The Dreamer

The Dreamer
Sang juara



"Juara Turnamen UFF tahun ini..,"


"Selamat kepada...,"


...


"Universitas Sapporo!"


...


Kerumunan suporter yang memadati stadion seketika bergemuruh ketika seremonial juara piala UFF dilaksanakan. Lampu sorot stadion sudah mulai menyala untuk menerangi lapangan yang mulai diselimuti langit hitam.


Piala berwarna perak dengan corak emas di sekelilingnya itu telah diserahkan kepada Hiro dan kawan-kawan yang berhasil menjadi juara di Turnamen ini.


Tidak ada yang pernah membayangkan bagaimana bisa Sapporo menjadi juara di Turnamen ini. Universitas Sapporo bukanlah favorit juara, namun mereka membuktikan kepada semua bahwa menjadi juara bukan hanya sekedar menjadi favorit. Menjadi seorang juara adalah tentang Kerja keras dan diperlukan sedikit keberuntungan.


"Sapporo..! Sapporo..! Sapporo..!"


Begitulah teriak orang-orang di stadion begitu para pemain Sapporo termasuk Hiro mengangkat piala turnamen UFF.


"Kita berhasil melakukannya!"


"Kita adalah sang juara!"


"Aku tidak percaya ini.., ini terlalu indah!"


Seluruh pemain Sapporo merayakannya dengan penuh sukacita.


...


Turnamen UFF telah berakhir. Sapporo adalah juaranya. Hiro juga mendapatkan penghargaan sebagai top skorer sekaligus pemain terbaik pada turnamen ini dengan 5 gol 5 assist.


Nama 'Takehiro Miyoko' pun langsung terdengar di mana-mana. Hampir semua pencari bakat dari setiap klub sepakbola profesional telah mengantongi nama Hiro dan siap untuk berebut tanda tangan kontrak si pemain.


Namun dari semua pencari bakat, ada satu yang paling dekat untuk mendapatkan jasa Hiro, yaitu Darwin Benjiro. Darwin adalah seorang pencari bakat dari klub liga 2 Jepang, yaitu Akihabara FC.


Darwin sangat berharap Hiro setuju dengan tawarannya karena Akihabara FC sedang membutuhkan tenaga muda yang berbakat.


"Aku harus mendapatkan anak itu," Gumam Darwin.


...


Setelah beberapa saat, seremonial juara Turnamen UFF telah usai. Para penonton sudah meninggalkan stadion. Seluruh pemain Sapporo ingin merayakan keberhasilan ini dengan pesta minuman.


"Ayo Hiro! kita pergi minum-minum untuk merayakan kemenangan kita!" Ajak salah satu rekan Hiro di tim.


"Baiklah! Ayo Hiro, ikutlah denganku!" Ryota langsung mengajak Hiro.


"Lho? Ryota? kau ikut minum-minum?" Hiro terkejut.


"Iya, memang kenapa?" Tanya Ryota.


"Tidak mengapa," Hiro tidak menyangka Ryota sebenarnya seperti ini. "Aku mau pulang saja," Ujar Hiro.


"Ya sudah, aku akan pergi bersama yang lain Hiro!"


Ryota dan seluruh pemain serta pelatih tim pergi meninggalkan Hiro di lorong stadion. Hiro tidak bergerak hingga teman-temannya sudah pergi dari dalam stadion.


Sebenarnya, Hiro masih punya satu hal lagi yang harus dilakukan saat ini. "Aku harus menepati janjiku kepada Izumi," Ucap Hiro.


Hiro pun langsung berlari lagi ke dalam stadion, tepatnya di tribun penonton. Hiro meyakini jika Izumi pasti masih belum pergi dari tribun.


...


Saat Hiro sudah sampai di tribun penonton, hanya tinggal para pembersih stadion yang tersisa. Mereka semua sedang bersih-bersih stadion. Tidak ada tanda-tanda seorang wanita dengan rambut terurai yang nampak di tribun itu. Tidak ada seorangpun penonton yang masih duduk di tribun.


"Apakah Izumi sudah pulang?" Pikir Hiro.


Karena benar-benar tidak menemukan Izumi, Hiro pun memutuskan untuk kembali ke ruang ganti pemain untuk beres-beres dan segera pulang ke asrama mahasiswa.


...


Petang menjelang malam. Di ruang ganti pemain, Hiro mengganti Jerseynya dengan kaos biasa. Setelah selesai, dia pun menggendong tas ranselnya dan meninggalkan ruangan itu. Hiro berjalan menyusuri lorong stadion. Pintu keluar didepannya sudah terlihat. Seseorang menyambut kedatangan Hiro dengan senyuman.


"Halo Hiro..!" Senyuman manis yang baru disadari oleh Hiro.


"Eh! Izumi!" Sapa Hiro. Ternyata yang sudah menunggunya di luar stadion adalah Izumi. "Aku kira kamu dah pulang,"


"Belum lah.., dari tadi aku dah nunggu kamu, hehe,"


"Oh, maaf ya,"


"Nggak papa," Ucap Izumi.


Keadaan menjadi canggung. Izumi dan Hiro hanya bisa menatap satu sama lain secara bersamaan. Ada sebuah perasaan yang sama telah muncul di hati mereka berdua.


...


"Apakah aku harus mengatakan kepadanya sekarang?" Dalam hati Hiro.


...


"Kapan Hiro akan mengatakannya kepadaku?" Pikir Izumi.


...


"Izumi..," Desis Hiro.


Namun di tengah situasi ini, tiba-tiba datang seorang pria dengan setelan jas hitam mendatangi Hiro dan Izumi.


"Permisi..," Ucap pria itu dengan ramah.


Hiro dan Izumi langsung memecah pandangan mata mereka. "Ah.., menganggu suasana saja," Dalam hati Hiro.


"Ya ada apa?" Hiro pun bertanya maksud kedatangan pria itu.


"Saya adalah seorang pencari bakat. Nama saya adalah Darwin Benjiro." Darwin mengajukan tangannya seperti posisi mengajak Hiro bersalaman.


Ternyata yang mendatangi Hiro dan Izumi adalah Darwin. Tanpa di sadari, sebenarnya Darwin mengganggu momen Hiro bersamaan Izumi, namu Darwin hanya melaksanakan tugasnya.


...


"Pencari bakat?" Tanya Hiro.


"Iya," Jawab Darwin. "Aku sudah mengamati permainanmu di turnamen ini, dan aku pikir, kau sangat cocok untuk bermain di klub kami,"


"Tunggu, apakah kau memberiku sebuah tawaran?" Tanya Hiro.


"Tepat sekali anak muda, kau adalah pemain yang cocok untuk klub kami!"


"Klub apa?"


Darwin pun mengeluarkan kartu namanya dan memberikannya kepada Hiro. "Ini adalah kartu namaku, serta dari mana aku bekerja,"


Hiro membaca keterangan pada kartu nama itu. "Kau adalah pencari bakat sekaligus agen pemain dari Akihabara FC?" Tanya Hiro. "Atas nama Bapak Darwin?"


"Betul," Ucap Darwin. "Tolong jangan panggil saya Pak. Panggil saya Darwin saja,"


"Ohh, baiklah kalau begitu,"


"Saya menawarkan kontrak kepadamu sebagai pemain profesional untuk tim liga 2 Jepang, Akihabara FC,"


Hiro terdiam seketika. Dia tidak percaya dengan apa yang dia barusan dengar. "M--Maaf, bisa anda ulang lagi? saya kurang jelas mendengar,"


Kali ini Darwin mengatakannya dengan jelas. "Saya menawarkan kontrak kepadamu sebagai pemain profesional untuk tim liga 2 Jepang, Akihabara FC,"


Mata Hiro seketika langsung membulat. Senyum lebarnya menghiasi wajahnya.


"Benarkah demikian?"


"Tentu saja!" Ucap Darwin. "Jika kau tertarik dengan tawaran ini, mohon untuk menghubungiku melalui nomor yang ada di kartu namaku,"


"Oke, akan aku prioritaskan tawaranmu ini Darwin," Ucap Hiro.


Darwin sangat senang. "Baiklah, aku harap kau akan membuat keputusan yang tepat Hiro! Akihabara FC sangat membutuhkan tenagamu!" Darwin sangat menginginkan Hiro menjadi pemain bagi Akihabara.


"Baiklah Darwin, beri aku dua sampai tiga hari untuk memutuskan pilihanku. Aku akan menelponmu ketika aku sudah membuat keputusan."


Darwin mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Aku akan segera pergi ke tempat lain. Aku akan menunggu keputusanmu. Terimakasih sudah mau mendengarkan tawaranku Hiro,"


Hiro tersenyum, "Sama-sama, seharusnya aku yang berterima kasih kepadamu,"


Darwin pun pergi meninggalkan Hiro dan Izumi di depan pintu masuk stadion. Kartu nama milik Darwin masih digenggam dengan erat oleh Hiro. "Ini adalah peluangku!"


Izumi yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan antara Hiro dengan Darwin hanya bisa memberikan sebuah kalimat klise. "Selamat ya Hiro!" Ucap Izumi. "Kau akan menerima tawaran pria tadi bukan?"


"Tentu saja aku akan menerima tawarannya! ini adalah peluangku untuk memasuki dunia sepakbola profesional!" Ucap Hiro bersemangat.


"Wahh!! aku akan mendukungmu selalu Hiro!" Ucap Izumi.


"Terimakasih Izumi! kau memang pendukung sejati bagiku!"


"Hehe, pastinya dong!"


Hiro dan Izumi tertawa. Namun bagi Izumi, masih ada sesuatu yang belum tersampaikan sebelumnya, yaitu janji Hiro kepadanya.


"Ngomong-ngomong soal dukungan, bagaimana perjanjian kita? apa yang terjadi jika Sapporo berhasil juara? kau masih mengingatnya?" Izumi akhirnya memberanikan diri untuk berbicara tentang ini kepada Hiro.


Menurut perjanjian Hiro dan Izumi, jika Universitas Sapporo kalah di turnamen ini, maka hubungan mereka selesai alias putus. Namun jika berhasil juara turnamen UFF, maka mereka berdua akan meneruskan hubungan mereka.


...


Hiro menarik dan menghela nafas panjang. Dirinya mencoba untuk mengatakannya. Setelah segala sesuatu yang terjadi hari ini, pintu hati Hiro untuk Izumi sudah terbuka sedikit.


"Sebaiknya aku memberikannya kesempatan," Benak Hiro. Hiro pun sudah meyakinkan dirinya.


...


"Baiklah...,"


Di bawah sorotan lampu jalan. Hiro berjalan dengan pelan ke depan tubuh Izumi.


"..Kita akan tetap berpacaran," Ucap Hiro seraya tersenyum kepada Izumi di depannya.


"Hiro.., terimakasih," Gumam Izumi.


Akhirnya Hiro dan Izumi pun berpelukan di depan stadion yang memiliki arti berbeda bagi mereka.


"Aku akan selalu bersamamu Hiro. Aku akan selalu menjadi pendukungmu. Aku akan selalu didampingmu. Aku akan menemanimu, hingga kau gapai mimpimu itu," Ucap Izumi dengan penuh perasaan.


"Terimakasih Izumi,"