kemudian Takashi menunjuk kepada Ryota yang sedang bergurau dengan teman-temannya di sudut lapangan yang lain. “kau lihat Ryota? Dia adalah temanmu bukan? Dia itu adalah anak paling ingin tahu sesuatu di sini. Dia selalu mengajak bicara seseorang di dekatnya tanpa melihat siapa yang dia ajak bicara.”
“Benar juga. Ryota memang selalu menyenangkan jika diajak bicara.” Dalam hati Hiro.
“Tapi bukan karena dia anak yang asik diajak bicara. Ryota hanya berani untuk berkomunikasi dengan orang lain. Kau juga harus berani seperti itu Hiro! Tidak peduli apa tanggapan orang lain terhadapmu, kau hanya perlu mengambil langkah awal. Jika tidak, kau tidak akan bisa memiliki teman.”
“Tapi pelatih, bagaimana jika mereka memang tidak menyukaiku?”
Takashi tertawa, “Apakah kau pernah mencobanya?”
“Baiklah, istirahat sudah selesai. Ayo cepat suruh teman-temanmu kembali ke lapangan sekarang,” Ucap Takashi.
“A—Aku memberitahu mereka?”
“Iya, ayo cepatlah,”
Hiro pun berdiri ke tengah lapangan dan berteriak sekeras mungkin. “Semuanya berkumpul kembali!”
Seluruh anak yang ada di lapangan itu pun langsung menuju asal suara, tepatnya Hiro.
“Apakah mereka mendengarkanmu?” Tanya Takashi disampingnya.
“Iya,” Jawab Hiro sambil tersenyum.
Hiro mulai menyadari sesuatu. Selama ini dia diam dan menunggu seseorang datang kepadanya. Namun dia tahu bahwa sebaiknya semua itu harus dimulai dari dirinya sendiri.
...
Hingga kemudian, latihan pertama bagi Hiro pada hari itu sudah berakhir. Sesaat sebelum pulang, dia dan Ryota diberikan masing-masing satu setelan Jersey bola. Jersey itu adalah sebagai tanda resmi bagi Ryota dan Hiro yang sudah menjadi bagian dari Zekka Football Academy.
"Waahh! Bajunya bagus ya Hiro!" Ucap Ryota. "Warnanya putih bersih!"
"Iya, bagus!" Hiro memandang nomor punggung miliknya di belakang Jersey.
Hiro mengenakan nomor 19 sebagai sayap kanan. Sedangkan Ryota mengenakan nomor 4 sebagai seorang bek tengah. Jersey itulah yang akan mereka berdua kenakan selama masih berada di akademi Zekka.
...
Saat di dalam mobil Ryota yang menjemputnya untuk kembali ke rumah, Hiro sempat bertanya kepada Ryota mengenai teman-teman yang dia dapatkan di hari pertama latihan tadi. "Ryo, aku lihat kau sudah mendapatkan banyak teman di lapangan?"
"Eh, Iya Hiro! aku sudah mendapatkan banyak teman di sana tadi! kemana saja kau?"
"Begini.., aku mau bertanya. Menurutmu bagaimana teman-teman barumu itu?"
"Mereka? hmm, aku pikir mereka sangat baik dan bersahabat. Tidak ada yang berperilaku buruk kok," Jelas Ryota.
"Oh begitu,"
"Kenapa? kau ingin berteman dengan mereka tadi? kalau begitu, berkenalan saja, tidak perlu takut. Mereka tidak akan menolakmu, aku yakin itu!"
"Eh iya, terimakasih, Minggu depan aku akan mencobanya." Ucap Hiro. Walaupun begitu, sebenarnya Hiro masih belum percaya diri.
...
Saat sudah sampai di depan rumahnya, Hiro pun turun dari mobil Ryota. "Terimakasih atas tumpangannya Ryo!"
"Tidak masalah, setiap minggu aku akan mengantarmu!"
"Ah! terimakasih!" Hiro senang. "Kalau begitu, aku duluan ya!"
"Ya!"
Ryota pun kembali pergi dengan mobilnya menuju rumahnya. Dari jauh Hiro masih bisa melihat mobilnya pergi.
Setelah Hiro diam berdiri di depan rumahnya, dia pun masuk ke rumah kecilnya yang kosong itu. Lampu redup yang menerangi rumahnya sudah dinyalakan. Tampak Jersey milik Hiro telah digantungkan pada gantungan baju di dekat milik Ayahnya. Hiro ingin nanti Ayahnya melihat Jersey itu.
Setelah membasuh keringat pada wajahnya, Hiro langsung kembali beraktivitas seperti sore pada hari biasanya, yaitu menyiapkan dagangannya untuk esok hari.
Hiro memang masih bisa dibilang anak-anak. Namun tanggung jawabnya sudah sebesar orang dewasa.
...
Waktu berlalu. Saat ini sudah lebih dari tengah malam. "Ayah pulang..," Ucap Ayah Hiro pelan saat membuka pintu.
Dentingan jam dinding lebih keras dari suara di sekitar. Hiro sudah terlelap dalam mimpi ketika Ayahnya pulang. "Hiro sudah tidur ya?" Gumam Ayah Hiro.
Tidak ada jawaban dari Hiro yang memastikan jika Hiro sudah benar-benar tidur.
Ayah Hiro harus beres-beres sebelum dia tidur. Saat dia melepaskan seragamnya dan menggantungnya, dia melihat sebuah Jersey dengan nama 'Hiro' di punggung yang sudah pasti itu milik Hiro. Ayah Hiro tersenyum melihatnya. Matanya sudah penuh dengan air namun dia sudah tidak bisa menangis pada malam itu.
"Kejarlah mimpimu nak," Desis Ayah Hiro. "Ayah akan selalu mendukungmu walaupun kau tidak perlu tahu itu,"