
Seruan kebencian yang selalu berputar di kepala Hiro, kini sudah tergantikan oleh sanjungan dan prestasi yang terus mendatanginya. Semakin hari, Hiro menunjukkan kepada orang-orang di sekitarnya bahwa dia adalah seorang pemimpi yang tidak akan pernah berhenti menggapainya.
...
Banyak Kejuaraan lain yang dimenangkan oleh Hiro, Ryota, serta tim sepakbola universitasnya selama ini.
Namun dari semua piala yang Hiro raih, tentu saat yang paling dia ingat adalah ketika dia memenangkan piala UFF sekitar satu tahun yang lalu. Saat itu, tidak ada yang mengira tim dari Hiro akan memenangkan turnamen UFF, namun yang terjadi justru sebaliknya.
...
Nama Takehiro Miyoko menjadi lebih terkenal setelah pihak Universitas mengetahui salah satu muridnya sudah menandatangani kontrak dengan klub sepakbola profesional milik pengusaha terkenal.
Sudah beberapa bulan setelah hari ketika Hiro menandatangani kontrak dengan Darwin waktu itu, kini Hiro sudah semakin dekat dengan kelulusannya.
...
...
Hari ini, Hiro bangun tidur di kamar Asramanya dengan suasana yang berbeda dengan sebelumnya. Jam digital di meja belajarnya menjadi alarm untuk membangunkannya. Sebuah ponsel keluaran terbaru tergeletak di sampingnya. Pakaian bagus tertata rapi di dalam lemari pakaiannya. Semuanya itu datang kepadanya karena beberapa bulan terakhir ini Hiro mendapatkan gaji sebesar 30% dari kontraknya bersama Akihabara FC. Hiro sudah memiliki cukup uang.
"Ujian akhir akan dilakukan satu bulan lagi..., Mulai hari ini aku harus belajar dengan lebih tekun." Gumam Hiro sambil meregangkan tubuhnya setelah bangun tidur.
...
Menit telan berganti jam, saat ini pukul 11 siang. Hiro berada di dalam kelasnya. Dia mengambil kelas akuntansi bersama dengan Ryota. Mereka berdua berada di kelas yang sama. Hiro terlihat lebih serius daripada Ryota yang duduk di sampingnya.
"Pssstt..Hiro.., nanti kita latihan sepakbola sama anak-anak lain gak? pssstt.. Hiro," Ryota coba memanggil-manggil Hiro.
Hiro tetap tidak menggubris Ryota walaupun sudah dicolek-colek bahunya.
"Ryotaa! Perhatikan kedepan! saya sedang menyampaikan informasi penting..! kamu malah menganggu temanmu!" Tiba-tiba dosen di depan kelas membentak Ryota karena ketahuan 'menganggu' Hiro.
"B--Baik Pak, maaf," Ucap Ryota sambil tertunduk. Memang dosen yang mengajar saat ini dikenal sebagai dosen yang sangat tertib dan tegas.
"Pfpfft..Ihihihi," Hiro tidak kuasa menahan tawanya ketika dia melihat sahabatnya dimarahi.
"Malah ketawa lagi kamu.., dasar," Ujar Ryota yang kesal melihat Hiro menahan tawa.
...
Waktu berjalan begitu cepat ketika Hiro menyukai saat-saat belajar di sekolah. Membuat waktu tidak terasa, hingga hari sudah mulai gelap.
...
KRIINGG!!
"Mari anak-anak, kita sudahi kelas hari ini, selamat berjumpa Minggu depan," Ucap dosen yang mengajar.
Seluruh mahasiswa dan mahasiswi telah mengakhiri kelas mereka. Hiro dan Ryota yang berada di kelas yang sama, keluar saling merangkul pundak.
Berjalan menuju gedung asrama mereka, Hiro dan Ryota mengisi langkah mereka dengan cerita. Hiro memberitahu kepada Ryota tentang kontraknya dengan Akihabara FC. Ryota yang mendengar ucapan Hiro terkejut. Dia tidak tahu jika Hiro benar-benar mendapatkan tawaran dari klub sepakbola profesional.
"Kok kamu nggak ngasih tahu aku?" Tanya Ryota.
"Hehe, biar kejutan," Sahut Hiro sambil tersenyum. "Oh iya, ngomong-ngomong, aku juga meminta Bos Akihabara FC agar kau juga direkrut."
"Eh?" Ryota tidak yakin dengan apa yang dia dengar dari mulut Hiro. "Benarkah?"
Hiro mengangguk sambil tersenyum lebar. "Tentu saja benar..! aku tidak akan melupakan tujuan kita untuk selalu bersama hingga impian tercapai!"
"Hiro..," Ryota terharu. "Terimakasih ya," Ryota memeluk Hiro. "Terimakasih selalu mengingatku,"
...
Percakapan tak terduga antara dua sahabat ini. Sebuah mimpi yang sempurna untuk disematkan kepada setiap orang yang melihatnya. Petualangan dua sahabat sejati, mencari bintang di gelapnya malam.
...
Pukul 8 malam. Hiro sedang bersantai di dalam kamarnya sambil membaca buku di kasurnya. Saat mata dan pikiran Hiro menyatu dengan tulisan di buku, tiba-tiba saja terdengar suara orang mengetuk pintu kamar Hiro.
tok..tok...tok..
"Sebentar...," Hiro meninggalkan bukunya yang masih terbuka di atas kasur ketika dia menghampiri pintu kamar untuk membukanya.
Ckleek..
"Halo Hiro,"
"E--.., H--Halo..Saki," Hiro begitu gugup begitu tahu jika tamunya adalah kekasihnya. "Ayo..mari masuk, kalau mau ngobrol di dalam saja,"
Walaupun Hiro dan Saki merupakan sepasang kekasih, namun jika orang lain melihat mereka berdua, tidak akan terlintas dipikiran jika mereka adalah kekasih. Hiro masih belajar untuk menjadi pria yang baik untuk wanitanya.
...
Di dalam kamar, Hiro dan Saki berbicara tentang hal-hal remeh.
"Wah.., kamar kamu sekarang lebih banyak barang-barang ya..," Ucap Saki.
"Iya nih, syukurlah, aku sudah mendapatkan gaji tetap walaupun belum sepenuhnya,"
"Hmm, itu sangat bagus untukmu," Saki duduk bergeser ke samping Hiro. "Setelah lulus.., kau bisa mendapatkan gajimu dengan penuh. Ayahmu jadi tidak perlu bekerja lagi.., kasihan sudah berumur," Ucap Saki lirih membuat Hiro teringat dengan saat-saat dimana Ayahnya selalu bekerja keras dahulu.
"Iya, itulah yang kuinginkan," Ucap Hiro. "Aku tidak ingin melihat Ayah bekerja terlalu keras lagi,"
"Semangat ya Hiro,"
"Aku selalu semangat, Saki,"
Saki tersenyum.
...
"Eee.., iya. Kenapa?" Topik pembicaraan berubah seketika. "Haduh.. Saki memang suka sekali mengganti topik pembicaraan di tengah-tengah," Gerutu Hiro dalam hati.
"Kamu dah belajar?" Tanya Saki.
"U--Udahlah,"
"Ooh.., gitu, yaudah, aku hanya ingin mengingatkan. Jangan sampai kau lupa dengan tujuanmu sebenarnya di Universitas ini," Lanjut Saki.
"Mana mungkin aku lupa,"
...
Walaupun Hiro fokus pada sepakbola, namun dia juga tidak melupakan tujuan sebenarnya di Universitas ini. Hiro merupakan mahasiswa pintar dan berprestasi. Namun hanya sedikit yang mengakuinya.
...
"Ya udah, aku pulang ke kamarku ya, sampai besok," Saki pamit pulang ke kamar asramanya.
"Ya, terimakasih sudah mampir,"
"Sama-sama," Sahut Saki.
Ckleek...
Pintu sudah tertutup. Saki sudah kembali ke kamarnya.
"Saki..Saki.., hanya ingin mengingatkanku untuk belajar saja pakai acara basa-basi dahulu," Gumam Hiro sambil membersihkan gelas-gelas sisa minum bersama Saki barusan.
Sebenarnya tadi bukan hanya sekedar basa-basi. Saki memang suka ketika menghabiskan waktu bersama dengan Hiro berdua.
...
...
...
Satu bulan kemudian. Hiro mendapatkan nilai tertinggi di ujian akhir dan menempatkan dirinya sebagai jajaran mahasiswa terbaik Universitas Sapporo. Posisi Hiro lebih baik daripada Ryota maupun Saki di perolehan nilai. Namun Hiro tetap rendah hati.
...
"Nak.., kau mendapatkan nilai yang sangat bagus! Ayah bangga sekali!"
"Hehe, iya Ayah,"
Hiro dan Ayahnya berkomunikasi lewat telepon. Ayahnya tidak bisa hadir di upacara kelulusan hari ini karena suatu alasan.
"Ayah turut senang nak, uhuukk..! uhuukk..!" Suara Ayah Hiro sempat menghilang.
"Kenapa Ayah? Ayah sakit?"
"Ah, bukan, hanya tersedak,"
"Ooh, begitu,"
"Ya sudah, Ayah ingin kembali bekerja dulu ya, maaf tidak bisa menghadiri upacara kelulusanmu,"
"Tidak masalah ayah,"
"Jangan terlalu senang nak, perjalananmu masih panjang,"
tuuutt.. tuut.
...
Sambungan telepon sudah terputus. begitulah percakapan singkat itu terjadi.
Hiro sebenarnya sangat ingin Ayahnya hadir dana melihatnya di wisuda secara langsung. Namun apa daya, Ayahnya tidak bisa datang karena sedang mengantar paket.
Hampir setiap mahasiswa yang di wisuda, anggota keluarga mereka pasti ada yang menyempatkan untuk datang. Seorang anak memeluk ibunya, seorang perempuan memeluk Kakek dan Ayahnya. Sementara Hiro hanya berdiri memegang topi Toganya di saat yang lainnya sudah melemparkan topi-topi mereka ke atas langit.
Hari ini adalah hari yang spesial bagi Hiro karena saat wisudanya bersamaan dengan hari ulang tahunnya yang ke 21. Namun apa artinya untuk Hiro?
"Selamat atas kelulusannya!" Suara dari setiap individu dalam kerumunan mahasiswa dalam balutan warna hitam baju Toga.
Hiro, Ryota, dan rekan-rekan satu timnya di Klub sepakbola Universitas saling berkumpul untuk terakhir kalinya. Angkatan Hiro akan segera bubar dan akan diteruskan oleh generasi muda di Universitas. Hiro tidak akan melupakan setiap momen yang terjadi di Universitas.
"Terimakasih ya atas memori indahnya," Gumam Hiro kepada rekan-rekannya.
Walaupun sendiri, Hiro masih punya orang-orang yang menyayanginya.
...
Segera setelah itu, Hiro pun pergi meninggalkan upacara kelulusan sambil menenteng tasnya. Di genggamannya, sebuah pesan terlihat di layar kaca ponselnya. Terlihat kontak seseorang dengan nama 'Darwin Benjiro'.
Dalam notifikasi di ponsel itu, tertulis pesan dari Darwin kepada Hiro,
"Apakah kau sudah selesai dengan upacara kelulusanmu?"
"Sudah,"
"Baiklah kalau begitu, apakah kau sudah siap langsung datang ke kantorku di Akihabara?"
Hiro berpikir sejenak sebelum membalas pesan Darwin.
"..."
"Siap!"