The Dreamer

The Dreamer
Benda Berharga



Hari ini, Hiro bangun lebih pagi dari biasanya. Jam di dinding kamarnya menunjukkan pukul setengah lima pagi.


Hiro berlari menuju meja makan dan menyapa Ayahnya dengan penuh semangat, "Selamat pagi Yah!"


"Oh..Hiro! sudah bangun nak? pasti kau sudah tidak sabar menunggu sepatumu datang ya?"


"Hehehe..,"


"Mari sarapan dulu,"


"Baik Yah!"


...


Hiro dan Ayahnya sangat lahap memakan sarapannya. Jika sudah sarapan seperti ini, biasanya Hiro tidak akan makan sampai malam hari. Itulah sebabnya mengapa dia begitu kurus.


Pada jam lima pagi, Ayah Hiro akan berangkat bekerja menuju proyek sebagai kuli bangunan. Seragam kebanggaan sudah di pakai oleh sang Ayah. "Ayah berangkat dulu ya! hati-hati di rumah!"


"Baik Ayah!"


Ayah Hiro pun berangkat kerja dengan mengayuh sepeda tuanya.


Kini di rumah tinggal Hiro sendiri. Dia mondar-mandir di depan rumah sambil menunggu Ryota datang.


Hampir satu jam menunggu, Ryota belum juga datang. Sekarang sudah hampir pukul 6.


"Ryota lama sekali..," Gumam Hiro sendiri.


...


Namun setelah hampir tertidur karena menunggu terlalu lama, akhirnya Ryota datang ke rumahnya.


"Hiro!" Sapa Ryota yang berteriak dari ujung persimpangan.


Sebenarnya Hiro bisa saja menghampiri Ryota di rumahnya, namun Hiro merasa tidak sopan jika melakukan itu, makanya dia hanya menunggu.


"Ah..kau sudah menungguku lama ya? hehe maaf Hiro,"


"Ah tidak apa-apa Ryo, aku baru saja bangun," Ujar Hiro yang matanya tidak bisa lepas dari kotak sepatu yang di bawa oleh Ryota.


"Wah..wah..wah.., kau sudah tidak sabar ya?" Ryota memainkan kotak sepatunya. "Baiklah, ini kuberikan. Di coba dulu ya!"


Ryota pun memberikan sepatu bola bekas miliknya kepada Hiro. Hiro membuka bungkusan dan sangat terkejut melihat sepasang sepatu hijau neon yang masih mulus. "Ryota..? apakah ini benar-benar sepatu bekas?!"


"Iya..," Jawab Ryota.


"Ini sangat bagus! kenapa kau sudah tidak memakainya?"


Dengan wajah polos Ryota menjawab, "Aku sudah bosan.., jadi aku beli yang baru,"


"Oh begitu..," Hiro sama sekali tidak terkejut. Ryota memang berasal dari keluarga kaya. "Terimakasih ya sepatunya..! ini sangat istimewa bagiku,"


"Tidak masalah.., aku masih punya tujuh pasang kalau kau mau," Tawar Ryota.


"Ee..tidak perlu hehe,"


...


Setelah Hiro memakai sepatu bola pemberian Ryota, sepatu itu sangat pas. "Wah pas banget Ryo!"


"Iya benar! pas!" Ryota senang sepatu pemberiannya dapat membuat Hiro bahagia. "Naahh.., setelah punya sepatu bola.., kau harus tetap semangat seperti ini ya!"


"Hehe iya! dengan sepatu ini aku akan menjadi pesepakbola terhebat! hahaha!" Hiro tertawa lepas bersama teman baiknya.


"Kalau begitu..nanti sore kau mau ikut bermain sepakbola di lapangan?"


"Memangnya teman-temanmu mau mengijinkanku bermain? kau tahu sendiri kan, mereka selalu merendahkanku," Ucap Hiro dengan pelan.


"Benar juga, kau tidak bisa bermain di daerah ini karena mereka tidak tahu kemampuanmu sebenarnya," Ryota sedang berpikir keras untuk mencarikan solusi untuk sahabatnya. "Oh aku tahu!"


"Apa Ryo?"


"Bagaimana kalau kita berdua mendaftar ke sekolah sepakbola?! di sana terdapat pelatih profesional yang pasti memperlakukanmu sama rata dengan anak-anak lainnya!" Ujar Ryota.


"Apa kau yakin aku tidak akan direndahkan lagi?" Hiro masih sedikit trauma.


"Hehe.., aku belum bisa memastikan sih..,"


"Huuh, kau ini..," Hiro yang lelah berdiri, kemudian duduk di kursi kayu panjang depan rumahnya. "Mari Ryo, ngobrolnya sambil duduk aja,"


...


"Bagaimanapun juga, sepatu bolamu ini harus digunakan.., kalau tidak ingin digunakan, untuk apa aku memberikannya kepadamu?" Ujar Ryota.


"Tapi.., jikapun aku mau untuk masuk ke sekolah sepakbola, darimana uang nya? pasti di sana ada biaya bulanan bukan?" Hiro geleng-geleng kepala. "Tabunganku saja hanya ada 2.000 Yen (Sekitar Rp. 235.000,00),"


"Jadi.., kalau kau tidak perlu membayar biaya bulanan, Apakah kau mau mendaftar sekolah sepakbola?" Tanya Ryota.


"Mungkin..," Hiro menyadari sesuatu, "Ehh..? apakah kau mau membayariku!!!"


"Tidak," Jawab Ryota yang membuat Hiro jengkel. "Aku tidak bisa melakukan itu karena biaya bulanan sekolah sepakbola, rata-rata sebesar 1.000 Yen(Rp. 117.000), uang jajanku akan habis kalau terus membayarimu, maafkan aku," Terang Ryota.


"Iya, tidak papa, aku juga tidak memaksamu," Hiro sebenarnya sedikit kecewa namun dia tidak bisa mengatakannya.


Nampaknya Hiro harus mencari cara sendiri untuk mendapatkan uang tambahan. "Hmm, aku harus segera memikirkan cara untuk mendapatkan uang tambahan! tapi bagaimana?!" Dalam hati Hiro.


...


Matahari semakin terik. Tak terasa mereka berdua sudah mengobrol selama 1,5 jam tanpa henti.


"Aku haus..," Ucap Ryota sambil memegang tenggorokannya. "Mari aku belikan minuman di toko ujung jalan! kau mau kan?"


"Eh?!" Hiro tersentak dari lamunannya. "Mau!"


Ryota memang kerapkali mentraktir Hiro ketika bermain bersama. Hiro hanya mampu mengucapkan 'terimakasih' untuk membalas segala kebaikan yang diberikan Ryota selama ini. "Terimakasih," Ucap Hiro setelah diberikan sebotol air soda oleh Ryota.


Sembari duduk di depan warung, Hiro pun meneguk air soda segar hingga habis. "Ahhh!! segarnya!"


"Minun soda saat musim panas memang yang terbaik!"


...


Mendengar ucapan Ryota barusan, Hiro mendapatkan ide brilian. "Hmm??" Hiro mengerutkan keningnya, "Ryota.., bisakah kau ulangi lagi ucapanmu barusan?"


"Ha?" Ryota sedikit bingung, "Minum soda saat musim panas memang yang terbaik? apakah yang itu maksudmu?"


"Tepat sekali!" Teriak Hiro. Hiro pun berlari ke dalam toko itu lagi sambil membawa botol minuman soda.


"Hiro?! kau ingin melakukan apa?" Ryota bingung dan hanya menunggu di depan toko.


Di dalam toko, Hiro langsung menemui sang pemilik dan langsung bertanya, "Bibi! bisakah aku menitipkan jualanku di toko ini?"


"Ha? kenapa tiba-tiba sekali nak? memangnya kau ingin menitipkan apa kepadaku?" Tanya Bibi pemilik toko kecil itu.


"Eee..memangnya apa yang paling laris di jual?" Tanya Hiro.


"Entahlah.., soda yang kau minum juga banyak yang membeli. Intinya segala jenis minuman akan laku jika dijual saat libur musim panas seperti ini," Jelas si pemilik.


"Wahh! terimakasih Bi! besok aku akan menitipkan jualanku di sini ya!"


"Iya..! Bibi tunggu ya!!"


"Iya! terimakasih Bi!" Hiro pun berlari ke luar toko.


Bibi pemilik toko hanya bisa menghela napas sambil tersenyum, "Anak jaman sekarang ada-ada saja," Si pemilik toko berpikir bahwa Hiro hanya bercanda dengannya.


Di luar toko, Ryota keheranan melihat Hiro yang sangat menggebu-gebu, "Apa yang barusan terjadi?"


"Ehh..Eee..itu.., aku harus segera pulang! nanti lagi ya mainnya! dadah Ryota!" Ucap Hiro sambil berlari lagi menuju ke rumahnya.


"Hiro kenapa sih? Tingkahnya aneh," Gumam Ryota. Dia masih bisa melihat Hiro berlari hingga akhirnya berbelok di ujung jalan. "Ah sudahlah, Hiro mungkin hanya sedang bersemangat,"


...


Di rumahnya, Hiro langsung menuju kamarnya dan mengambil celengan miliknya di bawah kasur. Dia membuka celengan dari toples itu dan mengambil semua uang di dalamnya.


Hiro menghitung setiap receh yang ada. "Semoga cukup..," Pikir Hiro.


Ya, Hiro telah bersungguh-sungguh untuk berjualan minuman dan menitipkannya di toko Bibi tadi. Hiro tahu jika Ayahnya sudah tidak bisa memberikannya uang untuk tabungan. Maka dari itu dia ingin mendapatkan uang dengan usahanya sendiri, yaitu dengan berjualan. Hiro bahkan telah memperhitungkan harga yang pas untuk jualannya.


"Hmm.., modal tiap botol minuman kira-kira 50 Yen, jika minumannya kujual 80 Yen per botol, maka keuntunganku sebesar 20 Yen, 10 Yen untuk pemilik toko. Jika aku bisa menjual 10 botol setiap hari.. berarti aku bisa mendapatkan keuntungan 200 Yen(Rp. 23.000) per hari!" Gumam Hiro sambil mencoret-coret kertas didepannya.


Sungguh hal yang jarang dilakukan oleh anak 12 tahun sepertinya. Hiro harus berjuang keras agar cita-cita besarnya tidak berhenti sampai di sini! Dengan usahanya, Hiro yakin dapat membiayai sekolah sepakbola dengan uangnya sendiri!


Setelah mengambil semua uangnya, Hiro pun kembali pergi ke luar untuk membeli bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat beberapa botol minuman segar.


...


Sampai sore Hiro bepergian. Gemetar tangannya begitu sampai di rumah. Hiro sudah terlalu lelah untuk melanjutkan pekerjaannya hari ini. Setiap jari tangannya menggenggam kantung plastik yang berat berisi berbagai macam bahan.


Dari 2.000 Yen, uang Hiro hanya tersisa sekitar 120 Yen. Tidak ada kata ragu dalam hati anak ini. Yang tertanam di dalam hatinya hanya satu, "Aku tidak boleh menyerah!" Hiro bertekad sambil berbaring di kasur memandang langit-langit.