The Dreamer

The Dreamer
Pesaing berat



Semangat dan tekad Hiro sudah terbentuk selama 4 bulan ini. Kemampuan Hiro juga terus di asah. Takashi selaku pelatih, sangat terkejut melihat kemampuan Hiro yang di atas rata-rata anak pada umumnya. Kesempatan terus datang. Hiro selalu bermain dengan baik setiap dia datang untuk latihan. Anak-anak seumurannya seketika langsung berkenalan dan menjadi teman Hiro.


Nama Hiro perlahan mulai dikenal seluruh kelompok usia di akademi, bahkan hingga ke kelompok usia 17-19 tahun, semuanya membicarakan tentang Hiro. Banyak dari mereka yang kagum dengan Hiro. "Hey! kau tahu si anak baru itu! namanya Hiro! dia bermain sangat bagus dan melewati lawan dengan mudah,"


Namun ada juga yang tidak menyukai si anak baru ini. "Huuhh.., Hiro lagi Hiro lagi. Sudah 56 kali aku mendengar namanya hari ini!" Itulah Daichi Furuoka, alias Daichi. Dia 3 tahun lebih tua dari Hiro dan berasal dari kelompok usia 15-16 tahun. "Sebenarnya siapa dia?!" Sungut Daichi.


Sebelum kedatangan Hiro dan Ryota. Daichi merupakan anak emas dari Akademi Zekka. Posisinya sama seperti Hiro, yaitu sebagai penyerang. Pemain 15 tahun dengan postur tinggi besar itu sudah 4 tahun menimba ilmu di Akademi, dan dari 4 tahun itu dia sudah mencatatkan 319 gol. Walaupun hanya gol untuk latihan, tapi jumlah itu sangat besar. Sebagai perbandingan, pencetak gol terbanyak setelah Daichi, baru mengoleksi 175 gol. Belum ada yang bisa menyaingi ketajaman Daichi di Akademi. Kabarnya, Daichi sudah diminati oleh banyak klub sepakbola besar di Jepang yang ingin merekrutnya setelah dia lulus dari Akademi.


Namun setelah 4 tahun tanpa pesaing, tahun ini Daichi bisa saja mendapatkan saingan berat dari anak yang lebih muda darinya. Sejauh ini, Hiro sudah mencetak 54 gol hanya dalam beberapa bulan. Tentu jika Hiro tetap konsisten, bukan tidak mungkin rekor milik Daichi akan segera tersalip.


"Hiro..," Desis Daichi. "Sebaiknya aku harus mewaspadainya." Daichi Furuoka, menemukan pesaing berat.


...


Hari ini, adalah hari dimana Takeshi akan melakukan seleksi pemain untuk mewakili kelompok usia 12-14 tahun di turnamen Akademi Zekka. Zekka mengadakan turnamen mini antar kelompok usia setiap 6 bulan sekali, dan 2 bulan sebelumnya, setiap kelompok usia harus segera melakukan seleksi pemain yang akan mewakili.


"Huh.., nggak terasa udah empat bulan di sini..," Ucap Hiro dengan lirih. Di tangannya memegang sebotol air yang hampir habis. Keringat selalu menetes dari dagunya.


Hiro sedang berlatih rutin di Akademi. Bersama dengan Ryota. Mereka berdua selalu bersama-sama sepanjang waktu.


"Hahaha, tapi kamu betah kan Hiro?" Tanya Ryota yang duduk di sampingnya.


"Iya, di sini nyaman banget, hehe,"


"Iya dong..,, siapa dulu yang daftarin?? hehe," Canda Ryota.


Saat ini mereka sedang istirahat. Setelah ini, mereka akan menjalani sesi latihan terakhir sebelum pulang sebelum petang.


PRIIIT!!


"Istirahat selesai!" Suara Takashi nyaring terdengar.


"Eh, itu dah di panggil lagi. Ayo Ryo! kembali ke lapangan!" Ajak Hiro setelah mendengar peluit.


Setelah sampai di lapangan, Takashi memberikan latihan berupa simulasi Pertandingan. Hiro tergabung dalam tim A, sedangkan Ryota di tim B. Tim A menang 5-2 atas Tim B. Hiro mencetak 3 gol alias Hattrick di pertandingan itu. Padahal tim B sudah memiliki Ryota yang merupakan pemain bertahan yang cukup tangguh di kelompok usia 12-14


Selesai Pertandingan itu. Takashi meminta semua anak-anak untuk berkumpul di dekatnya. Dia ingin membicarakan tentang seleksi yang akan dilakukan merujuk pada pertandingan barusan.


Takashi membuka catatan miliknya dan mulai membacakan nama-nama yang akan mewakili kelompok usia 12-14 di turnamen Zekka. "Yang akan mewakili kita adalah--,"


...


...


Nama-nama pemain yang mewakili sudah disebutkan oleh Takashi. Karena waktu sudah habis, latihan hari ini pun dicukupkan.


"Baiklah, untuk nama-nama yang saya sebutkan tadi, mohon untuk meningkatkan porsi latihan dan selalu menjaga fisik agar tetap bugar," Ucap Takashi saat penutupan latihan hari ini.


"Baik pelatih!" teriak anak-anak.


Takashi pun membubarkan latihan dan seluruh anak dark kelompok usia 12-14 mulai pulang ke rumah masing-masing.


...


"Wuuhuu! kita akhirnya terpilih Hiro! aku tidak percaya!" Ryota sangat senang dirinya juga terpilih sebagai salah satu pemain dari kelompok usia 12-14 yang akan mengikuti turnamen mini Zekka Football.


"Jangan terlalu senang. Kau ini di pilih pelatih karena tidak ada pemain lain yang bisa menjadi pemain bertahan selain kamu,"


"Ahh.., tidak mungkin.., aku kan memang bermain bagus. Bayangkan saja jika saat pertandingan tadi aku tidak bersama dengan tim B, mungkin mereka akan kalah 10-2! beruntung ada aku, jadinya hanya kalah 5-2," Ryota melakukan pembelaan terhadap keputusan pelatih yang memilihnya ikut turnamen.


"Hihi, iya-iya kamu emang main bagus kok. Kalo kau menjadi pemain bertahan saat turnamen, pasti kelompok usia 12-14 akan menjadi juaranya, hahaha!" Hiro tertawa.


"Hei! apa kau tidak tahu?" Tiba-tiba Ryota memotong ucapan Hiro.


"Tidak tahu apa?"


"Turnamen ini bukan sembarang turnamen!" Mata Ryota melotot. "Kata Ayahku, Zekka Football sudah bekerjasama dengan klub-klub sepakbola besar untuk menjadi pemasok pemain muda mereka!"


"Pemasok pemain muda?"


"Iya! kau tahu Daichi? dia adalah salah satu contohnya!"


"Siapa Daichi?"


Ryota menepuk jidatnya. "Ya ampun.., Daichi itu pemain terkenal di Akademi. Dia juga sudah diminati oleh klub-klub sepakbola besar di Jepang!"


"Hah? bagaimana bisa?"


"Itulah sebabnya. Turnamen ini sering dihadiri oleh pelatih-pelatih sepakbola yang memantau perkembangan anak-anak di Akademi Zekka! Jika ada yang menonjol, bukan tidak mungkin akan diminati klub besar!"


"Benarkah!" Mata Hiro terbelalak.


"Iya! makanya kau juga harus bisa!" Ryota menyemangati.


"Baiklah!"


"Eits! tapi kayaknya gak akan mudah Hiro! Karena beberapa tahun terakhir ini, katanya setiap kelompok usia yang diwakili oleh Daichi pasti juara Turnamen! Tahun ini banyak banget orang yang percaya kalo kelompok usia 15-16 bakal juara mudah karena ada Daichi!"


"Hmm.., gitu ya..? gausah khawatir. Kelompok usia 12-14 kan ada aku. Aku pasti akan berhadapan dengan Daichi seandainya bertemu di final. Hahaha!"


"Mulai sombong ya Hiro..,"


"Eh..Eee.., nggak lah, aku hanya bercanda, hehe,"


"Terserah kau, yang penting aku sudah mengingatkan." Ucap Ryota.


...


Pada hari itu, Hiro terpilih dalam turnamen pertama yang akan diikutinya. Walaupun bukan turnamen resmi, namun ini bisa jadi kesempatan agar Hiro bisa menarik perhatian klub-klub sepakbola profesional.