
Andai saja saat itu Hiro tidak memutuskan untuk mundur dari akademi, mungkin dia masih baik-baik saja hingga saat ini. Andai saja Hiro masih bertahan di akademi, sudah pasti namanya akan terpajang sebagai legenda layaknya Daichi dahulu.
Tapi sekarang bukan saatnya untuk berandai-andai. Hiro harus cepat mencari semangatnya kembali. Jika tidak, Takashi tidak akan mau melatih Hiro yang tidak memiliki semangat dalam bermain bola.
…
Pada akhir pekan, Hiro sedang menikmati paginya yang damai dengan minum kopi sambil melihat televisi. Dalam acara televisi yang Hiro lihat itu sedang memberitakan seputar tim nasional sepakbola Jepang.
“Dari selebriti, kita beralih ke olahraga. Federasi sepakbola Jepang telah merilis nama-nama pemain yang akan mengikuti piala Asia tahun ini…,”
“Oh, berita tentang sepakbola? Aku penasaran,” Hiro semakin memperhatikan setiap nama yang diperlihatkan di televisi.
“Pemirsa.., diantara nama-nama tersebut, ada nama yang mengejutkan publik, yaitu dipanggilnya pemain muda berusia 20 tahun, yaitu Daichi Furuoka.”
“Hah?Apa? D—Daichi?!” Hiro terkejut hingga menjatuhkan gelas kopinya.
Tidak salah lagi. Daichi Furuoka, seorang rival Hiro waktu masih di akademi, kini sudah menjadi bagian di timnas Jepang.
“Aku tidak percaya ini! bisa-bisanya dia berada di atas sana sementara aku masih di sini! Ini tidak bisa dibiarkan! Aku harus memberitahu Ryota,”
Hiro pun bergegas menuju rumah Ryota. Namun baru saja Hiro ingin membuka pintu rumahnya, tiba-tiba dari luar sudah ada orang yang membukanya. “Hiro!!” Ryota lah yang membuka pintu itu.
“Ryota!” Mata Hiro terbelalak.
“Hiro! Kau sudah lihat berita di televisi?!”
“Tentu saja!! aku baru saja ingin memberitahumu,”
Tanpa disadari, mereka berdua mulai membicarakan sesuatu tentang Daichi. Terutama Hiro, dia adalah salah satu yang paling membenci Daichi. Namun bukan karena keburukannya melainkan Hiro jengkel karena dia sama sekali tidak bisa melampaui pencapaian Daichi hingga saat ini.
“Hahaha! Kenapa kita jadi membicarakan Daichi seperti ini? hahah!” Ryota tertawa dengan sendirinya.
“Eh? Benar juga ya? Kenapa kita melakukan ini? seperti perempuan saja ya? Hehe,” Hiro juga menyadarinya.
Hiro dan Ryota kemudian terbawa suasana dan mengganti topik pembicaraan ke arah yang seharusnya. “Sudah, haha, sebaiknya kita membicarakan hal yang lain,”
…
Sambil duduk di kursi kayu depan rumah Hiro, mereka berdua bersama-sama memikirkan sesuatu yang sama. “Ryota? Apakah menurutmu aku bisa mendapatkan semangatku kembali?” Tanya Hiro.
“Apa yang kau bicarakan? Kau baru saja mendapatkan semangatmu kembali bukan?”
“Baru saja mendapatkan semangat? Apa maksudmu?”
Ryota kemudian mengeluarkan telefon genggam dari saku celananya dan mulai mencari sesuatu di internet.
“Apa yang kau cari?” Tanya Hiro. Matanya melirik ke layar handphone milik Ryota.
“Nah ini dia yang kucari,”
Ryota memperlihatkan kepada Hiro tentang berita seputar timnas Jepang. Di dalamnya terdapat daftar nama-nama pemain yang dipanggil. Tentu saja ada nama Daichi di sana dan Hiro merasa jengkel.
“Kenapa kau memperlihatkanku ini? sudah tahu aku tidak menyukainya bukan?” Hiro menjauhkan handphone Ryota dari pandangannya.
“Hehe, itulah yang kumaksud Hiro, itulah semangatmu!”
“Apa maksudmu?” Hiro masih belum sadar.
Kicauan burung menemani Hiro untuk menyadari sebuah hal yang seharusnya sudah tertanam di dalam hati Hiro.
“Daichi! Dia adalah semangatmu!” Ucap Ryota. “Setelah tahu dia dipanggil timnas Jepang, kau jadi iri bukan? Kau juga pasti berpikir jika seharusnya kau juga bisa kan?”
“Eh! Iya! Benar!” Hiro sudah sadar.
“Itulah yang di sebut semangat,” Ucap Ryota. "Semangat itu tidak datang dari luar, melainkan dari dalam dirimu,"
“Tentu saja.., itu adalah dirimu yang dulu!”
“Jadi, apakah menurutmu.., sekarang aku bisa bertemu dengan Takashi lagi?”
“Tentu saja! temuilah Takashi! Dan beri dia tahu semangatmu!”
“Baiklah! Aku akan segera kesana sekarang!”
Tanpa aba-aba, Hiro langsung berlari tanpa alas kaki menuju akademi Zekka yang yang 5 km jauhnya.
“Hey! Hey! Hiro! Kau mau kemana?! Kenapa tiba-tiba berlari!” Ryota tidak mengerti apa yang dilakukan Hiro dan kemana dia akan berlari.
…
Sinar hangat matahari pagi menemani di sepanjang jalan Hiro menuju akademi. Hiro tidak pernah merasa bersemangat seperti ini semenjak dia mendapatkan sepatu bola dari Ryota waktu itu.
Semangatnya telah kembali. Atau bisa dibilang, telah teringat kembali. Hiro dan Daichi adalah rival yang saling berusaha menjatuhkan satu sama lain. Namun bukan berarti itu adalah persaingan yang buruk. Persaingan semacam inilah yang dibutuhkan Hiro. Sebuah persaingan yang sulit.
…
Ketika sudah sampai di depan gerbang akademi, seluruh baju Hiro sudah basah dengan keringat. Kakinya mengapal karena berlari sejauh 5 km tanpa alas kaki.
Hiro melihat gerbang akademi masih tertutup. Hiro lupa jika pada pagi hari akademi masih belum buka. “Hahaha! Aku lupa!” Hiro tertawa karena kebodohannya sendiri sambil berkali-kali mengambil napas panjang untuk mengisi paru-parunya dengan udara segar.
“Baiklah, aku akan pulang saja,” Gumam Hiro. Hiro pun sudah siap kembali berjalan menuju rumahnya tanpa alas kaki.
Namun sebelum Hiro meninggalkan gerbang akademi, ada suara seseorang yang begitu Hiro kenal. “Tidak, kau tidak boleh pulang,”
Hiro menoleh mencari asal suara. “Siapa itu?”
Dari sudut gerbang, akademi, berjalan seorang pria bertopi. Kedua tangannya dia masukkan kedalam saku celananya. Pria itu berjalan mendekati Hiro. “Hiro? Aku sudah menunggumu,”
“Pelatih!”
Ya, pria itu adalah Takashi. Dia tersenyum melihat Hiro datang. “Apa yang membuatmu datang kemari? Apa kau lupa kalau akademi masih tutup?”
“Maafkan aku. Aku hanya terlalu bersemangat sampai lupa sekarang masih pagi, hehe,”
“Apa yang membuatmu begitu semangat?”
“Apa yang membuatku begitu semangat? Tentu saja karena sepakbola!”
Takashi tertawa bersama Hiro pagi itu. Suasana yang sepi membuat hanya ada suara mereka yang terdengar dan menggema.
“Nampaknya kau sudah menemukan semangatmu lagi nak. Katakan, apa semangatmu?” Tanya Takashi.
“Semangatku? Ingin lebih hebat dari Daichi!!” Hiro berteriak.
“Hahaha, itu baru Hiro yang kukenal,”
“Emm, kalau begitu, apakah kita bisa mulai latihan?” Tanya Hiro.
“Tentu saja! sore nanti langsung ke lapangan kosong di ujung jalan! Bagaimana?”
“Oh! Baiklah pelatih!”
…
Sore itu juga, Hiro dan Takashi berlatih secara privat di sebuah lapangan kosong. Takashi terus melatih Hiro tanpa kenal lelah. Takashi sudah yakin jika semangat anak itu akan terus membara selamanya.
“Ayo Hiro! Jangan menyerah! Jangan menyerah hingga kau bisa mengalahkan Daichi!”
“Iya!!!” Semangat Hiro selalu membara saat ini, dan akan terus membara seperti api abadi di tengah gurun salju yang mengelilinginya. Takehiro Miyoko, akan segera terlahir kembali.