
(Mulai bab ini, cerita sudah memasuki season 2.)
......................
Bunga sakura telah berubah menjadi bunga tulip. Walaupun kedua bunga itu masih sama-sama belum nampak karena salju yang masih menghalangi mereka untuk mekar.
"Selamat datang di Amsterdam," Ucap salah satu petugas Bandara.
Ya, benar, Hiro dan Saki sudah sampai di negeri kincir angin, Belanda. Kota Amsterdam menjadi pijakan pertama mereka. Perjalanan panjang yang memakan waktu dan tenaga. Kepala Hiro sampai sedikit pusing karena baru pertama kali naik pesawat dan langsung sejauh ini.
Setelah sampai dan turun dari pesawat, Hiro membuka ponselnya untuk melihat apakah Darwin menghubunginya. Dan benar saja, sudah ada dua panggilan tidak terjawab beberapa menit yang lalu. Hiro pun menelpon kembali Darwin untuk meminta keterangan darinya tentang informasi apa yang harus dia ketahui di sini.
tuut... tuuutt...
"Halo.. Darwin? "
"Ya? Hiro? kau sudah sampai di Belanda?"
"Iya, baru saja turun dari pesawat,"
"Pantas saja aku menelponmu tadi tidak di angkat,"
...
"Eee, Darwin, apakah kau memiliki beberapa informasi untukku? Karena sekarang aku tidak begitu paham apa yang harus kulakukan."
"Oh, maaf Hiro, aku ingin memberitahumu sebelumnya tapi tidak sempat. Jadi setelah kau sampai di Amsterdam, kau langsung saja menuju kota Heerenveen, dan aku akan menjemputmu di sana..,"
"Lho? kau sedang di Belanda juga? Sedang berbisnis?"
"Hah? Sudah pasti bukan. Aku memang lupa memberitahumu jika aku juga ikut ke Belanda. Tapi kan aku ini kan masih jadi agenmu.., sepatutnya aku juga harus mendampingimu menemui pengurus klubnya bukan? kau ini bagaimana sih?"
"Oh, begitu ya, hehe, terimakasih Darwin. Ya maaf, aku kan baru pertama kali berganti klub,"
"Ya sudah, aku sudah menunggumu di Kota Heerenveen. Usahakan sampai pukul 16.00,"
Hiro pun melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 10.20. "Baik Darwin, aku akan tepat waktu,"
"Oke,"
tuut... tuut.. Telpon pun tertutup.
Hiro segera menelusuri aplikasi peta di ponselnya dan mengukur jarak dari Amsterdam ke Heerenveen. Jika menggunakan kendaraan roda empat, ia akan memakan waktu kurang lebih satu setengah jam.
"Tidak begitu jauh..," Gumam Hiro.
Hiro melihat ke arah Saki yang sedari tadi menunggunya selesai menelpon. Hiro merasa tidak enak kepada Saki jika setelah ini langsung pergi lagi ke Kota lain untuk masalah pekerjaannya. Hiro harus bisa membagi waktu untuk kekasihnya yang mau menemaninya sampai di sini.
Hiro melihat ke arah jam tangannya sekali lagi dengan mantap. "Masih ada beberapa jam sebelum pukul empat sore," Pikir Hiro.
...
Hiro melirik mata Saki dan langsung menggapai tangannya. Sontak Saki terkejut dan langsung membuka mulutnya yang terus mengeluarkan uap sebab dinginnya udara.
"Eh.. eh, Hiro?"
"Ayo ikut aku!"
Hiro pun menarik tangan Saki. Mereka berlari keluar Bandara.
Lagu-lagu lawas terdengar dari pengeras suara di lobi Bandara, mengiringi jejak kaki sepasang kekasih ini.
...
Di luar Bandara, Hiro kesulitan menemukan taksi yang kosong. Hiro pun memutar otak karena tidak ingin menunggu terlalu lama. Ia celingukan kesana-kemari dan langsung tertuju pada beberapa sepeda yang terparkir.
"Saki! Ayo kita keliling kota dengan sepeda ini!" Ajak Hiro bersemangat.
"Eh?! Sekarang? Terus bagaimana dengan barang bawaan kita yang banyak ini?" Ucap Saki sambil menunjukkan kedua tangannya menarik koper yang berat.
"Ehh.., bagaimana ya?" Hiro belum memikirkan barang-barang bawaannya.
Tiba-tiba mereka di datangi dua orang pria kulit putih yang tersenyum ke arah mereka. Dua pria ini memanggil nama Hiro dan Saki dengan bahasa Inggris.
Kedua pria ini terlihat seperti menawarkan sesuatu, namun Hiro yang tidak begitu lancar dengan bahasa Inggris terlihat kebingungan menjawabnya.
"Ehh.., apa yang harus kukatakan?"
...
Saki yang berada di sampingnya dengan sigap menjawab pertanyaan dari dua pria asing ini dengan bahasa Inggrisnya yang lancar, namun masih dengan logat Jepang yang kental.
...
Setelah Saki selesai berbicara dengan dua pria itu, Saki menjelaskan kepada Hiro bahwa mereka adalah karyawan perusahaan asuransi Darwin yang memiliki cabang di Amsterdam.
Saki mengatakan kalau dua orang ini di minta Darwin untuk mengantarkan Hiro dan dirinya ke Hotel di dekat Bandara untuk beristirahat malam ini.
...
"Oh, Orang-orangnya Darwin ya," Hiro menganggukkan kepalanya. "Dari dulu Darwin terus membantuku. Apakah ini yang harus dilakukan oleh seorang agen pemain?"
...
"Ya sudah, Hiro, ayo kita ke Hotelnya dulu untuk menaruh barang-barang kita." Ajak Saki yang sudah siap sambil menenteng tas-tas dan koper bawaannya.
"Tapi..Saki...! B--Baiklah..," Hiro hanya bisa mengikuti Saki dan dua pria asing itu hingga sampai di Hotel yang sangat dekat dengan Bandara.
...
...
...12.35...
Hiro dan Saki masih berbaring di atas dua kasur yang berbeda pada kamar yang sama.
...
"Huuffttt..." Saki melamun jauh melewati jendela yang berada di lantai tujuh Hotel. Semuanya terlihat putih dan berkabut. Tidak ada apapun yang bisa di lihat dari sini.
Di sisi lain Hiro sedang membuat dua cangkir teh panas dan memberikan salah satunya kepada Saki.
"Terimakasih," Ucap Saki dengan mata berbinar. Sambil memejamkan matanya, dia menyeruput teh panas itu sedikit demi sedikit.
"Ya?" Saki menjawab panggilan Hiro di sampingnya.
Sambil ikut melamun ke luar jendela, Hiro berkata, "Di sini tidak ada bedanya dengan di Tokyo, ya?"
Sontak mereka berdua tertawa kecil bersama sambil sesekali menyeruput teh yang menghangatkan tenggorokan.
"Ya.. gitu deh, namanya juga musim dingin, dimana-mana pasti seperti ini," Sahut Saki.
...
Waktu pun terus berjalan tanpa dirasakan. Sekarang sudah pukul satu siang, namun suasana di luar masih berkabut dan putih tertutup salju.
"Coba bayangin kalau sekarang ini musim semi," Ujar Hiro.
"Hahaha, iya, pasti langit keliatan jelas. Bunga-bunga juga udah mekar. Hehe, sayangnya kita datangnya pas musim dingin ya,"
...
"Hmm, Saki, mau lihat pemandangan di sini pas musim semi?"
"Heh? Maksudnya?"
"Jika aku mendapatkan pekerjaan di sini, apakah kamu mau menemaniku tinggal di sini?"
Saki menoleh kepada Hiro dengan cepat. Keningnya mengerut, "Kenapa?"
"Kenapa?" Hiro mengulangi pertanyaan Saki.
Saki pun berdiri dan berjalan berputar-putar sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. "Kenapa kau tanyakan itu kepadaku?"
"Eh?" Hiro terkejut. "Apa maksudnya?" Hiro takut Saki akan menolaknya.
Namun tak lama kemudian Saki kembali tersenyum lebar ke arah Hiro yang masih kebingungan.
"Kenapa kau tanyakan itu kepadaku? Sudah pasti aku akan menemanimu di sini..," Ucap Saki.
Hiro pun tertawa bersama Saki.
"Kau ini, membuatku salah paham saja. Aku kira kau akan mengatakan sebaliknya...," Hiro menghela napas lega.
"Hehe, mana mungkin," Saki pun memeluk Hiro dengan erat. "Aku juga sudah memberitahu orangtuaku tentang keputusan ini, jadi..aku benar-benar tidak keberatan."
...
"Aku mencintaimu." Desis Saki berbisik di telinga Hiro.
...
...
...
...14.15...
"Jadi kamu benar-benar gak mau di Hotel saja?"
Saki menggelengkan kepalanya. "Nggak, aku ikut aja,"
"Kamu gak capek habis perjalanan jauh?"
"Ssttt.., Gausah kebanyakan omong, ayo berangkat keburu telat. Lagian kamu kan kurang pinter bahasa Inggris, nanti kalo ada apa-apa kan repot."
"Hufftt.., Kamu ini susah dikasih tau,"
"Hehe,"
Terakhir kali sebelum meninggalkan kamar, Hiro berkaca pada cermin untuk merapikan dasinya. "Yaudah deh, ayo kita berangkat,"
...
...
Di pinggir jalan, Hiro menghampiri taksi yang berhenti. Hiro meminta bantuan Saki untuk mengatakan kepada Sopir untuk mengantarkan mereka ke Kota Heerenveen, bagian barat Belanda.
Setelah si sopir memberikan aba-aba untuk masuk ke dalam mobil, mereka pun masuk. Pintu mobil sudah tertutup rapat, taksi pun segera bergerak.
....
Setengah jam berlalu.
...
"Klub mu yang akan kau datangi ini, apa namanya? aku lupa." Saki bertanya kepada Hiro yang sedang mengetik sesuatu di ponselnya.
"Heerenveen," Jawab Hiro singkat.
"Bukan. Bukan nama kotanya, tapi nama klubnya,"
"Iya, nama klubnya juga Heerenveen," Hiro menegaskan.
"Oh iya Hiro, bagaimana dengan klub yang satunya? Kalau tidak salah dari Bulgaria itu lho. Apakah kau juga mempertimbangkan tawaran mereka?" Tanya Saki.
"Oh, Ludogorets?" Hiro masih asik dengan ponselnya. Dia tidak peduli dengan suasana di sekitar, termasuk dinginnya udara dan salju yang mulai menutupi kaca taksi.
"Ah, Iya! Bukankah katamu tim itu langganan juara di sana? Sementara Heerenveen mau masuk lima besar liga Belanda saja sulitnya setengah mati."
"Ludogorets ya. Sebenernya aku sudah tidak lagi tertarik pada mereka," Akhirnya Hiro berpaling dari ponselnya dan menatap keluar jendela yang setengahnya tertutup oleh salju.
"Kenapa?" Saki penasaran.
"Liga Belanda lebih kompetitif daripada di Bulgaria. Itu sebabnya aku lebih memilih di sini. Aku yakin pengalaman berharga akan membuat kemampuanku berkembang lebih pesat di sini,"
"Oh begitu ya,"
"Iya," Hiro pun kembali mengetik sesuatu di ponselnya. "Ini aku juga sedang mengabari Darwin tentang hal yang sama seperti yang aku katakan kepadamu. Aku sudah memutuskan untuk menerima tawaran Heerenveen dibandingkan dengan Ludogorets." Ucapan Hiro seakan menjelaskan kepada Saki mengapa dari tadi dia sibuk dengan ponselnya.
Saki tersenyum. "Syukurlah kau sudah menentukan keputusanmu,"
Kepala Saki bersandar pada pundak Hiro. "Semangat ya, Aku bakal selalu disampingmu kok,"