The Dreamer

The Dreamer
Janji lama



Seorang pria berkuasa dengan hati yang hancur di makan kecewa. Apa yang bisa lagi diharapkan dari sosok Darwin? Nampaknya keputusannya dalam memutus kontrak 80% pemain Akihabara FC itu benar-benar akan dilakukan.


Hiro, Ryota, dan yang lain sudah terlalu pasrah dan kecewa untuk mau berdiskusi dengan Darwin yang labil emosinya. Setelah pertemuan berakhir, Seluruh pemain Akihabara kembali ke asrama pemain dengan perasaan mengganjal di dalam hati mereka.


...


Sampai di asrama ketika senja tiba. Hiro turun dari bus dan langsung masuk ke asrama. Bukan hanya Hiro, bukan hanya Ryota.., seluruh pemain Akihabara yang baru saja kembali pun juga melakukan hal yang sama dengan Hiro. Mereka semua tampak kehabisan kata-kata untuk hari ini.


Pada malam hari, asrama ini sudah seperti bangunan yang ditinggal pergi. Baru jam 8 malam semua lampu di kamar sudah dipadamkan oleh pengguna kamar. Makan malam yang sudah disediakan juga tidak terjamah. Semua pemain di asrama ini hanya ingin meratapi nasibnya.


...


Di dalam kamarnya, Hiro terus terpikirkan


"Ada kesempatan lain kali untukku? bagaimana dengan yang lain?"


Hiro terus merenung. Dia masih belum berbicara dengan rekan-rekannya semenjak kembali dari kantor Darwin. Hiro merasa jika saat ini mungkin perasaan kawan-kawannya sedang tidak bagus setelah banyak dari mereka yang akan hengkang dari klub ini.


Sepertinya hari ini sudah cukup bagi Hiro dan kawan-kawan untuk menerima kenyataan bahwa beberapa dari mereka harus pergi dan beberapa masih bertahan.


Hiro memang masih diberikan kesempatan lain bertahan di klub untuk musim depan, namun Hiro harus berpisah dengan sahabatnya yaitu Ryota karena dia dianggap belum bisa menjadi seorang pemain yang cukup hebat untuk bertahan di sini. Sekarang semuanya ada di dalam pilihan Hiro. Apakah dia akan menemani Ryota dalam mengarungi takdir yang keras? atau Hiro lebih memilih untuk bertahan dan terus berkembang sendirian di Akihabara hingga akhirnya ia bisa menjadi seseorang yang dia inginkan.


...


...


Hari esok bukan berarti lebih baik, hari esok adalah hasil dari apa yang telah kamu lakukan hari ini.


...


Keesokan harinya, Hiro bangun tidur ketika dia mengendus aroma lezat dari luar. Perutnya sudah keroncongan sejak kemarin.


"Gueehehe.., waktunya sarapan..," Gumam Hiro sambil mengelap air liur di bibirnya.


Namun sebelum dia pergi meninggalkan kamar, tiba-tiba Seichi memberikan pengumuman kepada seluruh pemain di asrama melalui pengeras suara yang menggema di setiap koridor.


"Untuk seluruh pemain, dimohon menuju ke lapangan setelah sarapan..,"


Begitulah isi pengumuman yang diberikan.


"Hmm? pengumuman macam apa itu? tidak jelas..," Gumam Hiro yang saat ini hanya ingin menikmati sarapan pagi.


Hiro pun mempercepat langkahnya menuju ke meja makan dan mengambil banyak nasi untuk makan.


Saat Hiro sampai di meja makan, dia juga melihat banyak dari para pemain yang juga kelaparan sepertinya. Bahkan Ryota pun juga mengambil 3 potong ayam dan satu mangkuk penuh salad.


Hiro heran karena tidak biasanya Ryota mengambil sebanyak ini. "Hey Ryo! bukankah kau mengambil terlalu banyak?" Tanya Hiro sambil menyenggol lengan Ryota yang duduk di sampingnya.


Ryota menoleh. "Huh? kenapa memangnya? aku lapar! semalam tidak makan," Jawabnya.


"Heh? tidak makan?"


"Iya, aku semalam hanya berbaring di kamar sambil dengerin musik..," Ucap Ryota sambil memotong-motong daging dipiringnya.


Hiro pun melihat sekelilingnya dan teman-temannya juga mengambil makanan dengan porsi banyak. Hiro jadi berpikir, "Apakah semalam semuanya tidak makan sepertiku?"


...


Sudah pasti jawabannya Iya.


...


...


Sebelum Hiro menyantap sarapan, sempat terbesit dalam pikirannya tentang sebuah pertanyaan. Pertanyaan ini sudah ingin dia tanyakan kepada Ryota semalam. Namun Hiro malah ketiduran. Dan kali ini dia memiliki kesempatan untuk bertanya kepada namun dia sedang asik makan.


"Huuhh,, mau tanya aja susah banget..," Dalam hati Hiro.


...


Akhirnya waktu sarapan telah usai. Pukul delapan pagi seharusnya mereka sudah berada di lapangan untuk latihan. Namun sekarang ini mereka sudah tidak berlatih karena Liga musim ini sudah berakhir.


Seichi sebagai pelatih juga sudah memberikan kebebasan kepada seluruh pemain untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Mereka boleh pulang ke rumah mereka ataupun tetap berada di asrama ini. Seichi saat ini sedang mengikuti pelatihan di Eropa untuk lisensi pelatih dan akan pergi besok. Dia tidak akan kembali dalam beberapa bulan.


...


Hiro pun berbicara dengan Ryota mengenai apa yang akan dilakukannya hari ini.


Ryota menjawab, "Siang ini aku akan kembali ke Sapporo. Aku ingin bertemu dengan orangtuaku,"


"Oh begitu ya. Aku boleh ikut?" Tanya Hiro.


"Boleh! lagipula kita sedang diliburkan oleh manajemen," Ucap Ryota.


"Yaudah ayo!" Wajah Hiro bersinar.


Selain Hiro dan Ryota, seluruh pemain Akihabara FC juga akan segera meninggalkan Asrama ini untuk pulang ke kampung halaman atau berlibur hingga Liga musim depan akan dimulai satu hingga dua bulan lagi. Karenanya Asrama ini akan kosong pada esok hari.


...


Hiro dan Ryota pun langsung menuju ke kamar mereka untuk mengemasi barang-barang. "Baiklah, sebaiknya kau mengemasi barang-barangmu Hiro, aku akan kembali ke kamarku dulu," Ucap Ryota.


"Ryo! SEBENTAR!" Teriak Hiro.


...


Mendengar Hiro berteriak tiba-tiba, Ryota berhenti sebelum sempat masuk ke kamarnya. "Kenapa memanggil sekeras itu? aku tepat didepanmu,"


"Hehe, maaf Ryo," ...


"Sekarang saat yang tepat untuk bertanya," Dalam hati Hiro.


"Aku ingin bertanya kepadamu sebentar," Lanjut Hiro.


"Bertanya apa?"


Hiro melihat sekeliling dan khawatir kalau tiba-tiba ada pemain yang lewat di dekat mereka dan mendengar percakapannya.


"Kenapa di dalam?" Tanya Ryota.


"Sudah ayo masuk saja," Hiro malah mendorong tubuh Ryota untuk masuk ke kamarnya.


"Eh..eh, ada apa ini? sebenarnya kau mau bertanya apa?" Heran Ryota, tubuhnya sampai di dorong paksa masuk ke kamar.


Nampaknya pertanyaan Hiro sangat penting hingga dia harus berhati-hati.


Setelah itu pintu kamar ditutup rapat-rapat, bahkan meminta Ryota untuk menguncinya namun Ryota menolak.


"Tidak perlu dikunci," Ucap Ryota. "Lagipula apa yang ingin kau tanyakan kepadaku? apakah sepenting itu?" Tanya Ryota.


"IYA!"


Ryota terkejut dengan teriakkan Hiro. "B--Baiklah, apa yang ingin kau tanyakan?"


Hiro masih berdiri tegak di depan pintu kamar. Keringat dingin membasahi wajahnya. "Setelah kau kembali ke Sapporo nanti, apa yang akan kau lakukan?"


"Hmm, apa ya?" Ryota jelas terlihat bingung dengan pernyataan Hiro. "Ya, mungkin aku akan bersantai dulu beberapa waktu sebelum mencari klub sepakbola baru yang mau menampungku,"


"Setelah itu?" Tanya Hiro lagi.


"Ya, aku akan kembali ke lapangan,"


"Setelah itu?" Tanya Hiro lagi.


"Aku akan-- eh..," Ryota masih bingung.


"Setelah itu?" Tanya Hiro lagi.


"Aku tidak tahu!" Ucap Ryota keras. Dia sedikit jengkel dengan pertanyaan Hiro.


"Apa urusanmu bertanya seperti itu kepadaku? bukankah kau tidak perlu khawatir karena kau masih bertahan di sini ha?!"


"Tapi bagaimana jika aku ikut pergi dari klub?" Pernyataan Hiro berbeda.


"Huh? Maksudnya?"


"Aku akan ikut serta keluar dari tim ini seperti dirimu!!" Ujar Hiro.


"Lhoo! apa yang kau katakan?" Ryota masih belum pahan yang Hiro inginkan. "Apakah kau juga ingin keluar dari klub ini?"


"Iya," Jawab Hiro singkat.


"Heh?? kenapa?!" Ryota terkejut. "Bagaimana dengan rekan-rekanmu yang lain seperti Aaron, Yui, dan Mayashi? mereka masih bertahan di sini kan? apakah kau ingin meninggalkan mereka?"


"Tidak peduli! aku akan tetap ikut denganmu!"


"T--Tapi.., bagaimana dengan kontrakmu? kau masih memiliki kontrak kerja dengan Akihabara FC bukan? kalau kau keluar dari tim tanpa alasan pasti akan kena sanksi!" Ujar Ryota. "Darwin juga pasti akan kecewa denganmu!"


"Aku sudah tahu resiko itu..Tapi aku tidak peduli.., hehe." Ujar Hiro.


"Heh.??! kenapa? kau gila ya?!" Ryota terheran-heran.


"Sudahlah Hiro, aku tidak apa-apa, aku akan mencari jalanku sendiri. Aku berjanji kita akan bertemu kembali di lapangan suatu hari nanti,"


Hiro tertawa mendengar ucapan Ryota. "Hahaha, dasar kau ini. Kau pikir aku akan diam saja? Kau boleh melarangku, namun kehendakku bukan keinginanmu!"


...


Ternyata memang pertanyaan Hiro sangat penting dan berbahaya jika didengar oleh telinga lain. Wajar saja Hiro ingin percakapan ini segera berakhir sesuai keinginannya. Jika berlama-lama dia takut orang lain bisa dengan dari luar.


...


Ryota terkejut mendengar ucapan Hiro. Dalam hati kecilnya, dia sangat senang karena sahabatnya masih terus memikirkan tentang dirinya walaupun sedang jatuh.


...


"Kalau urusan sanksi aku sudah siap menerimanya!" Ucap Hiro. "Aku bisa membicarakan tentang ini kepada Darwin nanti supaya dia mengizinkanku meninggalkan Akihabara FC."


"Kau ini... benar-benar keras kepala..," Gumam Ryota.


"Biarin deh.., hehehe," Gurau Hiro. "Lagipula kita sudah berjanji akan terus bersama hingga mimpi menjadi seorang pemain hebat tergapai kan?"


"Itu kan janji lama..," Desis Ryota.


Akhirnya Ryota pun mengalah dan mempersilahkan Hiro mengikuti keinginannya untuk ikut keluar dari tim ini. "Ya sudah, terserah kau saja. Kalau ada masalah jangan libatkan aku,"


"Siap..! terimakasih Ryo!"


...


"Tapi alasan yang buat kamu pengen keluar dari sini itu sebenarnya apa?" Ryota penasaran.


"Gak ada apa-apa, cuman pengen bisa menemani seorang sahabat mengarungi kejamnya bisnis sepakbola, hahaha!"


"Benarkah?" Ryota tersenyum. "Pasti kau hanya ingin bertemu dengan Saki kan??" Tanya Ryota jahil.


Ekspresi Hiro tiba-tiba berubah. "Eh.., t--tidak! A..ku ingin bertemu dengan Ayahku! bukan Saki! K--kenapa bertanya seperti itu?"


"Oh, jadi kau tidak merindukan Saki?"


"Jelas rindu!" Ungkap Hiro. Wajahnya langsung memerah karena dia sadar telah jatuh ke perangkap Ryota.


"Eh! bukan itu maksudku!"


"Hahaha!" Ryota tertawa puas. "Gampang sekali untuk dibodohi olehku! haha,"


"Sudahlah Ryo.., hentikan kebiasaanmu ini," Hiro menundukkan kepalanya karena tidak kuat menahan malu.


...


...


"Baiklah, maaf-maaf, hehe," Ujar Ryota sambil mengacak-acak rambut Hiro. "Ya sudah, ayo kita siap-siap berangkat!"