The Dreamer

The Dreamer
Sebelum matahari tenggelam



02 September, Heerenveen


...


Besok adalah jeda kompetisi, menyusul adanya jadwal FIFA pada September ini. Para pemain hebat akan di panggil timnas untuk membela negara mereka.


Hari ini, Hiro hanya menghabiskan waktu bersama dengan beberapa rekannya yang berlatih mandiri. Eduardo tidak hadir melatih karena dia izin untuk berlibur bersama dengan keluarganya pada jeda kompetisi ini. Beberapa pemain yang tidak di panggil timnas mereka juga memutuskan untuk berlibur sejenak.


...


Hari pun menjelang sore. Di lapangan hanya ada tiga pemain, yaitu Hiro, Bastian, dan Marteen. Bastian ada di sore lapangan ini karena dia di panggil oleh timnas senior Italia, sedangkan Marteen di panggil ke timnas Belanda U-20. Sejauh ini, hanya Bastian dan Marteen yang di panggil timnas. Besok masing-masing dari mereka akan berangkat membela negara mereka di FIFA Matchday.


Namun apa yang dilakukan oleh Hiro bersama dengan mereka? Hiro bahkan tidak di panggil oleh Yamamoto.


...


Selagi matahari belum tenggelam, Hiro masih yakin jika dirinya akan di panggil. Bastian dan Marteen juga sama yakinnya dengan Hiro.


"Kenapa ya kau tidak di panggil? Menurutku kau sudah pantas untuk level timnas. Apalagi pertandingan besok hanya persahabatan, aku pikir pelatih seharusnya memanfaatkan pertandingan persahabatan untuk mencoba pemain-pemain baru di timnas kan?" Ujar Bastian sembari berlari kecil mengelilingi lapangan bersama dengan Marteen dan Hiro.


"Iya itu benar. Tapi jika hari ini kau benar-benar tidak terpilih oleh Jepang, aku pikir kau tidak perlu berkecil hati. Kau masih cukup muda, kesempatan pasti datang kepada orang yang berusaha Hiro." Sahut Marteen.


"Iya, aku juga tidak memaksakan timnas senior agar selalu memanggilku. Hanya saja, aku juga mau berjuang untuk negaraku sendiri." Ucap Hiro.


Bastian dan Marteen hanya bisa mengangguk paham. Mereka bertiga pun memutuskan untuk membuat putaran terakhir sebelum menepi dan menyudahi latihan hari ini.


...


...


Setelah mereka membersihkan diri dan mengemasi barang-barang latihan, mereka bertiga pun saling mengharapkan yang terbaik satu sama lain. Marteen akan tetap berada di Heerenveen malam ini dan baru berangkat ke kamp pelatihan timnas Belanda U-20 besok. Untuk Bastian, tengah malam nanti harus bertolak menuju Roma dan bergabung dengan timnas Italia yang akan bertanding melawan Georgia pada pertandingan persahabatan.


...


Bastian mengalungkan syal pada lehernya ketika ia tengah menarik kopernya menuju mobil. "Sampai jumpa lagi minggu depan. Aku akan langsung menuju ke Bandara."


Hiro dan Marteen yang berjalan mengiringi Bastian pun berpisah di parkiran. Mereka bersalaman dan bertepuk punggung satu sama lain.


Akhirnya mobil Bastian pun berjalan meninggalkan Marteen dan Hiro yang berdiri pada lahan parkir yang kosong.


Lampu-lampu jalan mulai menyala pada sore menjelang malam ini. Marteen pun juga harus segera kembali ke apartemennya untuk mempersiapkan segala keperluan untuknya besok.


...


"Ya sudah Hiro, aku juga akan pulang. Terimakasih sudah mau berlatih hari ini."


"Iya tidak masalah. Hati-hati di jalan."


...


Tak selang lama, Hiro juga mulai berjalan meninggalkan kompleks latihan Heerenveen.


...


Tangan Hiro terus meraba-raba kantong celananya dimana dia meletakkan ponselnya. Selama Hiro berjalan menuju stasiun kereta, dia selalu berharap-harap cemas. Hiro selalu menunggu ponselnya bergetar karena ada pesan masuk dari pihak timnas Jepang.


Meskipun Hiro berusaha untuk tidak terlalu berharap, namun dia tetap akan menunggu hingga saat-saat terakhir sebelum batas pemanggilan pemain malam ini.


...


...


🚈🚋🚋🚋🚋


...


Ketika berdiri berdesakan pada kereta yang penuh dengan orang-orang yang ingin pulang setelah kerja, Hiro juga masih memegang ponsel di sakunya. Hiro masih menunggu.


...


...


Ketika dia sampai di Amsterdam pada pukul 19.30, Hiro mulai melepaskan tangannya dari ponselnya. Toh, hari ini sudah malam, tidak mungkin ada pemanggilan pemain lagi. Walaupun sekarang masih pukul 19.30 di Belanda, namun sekarang di Jepang sudah pukul 02.30 dini hari. Besok juga sudah tidak bisa diharapkan. Jika benar begini akhirnya, mungkin Hiro juga akan memilih untuk berlibur bersama Saki untuk mengisi jeda kompetisi ini.


...


...


Ketika sedang menunggu taksi yang tidak datang-datang, Hiro dikejutkan oleh ponselnya yang tiba-tiba bergetar. Seketika wajah Hiro pun kembali sumringah. Dengan cepat di mengeluarkan ponsel dari sakunya dan membukanya.


Namun wajah cerah penuh harapan indah dari Hiro harus kembali tersamarkan karena ternyata yang mengirimnya pesan adalah Ryota.


Isi pesan dari Ryota:


"Hey Hiro! apa kabar?"


"Masih sibuk kau saat ini? haha."


Hiro pun tersenyum melihat pesan dari sahabatnya di Jepang.


"Aku baik-baik saja. Kau sendiri bagaimana?"


Saking fokusnya membalas pesan Ryora sampai membuat Hiro tidak sadar sudah ada beberapa taksi yang melintas di hadapannya.


...


"Syukurlah,"


"Aku sendiri saat ini masih kesusahan untuk bisa bersaing dengan rekan-rekan setimku di Liga Malaysia. Bahasa menjadi hambatan bagiku."


...


...


Setelah saling bertukar kabar satu sama lain, topik pembicaraan pun berubah dan mulai berfokus kepada Hiro.


"Oh iya, berhubung aku sudah sangat mengantuk, aku ingin tanya apakah kau di panggil timnas pada pertandingan bulan ini?"


...


Wajah Hiro tidak terlihat senang.


"Ya, begitulah, sepertinya Yamamoto memilih untuk memainkan pemain-pemain yang biasanya.


...


"Jadi kau tidak di panggil ya?"


...


Hiro hanya membalas pesan dengan stiker anime sedang menangis.


Itu sudah cukup menjelaskan kepada Ryota.


...


"Ya, sudah kalau begitu, tetap semangat ya Hiro, kau harus menjadi lebih hebat dari saat ini."


...


"Iya, aku juga berharap demikian. Kau juga sama ya, jangan menyerah karena terhalang bahasa. Hahaa,"


...


Ketika pesan terakhirnya hanya di baca oleh Ryota, Hiro juga memutuskan untuk menutup ponselnya. Hiro melihat jam saat ini menunjukkan pukul delapan malam. Hiro pun kembali melihat dan mencari taksi yang kosong sebelum terlalu larut.


Setelah beberapa saat akhirnya Hiro bisa menghela napas lega ketika dia berhasil mendapatkan satu taksi yang bersedia mengantarkannya ke rumah.


...


Hari melelahkan ini setidaknya tidak seburuk yang di bayangkan. Ketika Hiro membuka pintu rumahnya, dia mendapatkan sambutan hangat dari kekasihnya yang masih menggunakan celemek dan sarung tangan sembari memegang panggangan yang baru ia keluarkan dari oven.


Tercium bau sedap dari kue yang dibuat Saki ketika Hiro melangkah masuk ke rumah.


Senyum Saki terpancarkan dari wajahnya. "Yoko.., kau ternyata pulang ya? Bagaimana latihannya? Apakah kau mendapatkan panggilan timnas?"


Hiro terlalu lelah untuk menjawab semua pertanyaan itu. Dia hanya bisa tersenyum dan berkata, "Iya,"


Paham akan kekasihnya yang terlihat lelah. Saki pun meletakkan sarung tangan dan celemeknya dan duduk di sofa bersama Hiro yang memegang keningnya.


Saki menyajikan kue yang baru saja dia buat kepada Hiro ditemani dengan secangkir kopi, menambah kesan jika hari ini adalah hari yang sama seperti hari-hari sebelumnya.


...


"Jika kau lelah, bisa langsung tidur aja kok, kasurnya sudah aku siapin," Ucap Saki dengan lembut.


Hiro pun mengangguk. Dia membereskan sisa makanan dan cangkir kopi dan mencucinya.


Saki juga memutuskan untuk tidur setelah Hiro memintanya untuk menyudahi malam ini dan membersihkan meja makan dan ruang tamu bersama-sama.


...


Pukul 21.30


Belum terlalu malam, namun sudah terlalu lelah bagi Hiro. Saki yang sebenarnya masih ingin melakukan hal rumah tangga pun tidak memiliki pilihan lain selain menemani Hiro malam ini.


Mereka berdua pun saling bercakap-cakap di atas kasur, berbisik, membuat waktu berjalan dengan cepat, hingga akhirnya Saki yang tertidur terlebih dulu.


...


Melihat Saki sudah terlelap, Hiro memperbaiki posisi selimut Saki agar lebih nyaman. Hiro pun mengecup kening Saki.


"Selamat malam," Desis Hiro.


...


🌙


...


Ketika sedang membetulkan posisi tidurnya dan hendak tidur, Hiro mendengar suara getaran dari ponselnya. Hiro hampir mengabaikan ponselnya itu. Namun karena notifikasi yang terus datang membuat Hiro terganggu dengan suara getaran ponselnya dan memutuskan untuk mengeceknya. Apa yang membuat ponselnya terus bergetar.


...