
Sore hari ini, mungkin akan menjadi hari yang selalu diingat oleh Ryota. Hari ketika sahabatnya menyerah menggapai impiannya.
"Aku ingin berhenti bermain bola." Ucap Hiro.
Walaupun sangat singkat, namun itu meninggalkan banyak tanya bagi Ryota. "K--Kenapa? apa yang terjadi?"
Hiro mengehela napas. "Kau belum sadar? tidak lama lagi kita akan segera lulus dari SMA. Aku perlu belajar lebih giat untuk mencari beasiswa agar bisa terus bersekolah hingga ke universitas."
"T--Tapi? kenapa harus berhenti bermain bola?" Ryota masih tidak yakin atas keputusan Hiro.
"Apa kau tidak melihatnya? aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dicapai di sini. Semuanya terasa begitu mudah untuk kulalui. Tidak ada tantangan yang harus kuhadapi saat ini. Kau mengerti perasaanku bukan?"
Ryota mulai menyadarinya. "Apa semua ini karena Daichi telah pergi?" Ryota bertanya walaupun dia sudah tahu jawabannya.
...
"Iya," Jawab Hiro. "Aku merasa jika aku sudah cukup bermain sepakbola. Kini aku harus segera memikirkan masa depanku," Lanjut Hiro.
"Tapi bagaimana dengan mimpi kita?? Ha??!! apakah kau SUDAH LUPA!!" Ryota begitu menekan Hiro.
"Aku masih mengingatnya. Namun mimpi itu harus berakhir saat ini juga. Di sisi lain, aku juga perlu pekerjaan bagus sehingga Ayahku tidak perlu lagi bekerja keras. Aku juga--,"
"Kau pembohong," Ryota memotong ucapan Hiro. "Kau sudah berbohong! katamu kau ingin bersungguh-sungguh dalam berlatih! kau bilang kau ingin menjadi pemain bintang sepakbola! Dan kemana semuanya saat ini??! Apakah semua mimpimu hanya terbang tertiup angin!"
"Iya, memang hanya pergi seperti itu," Ucap Hiro.
"Apa?!" Ryota terkejut.
"Dahulu, aku ingin memiliki sepatu bola, namun setelah memilikinya aku tidak lagi merasakan keinginan itu. Lalu, aku ingin memiliki banyak teman, namun setelah aku mendapatkannya, rasanya tidak ada yang berubah. Dan terakhir, ketika aku sudah mendapatkan piala dan berbagai penghargaan, aku merasa jika tujuanku sudah tercapai." Gumam Hiro. Sedari tadi tatapannya hanya melamun kedepan memandang matahari terbenam.
Pikiran Hiro sedang bercampur aduk. Dia hanya memutuskan sesuatu yang paling masuk akal saat ini. Dia memutuskan untuk berhenti bermain bola dan fokus mengejar pendidikan. Walaupun terlihat menyedihkan, namun sebenarnya Hiro masih punya keinginan untuk terus bermain bola. Namun karena keadaan keluarga, serta kurangnya motivasi yang dia terima, Hiro menjadi lebih berpikir logis dan memutuskan sesuatu yang terbaik menurutnya saat ini.
...
"Kalau kau sudah selesai bertanya.., apakah aku boleh pergi sebentar? aku ingin mengatakan ini juga kepada Takashi,"
"Eh? kau ingin mundur sekarang juga??!"
"Iya," Hiro berdiri, kemudian berjalan lemas menuju ke tempat Takashi berada. "Mulai Minggu depan, aku tidak akan berlatih di sini lagi, terimakasih Ryota atas kerjasama selama 5 tahun ini. Aku harap kau bisa lanjut hingga lulus dari akademi ini."
Hiro pun pergi meninggalkan Ryota yang masih duduk dengan tatapan kosong. Dia tidak menyangka kalau Hiro bersungguh-sungguh untuk berhenti bermain bola.
Walaupun sedang melamun, Ryota masih bisa mendengar suara Hiro ketika mengatakan, "Aku harap aku bisa kembali bermain bola bersamamu Ryo, entah kapan, namun aku masih berharap ada sesuatu yang membuat semangatku kembali lagi, tunggulah."
Dalam lamunannya, Ryota sempat mengingat di saat dia dan Hiro masih SMP, ketika mereka masih bersemangat sekali untuk bisa menjadi seorang pemain bintang di masa depan. Namun sekarang, semua sudah berubah. Kesedihan dan kekecewaan memenuhi mata Ryota sore itu. Dia membiarkan air mata mengalir dari kelopak mata yang tidak bisa tertutup.
Takehiro Miyoko, dari usia 12 hingga 17 tahun. Merupakan salah satu pemain terbaik akademi ini. Pemain yang sedang di pantau oleh berbagai klub profesional maupun amatir. Pemain hebat yang memulai semuanya dari awal yang terburuk. Tetapi saat ini petualangan itu akan berakhir. Atau bisa juga dikatakan.., hanya berhenti.
...
...
Dan mulai saat ini, hingga Minggu-minggu berikutnya, Hiro tidak lagi menjadi pemain dari akademi Zekka. Dia juga tidak lagi berjualan minuman. Pada hari di mana Hiro mengundurkan diri dari akademi, Takashi selaku pelatih yang telah mengenal Hiro sejak usia 12 tahun, sangat menyayangkan keputusan Hiro.
"Padahal kau punya potensi besar, tapi kau membuangnya begitu saja," Ucapan terakhir Takashi kepada Hiro sebelum dia meninggalkan akademi untuk terakhir kalinya.
...
Belakangan ini, Hiro dan Ryota jadi jarang bertemu. Bahkan di sekolah, Hiro lebih banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan sekolah daripada bertukar cerita bersama temannya.
...
Beberapa purnama telah dilaluinya. Hingga akhirnya Hiro mendapatkan beasiswa yang dia inginkan. Setelah begitu banyak pengorbanan yang dilakukan, akhirnya Hiro mendapatkannya.
"Akhirnya aku mendapatkannya," Gumam Hiro.
Setelah lulus dari SMA, Hiro bisa mendaftar ke universitas dimanapun yang ia mau. Ayah Hiro yang mengetahui hal ini pasti sangat bangga kepada putranya ini.
...
"Ayah! lihat! Hiro berhasil mendapatkan beasiswa!" Ujar Hiro bersemangat pada malam hari ketika Ayahnya sampai di rumah.
Ayah Hiro yang masih lelah setelah bekerja, menjadi kembali tersenyum melihat anaknya yang kembali mencapai sesuatu dihidupnya.
"Ayah bangga kepadamu nak. Selamat ya..,"
"Iya ayah,"
...
"Ngomong-ngomong, karena kau sudah mendapatkan beasiswa, bagaimana dengan Sepakbolanya? apakah kau akan kembali ke akademi Zekka? Ayah selalu di tanya oleh orangtuanya Ryota mengenai hal ini," Topik pembicaraan Ayah Hiro tiba-tiba berubah ke arah yang tidak disukai.
Raut wajah Hiro yang awalnya sumringah menjadi datar. "Hiro sepertinya akan berhenti bermain bola selamanya Yah,"
"Apakah kau sudah sangat yakin?"
"Iya Yah, aku yakin. Aku tidak ingin egois. Aku lebih memilih keluarga daripada mimpiku," Ucap Hiro.
"Ya sudah kalau begitu," Ucap Ayah Hiro sambil tersenyum memegang kepala Hiro. "Hanya saja, Ayah sedikit kecewa,"
"Huh? kenapa Yah? apa yang membuatmu kecewa?" Tanya Hiro.
"Ayah hanya berpikir, untuk apa kau dari dulu mengejar mimpimu jika pada akhirnya hanya untuk ditinggalkan begitu saja? Sungguh buang-buang waktu,"
...
Ucapan Ayahnya kali ini sungguh membuat hati Hiro kacau balau. Walau dengan ekspresi wajah datar, namun Hiro tahu jika Ayahnya sedikit kesal dengan keputusannya yang berhenti bermain bola. Tapi mau bagaimana lagi, keadaan ekonomi memaksa Hiro melakukan hal ini. Hati kecil Hiro sedang menangis karena sebenarnya, mimpi itu masih ada.
...
"Ya sudah nak, kalau kau sudah tidak ada yang dikatakan lagi, Ayah mau segera tidur saja, Ayah sudah mengantuk," Ucap Ayah Hiro sambil melewati tubuh Hiro yang masih terpaku di depan pintu.
"Sebaiknya kau jangan sampai kecewa di lain hari nak, pikirkan dengan baik, semuanya belum terlambat," Ucapan selamat malam dari Ayah Hiro.
...
Hiro yang masih berdiri diam di depan pintu, memiliki berbagai macam perasaan yang berkecamuk di hatinya.
"A--Aku pikir, dengan mendapatkan beasiswa ini, Ayahku menjadi lebih bahagia,"
"Apa yang aku lakukan? apakah aku salah mengambil keputusan?"
"Jika sudah begini? apa langkahku selanjutnya? Oh tuhan.., tolong bantu diriku..!"