The Dreamer

The Dreamer
Rivalitas



Turnamen telah selesai, namun rasa sesal itu masih tersisa di hati Hiro. Seluruh teman-temannya termasuk Ryota juga merasakan hal yang sama. Tidak ada seorangpun yang mau kalah di final.


Hiro pulang dengan rasa kecewa. Dia pulang sendirian dengan bus kota setelah Ryota mengatakan jika hari ini dia tidak bisa mengantarkan Hiro pulang seperti biasanya.


...


"Sampai jumpa pecundang!"


...


Walaupun terdengar menjengkelkan, namun ucapan terakhir dari Daichi sore ini membuat Hiro menjadi memikirkan sesuatu, "Apakah aku masih kurang bekerja keras?" Hiro merenung di dalam bus.


Setelah sampai, Hiro turun dari bus yang mengantarkannya sampai ke halte dekat rumahnya. Kakinya terasa berat karena bermain tiga kali pada hari ini. Hiro hanya bisa melepaskan penat sambil melakukan pendinginan di depan rumahnya.


Ketika matahari sudah terbenam, Hiro harus mulai membuat barang dagangannya kembali. Di dalam rumah yang kosong itu, Hiro masih saja terpikir untuk bisa menjadi seperti Daichi.


"Bagaimana aku bisa Sepertinya?"


...


Hiro masih belum tahu apa rahasia dari Daichi sehingga bisa bermain sehebat itu. Dia sangat bagus dan sudah diminati oleh para pencari bakat yang menyaksikannya tadi.


Setelah lulus dari akademi, Daichi sudah dipastikan akan langsung di kontrak oleh salah satu klub sepakbola profesional di liga Jepang. Kabarnya klub itu sangatlah terkenal.


Hiro ingin dirinya juga mendapatkan hal yang sama. Tapi pertanyaannya adalah, apakah Hiro bisa?


...


Sampai malam Hiro memikirkan tentang Daichi. Lelah tidak membuatnya cepat tertidur. Dia tidak bisa tidur walau sudah berbaring di kasurnya. Kedua tangan Hiro berada di belakang kepala saat dia menatap langit-langit sambil melamun.


Tanpa disadari, Sekarang sudah lewat tengah malam dan Ayah Hiro sudah pulang.


Ckleek...


Suara pintu terbuka. Tidak ada suara sang Ayah. Ayah Hiro mengira Hiro sudah tidur ternyata dia masih terjaga.


Setelah Ayah Hiro masuk ke kamar, dia baru terkejut melihat Hiro. "Eh? kau belum tidur?"


"Iya Yah," Jawab Hiro. Suaranya terdengar serak.


"Ada apa? kenapa belum tidur semalaman ini? habis mengerjakan tugas sekolah?" Ayah Hiro penasaran.


Namun Hiro menjawab, "Tidak," Karena ada alasan lain yang membuat Hiro seperti ini.


"Ada sesuatu yang terjadi hari ini?" Tanya Ayah Hiro.


"Iya,"


...


...


Hiro pun mulai menceritakan semuanya tentang hari ini kepada Ayahnya. Ayahnya masih setia mendengarkan walau sudah sangat mengantuk.


Suara cicak di dinding, serta denting jam yang sudah menunjuk ke angka '1'. Tidak terasa Hari sudah bercerita terlalu lama.


Ayah Hiro paham dengan keadaan anaknya. "Oh jadi itu yang terjadi," Ucap Ayah Hiro setelah selesai mendengar Hiro.


Ayah Hiro turut merasakan putranya. "Ayah paham perasaanmu nak," Ayah Hiro pun memeluk Hiro dengan hangat di dalan dinginnya malam itu.


"Sudahlah, kita tidur saja ya nak? sudah sangat larut,"


"Baik ayah,"


Lampu yang menyala remang sudah dimatikan. Sekarang waktunya bagi Hiro untuk melanjutkan mimpi indahnya dalam tidur.


...


...


Saat matahari sudah terbit kembali, Hiro bangun seperti hari-hari biasanya. Ayahnya sudah berangkat kerja, sarapan dengan makanan semalam, mengantarkan dagangan ke toko bibi, dan kemudian berangkat ke sekolah.


Saat duduk di kelasnya, Hiro menyadari bahwa hari ini Ryota tidak masuk ke sekolah. Hiro tidak tahu mengapa Ryota absen. Wali kelas hanya tahu dari orang tua


Ryota bahwa dia sakit.


Saat tidak ada Ryota seperti ini, Hiro tidak memiliki teman lainnya di sekolah. Hiro tidak mengenal orang selain Ryota di kelasnya, dia hanya cukup tahu nama mereka. Hiro pun hanya bisa melakukan kegiatan sekolah layaknya seorang anak yang baru pertama kali masuk sekolah.


...


Saat bel pulang sekolah berbunyi, Hiro bergegas menuju rumah Ryota untuk menjenguknya. Hiro khawatir jika Ryota sakit karena terlalu lelah setelah bermain seharian di turnamen kemarin.


"Semoga Ryota baik-baik saja," Gumam Hiro.


Saat sampai di depan rumah Ryota, Hiro menekan bel rumahnya. Cukup lama respon dari orang di dalam rumah hingga Hiro harus menekan bel lagi.


Setelah kedua kalinya, Akhirnya pintu rumah Ryota terbuka. Orang itu menyapa kedatangan Hiro dengan hangat. "Oh! kak Hiro!" Suara ceria dari Ruka.


Sudah lama Hiro tidak bertemu dengan Ruka. Terakhir kali bertemu saat musim panas. "Ada apa kak Hiro?" Tanya Ruka.


"Eh, Ruka.., Haloo.., kak Ryota ada?"


"Sakit apa ya?"


Mendengar pertanyaan Hiro, Ruka menjadi sulit menjelaskan. "Ehh..emm, gak tau! masuk aja ya kak! aku panggil dulu kak Ryota," Ucap Ruka sambil mempersilakan Hiro masuk.


...


5 menit berlalu. Ryota datang sambil di antar Ruka ke ruang tamu di mana Hiro sedang menunggu. Perlahan Ryota duduk di samping Hiro. Wajahnya merah, Matanya tidak berbinar sepertinya biasanya. Ryota benar-benar sakit.


Setelah Ruka mengantar Kakaknya ke ruang tamu, dia langsung berjalan ke belakang. "Aku bikinin teh dulu ya," Ucap Ruka sebelum pergi ke dapur.


Keadaan menjadi canggung. "Eeh, Ryo? kamu baik-baik aja?" Tanya Hiro.


Ryota menjawab dengan suara pelan, "Iya,"


"Kamu sakit apa?"


"Demam," Jawab Ryota lagi.


"Apa gara-gara turnamen kemarin?"


"Iya,"


Hiro sudah kehabisan topik pembicaraan. Ryota juga terlihat sangat lelah. Hiro mulai merasa jika kedatangannya menjenguk malah menganggu saat istirahat sahabatnya ini.


Karena tidak enak, Hiro pun izin pulang. "Ryota.., aku pula--,"


"Sebentar Hiro.., aku ingin mengatakan sesuatu," Tiba-tiba Ryota memotong ucapan Hiro. "Dukuklah sebentar,"


"B--Baiklah?" Hiro pun kembali duduk di sofa setelah sempat berdiri ingin pulang. "Ada apa Ryo?"


Ryota menghela napas. "Apakah kau kecewa denganku?"


"Hah?" Hiro sangat bingung. "Maksudmu?"


Ryota juga terlihat tidak menduga reaksi Hiro yang kebingungan. "Kau tahu sendiri bukan? kemarin kita kalah! dan menurutku itu karena diriku yang memaksa bermain walaupun sudah lelah..," Ryota sangat membenci dirinya sendiri.


"Aku terlalu payah menghadapi lawan yang lebih tangguh! aku tidak akan bisa bermain sebagus yang diharapkan!" Ryota membenci dirinya sendiri.


Hiro yang mendengar ucapan Ryota menjadi diam. Dia mulai mengerti perasaan Ryota.


"Kalau kau ingin menjadi seorang pemain bintang, kau tidak layak berada satu tim dengan diriku yang payah ini!" Ucapan Ryota begitu emosional. Ryota juga sampai menangis. "Maka dari itu, aku berpikir bahwa sebaiknya aku berpindah ke sekolah sepakbola yang lain. Aku tidak ingin ego ku menghancurkanmu,"


Hiro masih tetap saja diam. Dia belum mengatakan apapun.


"Selain itu.., alasanku sebenarnya adalah aku tidak ingin kau kehilangan mimpimu!" Ucap Ryota.


...


"TAPI AKU TIDAK INGIN KEHILANGAN SAHABATKU!!!"


...


"Huh?" Ryota terkejut mendengar teriakkan Hiro.


"AKU TIDAK MASALAH JIKA SEUMUR HIDUPKU AKU TIDAK PERNAH MERASAKAN MENJADI JUARA.., TAPI AKU JUGA TIDAK MAU KAU BERKORBAN UNTUK DIRIKU!"


Hiro tidak sanggup menatap wajah Ryota. "Kau itu adalah sahabatku Ryota. Aku bisa berada di sini juga karena kau...,"


"Hiro..?" Mata Ryota berkaca-kaca.


...


"Aku ingin kau berjanji untuk selalu bersamaku menggapai mimpi kita apapun yang terjadi! kau sudah berjanji bukan?" Ucap Hiro.


"Semuanya juga butuh proses.., jangan takut dengan ucapan orang! teruslah berjuang Ryota! aku akan selalu bersamamu dalam setiap keringat yang menetes dalam latihan keras kita!"


Ryota tidak lagi bisa menjawab Hiro. Ryota tidak menyangka sahabatnya ini tetap percaya kepada dirinya, bahkan setelah kekalahan di turnamen kemarin. "Baiklah Hiro.., mari kita berusaha bersama!"


...


...


Hiro kemudian pulang setelah Ryota mengatakan bahwa ia akan terus berusaha. Ryota dan Hiro sama-sama senang karena saling mendukung satu sama lain. Hiro tidak bisa bermain bola jika bukan karena Ryota, sementara Ryota tidak bisa sehebat sekarang jika bukan karena Hiro.


...


"Hehe.., tehnya udah jad--, eh? di mana kak Hiro?"


"Udah pulang," Jawab Ryota singkat sambil melewati tubuh adiknya yang terpaku.


"Aaaa! kakak! kan aku lagi bikinin teh! kok kak Hiro dah pulang?!" Geram Ruka.


...


...


Hari-hari setelahnya, dan Minggu-minggu selanjutnya, Hiro sudah berjanji akan memberikan segalanya untuk sepakbola. Dia ingin memenangkan piala bersama dengan Ryota.


Hiro sadar bahwa dia juga harus bersaing dengan dominasi Daichi di akademi. Daichi merupakan tembok tebal yang menutupi sinar Hiro di akademi. Namun, ketika ada sebuah persaingan, pasti tidak akan berlangsung selamanya. Selalu ada momen di mana jiwa yang berkobar itu mulai padam.