
Hari ini adalah hari yang menyakitkan. Malam yang dingin dan panas secara bersamaan. Nafas masuk dan keluar tidak beraturan. Namun hal ini bukan dialami oleh Hiro, melainkan--,
"AAAAA!!!" Teriakkan yang melengking memecah hening asrama perempuan pada malam hari.
...
Lampu-lampu di asrama satu-persatu kembali menyala setelah sebelumnya padam.
"Suara siapa itu?"
"Apa yang terjadi barusan?"
"Suaranya dari kamar Izumi kan?"
Semua penghuni asrama kaget dengan teriakkan Saki. Mereka mengira ada suatu hal yang terjadi dengannya.
Ckleek...
Pintu kamar Saki terbuka dari luar. Seorang perempuan datang ke kamarnya.
"Saki kau tidak apa-apa? apa yang terjadi?!"
"Huh? Hanabi? ngapain malam-malam kesini?" Wajah Saki yang begitu datar membuat Hanabi heran.
"Kenapa kau berteriak?" Tanya Hanabi. Dia pun langsung duduk di samping Saki. "Kau sedang apa?" Tanyanya.
"Tidak apa-apa," Jawab Saki.
"Kenapa Hanabi tiba-tiba datang.., pasti dia ingin menggangguku lagi ." Batin Saki.
...
Hanabi adalah teman baik Saki di asrama perempuan. Setiap malam mereka sering bersama. Hanabi adalah gadis seumuran Saki dengan rambut coklat panjang dan diikat sebagai ciri khasnya.
...
"Bohong..," Hanabi menatap mata Saki. "Pasti ada sesuatu kan? udah ngomong aja."
"Iya deh," Saki mengalah dan memberitahu Hanabi tentang yang terjadi saat ini. Jika tidak diberitahu, Hanabi pasti akan terus bertanya.
"Sebenarnya barusan aku melihat pertandingan Akihabara FC melawan Osaka Steels..," Lanjut Saki.
Baru sedikit dijelaskan, Hanabi sudah bisa memahami situasi ini. Dia sadar tentang situasi yang sedang terjadi kepada sahabatnya.
"Hmmm.., Akihabara FC? bukankah itu tim yang dibela pacarmu?" Tanya Hanabi.
"Heeh.., I--Iya," Jawab Saki.
"Terus?"
"Ya terus kalah lah.., pake tanya..," Ujar Saki kesal.
Melihat wajah Saki yang memerah menahan emosi, Hanabi hanya bisa tertawa. "Pffftt.., Uhahha..! Ooo, pantes aja kamu teriak begitu.., ternyata Akihabara habis kalah 3-2 dari Osaka ya? hahaha!"
"Diem kamu!" Saki memukul Hanabi dengan bantal.
...
Hanabi bisa mengetahui hal tersebut karena dia melihat dengan jelas skor 3-2 terpampang di layar televisi kamar Saki saat ini. Saki memang suka melihat pertandingan sepakbola, apalagi jika Hiro yang bermain.
...
"Iiihhhh!!" Saki mencubit tangan Hanabi karena kesal.
"Aduh! sakit!" Erang Hanabi.
"Lagian kamu malah tertawa..," Ucap Saki. "Asal kamu tahu, gara-gara kekalahan ini, Akihabara FC jadi gagal promosi ke Liga 1 Jepang!"
"Oh.., gitu..," Ucap Hanabi.
"Huu..huh..!" Saki semakin kesal mendengar Hanabi yang seperti tidak peduli dengannya.
"Kau kesal karena Akihabara FC kalah atau karena aku?"
"Pake tanya!” Bentak Saki.
"Hahaha," Hanabi senang terus menggoda Saki yang masih belum bisa menerima kekalahan Akihabara. "Maaf..maaf..,"
Inilah alasan mengapa Saki sedikit malas berbagi cerita dengan Hanabi. Pasti ada sesuatu yang bisa membuatnya kesal.
...
"Ngomong-ngomong, gimana kabar pacarmu itu?" Tiba-tiba Hanabi bertanya.
"Kabar bagaimana maksudmu?"
"Yaa.., bagaimana keadaannya.., perasaannya.., gitu lah. Kan baru aja dia kalah nih, siapa tahu sekarang dia lagi sedih, coba kamu telfon," Ucap Hanabi. "Kamu sama dia sering telefonan kan?"
Saki lantas tersenyum sambil menunduk. "Kita jarang kasih kabar," Ucapnya sambil memainkan bantal yang sedang dia pegang.
"Lho?!" Hanabi terkejut. Dia tidak tahu jika Saki dan Hiro jarang berinteraksi.
"Kok begitu? kalian kan pasangan? masa jarang kasih kabar?"
"Iya.., setiap aku telfon dia, dia selalu gak pernah ngangkat telfon. Hiro juga jarang telfon aku," Beber Saki.
"Kira-kira kenapa?"
"Mungkin karena ponselnya di tinggal pas dia lagi latihan, atau mungkin dia terlalu capek buat ngangkat telfon."
"Kok gitu?"
"Ya mau gimana lagi," Ucap Saki. "Ini emang resiko punya pacar altet."
"Hmm, hubungan yang rumit," Dalam hati Hanabi. Lantas Hanabi bertanya, "Kamu.. percaya sama Hiro?"
Saki menatap Hanabi dan mengatakan, "Iya."
"Oke.., Terus kamu percaya Hiro baik-baik aja sekarang?"
"Iya," Jawab Saki yakin. "Aku udah kenal Hiro cukup lama, aku tahu kalo Hiro itu bukan tipe orang yang lemah. Aku yakin kok dia pasti baik-baik aja sekarang."
...
...
🌃🌃🌃
...
...
Hiro tidak bisa tidur. Bahkan untuk sekedar makan saja dia masih malas.
Hiro mendapatkan banyak pesan pribadi dari fans Akihabara kepadanya. Banyak yang memberikannya semangat, ada juga yang berkata buruk kepadanya.
Sampai larut Hiro mendapatkan banyak pesan dari orang lain. Membuat dirinya semakin terganggu. Tidak cukup hanya kekalahan dari Osaka, kini dia juga merasa jika dirinya bahkan belum bisa menjadi seorang pemain hebat seperti yang ia inginkan.
...
"Selalu saja merepotkan..," Desis Hiro tanpa alasan.
Pikiran Hiro sedang kemana-mana. Dia tidak menyangka bahwa perjuangan satu musim ini berakhir begitu saja. Di tambah lagi dengan performa Hiro yang masih jauh dari kata 'Luar biasa'.
"Peringkat ketiga.., AAAHHH!!" Hiro terus berbicara sendiri malam itu. "Sayang sekali.., padahal kita tinggal butuh satu poin agar bisa masuk tiga besar.., namun tidak bisa."
Hiro terus terpikirkan mengenai 1 poin terakhir itu. Andai saja pertandingan melawan Osaka tadi berakhir dengan kemenangan Akihabara, pasti keadaan akan berbeda 180 derajat saat ini.
"Apa yang selanjutnya aku lakukan?" Gumam Hiro. Hati Hiro sedang rapuh. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari.
...
...
🌄🌄🌄
...
...
Dan pagi ini, pihak manajemen Akihabara FC akan mengadakan pertemuan dengan para pemain di kantor perusahaan milik Darwin selaku pemilik dan pemegang saham klub. Entah apa yang terjadi sampai-sampai Darwin mengadakan pertemuan mendadak di hari kerja. Padahal biasanya Darwin selalu sibuk. Hiro saja sudah lama tidak mengirim ataupun menerima pesan dari Darwin.
...
tok.. tok...tokk.. seseorang mengetuk pintu kamar Hiro.
"Masuk saja," Sahut Hiro dari dalam kamarnya. Hiro sedang membersihkan kamarnya dengan alat penyedot debu.
Ckleek..,
"Hiro..?"
Hiro menoleh ke arah pintu dan melihat siapa yang datang. "Oh, kamu Ryo.., ada apa?"
"Hmm, tidak ada apa-apa sih. Aku hanya bingung mau melakukan apa hari ini, soalnya kan kita sudah tidak latihan lagi semenjak Liga udah selesai,"
"Iya benar, aku juga bingung ingin melakukan apa..," Gumam Hiro. "Gimana kalo bantu aku bersih-bersih?"
"Yaahh, kayaknya salah dateng nih. Lagi males malah diajak bersih-bersih. Aku kira kamu punya sesuatu yang bisa dilakukan, ternyata sama aja kayak aku, hadehh,,"
"Hehe, maaf,"
...
Hiro dan Ryota pun akhirnya memutuskan untuk pergi keluar dari asrama dan melakukan aktifitas lari pagi bersama demi menjaga kebugaran.
...
...
Pukul 06.45 mereka mulai berlari. Berlari sejauh 10 km bukan menjadi hal sulit bagi mereka saat ini. Bahkan jarak ini termasuk normal bagi mereka.
Pemandangan yang sebenarnya indah sepanjang jalan. Kota Akihabara memang penuh dengan toko-toko buku manga dan gedung yang bercahaya di malam hari. Namun ketika di pagi hari, suasana sangat berbeda.
...
"Oh, iya Ryo, nanti kita mau ke kantor Darwin kan?" Tanya Hiro kepada Ryota sambil melambatkan laju kakinya.
"Huh?" Ryota masih belum menangkap pertanyaan Hiro. "Oh, Kantor Darwin?.., iya nanti jam sembilan kita akan ke sana menggunakan bus," Ucap Ryota.
"Kenapa Darwin tiba-tiba mengadakan pertemuan?" Hiro penasaran.
"Entah, mungkin karena target yang ditetapkan olehnya gagal dilakukan oleh kita?" Ryota sedikit melontarkan teorinya. "Atau mungkin.., kita semua akan di putus kontrak karena mengecewakan!!"
"HUUSHH!!" Hiro cepat-cepat menghentikan kebiasaan Ryota berbicara asal. "Kalo bicara yang benar, kalo beneran terjadi gimana? udahlah pikir hal yang lain saja," Ujar Hiro.
"Pikir hal yang lain?"
"Iya,"
"Hmm..," Ryota memikirkan sesuatu yang jahil di kepalanya. "Bagaimana kalau memikirkan tentang Saki?"
"..."
"Heehh!!"
"K--Kau ini bicara apa!"
Wajah Hiro terlihat memerah.
"Kita ini harus tetap fokus! tidak boleh memikirkan tentang pasangan!"
"Aku tidak pernah memikirkan Saki selama ini ketika sedang latihan atau bermain, makanya aku bisa bermain dengan maksimal!"
...
Hiro mengeluarkan semua argumen yang dia punya. Hiro memang selalu salah tingkah ketika sedang membicarakan Saki. Memang betul jika Hiro dan Saki adalah pasangan baru. Mereka berdua belum mengetahui diri mereka masing-masing.
Jika pun Hiro dan Saki bertemu saat ini juga, mungkin mereka akan terlihat seperti orang asing.
...
"Hahaha, sudahlah Hiro, aku hanya bercanda, kau jangan terlalu serius menanggapi," Ucap Ryota.
"A--Aku? serius menanggapi?! hah! mana ada!" Wajah Hiro semakin merah. Hiro baru sadar jika Ryota hanya memancing dirinya agar salah tingkah.
"Hahaha.., kau terlihat jelek saat panik! hahaha!" Teriak Ryota sembari menambah kecepatan larinya dan meninggalkan Hiro di belakangnya.
Hiro tidak mengejar Ryota. Dia hanya menggelengkan kepalanya. "Ryo..Ryo..," Gumam Hiro.
🍃🍃🍃
Beberapa menit Hiro berlari seorang diri setelah berpisah dengan Ryota. Dia kemudian melihat jam tangannya yang sudah pukul delapan lebih.
"Sudah cukup larinya. Waktunya untuk kembali dan siap-siap pergi ke kantor Darwin untuk pertemuan bersama yang lain." Hiro mempercepat langkahnya untuk kembali ke asrama.