The Dreamer

The Dreamer
Kontrak pertama



Di dalam gedung yang megah itu, suara orang-orang yang sedang bertukar kata menjadi lembaran uang selalu terdengar. Puluhan meja dan kursi berjejer rapi di setiap lantainya. Ribuan karyawan yang bekerja di depan layar komputer terlihat termangu. Ini adalah gedung kantor yang sangat sibuk.


Hiro dan Darwin naik menuju ke lantai 50 tempat ruangan milik Darwin berada. Selama berada di lift, Hiro disuguhkan dengan pemandangan Kota Akihabara yang indah terlihat di jendela gedung yang sudah seperti menjadi dindingnya.


"Tempat yang indah," Dalam hati Hiro.


...


Setelah sampai di lantai 50, Darwin dan Hiro pun langsung berjalan menuju ruangan pribadi Darwin. Di lantai ini tidak seramai lantai-lantai dibawahnya, hanya terdapat beberapa orang ada di sini.


"Silahkan masuk ke dalam," Ucap Darwin sembari mempersilakan Hiro masuk ke ruangannya.


Di sinilah Hiro dan Darwin akan membahas dan bernegosiasi tentang kontrak kerja sebagai seorang pesepakbola profesional di Akihabara FC. Ini akan menentukan langkah Hiro selanjutnya di timnya, Akihabara FC.


...


Di dalam ruangan yang luas itu, hanya terdapat Hiro dan Darwin. Terdengar suara angin dari luar berhembus menampar jendela gedung.


Darwin sedang merapikan beberapa berkas saat dia duduk di meja yang sama dengan Hiro, saling berseberangan.


Hiro sangat gugup, tangannya selalu berkeringat walaupun ruangan sudah cukup dingin. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.


...


Setelah merapikan berkas-berkasnya, Darwin kemudian melipat tangannya di atas meja dan berkata kepada Hiro, "Hiro, kita langsung saja ke intinya karena aku masih punya beberapa hal untuk dilakukan setelah ini,"


"B--Baiklah Darwin," Ucap Hiro. Matanya selalu menatap ke bawah.


Darwin yang melihat ekspresi wajah Hiro yang gugup spontan sedikit tertawa. "Haha, kenapa Hiro? tidak usah gugup. Kita mulai saja pelan-pelan ya,"


"I--Iya Darwin,"


...


Mereka berdua pun membahas tentang kontrak kerja dengan Akihabara FC. Selama pembahasan, Hiro hanya bisa mengiyakan semua yang dikatakan oleh Darwin. Hiro bahkan tidak bisa menawarkan kontrak yang diinginkannya. Semua yang dikatakan Darwin terus mengalir dan tertuang di atas kertas kontrak.


Gaji pokok, kesepakatan, lama kontrak, persyaratan kontrak, semuanya sudah diatur oleh Darwin dengan sangat baik. Tidak ada kesepakatan yang memberatkan sebelah pihak sehingga Hiro tidak perlu mengucapkan banyak kata.


Akhirnya, Kesepakatan dengan Darwin telah selesai. Banyak isi di dalam kontrak itu yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Hiro. Sebab, Hiro sedikit malu untuk mengutarakan pendapatnya kepada Darwin.


...


"Selamat Hiro, kau sudah resmi menjadi anggota pemain dari Akihabara FC." Ucap Darwin pada akhir kesepakatan.


Hiro dan Darwin pun saling bersalaman tanda kesepakatan telah tercapai.


"Baiklah Hiro, sesuai dengan kontrak mu dengan Akihabara FC, maka kau harus menunggu sampai lulus dari Universitas Sapporo dahulu sebelum kau bergabung dengan tim utama." Lanjut Darwin menjelaskan.


"Baiklah," Ucap Hiro.


Selesai negosiasi kontrak, Hiro pun langsung berjalan keluar ruangan menuju lift untuk kembali ke lantai dasar dan pulang ke Sapporo.


...


Di dalam lift, Hiro memandang keluar jendela gedung sambil melamun memikirkan isi kontrak yang telah disetujui olehnya. Kontak itu memiliki point-point utama sebagai berikut,


Point 1. Sebelum resmi menjadi pesepakbola profesional, Hiro harus lulus dari Universitas terlebih dahulu agar lebih fokus.


...


Itulah point-point penting dalam kontrak Hiro. Sebenarnya ada satu permintaan Hiro kepada Darwin, namun Darwin masih ragu-ragu. Permintaan itu adalah Hiro ingin Sahabatnya yaitu Ryota juga diikut sertakan dalam kontraknya, sehingga mereka dapat bermain bersama di tim yang sama.


Kata Darwin, dia akan mengajukan permintaan itu kepada pelatih Akihabara FC agar mau merekrut Ryota dan Hiro bersamaan. "Kalau begitu yang kau mau, nanti aku akan segera menghubungi pelatih tim dan merekomendasikan sahabatmu itu kepadanya juga," Ucap Darwin saat tadi membahas.


"Terimakasih Darwin!" Hiro berharap betul pelatih dari Akihabara FC mau mempertimbangkan untuk merekrut sahabatnya itu, sebab Hiro dan Ryota sudah berjanji akan selalu berjuang bersama-sama.


...


Untuk point kontrak yang kedua itu merupakan kebijakan khusus dari Darwin. Dia sedikit kasihan melihat kondisi ekonomi keluarga Hiro. Maka dari itu, Darwin memutuskan untuk tetap menggaji Hiro walaupun dia belum bermain dengan klubnya secara resmi.


Gaji bulanan Hiro yabg disepakati di kontrak adalah sebesar 100.000 Yen/bulan (Rp. 11,8 juta), tetapi walaupun sekarang Hiro masih belum bisa bermain untuk tim utama, maka dia harus menerima gaji sebesar 30% saja perbulannya.


...


Sebelumnya, Hiro sempat bertanya-tanya, siapa sebenarnya Darwin itu? kenapa pencari bakat sepertinya sampai mengurusi kontrak Hiro dengan Klubnya? Namun setelah perbincangan tadi, Hiro menjadi paham kenapa Darwin bisa mengatur semuanya. Itu karena Darwin merupakan pencari bakat pemain, sekaligus sebagai pemilik dari Klub Akihabara FC.


Benar, uang yang dimiliki Darwin tidak perlu ditanyakan lagi. Namun Darwin masih belajar dalam mengelola bisnis sepakbola sehingga dia harus memulai berinvestasi pada tim Liga 2 Jepang dibandingkan pada tim Liga Utama. Darwin takut jika dirinya belum paham dengan bisnis sepakbola. Maka dari itu dia memutuskan untuk memulai dari yang lebih mudah.


...


...


Semua bahasan tentang kontrak kerja membuat Hiro semakin pusing. Dia tidak menyangka akan serumit ini. Intinya, Hiro tidak akan bermain dengan Akihabara FC hingga dia lulus dari universitas. Namun dia tetap diberikan gaji sebesar 30% dari seharusnya.


Hiro juga menginginkan agar Ryota juga diberikan kesempatan untuk menjadi pemain pesepakbola profesional dan juga diberikan tawaran kontrak sama seperti Hiro.


...


...


Beberapa menit kemudian, Hiro pun sampai di lantai dasar gedung perusahaan Darwin setelah lama berada di dalam lift dari lantai 50.


"Huh sudah selesai, sepertinya aku tidak mendapatkan apapun di sini," Gumam Hiro di hati.


Hiro berjalan keluar gedung dan menunggu taksi yang lewat di lobi. "Taksi!" Teriak Hiro.


Sebuah taksi putih abu-abu merapat ke arah Hiro yang melambaikan tangannya. Hiro pun langsung masuk ke dalamnya dan memberikan tujuan kepada si sopir. "Ke stasiun," Ucap Hiro.


...


Saat ini, waktu masih pagi hari, pukul 10. Waktu Akhir pekan Hiro masih cukup panjang sebelum besok pagi harus kembali menimba ilmu dikampusnya.


Tidak ada yang dilakukan Hiro ketika akhir pekan seperti ini. Ryota masih berpesta merayakan gelar juara turnamen UFF entah sampai kapan, Sementara kekasihnya yaitu Saki, sedang mengerjakan projek di asramanya dan tidak bisa di ganggu.


"Apa yang harus kulakukan untuk mengisi akhir pekanku ini?" Pikir Hiro.


"Oh iya..!" Hiro tersentak menyadari bahwa ada yang bisa dilakukannya di sisa hari.


Ketika sudah dalam perjalanan kereta kembali ke Kota Sapporo, Hiro memutuskan untuk pergi ke rumahnya setelah ini untuk bertemu dengan Ayahnya seperti biasanya. Sekalian juga Hiro ingin membicarakan tentang kontrak pertamanya kepada sang ayah.


"Ayah pasti bangga denganku kan?"