The Dreamer

The Dreamer
Hilangnya tekad



Fajar telah menyingsing, Hiro bangun pada keesokan harinya setelah semalam suntuk belajar di kamarnya.


Hiro membuka matanya perlahan. Dia melihat surat tergeletak di meja samping kasurnya. "Hmm.., ini kan surat yang diberikan Ryota kemarin? kira-kira apa isinya..," Hiro pun membuka surat itu.


Sambil berbaring, Hiro membaca surat itu. Pandangannya masih kabur saat membacanya.


"Selamat atas ulang tahunnya yang ke 17! Maaf aku telat mengucapkannya.


Ngomong-ngomong bagaimana hadiah gantungan kunci dariku? apakah kau menyukainya? hehe maaf ya kalau hanya bisa memberikan itu, namun aku berharap kau suka.


Terimakasih."


...


Itulah isi surat yang Hiro terima semalam. "Sebenarnya ini siapa sih? padahal hanya Ayahku, dan Ryota yang tahu hari ulang tahunku," Gumam Hiro.


...


Hari ini adalah sehari setelah acara kelulusan di akademi. Kemarin merupakan salah satu hari yang berbeda bagi Hiro. Dia harus melihat rivalnya hengkang dari akademi setelah bertahun-tahun bersaing. Dia juga harus mengambil keputusan berat di saat memutuskan untuk berhenti berjualan di toko Bibi.


...


Pagi ini, Hiro tidak tahu apa yang harus dilakukan. Biasanya dia akan menitipkan dagangannya di toko Bibi sebelum berangkat sekolah, namun sekarang tidak.


Karena lapar, Hiro akhirnya membeli sarapan sendiri di luar. Belakang ini, Ayahnya sudah tidak lagi membawa sisa bekal makan siangnya ke rumah. Hiro harus mencari sarapan sendiri.


Semalam, Hiro sempat berbicara kepada Ayahnya sebelum tidur. Hiro berkata jika dia sudah berhenti berjualan dan akan fokus pada sekolah dan sepakbola saja. Ayah Hiro juga mengatakan bahwa Hiro tidak perlu khawatir karena kebutuhan hidupnya pasti masih bisa terpenuhi oleh sang Ayah. Namun Hiro juga khawatir, karena merasa jika Ayahnya sudah terlalu lama bekerja terlalu keras. Hiro khawatir Ayahnya akan sakit jika terlalu memaksa diri.


Ya, hanya pada saat malam hari lah Hiro bisa berbicara dengan Ayahnya yang selalu bekerja sepanjang hari. Itulah yang membuat Hiro khawatir, sekaligus kesepian.


...


Setelah sarapan, Hiro pun bergegas pergi ke sekolahnya. Dia ingin segera bertemu dengan Ryota dan membicarakan soal kemarin malam.


Kriingg!!


Bel masuk sekolah berbunyi. Hiro sudah duduk di samping Ryota dan bersiap mencercanya dengan pertanyaan.


"Siapa yang memberikan hadiah kepadaku?"


"Bukankah hanya kau satu-satunya teman yang tahu hari ulang tahunku?"


"Kenapa hadiahnya gantungan kunci bola? apakah orang itu juga tahu jika aku bermain di akademi?"


Namun Ryota tetap tenang. Dia hanya tersenyum. "Kau bisa menembaknya sendiri saja," Ucap Ryota dengan santai.


"Hah?" Hiro juga sudah menyerah untuk bertanya kepada Ryota.


Hiro pun tetap tidak mengetahui siapa yang memberikan hadiah kepadanya. Padahal Hiro hanya ingin mengucapkan terimakasih kepada sang pemberi hadiah.


...


...


Kriingg!!


Hingga saat bel pulang berbunyi, Hiro dan Ryota pulang ke rumah mereka bersama-sama dengan berjalan. Jarak antara rumah mereka dengan SMA tidak begitu jauh, karena terletak di pusat kota Sapporo. Kini mereka bisa berjalan untuk pulang.


Di perjalanan, Ryota sempat bertanya kepada Hiro. "Hiro? kau tahu bukan? Karena Daichi sudah lulus dari akademi, apakah kau senang dengan keadaan ini?"


"Senang?"


"Iya.., mulai sekarang tidak ada lagi yang mengganggumu di lapangan, dan kau tidak lagi memiliki saingan berat bukan? kau akan lebih mudah untuk memenangkan turnamen mulai saat ini! hehe,"


"Oh," Hiro akhirnya paham yang di maksud Ryota. "Sebenarnya aku tidak begitu senang melihat Daichi sudah lulus,"


"Ha?!" Mata Ryota terbelalak. "Kau ini bicara apa?!"


"Iya, percaya tidak percaya, ejekan dari Daichi, serta berbagai macam pencapaiannya itulah yang membuatku mau bekerja keras. Bisa dibilang, Daichi itu secara tidak langsung sudah memotivasi diriku," Jelas Hiro.


"Iya, itu benar. Entah bagaimana kedepannya. Tapi aku merasa jika orang seperti Daichi itu sangat langka, sangat sulit untuk mencari orang sepertinya. Bahkan mengejar pencapaiannya juga sulit,"


"Hey? ayolah.., jangan menyerah dulu, kau masih punya kesempatan untuk melewati rekor-rekor Daichi," Ucap Ryota.


"Rekor-rekor Daichi? maksudmu rekor 658 gol.., pemilik 7 piala turnamen Zekka.., dan peraih penghargaan pemain terbaik satu dekade terakhir itu?"


"Hiro? apa yang kau bicarakan?" Ryota heran. Ryota sudah tahu kemana arah pembicaraan ini.


"Untuk rekor gol, mungkin masih bisa kulewati, namun untuk melewati piala-piala dan penghargaan individu dari Daichi, aku rasa aku tidak bisa,"


"Apa yang kau lakukan? kau belum mencobanya bukan?" Tanya Ryota.


"Iya," Jawab Hiro.


Ryota lega mendengarnya. Ryota sempat berpikir bahwa Hiro sudah tidak memiliki semangat karena Daichi si 'pembully' nya sudah tidak ada.


"Bagaimana aku bisa lupa? aku kan sudah berjanji akan selalu berusaha untuk bisa mengangkat piala bersamamu kan Ryota? hehe,"


"Haha, iya, terimakasih masih mengingatnya," Ucap Ryota.


"Baiklah, mulai Selasa depan, kita akan memulai semuanya! Kita akan mendominasi di akademi! haha!" Teriak Hiro di pinggir jalan yang sepi.


...


...


Setelah hari itu, pada latihan-latihan selanjutnya di akademi, Hiro menjadi primadona baru. Perlahan nama Hiro mulai menggantikan Daichi. 600 gol dan terus bertambah seiring waktu, bukan tidak mungkin rekor 658 gol milik Daichi akan segera Hiro lampaui.


Selalu ketika ada kompetisi ataupun lomba antar sekolah sepakbola di daerah Sapporo, Hiro selalu menjadi pilihan utama sebagai penyerang. Sebagai hadiah dari kerja keras, Ryota selalu terpilih menjadi bek tengah yang mengawal pertahanan timnya dengan sangat baik. Selain itu, stamina Ryota juga sudah berkembang pesat hingga dia sudah tidak lagi terengah-engah ketika bermain.


Setiap pertandingan telah mereka jalani bersama, hingga akhirnya. Keinginan menjadi kenyataan.


...


"Juara dari turnamen Zekka tahun edisi pertengahan tahun..., adalah.., tim..., kelompok usia 15-16 tahun..! selamat!"


...


Suara yang sudah Hiro dan Ryota dambakan dari mc turnamen Zekka. Akhirnya Hiro menangis setelah memenangkan piala pertamanya bersama dengan Ryota.


"Ryota! kita melakukannya!" Teriak Hiro bersemangat.


"Iya! hahaha!"


Mereka berdua, bersama dengan pelatih Takashi dan teman-temannya di kelompok usia 15-16 tahun, mengangkat piala turnamen dengan haru.


Hiro juga mendapatkan penghargaan sebagai top skorer turnamen dengan 6 golnya, sekaligus dengan penghargaan lainnya yaitu pemain terbaik turnamen kali ini. Sementara Ryota didapuk sebagai pemain bertahan terbaik


Mereka berdua sangat senang dengan apa yang diraih. Namun semua ini hanyalah awal bagi mereka.


Mereka yakin akan lebih berkembang pesat kedepannya.


...


Namun semua itu ternyata tidak sesuai dengan apa yang terjadi di atas rumput.


...


Minggu-minggu berikutnya, 3 bulan sudah berlalu semenjak Hiro dan Ryota berhasil mengangkat piala pertama mereka.


Ryota merasa jika ada sesuatu yang aneh dari Hiro belakangan ini. Semenjak berhasil meraih juara pada turnamen sebelumnya, Hiro menjadi lebih santai dalam bermain dan tidak seambisi seperti biasanya.


Ryota bertanya-tanya dalam hati, "Apa yang terjadi pada Hiro?"


Suatu ketika, Ryota sempat bertanya secara langsung kepada Hiro mengenai performanya yang sedang menurun. "Hiro? kenapa beberapa minggu terakhir ini kau terlihat lemas saat berlatih? kenapa? apa yang terjadi? berceritalah kepadaku,"


Hingga terucap sesuatu yang belum pernah Ryota bayangkan sebelumnya, keluar dari mulut Hiro. "Aku ingin berhenti bermain bola."