
Sesaat setelah upacara kelulusan Hiro di Universitasnya, dia langsung menuju luar kota. Rintik hujan jatuh di atas kepala Hiro ketika dia tiba di Kota Akihabara pada hari itu juga.
Hiro melangkah keluar dari stasiun bawah tanah dengan mengangkat tas kulitnya di atas kepala untuk melindunginya dari basah air hujan. Hiro pun berlari ke halte terdekat untuk bisa mengatur nafasnya di tempat yang kering.
DUARRR!!
Petir menyambar. Hujan semakin deras. Angin berhembus kencang.
Hiro penasaran kenapa Darwin belum memberikannya kabar lebih lanjut. Hiro pun membuka ponselnya untuk menghubungi Darwin. Saat membuka ponselnya, ternyata ada notifikasi pesan dari Darwin '27 menit yang lalu'.
Pesan itu tertulis, "Hiro, maaf. Sepertinya anak buahku tidak bisa menjemputmu di stasiun karena badai terlalu deras. Bagaimana jika kau datang ke kantorku menggunakan bus atau taksi?"
Mulut Hiro sedikit terbuka ketika membaca pesan dari Darwin. Kemudian Hiro tersenyum kecil saat membalas pesan Darwin itu. "Oh.. baiklah Darwin, aku akan kesana sekarang menggunakan bus." Balas Hiro melalui pesan.
Begitu selesai membalas pesan Darwin, Hiro langsung mematikan ponselnya dan memasukkannya ke tasnya.
...
Hiro tersenyum sendiri. Dia tidak tahu apa yang dia harus lakukan saat ini. Dia terjebak di halte bus karena hujan badai sedang mengelilinginya.
"2 jam perjalanan dari Sapporo, sampai di sini hanya duduk di halte bus sambil menunggu badai reda, haha," Itulah yang membuat Hiro tersenyum sendiri.
...
...
Satu jam berlalu. Hujan masih terus mengguyur. Belum ada satupun kendaraan yang melintas di jalan raya sejak tadi.
Hiro tidak bisa terus begini. Hujan tampaknya tidak akan semakin reda. Hiro harus mencari cara sendiri untuk bisa menuju kantor Darwin sekarang juga. Hiro khawatir Darwin sudah menunggunya terlalu lama.
"Duh, hujan semakin deras. Tapi aku harus segera menuju kantor Darwin. Bagaimana ini?" Pikir Hiro.
Hal gila terlibat dalam pikiran Hiro. Dia memikirkan sesuatu yang sangat di luar nalar. "Apakah aku harus menerobos derasnya hujan?" Pikirnya.
Hiro tidak mempedulikan lagi jika bajunya nanti akan basah. Yang Hiro inginkan adalah untuk segera bertemu dengan Darwin di kantornya.
"Ah, yasudah, mau bagaimana lagi,"
Tanpa pikir panjang, Hiro pun langsung berjalan dengan cepat meninggalkan halte bus itu. Dirinya memeluk tasnya. Jas hujan yang dia bawa tidak cukup untuk melindungi seluruh tubuhnya. Derasnya hujan membuat air tetap masuk dari celah jas hujannya.
...
Jarak jauh yang menjadi rintangan bagi Hiro untuk menuju kantor Darwin. Beruntung Hiro masih ingat rute yang dilalui setelah sebelumnya pernah datang kemari.
Butuh 1,5 jam waktu Hiro agar sampai di kantor Darwin dengan berjalan. Waktu sudah beranjak sore. Hujan badai yang menerjang tadi, kini telah mereda menjadi rintik gerimis dengan angin dingin yang berhembus.
...
Hiro menggigil ketika masuk ke dalam kantor Darwin. Penjaga kantor sampai sempat mengira bahwa Hiro adalah orang asing. Namun ternyata penjaga itu tahu jika dia adalah Hiro yang merupakan tamu dari Darwin.
"Oh, maaf. Silahkan. Akan saya antar anda kepada tuan Darwin. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya." Ucap penjaga itu.
Hiro pun di tuntun penjaga itu menuju ruangan milik Darwin di lantai teratas.
"Semoga Darwin tidak menunggu terlalu lama," Hiro merasa tidak enak kepada Darwin karena merasa dirinya terlalu terlambat datang.
...
"Baiklah, sudah sampai," Ucap penjaga yang mengantarkan Hiro ke ruangan Darwin ketika mereka keluar dari lift.
"Oh terimakasih,"
"Kalau begitu, aku harus segera turun kembali. Tuan Darwin yang kau cari ada di ruangan itu." Penjaga itu menunjukkan jarinya ke salah satu ruang di sudut lantai.
"Baiklah, terimakasih sudah mau mengantarkan aku," Ucap Hiro.
...
Hiro pun langsung berjalan menuju depan pintu ruangan Darwin. Hiro sempat ragu mengetuk pintunya. Namun sekelebat kata dalam pikirannya membuat Hiro teguh dan berani masuk ke ruangan Darwin.
dok..dok..dok..
"Permisi, Darwin?" Ucap Hiro.
Ckleek..
Pintu kayu dengan nuansa modern itu terbuka perlahan. Mata Hiro mengintip dari luar menuju dalam. Sempat terlihat bayangan seorang pria dewasa yang berdiri. Itu sudah cukup untuk Hiro yakin bahwa Darwin ada di sini.
Hiro pun masuk. Dia duduk di kursi kantor, saling berhadapan dengan Darwin.
Pertama-tama, Hiro langsung meminta maaf kepada Darwin karena sekarang ini sudah terlewat waktu perjanjian. "Maaf ya , Darwin,"
"Tidak masalah,. aku paham. Justru sebaliknya aku yang seharusnya meminta maaf kepadamu karena telah meninggalkanmu ketika badai tadi, " Ucap Darwin. "Lagi pula aku tidak memiliki sesuatu untuk kulakukan hari ini, jadi tidak masalah jika kau telat, hihi," Darwin tertawa.
...
Dari dalam ruangan Darwin, suasans terasa abu-abu. Kondisi pasca badai membuat kaca gedung menjadi berembun. Cahaya abu-abu dari sinar matahari yang menembus awan menjadi penerang ruang ini. Guntur masih terdengar walau sudah semakin samar.
...
...
"Oh, iya, ngomong-ngomong soal kontrak kerjaku bersama Akihabara FC, apakah hari ini adalah hari dimana aku menandatangani kontrak itu?"
Darwin tersentak, "Oh, iya! benar, itulah kita disini sekarang," Darwin mengeluarkan sebuah pulpen dari sakunya, "Sekarang kau bisa menandatangani kontrak kerja di sini," Ucap Darwin sambil menyodorkan sebuah surat kontrak yang baru.
Di perjanjian kontrak yang baru ini, permintaan Hiro disetujui oleh Darwin dan pelatih Akihabara FC. Permintaan itu adalah, "Jadi.., Ryota benar-benar juga di rekrut oleh Akihabara FC?"
"Iya, itu agar kalian tetap bersama." Ucap Darwin. "Itu memang permintaanmu kan?"
"I--Iya Darwin, terimakasih,"
"Sama-sama," Ucap Darwin. "Aku dengan senang hati menuruti keinginanmu di kontrak ini. Aku tahu kemampuanmu mengolah bola di lapangan Hiro. Aku tidak ingin kehilanganmu hanya karena kau tidak setuju dengan po perjanjian kontrak yang ada,"
"Sekali lagi, terimakasih Darwin,"
...
Hiro dan Darwin pun berlanjut sampai sesi foto dan persemian pemain melalui media sosial seperti Facebuk, Instagrim, dll.
Orang-orang yang melihat postingan Hiro yang sudah resmi menjadi pemain Akihabara FC, tidak mengetahui siapa itu Takehiro Miyoko. Netizen yang berkomentar mengatakan jika Hiro direkrut hanya untuk bersenang-senang. Tidak ada yang spesial dari Hiro sebagai pemain. Hiro hanyalah seorang remaja yang memiliki hubungan dengan pemilik klub Akihabara FC, yaitu Darwin.
...
Hampir semua orang berpikir demikian kepada Hiro. Hiro tidak menyangka netizen akan sekeras ini kepadanya.
...
"Kenapa Hiro?"
...
"Huh?" Hiro tersentak dari lamunannya.
"Apakah kau belum percaya diri dengan dirimu sendiri?" Tanya Hiro.
Hiro hanya terdiam. Hiro menjawab tidak namun terlalu pelan. Menjawab iya namun juga tidak terdengar.
Melihat Hiro yang seperti ini ketika melihat komentar di media sosial, Darwin menghela nafas. Dia harus membuat rasa percaya diri seorang Hiro meningkat mulai saat ini juga dan kedepannya. "Baiklah, ini adalah tempat pembuktianmu Hiro. Tunjukkan kepada semuanya bahwa kau adalah seorang bintang sepakbola masa depan yang cerah itu!!" Ujar Darwin bersemangat kepada Hiro. "Aku adalah seorang agen sepakbolamu. Mulai sekarang mari kita bersama-sama saling bertukar ilmu satu sama lain,"
"..."
"Tidak peduli dengan apa yang terjadi di dunia maya! kau hanya perlu mengontrolnya! Karena sesuatu yang nyata ada didepanmu! mimpimu!"
Ucapan motivasi Darwin membuat Hiro kembali menemukan kepercayaan diri seorang Hiro yang sebenarnya.
"Iya Darwin, terimakasih atas kesempatan yang diberikan." Ucap Hiro.
Hiro dan Darwin berjabat tangan. Dan selesailah proses kontrak Hiro dengan Akihabara FC.
Hiro akan memulai perjalanan menuju tujuannya. Sebuah tangga kecil menuju kesuksesan. Tidak ada yang bisa memecah fokus Hiro pada karirnya lagi. Urusan pendidikan telah usai. Ayahnya sudah tidak usah bekerja terlalu keras lagi. Namun ada satu rahasia dari Ayahnya yang belum Hiro tahu.
...
Namun, yang harus Hiro perhatikan adalah persaingan yang semakin lama semakin kuat di setiap harinya. Untuk itu, Hiro tidak boleh berleha-leha dan harus terus bekerja keras demi mimpinya.
"Mulai Minggu depan, kau dan Ryota akan pindah dari Kota Sapporo menuju Akihabara. Di sini, kami sudah menyediakan semuanya, jangan khawatir." Tutup Darwin.
......................
(Mohon maaf upload akhir-akhir ini agak lambat. Hal ini karena author sedang mengerjakan proyek tugas sekolah. Mohon pengertiannya. Yang pasti, series ini tidak akan berhenti di tengah jalan. Terimakasih.)