
✈️✈️✈️
...
Pukul 02.00 Dini hari, seluruh pemain dan ofisial timnas Jepang, terbang ke Indonesia.
Sayup-sayup terdengar suara mesin pesawat yang tengah bersiap untuk lepas landas dari bandara Haneda, Tokyo. Hiro memandang keluar jendela pesawat, terlihat jelas geliat bandara yang tak pernah sepi ini.
Beberapa saat kemudian, pesawat pun lepas landas, menyisakan debu yang tertinggal di Tokyo. Pasukan Samurai biru kini bergerak menuju kandang Garuda, menantang tim dengan supporter yang fanatik itu.
...
Di dalam pesawat, Hiro masih terpikirkan dengan ucapan Ayahnya malam tadi ketika Hiro bertanya kepadanya tentang kemungkinan dirinya menikah dengan Saki. Sambil melamun Hiro mengingat ucapan Ayahnya,
"Oh. Ternyata hal yang ingin kau bicarakan dengan Ayah adalah tentang pernikahan ya? Baiklah, Ayah paham. Kau sudah dewasa. Semua pilihan ada di tanganmu. Tapi Ayah ingin mengingatkan jika pernikahan bukanlah sebuah solusi dari masalahmu. Pernikahan adalah sebuah tanggung jawab baru yang harus kau emban. Jangan sampai kelak kau menjadi orang tua yang payah seperti Ayahmu ini...,"
Begitulah ucap Ayah Hiro yang dikatakan beberapa waktu lalu sebelum Hiro berangkat ke Indonesia.
...
...
"Ucapan Ayah ada benarnya. Pernikahan adalah sebuah tanggung jawab," Desis Hiro pelan.
...
...
✈✈✈✈
Dalam perjalanan panjang ini, Hiro hampir terlelap tidur sebelum temannya memanggil, "Hey Hiro, lihat ini," Salah seorang teman Hiro yang duduk di sampingnya menunjukkan layar ponselnya kepada Hiro. "Nampaknya fans Indonesia sudah tidak sabar ingin segera melihat timnasnya melawan kita," Ucapnya.
Hiro tersenyum melihat Video dari sosial media yang diperlihatkan temannya itu. Pendukung tim lawan tampak antusias. 75.000 tiket terjual habis dalam 10 menit.
"Aku jadi tidak sabar ingin segera bermain," Gumam Hiro yang masih melihat cuplikan video antusiasme pendukung timnas Indonesia.
...
14 September.
...
Sepuluh jam berlalu begitu cepat ketika kita terbang di udara. Siang ini, Hiro dan kawan-kawan telah tiba di Kota Jakarta. Udara panas serasa mengalir di tangan setiap pemain Jepang dan staffnya. Lingkungan dan suhu inilah yang harus menjadi tantangan lebih bagi timnas Jepang kala bersuara timnas Indonesia empat hari lagi.
...
"Wuiihh.., udaranya lebih panas dari musim panas di Jepang ya..," Ucap Ryota kepada Hiro ketika mereka sedang menunggu bus yang akan menjemput mereka menuju Hotel.
"Iya, mungkin suhunya hampir 40 derajat celcius," Sahut Hiro.
...
Skuad timnas Jepang sampai di Hotel tempat mereka menginap dikala waktu sudah sore. Hari ini betul-betul harus mereka manfaatkan untuk beristirahat agar persiapan yang sedikit ini dapat maksimal.
...
Keesokan harinya Hiro dan rekan-rekan menuju ke lapangan latihan yang sudah disediakan, tepat di samping hotel. Gedung-gedung tinggi menjadi penghalang sinar matahari yang menerpa dari timur. Latihan yang dilakukan pagi ini harus dimaksimalkan sebelum siang datang.
"Oke, semuanya kumpul di tengah!" Teriak Yamamoto tegas.
Seluruh pemain Jepang pun berkumpul melingkar di tengah lapangan. Mereka mendengarkan semua instruksi yang diberikan oleh Yamamoto sebagai pelatih.
"Indonesia beberapa bulan terakhir terus menunjukkan tren positif dari hasil-hasil pertandingan mereka. Kita tidak boleh lengah. Pertandingan ini tidak akan semudah melawan Hongkong!" Ucap Yamamoto.
Seluruh pemain mengangguk paham. Teriakan semangat "Vamos.. Vamos!" menjadi tanda latihan ini aka dimulai.
Walaupun ini hanya pertandingan persahabatan FIFA, namun poin kemenangan akan menjadi cukup berharga untuk posisi Jepang di rangking sepakbola FIFA.
...
Saat rekan-rekan yang lain berlatih di tempat yang tertutup oleh bayangan, Hiro tidak sekalipun berlatih di tempat yang teduh itu. Dia terus berada di area yang tidak terkena bayangan bangunan. Tentu hal ini akan membuat staminanya terkuras dan keringat terus bercucuran, namun justru ini adalah tujuannya. Hiro ingin dirinya terbiasa dulu dengan kondisi cuaca seperti ini, walaupun dengan waktu yang sedikit.
...
Keesokannya pun Hiro masih melakukan hal yang sama ketika sedang berlatih bersama rekan-rekannya. Banyak rekan satu tim yang heran dengan cara Hiro berlatih, namun tidak dengan Ryota.
"Hey, kau kan kenal Hiro sejak lama, kenapa kau tidak khawatir dengan cara latihan temanmu itu?"
"Iya betul, aku khawatir dia tiba-tiba pingsan ataupun lainnya saat berlatih seperti itu."
Nampaknya beberapa rekan Hiro mengkhawatirkannya.
"Hehe, tidak usah khawatir. Hiro sejak dulu seperti itu. Dia pasti tahu batasan dirinya. Lebih baik kita fokus pada diri kita masing-masing," Jelas Ryota kepada dua rekannya itu.
...
🌙🌙🌙
...
☀☀☀
Hari ini adalah H-1 pertandingan. Hiro memutuskan untuk tidak berlatih seberat kemarin. Hiro perlu untuk menjaga kebugarannya agar selalu siap menjadi pemain utama yang bermain 90 menit di lapangan.
...
...
...
18 September
Dan hari ini pun datang. Pertandingan dijadwalkan akan dimulai pada pukul 15.00.
Jalanan Kota Jakarta begitu padat. Bus yang ditumpangi rombongan timnas Jepang sampai harus di kawal polisi agar dapat dengan mudah menyelinap di sela-sela kendaraan demi sampai di Stadion tepat waktu.
Gemuruh stadion sudah terdengar dari luar. "Indonesia! Indonesia!" Suara ini terus menggema berulang hingga terdengar juga di setiap lorong stadion, tak terkecuali di ruang ganti pemain Jepang.
Dalam hati, Hiro begitu salut kepada para pendukung timnas Indonesia yang begitu militan. Padahal di atas kertas, peluang Indonesia untuk menang atas Indonesia begitu kecil. Namun dalam sepakbola, tidak ada yang namanya tidak mungkin.
...
...
Seluruh penonton di stadion langsung berdiri ketika melihat para pemain mulai keluar ke lapangan. Pertandingan yang mereka tunggu akan segera di mulai.
...
Dalam pertandingan ini susunan pemain Jepang masih sama dengan susunan pemain ketika kemarin melawan Hongkong. Hiro dan Ryota bermain bersama lagi.
...
...
Peluit tanda dimulainya babak pertama telah dibunyikan. Pemain-pemain Jepang langsung bergerak mencari tempat. Pergerakan pemain Jepang begitu gesit. Bahkan ketika laga baru berjalan 30 detik, Genta Furuhashi mendapatkan peluang pertama. Namun sayangnya Muhammad Riyatno begitu sigap menjaga gawang Indonesia.
...
...
Setelah peluang pertama itu, tanpa di duga pertandingan berjalan ketat. Skuad Indonesia tak kalah taktik dengan Jepang. Mereka juga bergerak cepat mencari ruang. Bahkan menit ke 41 Indonesia berhasil unggul melalui Dendi Setiawan yang memanfaatkan bola yang lepas dari tangkapan kiper Jepang.
Satu Stadion bergemuruh menyambut gol tersebut. Ini adalah suara terkeras yang pernah Hiro dengar di sebuah Stadion. "Oh.., jadi begini rasanya..," Batin Hiro.
...
Babak kedua.
...
Indonesia bermain begitu defensif. Jepang sampai kesulitan untuk menembus pertahanan rapat Indonesia.
...
Pemecah kebuntuan Jepang datang pada menit ke 66 ketika pemain belakang Indonesia melakukan Handsball di kotak penalti. Hiro pun maju sebagai eksekutor tendangan. Terdengar siulan serta suara sorakan dari penonton yang menyoraki Hiro agar dirinya kehilangan fokus. Suara cacian yang begitu jelas terdengar, namun Hiro tidak memedulikannya.
...
Ketika wasit memberikan aba-aba, Hiro menendang bola dihadapannya dan.., Goll!!
1-1 Jepang menyamakan kedudukan. Hiro melakukan selebrasi ke arah pendukung Indonesia yang tadi menyorakinya. Hiro terlihat begitu puas.
...
Sepuluh menit berselang, pendukung tuan rumah harus kembali terdiam oleh aksi Hiro yang menari-nari di lapangan. 5 pemain Indonesia Hiro lewati dalam sekejap sebelum menaklukkan Muhammad Riyatno untuk kedua kalinya. Lagi-lagi Hiro melakukan selebrasi yang memprovokasi pendukung tuan rumah.
Dari sisi lapangan, Yamamoto tertawa kecil melihat Hiro yang melakukan selebrasi uniknya yang seperti mengejek. "Dari mana dia belajar melakukan itu?" Yamamoto terheran-heran sambil tertawa.
Beberapa menit kemudian, Yamamoto memutuskan untuk menggantikan Hiro dengan pemain lainnya. Yamamoto takut Hiro akan melakukan selebrasi yang sama jika dia mencetak gol lagi.
...
Hingga pertandingan selesai, skor 1-2 tetap bertahan. Jepang kembali menang walaupun kali ini tidak semudah yang dibayangkan.
Dengan kemenangan atas Indonesia ini membuat genap kemenangan yang diraih Jepang pada pertandingan persahabatan FIFA bulan ini. Beruntung Hiro meninggalkan kesan positif kepada Yamamoto kali ini. Hiro membuktikan bahwa dirinya memang patut dipertimbangkan.
Sayangnya, pertandingan persahabatan ini menjadi kali terakhir Hiro bisa bermain satu lapangan dengan Ryota. Sebab, Ryota sudah mengatakan dia akan berhenti menjadi pesepakbola dan memilih menuruti permintaan Ayahnya untuk menjabat di salah satu divisi perusahaannya.
...
Seusai pertandingan, Hiro memanggil Ryota dan memeluknya erat. Mereka tertawa lepas menikmati momen indah kemenangan ini.
...
...
15 September.
Hiro memutuskan langsung berpisah dengan tim dan langsung kembali ke Belanda. "Terimakasih semuanya!" Ucap Hiro ketika berpamitan di Hotel tempat timnas Jepang menginap di Jakarta.
...
...
Hanya dua hari setelah dari Indonesia, Hiro langsung berlatih kembali bersama Heerenveen. Hiro melanjutkan perjalanan karirnya di negeri kincir angin.
23 dari 34 laga sudah Hiro lalui. Liga Belanda hanya menyisakan 11 pekan lagi sebelum usai. Itu artinya hanya tinggal dua bulan dari sekarang.
...
September..
...
Oktober..
...
November.
...
Dalam dua bulan itu, performa Hiro terus menanjak bersama Heerenveen. 8 gol, 13 assist, sudah dia bukukan dalam 34 kali kesempatan bermain. Tentu ini juga merupakan hadiah yang bagus untuk hari ulang tahunnya yang ke 24 akhir November ini.
Hingga musim ini berakhir. Hiro dan rekan-rekannya di Heerenveen mampu membuat tim ini finish di peringkat 6 kelasemen akhir Liga utama Belanda. Heerenveen selisih lima poin dari AZ Alkmaar di peringkat keempat yang merupakan peringkat terakhir yang bisa masuk ke zona Eropa untuk bersaing di UEFA Conference League.
Walaupun begitu, raihan musim ini merupakan raihan terbaik untuk Heerenveen selama bertahun-tahun. Berkat musim gila ini, banyak pemain Heerenveen yang menjadi bidikan tim-tim besar berkat penampilan menarik mereka musim ini. Bahkan salah seorang teman Hiro, yaitu Marteen yang masih berumur 19 tahun, sudah menyepakati kepindahannya ke klub Liga Inggris, yaitu Everton.
...
Beberapa teman dekat Marteen, termasuk Hiro, melakukan pesta kecil di sebuah bar yang tak jauh dari pusat latihan Heerenveen.
Tidak ada lagi latihan keras yang menunggu mereka. Mereka minum-minum dan, tertawa satu sama lain. Semuanya terasa ringan setelah musim Liga Belanda berakhir.
...
"Selamat ya Mart, semoga kau sukses di Inggris," Ujar Hiro tersenyum sambil menepuk pundak Marteen.
"Sama-sama."
Sejujurnya Hiro juga ingin untuk segera berpindah ke klub yang lebih kompetitif. Sudah sejak pertengahan musim Hiro berencana untuk mengganti tim yang ia bela di Eropa untuk musim depan. Namun jika dia tidak mendapatkan tawaran apapun, makan Hiro juga tidak akan kecewa dan menyerah. Dia harus tetap memberikan yang terbaik untuk Heerenveen di musim-musim berikutnya.
...
...
Ketika Hiro berjalan keluar dari bar karena ingin pulang, langkah kakinya sedikit terhuyung akibat meminum minuman beralkohol sebelumnya.
Kepala Hiro pusing, dia pun memutuskan untuk duduk sebentar di kursi dekat trotoar jalan. Kepala Hiro mendongak ke atas, melihat datangnya sinar matahari secara langsung yang membuatnya semakin pusing.
Namun seketika terdengar langkah kaki seseorang yang berjalan mendekati Hiro. "Hiro?" Orang itu sempat memanggil nama Hiro. Orang itu menghampiri Hiro lebih dekat sampai wajahnya menghalangi cahaya sinar matahari, membuat Hiro hanya bisa melihat tampilan siluet orang itu.
Pelan-pelan Hiro menyipitkan matanya, mencoba untuk melihat sosok orang itu dengan jelas.
Sekali lagi dia memanggil nama Hiro dengan jelas. "Hiro? apa kau bisa mendengarku? Halo..,"
Setelah beberapa saat, mata Hiro mulai dapat mengenali orang yang berdiri didepannya ini. Suaranya saja terdengar begitu familiar.
...
"Darwin?"
Ternyata orang yang menghampiri Hiro adalah agen sekaligus manajernya sendiri. Memang sudah lama mereka berdua tidak bertemu secara langsung. Terakhir kali mereka bertemu adalah ketika Hiro melakukan persetujuan kontrak dengan pihak klub Heerenveen, satu tahun yang lalu.
...
Darwin pun tersenyum. "Hehehe, baru saja satu musim kau di Belanda, sudah tahu caranya mabuk dan minum minuman beralkohol ya? Hahaha,"
"Diamlah.., hehe," Sahut Hiro.
...
Hiro berdiri dan bersalaman dengan Darwin bak teman dekatnya. "Senang bertemu denganmu saat ini."
"Tentu saja," Darwin membalas jabat tangan Hiro.
...
"Oh iya, bagaimana kau bisa ada di sini?" Tanya Hiro.
"Hiro.." Darwin kemudian menghela napas panjang. "Aku punya beberapa hal yang terkait dengan kelanjutan kontrakmu di Heerenveen dan tentang beberapa klub yang saat ini meminati jasamu untuk kompetensi musim depan."
...