
Stasiun kereta bawah tanah terasa sangat pengab dengan sesaknya manusia. Cuaca terik di atas masih terasa hingga bawah sini. Hiro mengenakan kaus biru dengan topi yang di balik ke belakang sambil menggendong tas. Disampingnya ada Ryota, mereka sama-sama berdiri di peron menunggu kereta datang.
"Akhirnya aku punya waktu buat pulang," Gumam Hiro.
...
Hampir satu tahun sudah Hiro lalui, lebih tepatnya 10 bulan. Dari musim semi hingga sekarang hampir musim dingin. Februari sampai November berlalu bagi Hiro untuk meniti karir.
Walaupun demikian, akhir dari sebuah proses yang selama ini Hiro tempuh, tidak berjalan dengan baik.
...
Satu jam sudah ponsel Hiro bergetar. Mode senyap menjadi pilihan Hiro untuk menghiraukan panggilan telepon dari Darwin.
Ketika Hiro membuka pesan masuk dari kontak-kontak yang ada di ponselnya, puluhan pesan masuk dari rekan-rekannya di Akihabara FC muncul. Mereka semua tidak tahu Hiro pergi kemana karena Hiro memang tidak berpamitan dengan mereka.
.......................................................................................
...[Pesan Masuk]...
Seichi : Hei, apakah kau sedang pergi?
Seichi : Aku terus ditanyai oleh pemain lain perihal kemana kau pergi.
Seichi : Apa yang terjadi? Kau hanya pergi berlibur, ya?
...----------------...
Aaron : Hiro, kau pergi ke mana?
Aaron : Kenapa kau tidak pamit dengan teman-teman di asrama?
Aaron : Kau akan kembali kapan?
...----------------...
Panggilan masuk tak terjawab pukul 11.34 <-
Darwin : Hiro aku mendapatkan laporan dari penjaga asrama yang melihatmu keluar membawa banyak barang
Panggilan masuk tak terjawab pukul 11.36 <-
Darwin : Tolong telepon aku kembali nanti..,
...----------------...
.......................................................................................
Hiro menghela nafas ketika melihat banyaknya pesan masuk dari kontaknya.
Hiro sampai tidak sadar kereta yang dia tunggu sudah tiba. Suara kereta bawah tanah yang menggema tidak sampai kepada pikiran Hiro yang sedang kacau.
...
"Apa yang aku lakukan? kenapa aku pergi??"
"Pilihanku sudah tepat kan?"
...
Hiro masih belum yakin akan langkah yang ia ambil. Wajahnya terus menatap ke bawah melihat sepatunya Ketika dia melangkah masuk ke dalam gerbong kereta.
Kondisi gerbong yang padat membuat Hiro dan Ryota harus berdiri berdesakan. Mereka harus berdiri selama hampir dua jam ke depan.
Tangan Hiro menggantung pada pegangan tangan di atasnya. Mata Hiro melirik ke wajah Ryota disampingnya. Seketika ada pikiran negatif yang datang dari dirinya. "Andai saja bukan karena Ryo, pasti aku masih merupakan bagian dari tim..," Benak Hiro.
Ryota menoleh ke arah Hiro yang sedang memperhatikannya. "Hmm? ada apa melihatku?" Tanya Ryota. Ryota sadar Hiro memperhatikannya.
Hiro segera memalingkan pandangannya. "Ehh.., tidak ada apa-apa, hehe,"
"Huh.., hampir saja."
...
Hiro memang merupakan sahabat baik Ryota. Hiro masih ingat ketika Ryota menolongnya. Hiro selalu ingat dengan sepasang sepatu sepakbola yang Ryota berikan kepadanya 10 tahun lalu. Hiro tidak mau melupakan semua kebaikan sahabatnya itu begitu saja. Mereka sudah berjanji akan terus bersama hingga menggapai mimpi bersama.
...
Hiro tidak bisa melihat semua ini. Dia hanya terus berjalan namun enggan melihat sekelilingnya.
Hiro masih memiliki Darwin sebagai agennya. Darwin juga lah yang membantunya selama ini. Namun Hiro terlalu buru-buru dengan keputusannya saat ini.
"Nanti akan kuhubungi Darwin, aku ingin bertanya sesuatu kepadanya." Ucap Hiro dalam hati. "Semoga dia bisa memberikan saran yang bijak."
Hiro merasa kemampuannya tertutupi oleh buruknya kualitas rekan-rekannya di lapangan. Dengan rekan-rekan yang berkualitas, Hiro yakin jika kualitas dirinya juga akan meningkat.
Yang benar-benar Hiro inginkan saat ini adalah keluar dari Akihabara FC dan mencari klub baru dengan level yang lebih tinggi. Di sisi lain dia tidak bisa meninggalkan Ryota begitu saja yang sudah membantunya selama ini.
...
...
Dua jam kemudian.
Hiro dan Ryota akhirnya sampai di Sapporo. Mereka menapakkan kaki di sini untuk pertama kali sejak hampir setahun yang lalu.
Tidak banyak yang berubah dari kota kelahirannya. Hiro masih mengenal semua gedung-gedung yang ada. Semua kelap-kelip lampu dan orang-orang yang menyayanginya ada di sini.
"Aku kembali..,"
...
...
Keluar dari stasiun, Hiro dan Ryota menghadap ke arah yang sama. Mereka ingin langsung menuju rumah mereka untuk bertemu keluarga.
"Ayo kita segera berangkat!" Ujar Hiro kepada Ryota.
Ryota mengangguk.
Hiro pun melambaikan tangannya kepada salah satu taksi yang berjalan pelan di pinggir jalan. Mereka berdua pun pulang bersama dengan taksi.
Hiro sudah tidak sabar bertemu dengan Ayahnya. Selama dia berada di Akihabara, Hiro hanya bisa mendengar suara ayahnya dari ponsel. Sesekali Hiro mengirim pesan singkat kepada sang ayah setelah berhasil melakukan transfer uang untuk ayahnya.
Kabar yang dia dapat dari Ayahnya selalu kabar baik. Tidak ada keluh kesah ataupun lainnya. Sang Ayah selalu memberikan pesan positif kepada Hiro yang membangun semangatnya. Kini Hiro pun bisa melihat kembali orang yang dia sayangi itu, memberi kabar secara langsung.
...
...
bwukk.., Pintu taksi tertutup. Hiro dan Ryota sudah sampai di daerah rumah mereka berada.
"Huuhuuu, senangnya bisa kembali!" Ucap Hiro. "Ya sudah, aku langsung pulang ya Ryo! sampai nanti!" Hiro pun langsung pergi menuju rumahnya.
"Baiklah.., sampai nanti!" Sahut Ryota.
...
Hiro berlari menuju rumahnya seperti seorang anak kecil yang pulang ke rumah setelah lelah bermain seharian di luar.
Hiro ingin segera bertemu Ayahnya dan bertukar cerita lagi dengannya.
Semakin dekat dengan rumahnya, semakin cepat langkah Hiro berlari. Hingga akhirnya iapun sampai di depan rumahnya yang masih begitu sederhana.
Hiro berjalan pelan menuju pintu dan mengetuknya. Tok..tok..tok...tok.. "Ayah..,"
Hiro melangkah ke belakang ketika dia melihat pintu rumahnya perlahan mulai terbuka. Seseorang pun menjawab panggilan Hiro.
Matahari sore menyinari wajah Ayahnya yang menyambut baik kedatangan sang anak semata wayang. "Selamat datang kembali..,"
Senyuman hangat dari Ayahnya sudah Hiro tunggu selama ini. Semangatnya untuk bisa menjalani hidup ketika sudah tidak muda lagi menjadi sebuah pecut bagi Hiro untuk lebih bekerja keras.
🍃🍃🍃
Namun, terasa ada yang berbeda dengan senyum Ayahnya. Hiro mengerutkan keningnya ketika dia melihat Ayahnya keluar dari pintu sambil membawa tongkat dengan kantung infus yang masih terpasang di pergelangan tangannya.
"Ayah..?" Hiro bertanya dengan lembut. "Ayah kenapa?"
Perlahan Hiro mendekati tubuh Ayahnya. Dia mengamati dengan seksama untuk memastikan bahwa yang dia lihat adalah nyata. "Ayah sakit?"
Melihat sang putra mengkhawatirkan kondisinya, senyuman hangat sang Ayah perlahan memudar. Air mata tanpa alasan mengalir dari pelupuk mata. Ayah Hiro tidak kuasa menahan air matanya yang sudah dia tahan sejak membukakan pintu untuk putranya.
"Maafkan Ayah ya nak," Desis Ayah Hiro. "Seharusnya sejak awal Ayah beritahu kepadamu..," Ucap Ayah Hiro dengan pilu.
"Tenanglah Ayah, aku ada di sini...," Hiro menyeka air mata sang Ayah. "Mau berbicara? bagaimana kalau kita masuk ke dalam dulu?" Hiro berbicara dengan lembut sekali.
Hiro pun berjalan pelan ke dalam rumah sambil menjaga Ayahnya yang cukup sulit berjalan.
Hiro tidak pernah melihat Ayahnya menangis selama ini. Bahkan di saat kondisi terpuruk pun dia tidak menangis. Namun kenapa sekarang dia menangis?
"Apa yang terjadi kepada Ayah?"
...