The Dreamer

The Dreamer
Saling menjatuhkan



Dua bulan berlalu, turnamen Zekka sudah di depan mata. Hiro menjalani setiap latihan yang dia lakukan dengan sungguh-sungguh. Dalam kurun waktu itu, total Hiro sudah mencetak 100 gol dalam 6 bulan di Akademi Zekka. Takashi sebagai pelatih, sangat yakin jika tim asuhannya, yaitu kelompok usia 12-14 tahun, bisa melangkah hingga babak final pada turnamen kali ini.



Sore hari ini adalah latihan terakhir sebelum minggu depan turnamen akan di mulai. Takashi memberikan pesan terakhir sebelum mengakhiri latihan hari ini. "Semuanya, dengarkan aku. Tim ini adalah tim terbaik yang pernah saya latih selama ini di akademi. Untuk kalian yang terpilih, mohon untuk bersiap untuk minggu depan. Pada laga pertama, kita akan menghadapi kelompok usia 10-11 tahun."


Semua anak asuh Takashi memberikan respon positif. "Baik pelatih!"


"Jaga semangat ini, karena kita adalah..?!"


"Sang juara!" Jawab Hiro dan lainnya serempak.


Itulah yel-yel dari kelompok usia 12-14 yang selalu menjadi penyemangat setiap latihan.


...


Seluruh anak-anak seumuran di akademi sudah pulang. Hiro dan Ryota masih menunggu jemputan mobil dari keluarga Ryota di tepi jalan dekat gerbang akademi. Mereka berdua sudah tidak sabar untuk segera bermain minggu depan di turnamen.


"Uhh.., aku dah gak sabar!" Ucap Ryota sambil menggosok-gosok telapak tangannya. "Besok lawan kita yang pertama gampang! cuman tim 10-11 tahun,"


"Eh, tidak boleh begitu Ryo. Aku sudah melihat cara anak-anak dari kelompok 10-11 bermain dan mereka cukup bagus," Ucap Hiro.


"Iya aku tahu. Tapi tetap saja masih bagus kita bukan?"


"Aku tidak yakin," Kata Hiro.


"Ah, kau ini selalu merendah. Ayolah, akui saja dirimu memang hebat!" Ucap Ryota. "Kau sudah menjadi yang terbaik bukan? 100 gol dalam 6 bulan itu luar biasa untuk kelompok usia kita!"


"Yang terbaik? aku masih mau lebih lagi!" Ujar Hiro bertekad.


"Hahaha, kau ini memang selalu ingin berjuang keras ya? hehe,"


Percakapan antara Hiro dan Ryota harus terganggu oleh kedatangan Daichi dan kelompoknya dari usia 15-17. Mereka datang menghampiri Hiro dan Ryota. Sudah jelas bahwa Daichi dan teman-temannya datang untuk melakukan serangan mental.


"Hey! aku Daichi, mungkin kalian berdua sudah mengenalku," Ucap Daichi saat pertama kali bertemu. "Aku dengar ada anak bernama Hiro yang memecahkan rekor di level junior? di mana dia?" Mata Daichi melihat ke arah atas bukannya ke bawah.


"A--Aku di sini, namaku Hiro," Ucap Hiro pelan.


Mata Daichi yang awalnya melihat ke atas, kini melihat ke arah bawah, tepatnya dari suara Hiro. "Oh, di sini rupanya Hiro? maaf aku tidak melihatmu karena kau terlalu kecil,"


"Seharusnya kau meminta ibumu membelikan susu agar kau tumbuh besar!" Kata salah satu teman Daichi.


Ejekan Daichi di sambut dengan tawa oleh teman-temannya yang lain. Kata-kata Daichi benar-benar masuk ke dalam hati Hiro. Dia ingin marah namun tidak bisa. Dia ingin memberitahu orang lain, namun sudah tidak ada siapapun di sana selain mereka. Hiro hanya bisa diam.


Daichi dan teman-temannya masih berusaha untuk menjatuhkan mental anak kecil itu. Hingga akhirnya Hiro menangis namun tidak bersuara. Hanya air yang mengalir di pipinya.


Melihat Hiro menangis, Daichi dan teman-temannya semakin puas. Mereka telah berhasil membuat Hiro terkena mental.


"Hahaha! coba lihat! dia menangis! hahaha! pulanglah dan merengek kepada ibumu!"


"Bagaimana mau menjadi pemain hebat jika mentalnya seperti sayur?! hahaha!"


Semua kata-kata itu ditujukan kepada Hiro. Ryota yang mendengar ucapan Daichi dan teman-temannya langsung tidak terima Hiro diperlakukan seperti itu.


"Kalian sudah cukup! kalian hanya berani dengan anak kecil ya!" Ryota membentak dengan nada tinggi. "Hiro itu sudah tidak memiliki ibu!"


Daichi terdiam seketika. Dia baru menyadari jika dia sudah sedikit terlalu berlebihan kepada anak kecil.


Daichi dan teman-temannya pergi dengan wajah sinis. Sebenarnya mereka pergi bukan karena takut karena ancaman Ryota, namun mereka pergi karena merasa jika mereka sudah berhasil mempermainkan mental lawannya.


"Sampai jumpa di turnamen..., Hiro," Ucap Daichi kepada Hiro dan Ryota sebelum dia pergi meninggalkan mereka. Dengan begini, lawannya akan merasa takut dan gentar menghadapi mereka.


Setelah Daichi dan kelompoknya pergi, hanya tinggal Hiro dan Ryota di tepi jalan yang sepi sore itu.


"Sudahlah Hiro, jangan menangis, mereka sudah pergi," Ryota menenangkan Hiro.


Namun Hiro masih belum bisa melupakan yang baru terjadi begitu saja. "K--Kenapa Daichi berkata-kata seperti itu kepadaku? apa salahku?" Ucap Hiro berlinang air mata.


Ryota sangat merasakan apa yang dirasakan sahabatnya. "Aku mengerti Hiro. Pasti hatimu tersakiti bukan?"


Hiro mengangguk.


"Tapi kau harus tetap melihat semua itu dengan sudut pandang yang lebih baik. Bisa jadi Daichi dan teman-temannya tidak mengetahui jika Ibumu sudah meninggalkanmu. Kalau begitu yang terjadi, tolong kau maafkan mereka." Lanjut Ryota.


Hiro ingin menyela pembicaraan, "T--Tapi," Napasnya yang tersenggal-senggal membuat Hiro berbicara tidak jelas.


Ryota masih mengelus punggung Hiro supaya tenang. "Sudahlah, semua ini patut disyukuri Hiro,"


"K--Kenapa?"


"Aku kayaknya tahu kenapa Daichi ingin membuatmu menangis."


"Iyakah?"


"Iya. Sepertinya Daichi itu menganggapmu sebagai seorang pesaing yang seimbang untuknya. Maka dari itu dia ingin menjatuhkanmu,"


Ucapan Ryota memang benar. Sering kali orang lain tidak suka melihat kita berada di atas. Kebanyakan dari mereka ingin terus menjatuhkan kita. Dan saat kita terjatuh, tidak ada orang yang ingin kita bangkit lagi. Hanya orang-orang yang mencintai kita sepenuhnya mau membantu.


...


"Ayolah Hiro, berhentilah menangis. Seorang pemain bintang harus tetap kuat kan? hihi,"


"I--Iya, iya aku berhenti menangis," Hiro menyapu air mata yang mengalir.


"Nah, gitu dong," Ryota senang melihat Hiro kembali tenang.


Hiro kembali bisa tersenyum tepat sebelum mobil jemputan Ryota datang. "Ayo pulang Hiro!"


Mereka berdua pun pulang dengan membawa pengalaman berharga. Orang hebat akan berusaha menghancurkan pesaing terberatnya.


...


Untuk memecah suasana canggung, Ryota membuka topik pembicaraan di mobil seadanya.


"Kita berdua harus fokus pada turnamen Minggu depan. Ingat, seluruh pencari bakat liga Jepang akan lihat secara langsung! kalau kita bermain bagus, bisa jadi kita akan di rekrut klub sepakbola yang sama! hhehe,"


"Iya," Hiro masih menopang dagunya dan melihat ke luar jendela mobil, melihat pemandangan jalan yang padat.


Hiro masih merasakan sesuatu di hatinya. Sesuatu yang belum pernah Hiro rasakan sebelumnya, yaitu..benci.


Daichi merasa telah membuat Hiro kehilangan kepercayaan dirinya. Namun kenyataannya, anak kecil ini lebih kuat dari yang di duga Daichi. Hiro akan selalu mengingat nama Daichi mulai hari ini atas apa yang telah dia lakukan kepadanya.


"Daichi.., aku akan mengalahkanmu di turnamen itu!" Tekad Hiro dalam hati. Orang hebat akan berusaha menghancurkan pesaing terberatnya.