The Dreamer

The Dreamer
Berkorban tak perlu berkata



Orang yang dikaguminya sudah tergerus usia. Satu-satunya orang yang selalu menjaga Hiro sejak kecil kini terlihat lemah. Hiro khawatir dengan kondisi sang Ayah yang saat ini berjalan lunglai sambil berlinang air mata.


...


"Duduk dulu Ayah.., tenangkan dirimu." Ucap Hiro. Dia menuntun Ayahnya untuk berjalan dan duduk.


"Iya nak, Ayah bisa melakukannya sendiri, tidak perlu di bantu," Kata Ayah Hiro.


"Baik Yah," Hiro pun melepaskan tangannya dan membiarkan Ayahnya melakukannya sendiri. Mereka kini sudah kembali masuk ke dalam rumah, duduk di dua kursi rotan yang saling berhadapan.


"Mau Ayah buatkan kopi, nak?" Tawar Ayah Hiro. Walaupun dalam keadaan yang tidak sehat, Ayah Hiro masih mencoba untuk tersenyum.


"Eh, tidak perlu yah..," Ucap Hiro sambil mencegah Ayahnya berdiri lagi. "Ayah ini tidak perlu memaksa. Lebih baik Ayah jaga kesehatan, ya."


"Hmm..," Gumam Ayah Hiro. Dia menganggukkan kepala.


Ayah Hiro hanya bisa setuju dengan ucapan putranya saat ini. Dia sudah tidak bisa menyembunyikan sakit jantung yang dialaminya selama ini. Dia saatnya Hiro harus dia beritahu tentang kesehatannya.


...


"Ayah..," Hiro memanggil.


"Iya?" Sahut Ayahnya.


Hiro menatap mata Ayahnya dalam-dalam. "Sudah sejak kapan Ayah sakit?" Tanya Hiro.


Ini adalah pertanyaan yang paling ingin dihindari oleh Ayah Hiro. Walaupun demikian, pada akhirnya Ayah Hiro juga harus memberitahukannya.


Ayah Hiro menghela nafas panjang. "Ayah sakit, sejak kamu masih di akademi..,"


...


🍃🍃🍃


...


Hiro terpaku. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari mulut Ayahnya.


"Se--sejak aku masih di akademi..Zekka?"


Ayahnya mengangguk. "Iya," Jawabnya.


"Tidak..., tidak mungkin...," Hiro menggelengkan kepalanya. "Kenapa Ayah tidak bilang dari dulu kalau Ayah sakit..? Ayah sakit.. apa?!" Suara Hiro terdengar serak.


Ayah Hiro hanya menundukkan kepalanya karena tidak ingin melihat wajah putranya saat ini. "Ayah terkena serangan jantung nak," Ucap Ayah Hiro.


Hiro terkejut. "Serangan jantung?"


"Iya," Desis Ayah Hiro. "Ayah sengaja tidak memberitahu kepadamu tentang penyakit Ayah supaya kau bisa fokus pada karirmu," Jelas Ayah Hiro.


Hiro masih bergeming.


"Tidak perlu mengkhawatirkan kondisi Ayah yang penting kau bisa sukses di dunia sepakbola profesional dan menggapai impianmu nak!" Tegas Ayah Hiro.


Hiro pun tertunduk diam mendengarkan ucapan Ayahnya. Selama ini, ternyata sang Ayah selalu memperhatikan dan menyayanginya lebih dari apa yang dia ketahui. Hiro tidak sadar bahwa Ayahnya sudah sakit-sakitan sejak dia masih di Akademi Zekka, lebih tepatnya 7 tahun lalu.


Hingga dalam waktu-waktu sulitnya, Ayah Hiro selalu memberikan segalanya untuk mimpi sang putra kesayangannya.


...


"Tidak perlu rumah mewah, tidak perlu makan enak. Jika Ayah bisa melihatmu sukses saja sudah sangat bahagia..," Ucap sang Ayah sambil tersenyum.


"..."


Entah mengapa tiba-tiba Hiro merasa tertampar dengan kata-kata Ayahnya.


"..Jika Ayah bisa melihatmu sukses saja sudah sangat bahagia..."


Namun apa yang dilakukan Hiro saat ini? Dia malah keluar dari Akihabara FC untuk mencari jalan lain menggapai impian. Harap-harap, Hiro bisa mendapatkan klub yang lebih besar daripada klub sebelumnya.


...


"Nak..?"


...


"Eh.., ya Ayah?"


Hiro tersadar dari lamunannya.


"Kau tidak apa-apa?"


"Uuh.., tidak apa-apa, Yah," Jawab Hiro.


"Begitu ya," Sahut Ayahnya. "Oh iya, sepertinya hari ini adalah pertama kalinya kamu pulang ke rumah setelah bergabung dengan Akihabara FC ya?"


"Iya Yah, maaf, baru ada waktu sekarang,"


"Tidak perlu minta maaf," Ayah Hiro tersenyum. "Yang terpenting adalah akhirnya kita bertemu lagi."


"Terimakasih Ayah,"


"Hahaha, kenapa kau berterimakasih dua kali berturut-turut?" Ayah Hiro menjawab dengan candaan.


Suasana kembali cair. Pertemuan yang haru itu kini sudah berubah menjadi lebih cerah layaknya percakapan dengan seorang teman dekat. Tidak ada rasa khawatir di antara mereka, hanya ada rasa syukur atas semua hal yang mereka dapatkan.


...


Matahari sudah mulai terbenam. Hiro baru ingat kalau dia belum mengabari Saki jika dia sudah kembali ke Sapporo. Saat Hiro mengabari Saki lewat pesan singkat, Saki langsung senang mengetahuinya.


Akhirnya setelah sekian lama sepasang kekasih ini bisa bertemu kembali. Sekarang Saki masih berada di asrama karena masih ingin mengambil gelar yang lebih tinggi dari sekarang.


...


Ada perasaan mengganjal di hati Hiro. Dia masih belum yakin untuk memberitahu kepada Ayahnya tentang situasi yang sedang dia hadapi saat ini.


"Apakah harus kuberitahu Ayah jika aku sudah pergi dari Akihabara FC?" Pikir Hiro.


...


🌃🌃🌃


Hingga tak terasa sudah hampir waktu makan malam. Ini adalah makan malam pertamanya dengan sang Ayah sejak lebih dari satu tahun lalu.


Hiro bersemangat menyiapkan berbagai macam makanan. Hiro pergi ke toko dekat rumahnya yang dulu sering menjadi tempat penitipan dagangan Hiro saat masih kecil. Hiro senang Bibi penjaga toko masih mengingat dirinya.


...


Hiro pun kembali ke rumahnya membawa banyak makanan yang dia beli dari berbagai tempat lainnya juga. Hiro menata semuanya di atas meja.


Hiro dengan hati-hati mengganti kantung infus Ayahnya yang hampir kosong. Besok Hiro harus mengantarkan Ayahnya menuju rumah sakit untuk kontrol kesehatan.


Hiro dan Ayahnya lantas duduk di meja makan. Lampu ruangan makan lebih terang daripada dulu. Cahayanya lebih bersinar, sudah tidak remang-remang jingga lagi. Lampu ruangan lainnya juga sudah di ganti.


Ayah Hiro duduk tepat di samping Hiro. Wajah sumringah tampak di wajah sang Ayah.


...


"Selamat makan..!"


...


"Aduh rasanya canggung sekali,"


Hiro masih ragu apakah dia benar-benar harus mengungkapkan perasaannya.


Sebelum makan, Ayah Hiro sempat bertanya sesuatu kepada Hiro.


"Oh iya, gomong-ngomong bagaimana dengan keadaanmu di klub? temanmu banyak??" Tanya Ayah Hiro.


Hiro tersentak,


Hilang sudah keraguannya ketika Ayahnya sudah bertanya. "Sepertinya aku memang harus mengatakannya..," Dalam hati Hiro.


Hiro mengambil napas dalam-dalam dan mengatakan, "Aku sudah tidak bermain untuk Akihabara FC lagi, Yah," Ucap Hiro.


"..."


"Kenapa?" Ayah Hiro terlihat terkejut.


"Anu.., aku ingin mencoba tantangan yang lain. Aku ingin mencari klub baru yang lebih besar, Yah," Jawab Hiro.


Ayah Hiro meletakkan sendok dan garpu di atas meja. "Apa kau sudah yakin?"


Hiro kembali mengambil napas panjang. "Iya, aku yakin, Yah!" Jawab Hiro dengan yakin. "T--Tapi, aku akan segera mencari klub baru Ayah! aku akan segera menghubungi agenku, Darwin! Ayah tidak perlu khawatir."


Wajah Ayah Hiro seketika meredup ketika mendengarnya. Hiro sudah siap dengan segala sesuatu yang datang dari Ayahnya. Hiro paham harapan sang Ayah kepadanya. Hiro menerima kenyataan jika sang Ayah kecewa dengan keputusannya.


"Aduh.., apa yang aku katakan..," Hiro menyesal telah mengatakan semuanya di saat yang tidak tepat seperti ini.


...


Namun,


...


"Ya sudah tidak mengapa, Ayah paham," Ucap Ayah Hiro.


"Eh?" Hiro terkejut dengan ekspresi Ayahnya yang seolah ini bukan masalah besar. "Ayah tidak marah?"


Ayah Hiro tertawa. "Kenapa marah? Kau hanya ingin mencari klub baru kan?"


"I--Iya Ayah! aku akan segera mencari klub baru yang lebih baik dari sebelumnya!"


Ayah Hiro tersenyum. "Itu baru anak Ayah," Ucap Ayah Hiro sambil mengacak-acak rambut Hiro.


Mereka berdua lantas menyantap makan malam yang begitu nikmat. Hiro senang dengan tanggapan Ayahnya atas masalah yang dihadapinya. Ayahnya memang selalu memberikan pesan positif serta moral yang membangun.


"Aku harus mencari klub baru..!" Hiro bertekad dihatinya. Hiro masih punya kesempatan sekali lagi untuk membuat bangga Ayahnya.