The Dreamer

The Dreamer
Langkah pertama



“Huuaaahh!” Hiro menguap lebar setelah bangun dari tidurnya pagi itu.


Hiro menyeret langkahnya menuju meja makan. Matanya melirik ke arah jam dinding, “Ah, masih jam 5 pagi ternyata.” Gumam Hiro.


Tidak biasanya Hiro bangun ‘sesiang’ ini. Sebab kemarin malam, dirinya harus begadang untuk membuat beberapa botol minuman untuk jualannya hari ini.


Saat melihat isi meja makan, ada sepucuk kertas yang terlipat di sudut meja. “Kertas apa ini?”


‘Hiro, Ayah sudah berangkat kerja. Sarapannya sudah ada di atas meja.’ Itulah tulisan di dalam kertas itu.


“Hmm? Tumben Ayah sudah berangkat.., biasanya jam 6 baru berangkat.” Hiro pun sarapan dan kemudian mandi.


Setelah siap dan memakai seragamnya, Hiro pun berangkat ke sekolah. Tak lupa, dia juga membawa keranjang minumannya untuk dia titipkan di toko Bibi.


Liburan musim panas sudah berakhir. Hiro sudah siap kembali menimba ilmu di sekolah. Bocah 12 tahun ini memang dikenal pintar di sekolahnya. Tidak jarang dia mendapakan peringkat pertama di kelas ketika ujian.



TIING..TUUNGG!


Bel rumah Ryota berbunyi saat Hiro menekannya. Setiap berangkat sekolah, Hiro selalu menghampiri Ryota terlebih dahulu untuk berangkat bersama.


Pintu rumah Ryota terbuka, “Eh, kak Hiro! Tunggu ya, Kakakku sedang pakai sepatu,”Ucap Ruka. Dia lah yang membukakan pintu.


“Oh gitu, yaudah Kak Hiro tunggu di luar aja ya,”


“Okee!” Sahut Ruka. Ruka pun berlari kembali ke dalam rumahnya dan segera memanggil Kakaknya. “Kakak! Dah ditungguin temennya!”


Hiro hanya bisa tertawa mendengar suara melengking khas Ruka.


Ryota Naruka, dia adalah adik perempuan Ryota. Umurnya 9 tahun. Saat Hiro bermain ke rumah Ryota, mereka sering bermain bersama.


Ruka tidak mau di panggil dengan nama depannya oleh Hiro. “Jangan panggil aku dek Ryota! Panggil Ruka aja..,” Ucap Ruka waktu pertama kali Hiro bertemu dengannya. Hingga saat ini, Hiro selalu memanggilnya Ruka.


Selang beberapa saat, akhirnya Ryota keluar. “Hiro.., ayo berangkat!”


“Ayo,"



“Eh! Eh! Ryota! Bekal kamu lupa nak!”


Ryota menoleh ke belakang. Ibunya memanggil karena bekal makan siang Ryota tertinggal. “Jangan sampe lupa bekal kamu,” Ucap Ibu Ryota sambil memberikan sekotak makan siang.


“Hehehe, iya Bu, Ryota berangkat dulu ya!”


“Ya, hati-hati di jalan,”



Selalu ketika Ibu Ryota muncul atau menyapanya, Hiro hanya bisa termenung. Seperti itulah sosok Ibu yang selalu dia dambakan namun tidak pernah dimilikinya.


Mereka berdua pun berjalan menyusuri jalan-jalan kecil perumahan.


“Huuuh.., rasanya cepet banget ya libur musim panas berakhir,” Celoteh Ryota.


“Iya sih,” Hiro langsung mengganti topik, “Eh Ryo! Kapan kita masuk sekolah sepakbola?! Kau sudah beri tahu Ayahmu?”


“Oh, itu. Sudah kuberitahu kok. Kata Ayahku, besok kita sudah bisa langsung berlatih,” Terang Ryota.


“Besok ini!”


“Iya!”


“Horeee!” Hiro bersorak di tepi jalan hingga jadi pusat perhatian banyak orang yang lewat.




KRRIINNGG!


Bel pulang sekolah berdering. Tidak ada yang spesial di sekolah Hiro. Teman-teman SMP-nya tidak banyak yang akrab. Di sekolah, Hiro hanya benar-benar fokus belajar.


“Haduuh, aku capek Hiro,” Keluh Ryota sepulang sekolah.


“Biasa aja, namanya juga sekolah pertama sejak liburan, pasti rasanya lebih capek,”


“Iya juga ya,”



“Ya udah, aku duluan ya Hiro!” Ryota melambaikan tangannya sebelum dia masuk ke gerbang rumahnya. “Besok sepulang sekolah, langsung ke rumahku lagi ya! Kita berangkat bareng ke sekolah sepakbolanya!”


“Oke Ryo! Sampai besok!”


Hiro berjalan pulang sambil bersenandung sore itu hingga sampai ke rumahnya. Di rumah, Hiro langsung ganti baju dan merebahkan dirinya di kasur kamarnya. Dia selalu memandang sepatu bola miliknya di sudut kamar sambil tersenyum, membayangkan dirinya kelak sebagai pesepakbola profesional.


Hingga petang, Hiro masih menunggu Ayahnya pulang bekerja namun tak kunjung datang. “Kenapa Ayah belum pulang? Apakah lembur di proyek?” Tanya Hiro dalam hati.


Sudah jam 8 malam, setelah Hiro kembali dari toko Bibi juga Ayahnya masih belum pulang. “Sepertinya Ayah benar-benar lembur.” Pikir Hiro.


Jam 8 sampai 12 malam, Hiro baru selesai mengemasi minuman botolnya. Hiro pun langsung tidur karena sudah lelah dan mengantuk.



“Ayah..?Ayah..?” Hiro mencari ke seluruh rumah.


Suasananya sangat hening. Hanya ada bunyi jangkrik yang bersautan dari jauh. Cahaya lampu yang remang-remang, bahkan sesekali mati. “Apakah Ayah belum pulang atau sudah berangkat kembali?” Gumam Hiro. “Ah sudahlah, lebih baik tidur lagi.”


Namun saat Hiro ingin berbalik menuju kamar, Hiro dikagetkan dengan sosok pria yang menghalangi pintu kamar. Wajahnya tidak terlihat. Hingga kemudian, “Hiro..?”


“Waaah!” Hiro terkejut hingga terjungkal ke belakang.


Saat sosok itu maju ke ruangan yang diterangi lampu, barulah Hiro sadar jika it adalah Ayahnya. “Ayah?”


Ayah Hiro pun membantu Hiro untuk bangun setelah jatuh terkejut melihatnya. “Duh, nak.., kamu ngapain? Kayak liat hantu aja,”


“Ayah ngagetin sih,” Ucap Hiro. Setelah berdiri, Hiro berbalik tanya kepada Ayahnya. “Yah, kemarin kok Ayah berangkat lebih pagi sama pulang lebih malam?”


“Hmm? Kamu sudah Ayah kasih tahu belum sih?”


“Belum,”


“Iyakah? Oh, Ayah lupa, hehe,” Ayah Hiro mulai pelupa di usianya yang menginjak 50 tahun.


“Kemarin, Ayah berangkat pagi karena jadwal kerja Ayah di proyek berganti, dari yang awalnya jam 6 pagi- 5 petang, jadi 4 pagi- 3 sore.”


“Oh begitu. Terus kalau jam 3 sore sudah pulang, kenapa kemarin belum pulang sampai malam?”


“Oh itu.., sekarang Ayah ada kerja sambilan sebagai kurir paket.”


“Kurir paket? Sejak kapan ayah kerja jadi kurir paket?”


“Sejak kemarin, hehe,”


“Kenapa tidak memberitahuku awal-awal?”


“Ayah lupa, hehe,”


“Ya sudahlah!” Sungut Hiro. “Yang penting Ayah selalu jaga kesehatan, jangan sampai kelelahan. Nanti sakit lho,”


“Iya nak,” Ucap Ayah Hiro singkat. “Ya sudah, Ayah mau langsung berangkat ke proyek. Nanti sarapannya ada di panci ya,”


“Baiklah,” Sahut Hiro.


Di depan rumah, dia melambaikan tangan kepada Ayahnya, “Hati-hati Yah!”



Kembali masuk ke dalam rumah, Hiro menghela napas. “Ayah benar-benar lupa? atau tidak ingin memberitahuku?” Pikiran Hiro ke mana-mana. “Entahlah, lebih baik tidur lagi, hehe,”


Namun tak sengaja dia menoleh ke arah jam, ternyata sudah jam setengah lima. “Ah, percuma saja, waktunya sudah mepet.., mandi saja lah.”


Hiro pun melakukan rutinitasnya seperti biasa. Mandi, sarapan, mengantarkan dagangan, menghampiri Ryota, sebelum dia pergi ke sekolah.



Waktu berjalan lambat karena Hiro sudah tidak sabar menunggu bel pulang sekolah.



KRIIINGGG!!


Dan saat bel pulang sekolah berbunyi, Hiro dan Ryota langsung berlari pulang ke rumah masing- masing. Di rumahnya, Hiro memakai celana pendek dan kaos seadanya karena jersey dari sekolah sepakbola baru akan diberi setelah mengikuti hari pertama. Tidak lupa Hiro memakai sepatu sepakbolanya dari rumah.


Dengan bangganya Hiro berlari ke rumah Ryota mengenakan sepatu bola yang pastinya menimbulkan suara langkah yang berisik.


Saat sudah dekat rumah Ryota, Hiro melihat Ryota sudah menunggu di depan rumahnya.


“Ryota!” Panggil Hiro.


“Hiro..! haha, kau memakai sepatumu dari rumah?” Tanya Ryota.


“Kenapa memangnya?”


“Sebaiknya nanti saja saat di lapangan. Sekarang memakai sandal saja juga boleh,” Kata Ryota.


“Ah, tidak apa-apa, sudah terlanjur,”


“Baiklah kalau begitu, kita berangkat sekarang?”


“Ayo!” Ajak Hiro dengan semangat.


Mereka berdua pun naik menuju ke sekolah sepakbola menggunakan mobil pribadi Ryota. Di tengah perjalanan, mereka memikirkan seperti apa sekolah sepakbola sebenarnya.


“Oh iya Ryo, sekolah sepakbola kita itu namanya apa? Aku bahkan belum tahu,” Tanya Hiro kepada Ryota.


“Oh, namanya adalah Zekka Football Academy,”


Zekka Football adalah salah satu sekolah sepakbola terbaik di Sapporo, Jepang. Tidak sembarang anak bisa masuk ke sana. Beruntung Hiro merupakan teman Ryota yang Ayahnya adalah teman dari pelatih Zekka.


Hiro harus membuktikan jika dirinya berada di Zekka Football bukan hanya karena ‘orang dalam’