
Musim telah berganti. Guguran daun sudah terbang tersapu angin. Setiap harinya, suhu semakin rendah. Udara terasa dingin dan butiran salju mulai turun.
Kini sudah satu bulan sudah berlalu semenjak Hiro kembali dari Akihabara ke Kota kelahirannya, Sapporo. Bulan Desember ini adalah bulan yang dinantikan oleh Hiro. Dia ingin berkumpul bersama dengan orang-orang terdekatnya pada natal tahun ini.
...
🌃🌃🌃
Malam ini adalah tanggal 25 Desember. Hiro, Ryota, Saki, dan terlihat pula Hanabi, teman Akrab Saki, serta teman-teman semasa kuliah mereka.
Merayakan malam natal di rumah Ryota yang luas, mereka terlihat menikmati masa muda dengan bermain permainan seru, membuat boneka salju raksasa di halaman rumah, dan saling bertukar hadiah.
Semuanya juga saling mengirimkan pesan dan harapan kepada sesama agar mereka dapat mencapai tujuan dalam hidup.
"Semoga teman-teman semua mendapatkan keinginannya untuk tahun depan," Ujar Hiro berharap.
...
...
Tidak sampai dua jam Hiro berkumpul bersama dengan teman-temannya. Saat ini kurang lebih pukul 21.30, Hiro menjadi orang pertama yang mengakhiri perayaan Natal di rumah Ryota malam ini.
Hiro pamit dengan alasan untuk merayakan hari Natal ini di rumahnya bersama Ayahnya. "Temen-temen, maaf, aku akan pulang terlebih dahulu. Keluargaku juga ingin merayakan natal bersamaku,"
Teman-teman Hiro pun tidak melarang tindakan Hiro, justru mempersilakan untuk kembali ke rumahnya. "Kau tidak perlu izin, keluargamu juga pasti ingin merayakan natal bersamamu," Ujar Ryota.
"Iya, jika ingin pulang, tidak papa kok," Ucap salah seorang teman.
...
"Terimakasih ya,"
"Tidak masalah," Sahut teman-teman Hiro.
...
Saat Hiro hendak keluar dari pintu rumah Ryota, tiba-tiba Saki datang menghampirinya dan memegang tangan Hiro. "Aku boleh ikut denganmu?" Tanyanya.
"Ha? Ikut denganku?"
"Iya, aku ingin merasakan malam natal bersamamu dan Ayahmu.., sepertinya menyenangkan." Ucap Saki. Wajahnya berharap agar Hiro bisa menerima permintaannya itu.
"Aku juga sekalian ingin berpamitan dengan Ayahmu. Kita akan pergi ke Eropa tanggal 27 bukan?"
"Eee.. iya benar tanggal 27 seperti yang sudah kita bahas kemarin. Tapi maaf Saki.., tapi aku tidak bisa mengajakmu ke rumahku malam ini," Hiro menolak.
Saki terkejut. "Kenapa?"
Hiro menghela nafas. "Kau tahu, sudah lama sekali aku tidak bisa merayakan hari Natal bersama dengan Ayahku di rumah. Sejak masih kuliah, aku sudah sulit pulang apalagi ketika tahun lalu aku mulai menjadi pesepakbola profesional," Jelas Hiro.
"Oh, begitu," Saki langsung paham. Hiro hanya ingin waktu sendirian, terpisah dengan teman-temannya.
"Iya, aku ingin memanfaatkan waktu yang ada. Aku tahu Ayahku sudah tua. Aku tidak ingin kehilangan momen-momen berharga seperti ini bersamanya."
Saki mengangguk.
"Sekali lagi, maaf ya, kau tidak bisa ikut denganku kali ini," Ucap Hiro. "Mungkin lain kali kau bisa ikut, hehe," Hiro tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan ya," Ujar Saki berpesan.
"Iya, jangan khawatirkan aku,"
Hiro membelai rambut Saki yang berdiri di depannya. "Ya sudah, aku pulang dulu ya,"
Mata Hiro pun beralih ke arah teman-temannya yang sedang duduk berkumpul di tengah ruang tamu Ryota. Hiro melambaikan tangan ke arah mereka.
"Terimakasih sudah datang kemari, ya!" Ujar Ryota. Teman-teman yang lain juga melambaikan tangan kepada Hiro.
"Ya! tahun depan kita harus bertemu lagi! Hahaha." Sahut Hiro.
"Pastinya!" Sahut teman-temannya.
...
Hiro pun berjalan keluar pintu, melewati pagar. Matanya masih melirik ke arah dalam rumah Ryota yang terlihat masih meriah. Namun Hiro memang harus pulang ke rumah.
Di luar dinding besar rumah Ryota, salju turun begitu lebat. Hembusan nafas Hiro berubah menjadi uap. Sorot lampu jalan menerangi langkah Hiro pulang.
"Dingin sekali..," Gumam Hiro. Hiro pun mempercepat langkahnya menuju rumah.
...
Sampai di rumahnya, Sang Ayah sudah menunggu. "Aku pulang..,"
Ayah Hiro tersenyum melihat anaknya datang dari balik pintu. "Selamat natal Hiro," Ucap Ayah Hiro.
Ayahnya yang memakai sweater biru sedang duduk di samping meja makan. Terdapat seekor ayam panggang, serta dua gelas berisi jahe hangat yang baru di tumbuk, dan ditemani oleh pernak-pernik lampu seadanya. Walau sederhana, semua ini sudah lebih dari cukup untuk merayakan natal bersama Ayahnya di rumah.
"Selamat natal juga, Yah,"
Hiro pun duduk di samping Ayahnya yang sudah siap menyantap hidangan di meja.
Seperti biasa, sebelum menyantap hidangan, mereka akan berdoa dan mengharapkan agar tahun depan akan lebih baik dari sekarang.
...
...
Gelas-gelas kosong menyisakan sisa jahe tumbuk. Tulang ayam tertinggal di piring Hiro dan Ayahnya. Perut kenyang dan kini sudah saatnya untuk tidur.
Namun sebelum merasakan empuknya kasur, Hiro terlebih dahulu mendapatkan pertanyaan dari Ayahnya mengenai karirnya.
Masih di meja makan, Hiro mendengarkan saat sang Ayah bertanya ke mana Hiro setelah ini?
Hiro meletakkan piring-piring kotor di wastafel dan kembali duduk di samping Ayahnya. Hiro melipat tangannya di atas meja dan menjawab, "Aku akan pergi ke Eropa,"
Wajah Ayah Hiro langsung berseri-seri. "Heh? benarkah, Nak?"
Hiro mengangguk.
"Waah! di mana kau akan bermain? Inggris? Italia? atau Spanyol?"
"Wooww..wow..wooww, hehe, level itu terlalu besar Ayah. Aku akan melihat-lihat dulu ke Belanda dan Bulgaria bersama Saki," Ujar Hiro.
"Baiklah, memangnya kapan kau dan Saki berangkat?" Tanya Ayah Hiro.
"Kami akan pergi besok lusa, tanggal 27,"
"Kenapa kalian pergi berdua?"
"Karena aku sekalian ingin melakukan survei bersama dengan Saki terhadap lingkungan dan tempat tinggal."
"Tempat tinggal?"
"Iya Ayah, rencananya aku akan tinggal di Eropa untuk sementara waktu selama karirnya masih berlanjut di sana," Jelas Hiro. "Harap-harap Saki juga mau menemaniku tinggal di sana setelah dia menyelesaikan pendidikannya,"
"Oh, begitu..," Raut wajah Ayah Hiro mendadak berubah.
"Hmm? kenapa, Yah?"
"Eerr,, tidak apa-apa,"
"Oh iya, Ayah boleh kok ikut denganku ke Eropa! kita akan tinggal di sana! bagaimana? Di sana juga banyak dokter spesialis,"
"TIDAK! JANGAN!" Ujar Ayah Hiro dengan nada tinggi.
Hiro heran. "Kenapa, Yah?"
"Ayah tidak kuat dingin, hehe,"
Hiro menghela nafas lega. "Huuuhh...Aku kira ada apa,"
"Iya nak, Ayah tidak kuat udara dingin. Makanya setiap musim dingin, Ayah tidak pernah keluar rumah," Jelas Ayah Hiro.
"Jadi, Ayah sudah yakin tidak akan ikut denganku?"
"Iya nak. Kondisi Ayah juga terlalu beresiko jika perjalanan jauh menggunakan transportasi umum," Jawab Ayah Hiro. "Sebaiknya Ayah tetap di sini sambil menjalani perawatan yang seharusnya."
Hiro memejamkan matanya sejenak. "Tapi.. Aku tidak ingin meninggalkan Ayah sendir--,"
"Tapi Ayah tidak ingin kau meninggalkan mimpimu!" Ayah Hiro memotong ucapan dengan tegas.
Hiro terpaku.
"Ayah lebih suka melihat putra Ayah kembali ke lapangan untuk bermain bola lagi daripada harus tinggal di sini dan meninggalkan apa yang seharusnya kau lakukan!" Ayah Hiro menggebu-gebu.
"Ini adalah keinginanmu sejak kecil, kan! Untuk apa kau rela berjualan minuman di toko pinggir jalan?! Untuk apa kau memenangkan Turnamen? Untuk apa kau berjuang keras di Akademi? jika pada akhirnya akan ditinggalkan?!!"
"Ayah..," Hiro terharu dengan keyakinan Ayahnya.
Sang Ayah memegang tangan Hiro sambil berpesan, "Ayolah Nak.., Teruslah bermain bola, Ayah yakin dengan kemampuanmu..,"
"Sudah pasti, Ayah..! aku akan tetap bermain bola!"