The Dreamer

The Dreamer
Pesan di penghujung hari



"Takehiro Miyoko, anda telah kami panggil untuk pertandingan persahabatan melawan Hongkong dan Indonesia bulan September ini.


Kami mohon maaf atas panggilan yang mendadak ini. Pemanggilanmu ini berdasarkan karena pemain inti yang juga berposisi sama sepertimu, Matsuoka, sedang cedera, sehingga kami memerlukanmu untuk menambah kedalaman skuat kita.


Kami mohon setelah kau menerima pesan ini, balas secepatnya. Kami memohon agar kau menerima panggilan ini. Seluruh pemain akan berkumpul bersama pada tanggal 4 September di Yokohama. Sampai jumpa di sana."


...


...


Hiro menatap layar ponselnya dengan serius. Dia masih mencerna setiap kata yang ada di dalam pesan itu.


"A.. Aku dipanggil?" Dalam hati Hiro. Tentu saja Hiro sangat senang dengan kesempatan ini.


Walaupun bisa dibilang sebagai sebuah keberuntungan karena salah satu pemain yang biasanya mengisi posisi itu di timnas mendadak cedera, sehingga pelatih harus memutar otak dengan memanggil Hiro.


Dengan cepat, Hiro segera membalas pesan yang baru saja dia dapat dari Federasi sepak bola Jepang tersebut.


'Siap! Dengan senang hati aku akan datang.' Begitu balasan Hiro melalui pesan singkat.


Setelah membalas pesan tersebut, Hiro pun segera mencari-cari tiket pesawat ke Jepang diponselnya. Setelah beberapa lama mencari akhirnya Hiro mendapatkan tiket untuk satu orang dengan harga cukup mahal karena dia tidak mencari tiketnya jauh-jauh hari.


Setelah selesai mencari tiket, Hiro pun menutup ponselnya dan menaruhnya kembali di meja. Hiro tidak bisa menyembunyikan senyumnya malam itu. Hiro melirik ke arah Saki yang sudah tertidur pulas. Hiro harus menunggu sampai esok hari jika ia ingin memberitahu Saki dirinya telah kembali di panggil timnas.


...


Hiro kembali menarik selimutnya.


Hari ini memang membuat emosi Hiro naik turun. Dia masih ingat ketika siang hari tadi masih yakin bahwa Yamamoto pasti akan memanggilnya ke timnas. Namun ketika sore hari tiba, dirinya mulai pesimis. Ketika malam, Hiro benar-benar melupakan soal pemanggilan timnas. Sekarang, baru saja ketika ingin tidur, Hiro malah mendapatkan panggilan timnas karena alasan yang tidak diduga.


Walaupun panggilan ini adalah keberuntungan bagi Hiro, dia pasti akan membuktikan bahwa tim pelatih tidak akan salah orang ketika mereka memanggilnya ke timnas.


...


...


03 September


...


🍃


Hari ini, Hiro akan berangkat ke Jepang untuk bergabung dengan skuat timnas besok. Lagi-lagi Saki tidak akan ikut menyertai Hiro ke Jepang. Namun Saki begitu senang ketika mendapatkan kabar pagi ini jika Hiro mendapatkan panggilan untuk bergabung dengan timnas.


...


"Kapan kau akan berangkat ke bandara?" Tanya Saki sambil mengunyah roti panggangnya.


"Oh, nanti jam sembilan," Jawab Hiro yang masih memasukkan barang-barang ke tasnya.


"Di sana hati-hati ya sayang. Maaf aku nggak bisa ikut. Kapan-kapan deh, hehe."


Hiro yang mendengarnya pun tersenyum, "Halah, tidak usah minta maaf. Justru aku yang harus minta maaf karena ninggalin kamu sendirian di sini."


Hati Saki tersentuh. Dia meninggalkan meja makan dan menghampiri Hiro yang masih memasukkan beberapa barang miliknya ke koper yang dia letakkan di tengah ruang tamu. "Hehe, emang gini nih kalo jadi pacarnya pemain bola. Apalagi kalo pemain hebat kayak kamu, pasti dibutuhin klub sama negara."


Hiro tertawa. "Bisa aja kamu, "


Saki pun tertawa.


...


Hiro kemudian menutup kopernya ketika dia memasukkan barang terakhir kedalamnya. "Saki..," Hiro menghela napasnya. ".. Kita sudah cukup lama di Belanda kan?" Pertanyaan ini keluar begitu saja dari mulut Hiro.


...


Ruang kosong telah lama menempati hati Hiro. Selama ini dirinya tidak pernah merasakan peran seorang Ibu di kehidupannya. Tidak ada wanita yang dapat membuat Hiro merasa dirinya spesial. Namun beberapa bulan terakhir ini, warna-warna baru mulai bermunculan di kehidupan Hiro.


...


"Iya," Jawab Saki. "Kenapa? melupakan sesuatu?"


"Tidak.., Hanya saja aku penasaran, apakah hubungan kita akan terus seperti ini?"


"Maksudmu?"


Lagi-lagi Hiro menghela napasnya. "Huft.., Aku cuman ngerasa kalo selama ini kita terlalu senang dengan status pacar seperti ini. Iya kan?"


...


Sejak kehadiran Saki di hidupnya, Hiro tidak pernah menyadari bahwa dia adalah seorang wanita yang cukup pantas untuk menjadi 'pengganti' sosok Ibu untuknya.


"Kita sudah tinggal bersama dalam satu rumah. Kau juga selalu memberikan apa yang aku butuhkan di sini. Kau selalu ada ketika aku butuh seseorang disisiku. Aku hanya.. aku hanya merasa--," Hiro menghentikan ucapannya sejenak sebelum melanjutkan, "--aku hanya merasa jika hubungan kita seharusnya lebih dari ini."


...


Saki tampak terkejut dengan ucapan Hiro. Mereka memang sudah hampir dua tahun berpacaran. Kini mereka bahkan sudah hidup mandiri di luar negeri. Tentu saja dengan status pacaran, rasanya semua ini bukanlah hal yang seharusnya terjadi.


...


"Hiro..," Ucap Saki. Tangannya menyentuh tangan Hiro. "Jadi.. maksudmu kau mengajakku untuk menikah?" Wajah Saki pun menyeringai. Dirinya sudah paham maksud Hiro.


Hiro tersenyum. "Iya, bagaimana menurutmu? Lagi pula.., pilihan ini adalah yang terbaik kan? Ditambah, Ibumu juga jadi tidak perlu bertanya-tanya lagi tentang hubungan kita."


"Hihi, Iya," Saki lantas memeluk Hiro dengan erat. "Terimakasih Hiro, kau sudah lebih dulu menanyakan tentang hal itu daripada diriku."


Merasakan tubuh Saki yang erat memeluk tubuhnya, Hiro pun membalas pelukan Saki. Tangannya membelai rambut panjang Saki dari belakang.


...


Hiro sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Walaupun dahulu dirinya sempat tidak menyukai Saki karena selalu mengganggunya ketika masih kuliah, tapi sekarang lihat, justru Hiro lah orang yang pertama ingin meminta Saki menjadi orang yang akan menemaninya sepanjang hidup.


Berawal dari sebuah taruhan pertandingan ketika masih kuliah dulu. Sebab taruhan itu pun Hiro berpacaran dengan Saki, dan sekarang berakhir dengan berada satu rumah dengannya.


...


"Ya sudah, sekarang sudah jam sembilan. Taksi online yang ku pesan sudah datang. Aku sebaiknya segera pergi." Ucap Hiro. "Nanti kita akan bahas hal ini lebih lanjut setelah aku pulang dari Jepang ya."


Saki mengangguk. Hiro pun berpamitan dengan Saki sambil membawa kopernya keluar dari rumah.


"Ya sudah. Hati-hati di jalan ya, besok ketika pertandingan, aku akan melihatmu bermain," Saki melemparkan senyumannya kepada Hiro sebelum dia berangkat menuju bandara.


...


"Berdoa saja aku diberikan kesempatan bermain nanti, haha." Canda Hiro sesaat setelah dia masuk ke taksi.


"Titip salamku untuk Ayahmu ya!"


Hiro mengangguk dan mengacungkan jempolnya keluar jendela mobil.


...


...


Hiro pun memulai perjalanannya ke Jepang. 10 jam berada di udara, dan melintasi benua telah menanti Hiro.


...


...


...


...


Tokyo, Jepang


04 September, 02.08 waktu setempat.


...


Hiro masih lelah ketika ia turun dari pesawat. badannya pegal-pegal seharian duduk.


Hiro memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu di dalam Bandara Haneda, Tokyo sebelum lanjut pergi ke Yokohama.


Hari ini Hiro memang tidak akan sempat jika ke Sapporo terlebih dahulu untuk bertemu dengan Ayahnya ataupun Ryota. Hiro hanya bisa menghubungi mereka melalui telepon.


"Halo Ayah, ini Hiro."


"Oh, Hiro toh, apa kabar nak..? Baik-baik saja kan?"


"Iya aku baik-baik saja. Sekarang aku ada di Tokyo, tapi sepertinya aku tidak bisa sempat ke Sapporo, Yah. Maaf ya,"


"Ahh, pasti kamu dipanggil timnas ya?"


"Iya. Aku hanya bisa titip salamku dan Saki untuk Ayah di sana. Semoga Ayah baik-baik saja."


"Iya, terimakasih ya nak. Semoga besok kau juga diberikan penampilan yang bagus saat bermain."


"Baik Yah, terimakasih. Tapi nanti setelah hari pertandingan jika ada waktu, aku ingin bertemu dengan Ayah. ingin ngobrol-ngobrol nih,"


"Oh, iya-iya tidak masalah. Datanglah ke sini kapan saja."


...


Setelah selesai menelpon Ayahnya, Hiro mencoba untuk menelpon Ryota, namun terus tidak ada sambungan seperti berada dalam mode pesawat.


Setelah mencoba beberapa kali pun tetap tidak bisa. Hiro hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali menyimpan ponselnya di dalam tas.


...


Beberapa saat kemudian, rasa lelah di kaki dan punggung Hiro mulai menghilang. Dia kembali berjalan kaki menuju stasiun kereta untuk menuju ke Yokohama.


...


30 menit kemudian, Hiro pun sampai di Yokohama. Di sana, ia kembali mendapatkan pesan dari salah seorang anggota staf pelatih timnas yang memiliki nomornya. Hiro diminta agar segera datang ke tempat latihan pukul enam pagi.


Saat Hiro melihat jam, sekarang masih jam 04.21. "Masih lama ternyata. Enaknya ngapain dulu ya," Gumam Hiro.


Hiro pun mencoba berjalan-jalan keliling Yokohama sebentar sambil mencari sarapan. Namun jam segini masih banyak yang tutup, hanya ada satu warung ramen yang buka.


...


...


05.15


Hiro sudah sampai ke tempat pelatihan timnas. Hiro sengaja datang sangat awal. Dia ingin melakukan latihan sendiri terlebih dahulu.


...


Hiro terlebih dahulu meletakkan barang-barangnya di asrama pemain yang tidak jauh dari tempat latihan.


Di tempat latihan, benar-benar masih sepi, hanya ada segelintir orang yang sedang bersih-bersih.


"Sepertinya aku terlalu awal," Gumam Hiro.


Saat bersiap ingin memasuki lapangan. Hiro di panggil oleh seseorang di belakangnya. "Hiroo!"


Hiro menoleh. Dirinya terkejut melihat siapa yang memanggilnya. "Ryo?!"


Hiro melihat bahwa Ryota juga memakai jersey latihan timnas, sama sepertinya, tandanya Ryota juga mendapatkan panggilan dari timnas. "Kau juga mendapatkan panggilan timnas Ryo? Wah, akhirnya...,"


"Iya, aku sangat bersyukur."


"Hehe, aku tidak tahu jika kau mendapatkan panggilan. Aku tidak melihat postingan dari Federasi, siapa saja yang di panggil."


"Kalau aku sudah tahu jika kau di panggil. Karena begitu aku mendapatkan panggilan timnas, aku langsung membuka sosial media dan melihat siapa saja yang di panggil, dan aku melihat namamu. Maka dari itu aku sengaja datang awal ke sini, karena sudah menduga kau juga pasti akan datang awal." Pungkas Ryota.


"Haha, senang bisa kembali bermain satu tim denganmu lagi Ryo," Ucap Hiro sambil merangkulkan tangannya ke pundak Ryota.


"Iya, sama, aku juga tidak menyangka hari ini akan datang lagi."


...


Saat Hiro dan Ryota sedang bercakap-cakap di pinggir lapangan, tiba-tiba mereka didatangi oleh seorang yang memakai baju staf kepelatihan.


"Yang sudah datang boleh langsung masuk ke lapangan. Hajime Yamamoto akan datang sebentar lagi." Ucap salah seorang staf pelatih yang sudah datang di tempat latihan.


"Baik Pak," Ujar Hiro sambil membungkukkan badannya. "Ayo Ryo, kita pemanasan dulu sambil menunggu yang lain,"


...


Hiro dan Ryota pun masuk ke dalam lapangan latihan. melakukan pemanasan secara mandiri sambil menunggu yang lain datang.


Ada beberapa pemain yang juga sudah hadir di lapangan namun Hiro belum pernah melihat mereka. Rasa-rasanya kebanyakan pemain yang dipanggil untuk pertandingan persahabatan kali ini adalah pemain-pemain yang belum pernah di panggil seperti layaknya Ryota.


"Sepertinya, yang akan bermain besok adalah tim B timnas Jepang ya? Hahaha." Canda Hiro disambut dengan senyuman oleh Ryota.


"Iya, tidak bisa dipungkiri. Hajime memang suka bereksperimen dengan pemain. Mungkin kali ini dia ingin melihat pemain-pemain lain yang belum pernah dia panggil." Ujar Ryota.


"Tapi kenapa dia memanggilku? kenapa tidak lainnya saja jika ingin bereksperimen?"


"Mungkin Hajime masih ingin melihat kemampuanmu lebih banyak." Ucap Ryota.


"Mungkin..,"


...


Setelah melakukan pemanasan, Hiro melihat sekelilingnya dan melihat ada beberapa pemain yang sebelumnya pernah dia lihat bermain untuk timnas. Bahkan ada pemain yang sudah lama tidak di panggil, kini kembali di panggil.


"Sepertinya pertandingan persahabatan kali ini benar-benar hanya untuk coba-coba," Batin Hiro sambil sedikit tersenyum.


Sejauh ini, Hiro hanya melihat tiga pemain yang sama ketika pertandingan persahabatan melawan Honduras dan Chile beberapa waktu lalu. Satu hal yang pasti, tidak ada sosok Daichi kali ini.


Tidak hanya Daichi, pemain-pemain lain dengan nama besar juga tidak ada yang di panggil.


Dengan begini, Hiro menjadi merasa bahwa kemampuannya masih diragukan oleh orang lain. Hajime Yamamoto menilai jika Hiro harus membuktikan lebih kepadanya. Itulah alasannya mengapa Hiro mendapatkan panggilan timnas lagi kali ini.