
Satu poin, hanya itu saja yang dibutuhkan oleh Hiro dan kawan-kawan untuk bisa mengamankan posisi mereka di tiga besar kelasemen Liga 2 Jepang. Meski begitu, lawan yang harus mereka hadapi juga bukanlah lawan mudah. Osaka Steels juga berambisi untuk mempertahankan posisi mereka di peringkat ketiga. Osaka juga harus mengalahkan perlawanan Akihabara demi bisa promosi ke Liga 1 Jepang.
Setiap hari, Hiro, Ryota, dan rekan-rekannya selalu berlatih seakan pertandingan terakhir melawan Osaka adalah hidup mati mereka. Seichi sudah memberikan segalanya sebagai seorang pelatih. Kini tinggal para anak asuhnya yang membuktikan bahwa mereka telah memahami taktik yang diberikan dengan jelas.
"Hiro! kau harus menjemput bola!!"
"Tomo! jangan takut memegang bola! tenang saja, lihat teman sekelilingmu!"
"Ayolah Aaron! kau adalah seorang penyerang! jangan sia-siakan kesempatan kedua kalinya!"
Seichi terus-menerus melatih pemainnya dengan sepenuh hati.
...
Setiap hari yang dilalui, maka semakin dekat juga hari pertandingan Akihabara melawan Osaka. Hiro dan Ryota saling bertukar informasi penting tentang para pemain Osaka.
Sore ini, adalah hari terakhir latihan sebelum besok malam akan bertanding melawan Osaka. Senja yang meringankan beban setiap pemain. Seluruh pemain Akihabara termasuk Hiro dan Ryota pun juga memanfaatkan waktu senggang ini untuk menenangkan pikiran mereka.
"Huaaahhh!!!" Ryota berteriak sambil meregangkan tangannya ke atas. "MANA MUNGKIN KITA BISA MENGALAHKAN OSAKA?!" Nada keputusasaan terdengar dari keluh kesah Ryota.
Hiro tertawa melihat tingkah temannya itu. "Hehe, kau ini heboh sekali."
"Hahaha, maaf. Aku hanya ingin menikmati masa-masa ini selagi bisa. Mungkin musim depan kontrakku tidak akan diperpanjang lagi oleh pihak manajemen Akihabara FC," Ucap Ryota.
Hiro memiringkan kepalanya. "Kenapa? kau takut jika pelatih tidak menginginkanmu lagi?"
"Iya," Jawab Ryota singkat.
"Heehhh, kau ini.., mudah sekali putus asa.., hihi," Hiro menepuk punggung Ryota. "Kemana rasa percaya dirimu? apakah sudah hilang di masa lalu? hehe,"
"Hmm.., kau bisa berkata seperti ini karena posisimu di tim utama sudah aman. Kontrakmu pasti akan diperpanjang lagi oleh manajemen," Ucap Ryota. "Coba saja kau berada di posisiku, pasti kau juga akan berpikir sama denganku."
"..?"
Hiro hanya diam saja. Dia masih asik dengan bola yang dia mainkan di tangannya.
"Posisimu?" Tanya Hiro. "Bukankah dari dulu aku selalu ada di posisimu?"
"Ha?" Ryota bingung.
"Kau tidak lupa kan? Ketika aku sama sekali tidak bisa bermain bola sewaktu kecil?"
"Hmm?"
Ryota masih belum sadar.
"Waktu itu, aku hanya bisa melihat kau bermain dari pinggir lapangan. Aku tidak pernah bermain, Hingga akhirnya kau datang Ryo!" Lanjut Hiro.
"Aku?"
"Iya! dahulu, jauh sebelum ini, kau lah yang menolongku ketika aku bukan siapa-siapa!"
"Kau yakin begitu?" Ucapan Hiro membuka kembali pintu semangat Ryota. "Kau benar," Gumam Ryota.
"Kali ini, giliran aku yang menolongmu dalam masa-masa sulit ini, ya? boleh kan?"
Mendengar suara Hiro yang peduli dengan dirinya, mata Ryota berkaca-kaca. "Hiro..,"
"Bagaimana? anggap saja ini sebagai rasa terimakasihku dari 10 tahun lalu," Ucap Hiro.
"Mulai sekarang, aku akan mengajarimu trik-trik khusus untuk menghadapi penyerang lawan yang sehebat diriku! hehe maaf aku tidak bermaksud sombong,"
Seperti biasa, tanpa pikir panjang Ryota langsung menyetujuinya. "Iya! mohon bantuannya!!" Ryota tersenyum sangat lebar.
Hiro mulai mengajari Ryota cara mengatasi serangan pemain lawan sore itu, di saat itu juga. Setiap kali selesai melatih Ryota, Hiro selalu meminta Ryota untuk duel satu lawan satu sekaligus menghentikannya sebelum dia melewati Ryota. Namun di percobaan pertama, Ryota gagal total untuk menghalau serangan Hiro. Hiro masih terlalu lincah untuk Ryota.
"Hahaha, ya sudah, besok pagi kita lanjutkan, sekarang kita kembali dulu ke asrama," Ajak Hiro setelah Ryota gagal menghentikannya dalam duel satu lawan satu.
Ryota terlihat gusar. Wajahnya memerah, entah karena emosi memuncak karena dilewati Hiro begitu saja, atau karena malu? Yang pasti Ryota harus terus mencoba.
"Ya sudah, besok lagi..," Ucap Ryota.
...
...
Keesokan harinya, Ryota dan Hiro tidak sempat bertemu satu sama lain. Hiro dan pemain lain yang sering menjadi pilihan utama bagi tim sedang dikumpulkan di lapangan latihan khusus oleh Seichi pagi ini. Hal ini dilakukan untuk pertandingan malam ini melawan Osaka.
"Sial, aki hampir lupa pertandingan penting hari ini," Dalam hati Hiro.
...
Sejatinya pagi ini Hiro dan Ryota akan melanjutkan latihan mereka tersendiri. Namun karena sudah terlebih dahulu di panggil oleh pelatih, Hiro jadi tidak bisa berbuat apa-apa. Ryota pun tidak tahu jika Hiro sedang berlatih di lapangan latihan.
"Hiro? kau di mana?" Ucap Ryota sambil mengetuk pintu kamar asrama Hiro.
"Mana dia?" Pikir Ryota.
"Maaf.., Ryota?"
"Huh?" Ryota menoleh ke arah datangnya suara. "Oh.., kamu..,"
"Anu.., tadi sebelum matahari terbit, Hiro dan pemain inti Akihabara FC di panggil pelatih untuk latihan khusus..," Ucap salah satu pemain Akihabara FC yang juga masih berada di asrama.
"Tadi pagi?"
"Iya..,"
"Oh begitu,"
"Ya sudah, kalau begitu, ayo ikut aku keluar asrama bersama yang lain,"
...
Ryota pun juga memutuskan untuk keluar dari asramanya dan melakukan aktifitas bersama dengan para pemain cadangan yang tidak menerima panggilan dari Seichi pagi tadi.
Ryota sedikit kecewa, namun dia tetap memahami keadaan. "Ya, semoga nanti malam kita bisa menang di pertandingan..,"
...
Dan malam pun tiba. Latihan keras Hiro dan lainnya akan di uji pada pertandingan ini. Seluruh pemain kedua tim mulai memasuki lapangan. Berdiri seiringan dengan Hiro, ada nama yang dia takuti dari skuat tim Osaka, yaitu Kyuzu. Mereka berjalan berdampingan menuju lapangan utama.
Puluhan ribu suporter kedua belah tim telah datang. Ada Darwin Benjiro yang melihat pertandingan dari tribun VVIP, sementara Saki melihat pertandingan terakhir Hiro musim ini dari layar kaca. Saki selalu mendukung Hiro dimanapun dan kapanpun. Di bangku cadangan, Ryota juga selalu berdoa yang terbaik untuk timnya. Hanya itu yang sanggup mereka lakukan, selebihnya.. tergantung pada pemain yang bermain.
"Hey, kau Hiro kan?"
"Eh--, eee.., I--Iya," Jawab Hiro.
Hiro begitu tegang karena orang yang bertanya namanya itu adalah Kyuzu.
"Oh begitu, senang bertemu denganmu lagi. Semoga kali ini timmu tidak terbantai 4-0 lagi,"
...
Hiro tidak memedulikan ejekan yang dilontarkan Kyuzu kepada timnya. Yang terpenting adalah bagaimana Akihabara bisa menang.
"Fokus fokus fokus!!"
Hanya itu yang ada dipikiran Hiro saat ini.
...
Seluruh pemain sudah siap di tengah lapangan. Duel sengit tim papan atas memperebutkan satu tiket terakhir ke kasta tertinggi sepakbola Jepang dimulai.
"Fokus fokus fokus!!" Hiro terus menerus meyakinkan dirinya serta mempersiapkan mentalnya untuk apapun hasil akhir yang akan diperoleh.
...
PRRIIIITT!!!...Kick off babak pertama.
Osaka Steels yang bertindak sebagai tuan rumah bermain lebih menyerang. Mereka menerapkan taktik pressing tinggi kepada pemain Akihabara FC. Seringkali Hiro, Aaron, dan yang lain kehilangan penguasaan bola sehingga dapat direbut dan dimanfaatkan sebagai serangan oleh pemain Osaka.
Akhirnya pada menit '40, Osaka berhasil unggul atas tamu mereka, Akihabara melalui sepakan keras Kyuzu dari luar kotak penalti. Seluruh pemain Akihabara termasuk Hiro tercengang melihat gol Kyuzu.
"K--Keras sekali..!" Dalam hati Hiro setelah melihat gol itu.
Seisi stadion bergemuruh menyambut gol Kyuzu. Inilah golnya yang ke-26 musim ini. Memantapkan posisi Kyuzu sebagai pencetak gol terbanyak di Liga 2 musim ini.
Hingga babak pertama berakhir, skor masih 1-0. Pemain Akihabara sudah kewalahan menghadapi Osaka. Mereka nampak putus asa mencari peluang.
...
Bukan Seichi namanya kalau tidak bisa membuat para pemainnya terus bersemangat. Sebagai pelatih, Seichi memberikan hasil analisis pada babak pertama. Dia menunjukkan titik-titik kelemahan pertahanan Osaka. Tidak lupa, dia juga memberikan pidato di ruang ganti pemain.
"Ayolah! mengalahkan Osaka bukanlah hal yang mustahil! karena kita memang tim yang tidak kenal kata mustahil!" Ucap Seichi menggebu-gebu. "Terus berlari! Terus mengoper! jangan terlalu lama memegang bola! Fokus! kalian bisa melakukan ini!"
...
15 menit kemudian, pemain kedua tim sudah kembali bersiap di lapangan untuk 45 menit babak kedua.
"Ayo Hiro!"
"Semangat Hiro!"
"Aku mohon.., menangkan pertandingan ini Hiro!"
Darwin.., Saki.., Ryota.., dan ribuan pendukung Akihabara yang hadir di stadion juga mengharapkan hal yang sama untuk tim kebanggaan mereka.
...
Babak kedua pun dimulai. Permainan Akihabara berbeda dengan sebelumnya. Permainan Akihabara lebih dinamis dan kreatif.
Akihabara FC sempat menyamakan kedudukan menjadi 1-1 di menit '55. Bahkan membalikkan keadaan menjadi 2-1 untuk keunggulan Akihabara FC di menit '60. Kedua gol itu dicetak oleh Gol bunuh diri pemain Osaka serta gol penalti Aaron.
"Yaaaaa....!!!" Teriak Hiro bersemangat.
Setelah keunggulan ini, permainan Akihabara terus bertahan. Mereka ingin mempertahankan keunggulan ini. Bahkan pada menit '70 Hiro ditarik keluar oleh Seichi dan digantikan oleh Ryota yang berposisi sebagai bek. Seichi ingin memperkokoh pertahanan timnya.
Alih-alih mempertahankan keunggulan, Akihabara FC justru kebobolan gol di menit '89. Lagi-lagi Kyuzu lah sang pencetak gol kedua.
Skor 2-2.
...
Saat pertandingan seperti akan berakhir imbang, namun pada menit '90+3 Akihabara FC kecolongan gol lewat tendangan bebas pemain Osaka yang menyegel kemenangan 3-2 atas Akihabara.
...
Di bangku cadangan, Hiro hampir menangis setelah timnya sempat unggul, sekarang di ambang kekalahan.
Priiit..priitt..priiittt!!.. Full time. Pertandingan berakhir.
Dengan kekalahan ini, Akihabara FC gagal mengamankan posisi ketiga sekaligus gagal promosi ke Liga 1.
Hiro beranjak dari tempat duduknya dan menyemangati rekan-rekannya di lapangan. Ryota menangis paling pilu.
"M--Maaf Hiro..," Ucap Ryota sambil mengusap air mata.
"Sudahlah, tidak apa-apa," Hiro menenangkan sahabatnya. "Kau sudah berbuat banyak,"
Dari belakang, Kyuzu menghampiri Hiro sambil berlari. "Hey Hiro!"
Hiro menoleh ke arahnya. Dia melihat senyum aneh di wajah Kyuzu.
"Usaha yang bagus," Ucap Kyuzu sinis. "Coba lagi tahun depan ya.., haha." Kyuzu pun langsung berlari meninggalkan Hiro kembali. Entah apa maksud Kyuzu mengatakan hal itu kepada Hiro.
"Biarkan saja dia," Ucap Ryota.
Hiro hanya bisa menghela nafas.
...
Kyuzu bersama rekan-rekan timnya berlari menuju pinggir lapangan dan merayakan kemenangan ini dengan pendukung mereka.
Dari tengah lapangan, Hiro hanya bisa melihat mereka berpesta, bernyanyi, melompat bersama, sementara Hiro hanya bisa melihat sambil bertolak pinggang.
Hiro dan Ryota lalu berjalan beriringan menuju pintu keluar lapangan dengan wajah tertunduk malu. Tidak ada topeng setebal apapun di dunia ini yang bisa menutupi rasa kecewa dicampur dengan perasaan malu itu.
...
Tidak ada komentar lagi. Perjuangan Hiro, Ryota, dan rekan-rekannya musim ini telah berakhir. Tujuan mereka belum bisa tercapai dengan sempurna.
Ada beberapa tantangan yang bisa dilewati, ada juga yang menjadi rintangan yang tidak bisa dilalui.
Satu poin yang berharga. Satu poin yang menentukan nasib. Satu poin yang sudah menjadi sejarah dua jam yang lalu. Kini semuanya harus melihat ke depan. Saat ini, hanya ada rasa kecewa terhadap dirinya sendiri yang terus melekat di hati Hiro.