
Libur musim panas datang. Angin berhembus mengenai wajah anak bernama Takehiro Miyoko, atau lebih sering di panggil Hiro. Dia sedang melihat teman-temannya bermain bola dari pinggir lapangan.
Sebenarnya Hiro sangat ingin bergabung bersama yang lain untuk bermain sepakbola sore hari ini. Namun setiap kali dia bertanya apakah boleh ikut bermain, jawaban teman-temannya selalu sama, "Kau terlalu kurus! di senggol sedikit juga pasti akan terjatuh dan menangis..,"
Rasa sedih pasti dirasakan oleh Hiro setiap teman-temannya bermain bola dan dia hanya duduk diam dan melihat. Bocah 12 tahun dari Sapporo, Jepang ini sebenarnya sangat mencintai sepakbola. Hiro dikenalkan oleh Ayahnya tentang bola disaat mereka pergi ke Stadion untuk melihat pertandingan sepakbola beberapa tahun lalu.
Hiro tidak mau membiarkan waktu sore yang menyedihkan ini berlanjut. Lebih baik dia pulang dan membantu pekerjaan rumah orangtuanya demi mendapatkan uang jajan.
"Teman-teman, aku pulang dulu ya..," Ucap Hiro.
Namun tidak ada seorangpun yang menghiraukan Hiro. Hanya terdengar suara sayup dari anak-anak yang sedang bermain bola dengan asiknya. Hiro pun sadar, bahwa dia tidaklah penting. Dia juga tidak ingin mengganggu waktu bermain teman-temannya. Maka dari itu, Hiro memutuskan untuk pulang sendirian kali ini.
...
"Hiro!! tunggu!"
"Apa?" Hiro menoleh ke arah datangnya suaranya anak laki-laki yang memanggilnya.
"Anu.., eee, kok kamu sudah pulang?"
"Aku mau mandi," Jawab Hiro singkat. "Kenapa? bukankah kau seharusnya sedang bermain bola dengan asiknya sampai tidak mendengarku pamit?"
"Hehe, maaf ya Hiro..," Ucap Ryota.
Ryota Sakai, atau Ryota, adalah seorang tetangga yang sudah menjadi teman dekat Hiro sejak kecil. Bahkan saat ini mereka juga bersekolah di SMP yang sama. Hiro sering kali bermain ke rumah Ryota hanya untuk melihat televisi karena di rumah Hiro tidak memiliki televisi. Ryota juga yang sering mengajak Hiro untuk keluar bermain sepakbola di lapangan setiap sore bersama teman-temannya. Namun belakangan ini, Hiro beberapa kali menolak ajakan Ryota.
"Ya sudahlah Ryo.., aku akan segera pulang..,"
"Baiklah.., hati-hati di jalan!" Ryota melambaikan tangannya.
...
Kaki kecil Hiro berjalan di atas trotoar. Rambutnya lusuh karena sejak pagi dia belum mandi.
Setelah sampai di ujung jalan tempat rumah kecilnya berada, dia melihat sebuah palu milik ayahnya yang nampak tertinggal di depan pintu dan langsung membawanya masuk ke dalam rumah. "Kok Ayah sudah pulang? biasanya dia pulang malam..," Dalam hati Hiro.
"Ayah.., Hiro pulang..!" Ucap Hiro setelah membuka pintu rumah.
"Oh..Hiro? kau sudah pulang nak? tidak bermain bola dahulu seperti biasanya?" Sahut ayahnya yang baru keluar dari kamar mandi sambil mengalungkan handuknya.
"Nggak Yah.., Hiro libur dulu mainnya," Ucap Hiro dengan mata bulatnya seolah tidak ada hal buruk yang terjadi kepadanya. "Ini Yah, Palunya," Hiro memberikan Palu ayahnya.
"Lho?! kok bisa ada di kamu? emangnya tadi ada di mana?" Ayah Hiro terlihat terkejut.
"Tadi aku temuin di depan rumah. Makanya besok ayah kalo habis kerja jangan langsung masuk rumah.., liat dulu di luar ada barang yang atau tidak." Ucap Hiro panjang lebar.
"Hmm, iya-iya nak," Ayah Hiro hanya bisa mengiyakan.
"Kok tumben Ayah sudah pulang sore hari? biasanya di proyek pembangunan yang Ayah sedang kerjakan sampai larut malam bukan?"
Mendengar Hiro bertanya hal itu, Ayahnya langsung menghela napas panjang dan menjawab, "Mulai hari ini.., ayah cuman bekerja setengah hari di proyek.., maka dari itu, gaji yang Ayah terima juga akan berkurang banyak nak..,"
Hiro mengerutkan keningnya, "Kenapa bisa hanya setengah hari bekerja Ayah?"
"Ayah juga tidak tahu. Yang pasti, mulai saat ini kita harus berhemat nak.., Ayah sudah tidak bisa memberikanmu uang jajan lagi,"
"Tidak ada uang jajan lagi?"
"Iya nak, maafkan Ayah ya,"
"Kalau begitu.., Hiro sudah tidak bisa menabung untuk membeli sepatu bola lagi bukan?" Ucap Hiro sedih.
"Mau bagaimana lagi.., uang Ayah tidak lagi cukup untuk itu.., sekali lagi maafkan Ayah ya nak,"
Ekonomi keluarga Hiro memang selalu sulit. Itulah yang membuat Ibunya berpisah dengan Ayahnya saat Hiro masih berusia 7 tahun, atau tepatnya 5 tahun yang lalu.
Ibunya tidak sudi tinggal di rumah bobrok. Hiro ditinggalkan oleh Ibunya dengan menyedihkan. Hingga saat ini, Hiro belum pernah mendengar kabar Ibunya lagi.
"Ya sudah.., mari kita makan malam.., Ayah masih punya Kari sisa makan siang saat bekerja tadi,"
Hiro menghela napas, "Baiklah,"
Hiro pun segera mandi dengan beberapa gayung air saja. Air harus hemat karena harganya cukup mahal di sini.
Setelah selesai mandi, Hiro langsung berjalan menuju meja kayu yang hampir lapuk dan menyantap makan malamnya bersama dengan Ayahnya. "Selamat makan..,"
...
BUAAKK!!!
"Apa itu?!"
Saat mereka berdua sedang makan, tiba-tiba terdengar suara benda berat terjatuh dari samping rumah Hiro. "Ayo kita cek!"
Hiro dan Ayahnya keluar dari rumah bersamaan menuju sisi samping rumah tempat suara berasal.
"Ryota??! Apakah itu kau?" Hiro menghampiri Ryota yang masih terlihat kesakitan di punggungnya. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aduuhh.., nanti saja menjelaskannya.., tolong aku dulu..., aduuhh..," Ryota masih mengerang kesakitan.
Hiro dan Ayahnya pun membopong tubuh Ryota ke dalam rumah dan membaringkannya di sebuah karpet.
...
Hari sudah semakin gelap, Ryota merasa lebih baik setelah di rawat oleh Hiro dan Ayahnya.
"Ryota? sudah merasa lebih baik?" Tanya Ayah Hiro.
"Iya paman, terimakasih telah mengobatiku,"
"Ah, itu tidak masalah," Ayah Hiro pun berdiri dan berjalan ke belakang untuk mengembalikan sisa obat-obatan yang diberikan untuk mengobati Ryota.
Hanya ada Hiro dan Ryota di 'ruang tamu' dan perlahan, Ryota mulai berkata sesuatu, "Ngomong-ngomong, tentang tadi..,"
"Iya? bagaimana?" Hiro mendengarkan dengan seksama.
"Aku tidak sengaja mendengar pembicaraanmu dengan Ayahmu sebelumnya,"
"Hah? pembicaraan apa?"
"Itu.., tentang Ayahmu yang sudah tidak bisa memberikanmu uang jajan lagi karena dia sudah tidak bisa bekerja sehari penuh..,"
"Ooh..," Hiro menyadari sesuatu. "Kenapa kau mendengarkannya secara diam-diam?"
"Eee.., aku hanya penasaran terhadap sikapmu belakangan ini yang jarang melihat sepakbola bersama di televisi rumahku dan seringkali menolak ajakanku untuk bermain bersama."
"Hmm? aku baik-baik saja Ryo.., tidak perlu mengkhawatirkanku," Ucap Hiro.
"Tapi tadi aku sempat dengar, katanya kau sedang menabung untuk membeli sepatu bola ya?"
"I--Iya..," Hiro tidak bisa menyangkalnya, Hiro memang menginginkan sepasang sepatu bola.
"Kenapa kau tidak bilang saja kepadaku? Aku punya sepatu bola bekas yang bisa kuberikan kepadamu!"
"Benarkah!" Hiro bersemangat.
"Iya benar! berapa ukuran kakimu?"
"32," Jawab Hiro.
"Oh! itu pas! baiklah..besok akan kuambilkan.., bagaimana? kau mau kan?" Tanya Ryota meyakinkan.
"Iya!" Teriak Hiro dengan semangat.
"Oke! sip!" Ryota senang melihat temannya senang.
"Eh..eh.., ada apa ini teriak-teriak..," Ayah Hiro telah kembali dari belakang.
"Yah! Ryota ingin memberikanku sepatu bola bekas miliknya!"
Ayah Hiro sedikit tidak percaya, "Benarkah Ryo? kau ingin memberikan sepatu bola bekasmu kepada Hiro?!"
"Hehe.., iya paman. Walaupun bekas, tapi sepatuku tetap bagus kok, tenang saja,"
Ayah Hiro tersenyum, "Terimakasih nak Ryo.., baik sekali kamu!"
"Iya, tidak masalah kok," Ujar Ryota.
Walaupun senang, Ayah Hiro tidak mengetahui alasan mengapa di balik Ryota yang memberikan sepatu bola bekas miliknya.
Ayah Hiro menoleh kepada Hiro, dia menepuk pundaknya sambil berkata, "Berterima kasihlah kepada Ryota dan tuhan! kau jadi tetap bisa melanjutkan mimpimu sebagai pemain bola Hiro!"
"Terimakasih tuhan.., terimakasih Ryo..," Ucap Hiro.
Ryota tersenyum melihat temannya yang sangat senang berkat dirinya. "Baru kali ini aku melihat Hiro tersenyum selebar ini..," Kata Ryota dalam hati.
...
Hari semakin malam, dan Ryota pun pamit pulang. "Terimakasih paman! aku pulang dulu!"
"Baiklah.., seharusnya aku yang berterima kasih kepadamu!" Ucap Ayah Hiro.
"Hehe," Ryota sedikit malu karena di puji. "Besok aku akan membawakan sepatunya kepadamu Hiro! tunggu ya!"
"Iya! terimakasih Ryota!" Ucap Hiro.
"Sama-sama!"