
KRIINGG!!!
...
"Woaahh!!" Hiro terkejut mendengar jam Becker yang berdering.
"Oh, ternyata alarm," Hiro pun mematikan jam itu. Hiro tidak terbiasa bangun dengan dikejutkan alarm seperti ini.
Saat Hiro mematikan alarm dan melihat jam berapa sekarang, alangkah terkejutnya ketika Hiro tahu jika saat ini sudah jam 6 pagi.
"Apa! sudah jam enam! Gawat, aku akan terlambat sekolah!"
Hiro pun bergegas turun dari kamarnya yang ada di lantai 2. Dia hanya mengambil handuk, dan celingukan mencari kamar mandi. "Kamar mandi, di mana kamar mandi?!"
Hiro kemudian melihat kamar mandi di belakang tangga. Pintu kamar mandinya sedikit terbuka. Tanpa pikir panjang, Hiro pun berlari dengan kaki yang masih sedikit pincang menuju ke sana.
Setelah Hiro masuk ke kamar mandi, dia mendengar suara seorang wanita sedang bersenandung. Sadar jika kamar mandi itu ada yang menggunakan, Hiro pun langsung keluar lagi dari kamar mandi.
Hiro pun memutuskan untuk menunggu di meja makan. Dia gelisah karena melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 06.15.
"Sebenarnya siapa sih yang menggunakan kamar mandi?" Hiro masih belum pasti. Hiro mengira yang menggunakan kamar mandi adalah Ruka atau Ibunya Ryota karena dia mendengar suara wanita.
Tidak lama, kemudian Ryota datang. "Lho? Hiro? sudah bangun?" Ryota masih menggunakan pakaian tidurnya.
"Ryota? Kau baru bangun?" Hiro bingung.
"Iya,"
Ryota pun menggeser salah satu kursi di meja makan dan duduk bersama Hiro. "Kau sedang menunggu giliran mandi?" Tanya Hiro. Matanya masih terpejam.
"Iya, aku sedang menunggu," Jawab Hiro.
"Ya sudah tunggu saja, adikku memang lama kalau sedang mandi,"
"Oh ternyata yang di dalam tadi Ruka," Ucap Hiro dalam hati.
"Ngomong-ngomong, bagaimana kakimu?" Tanya Ryota kembali.
"Oh, sudah tidak apa-apa kok, terimakasih sudah merawat!" Hiro berterima kasih. "Oh, iya, sejak kemarin aku belum melihat orang tuamu, kemana mereka?"
"Oh, Ayah dan Ibuku sedang bekerja ke luar kota, mereka baru pulang Minggu depan,"
"Oh,"
...
Tidak lama kemudian, para pembantu Ryota mengantarkan berbagai macam hidangan sarapan pagi. "Silahkan," Ucap salah satu pelayan sambil memberikan sepiring makanan lengkap dengan lauk pauk.
"Silahkan makan sarapannya dulu Hiro," Ucap Ryota.
"Waah!! terimakasih! sepertinya ini terlihat enak!"
Hiro pun menyantap sarapan dengan lahap. Dia belum pernah merasakan makanan seenak ini.
Saat sedang makan sarapan, tiba-tiba dari pintu kamar mandi di belakang Hiro dan Ryota terbuka.
Ckleek..
"Kakak, sarapannya apa?" Ruka keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut hitamnya yang pendek dengan handuk.
"Oh, ini, ada telur, sosis, dan daging," Sahut Ryota.
Ruka pun langsung duduk di kursi samping Hiro. "Halo kak.., kakinya dah sehat?" Tanya Ruka.
"Iya, udah kok," Jawab Hiro. Hiro mencium bau yang sangat wangi saat Ruka duduk di sampingnya.
...
Setelah itu, Hiro pun bergegas masuk ke kamar mandi karena waktu sudah semakin tipis. "Terimakasih sarapannya!" Hiro pun masuk ke kamar mandi.
...
Ruka heran melihat Hiro. "Kak.., kenapa Kak Hiro terburu-buru? kan sekarang baru jam setengah tujuh, bukankah SMA itu masuknya jam delapan?"
"Entahlah, Kakak juga tidak tahu," Ucap Ryota. "Mungkin Hiro sudah terbiasa untuk masuk ke sekolah satu jam lebih awal,"
"Oh, terlalu rajin,"
...
...
Pukul 07.15, Hiro, Ryota, dan Ruka berangkat bersama menuju sekolah menggunakan mobil. Ruka turun di SMP, sedangkan Hiro dan Ryota turun di SMA.
Masih ada waktu 15 menit sebelum gerbang sekolah di tutup, namun Hiro sudah menganggap ini sebagai 'telat'
"Oh, terlalu rajin," Ucap Ryota.
"Apa yang kau katakan?"
...
...
"Ini dia saatnya," Gumam Hiro.
Hiro melangkah masuk ke gerbang akademi yang dulu pernah menjadi tempat favoritnya di waktu sore.
Gemetar langkah Hiro ketika melihat anak-anak yang sedang berlatih sepakbola di luasnya lapangan akademi. Hiro mulai bernostalgia dengan masa lalu.
"Hehe, bagaimana? sudah mulai rindu? haha," Canda Ryota.
"Berisik," Ucap Hiro.
Mereka berdua pun langsung berjalan menuju tengah lapangan untuk mencari Takashi. Ryota langsung tahu di mana Takashi karena dia masih sering berlatih di akademi.
"Ayo ikuti aku, aku tahu di mana Takashi," Ajak Ryota.
Akhirnya mereka berdua bertemu dengan Takashi di sebuah lapangan. Takashi terlihat sedang melatih beberapa anak.
"Pelatih!!" Teriak Ryota.
Merasa kenal dengan suaranya, Takashi pun menoleh ke arah Ryota dan Hiro. "Eh Ryota! apa kabar!"
Ketika bertemu, Ryota dan Takashi langsung bersalaman. "Apa yang membuatmu datang kemari? bukankah hari ini bukan jadwal latihanmu?" Tanya Takashi.
"Ini, ada seseorang yang ingin berbicara kepadamu," Ryota menunjuk ke arah Hiro.
"Hmm? siapa dia?" Takashi tidak mengenali Hiro karena dia terus menunduk.
"Psst..,Hiro! lihatlah ke atas!" Ucap Ryota.
"Hahaha!" Takashi tertawa. "Aku bercanda!"
"Hah?" Hiro dan Ryota bingung.
"Tentu saja aku sudah tahu jika di samping Ryota adalah Hiro. Mana mungkin aku bisa melupakanmu nak!"
Takashi dan Hiro pun saling bertukar salam. Hiro terkejut karena ternyata Takashi memberikan salam hangat kepadanya.
"Jadi.., apa yang bisa kubantu?" Tanya Takashi.
"Jadi begini, Hiro ingin kembali lagi bermain bola. Namun karena sudah lama tidak bermain bola, dia jadi kehilangan keahliannya. Oleh karena itu, kami di sini untuk memintamu membantu Hiro." Jelas Ryota.
"Hmm..," Takashi sedang berpikir.
"Tolonglah pelatih, aku butuh bantuanmu! hanya kau yang bisa membantuku!" Ucap Hiro yang ikut meyakinkan Takashi.
"Tidak bisa," Ucap Takashi.
"Hah? kenapa?" Hiro dan Ryota heran.
"Hiro sudah tidak lagi bisa berlatih di akademi karena usiamu sudah melebihi batas maksimal untuk mendaftar."
"Kalau begitu kita cari tempat lain untuk berlatih! bagaimana?" Tanya Hiro.
"Hmm, itu bisa dilakukan, tapi aku hanya bisa sebentar karena aku juga punya pekerjaan untuk dilakukan. Mungkin seminggu sekali." Ucap Takashi.
"Iya tidak apa! yang penting kau bisa melatihku walau sebentar!"
"Tapi, walaupun begitu, masih ada satu masalah lagi." Sambung Takashi.
"Apa itu?"
"Aku ingin tanya sesuatu kepadamu, apakah kau yakin mau kembali bermain bola?" Tanya Takashi menatap mata Hiro dengan tajam.
"Ha? tentu saja aku yakin!"
"Apa kau yakin kau tidak akan. kehilangan semangat lagi seperti dulu?"
"Itu.., eehh--,"
"Huh, sudah kuduga," Ucap Takashi seraya berbalik badan dan meninggalkan Hiro dan Ryota.
"Eh! pelatih tunggu!"
Namun Takashi tidak menanggapi, dia hanya berpesan, "Jika kau sudah menemukan semangatmu kembali, kau baru boleh menemuiku lagi, lalu aku janji akan melatihmu,"
Takashi pun kembali pergi untuk melatih beberapa anak di lapangan. Hiro dan Ryota dibuat bingung.
"Bagaimana sekarang?" Tanya Hiro kepada Ryota.
"Mau bagaimana lagi, nampaknya kau harus menemukan kembali semangatmu,"
"Tapi bagaimana aku bisa menemukannya kembali?" Hiro sama sekali tidak bisa berpikir jernih.
"Hanya kau yang bisa menjawabnya,"