
Sudah satu malam dilewati. Hiro masih memiliki senyum yang menggantung di bibirnya ketika sedang menilik potongan-potongan gambar yang tersimpan di dalam kepalanya tentang kejadian kemarin.
"Kemarin itu.., hari paling bahagia dalam hidupku..," Ucap Hiro dalam hati.
Awal hari ini, Hiro masih belum siap untuk meninggalkan ranjangnya. Dia masih belum bisa meninggalkan hari kemarin begitu saja.
...
Turnamen UFF telah usai, di mana tim dari Universitas Sapporo yang diperkuat Hiro berhasil menjadi juara.
"Sejauh ini.., aku berharap.., setiap hari dalam hidupku akan selalu bahagia,"
...
Banyak hal yang terjadi kepada Hiro kemarin. Mulai dari kejutan pada Turnamen UFF, kejelasan tentang hubungannya dengan Izumi, hingga di penghujung hari datanglah Darwin, seorang pencari bakat sekaligus agen pemain yang menawarkan kontrak sebagai pemain sepakbola profesional kepada Hiro.
"..Akihabara FC sangat membutuhkan tenagamu!"
Itu adalah penggalan kalimat terakhir dari Darwin ketika dia bertemu pertama kali dengan Hiro semalam.
Hiro sudah mengatakan kepada Darwin jika dia akan memutuskan tawaran Darwin dalam dua atau tiga hari ini. Namun sebenarnya, Hiro membutuhkan lebih banyak waktu untuk memikirkan hal ini.
...
Suara burung berkicau di pagi hari, menemani khayalan Hiro yang masih berkeliaran ke mana-mana. Karena di kamarnya, Hiro bisa menjadi apapun yang dia mau.
Suasana terasa menenangkan dan sunyi. Di gedung asrama mahasiswa ini, memang selalu terasa demikian bagi Hiro. Hiro tidak memiliki teman satu kamar. Bahkan Ryota pun berada di kamar yang berbeda dengannya.
Biasanya Ryota baru bangun tidur ketika dia akan berangkat ke kampus pada siang hari bersama Hiro. Oleh karena itu, pagu hari selalu menjadi pilihan bagi Hiro untuk melakukan hal yang disukainya, yaitu memikirkan masa depannya.
...
Saat sedang asyik berbaring di kasurnya sambil memainkan kakinya, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu kamar asrama Hiro.
tok..tok..tok
...
Hiro pun langsung bangun dan berjalan menuju pintunya. "Tunggu sebentar ya..,"
Hiro tidak tahu siapa yang mengetuk pintu kamarnya sepagi ini di asrama. Biasanya belum ada seorangpun di asrama yang bangun sepagi Hiro. "Apakah ini adalah Pak Taniguchi?" Pikir Hiro.
Namun saat Hiro membuka pintunya, ternyata bukan Pak Taniguchi, melainkan..
"Halo Hiro..!"
Suara seorang perempuan yang tidak pernah kehabisan semangatnya, Izumi. Dialah yang mengetuk pintu Hiro.
"Izumi..?" Hiro terkejut. "Ada perlu apa? kok kamu tahu kamarku?"
"Ssst.., udah di bilang aku itu tahu segalanya tentang kamu Hiro. Lokasi kamar kamu di asrama juga aku pasti tahu," Jelas Izumi.
"Hah?"
"Oh iya, sama satu lagi.., jangan panggil aku Izumi lagi.., panggil aku Saki," Kata Saki.
"Saki? kenapa jadi Saki?"
"Kan kita udah resmi pacaran.., hehe. Aku mau kamu panggil aku pake nama belakangku," Ucap Saki.
Hiro menghela nafas. "Baiklah, aku akan memanggilmu saki mulai sekarang,"
"Hihihi," Saki senang ketika dia dipanggil dengan nama belakangnya.
"Yaudah Saki, kalo mau ngobrol masuk dulu," Hiro pun mempersilakan Saki untuk masuk ke kamarnya.
Setelah Saki duduk di kursi kecil di dekat kasur Hiro, dia mulai melihat-lihat koleksi foto dan poster dari beberapa pesepakbola terkenal di dunia. Mata Saki langsung berbinar.
Ketika dia melihat salah satu foto pesepakbola terkenal, Saki langsung mengambilnya. "Wah! ini ada foto Naymer! aku penggemar berat dia!"
Mata Saki masih melihat sekeliling. Dia juga berjalan ke sudut kamar Hiro ketika melihat poster pemain bola lainnya.
"Toni Kruus!"
"Lionel Messa!"
"Cristiano Reynaldo!"
"Luis Soares!"
Dan masih banyak lagi yang Saki kenali.
...
Melihat Saki yang begitu mengenal nama-nama besar dalam sepakbola, Hiro menjadi penasaran dengan apa yang Saki sebenarnya ingin tahu.
"Saki..?" Tanya Hiro kepada Saki yang sedang melihat poster-poster. "Kamu suka sepakbola?"
Saki langsung menoleh dengan cepat. "Iya!" Jawab Saki bersemangat.
"O--Oh," Hiro sedikit kagum dengan Saki.
Saat ini, wanita seumurannya Saki, biasanya masih fokus pada sekolah dan menikmati masa muda dengan romansa. Namun Saki berbeda. Dia menunjukkan bahwa dia tidak melakukan semua ini tanpa alasan. Saki memanglah pecinta sepakbola, sama seperti Hiro.
Mendengar itu, Saki langsung memalingkan matanya dari poster-poster dan foto pemain sepakbola belakangnya, dan mulai mendekati Hiro.
Hiro yang sedang duduk di lantai, memiliki banyak dugaan ketika Saki juga memutuskan untuk ikut duduk di sampingnya.
Dengan suara lembut, Saki berbisik kepada Hiro. "Hiro.., gimana keputusanmu soal tawaran Darwin?"
"Huh?" Hiro tidak menyangka Saki akan bertanya seperti itu. "Oh.., tentang itu, aku belum tahu,"
"Belum tahu? kenapa begitu? ini kesempatanmu! ini adalah peluangmu bukan? sejak kecil ini adalah mimpimu!"
"Darimana kau tahu itu?" Hiro heran.
"Sudah kubilang aku tahu segalanya tentang kamu, hehe," Saki tertawa.
Hiro selalu menganggap jika selalu memperhatikan setiap gerak-gerik seseorang itu sebagai hal yang menakutkan. Tapi jika Saki yang melakukannya, rasanya Hiro baik-baik saja dengan hal itu.
...
Pada pagi itu, Hiro dan Saki melakukan pembicaraan tentang bagaimana seharusnya keputusan yang diambil oleh Hiro.
Mereka berdua berbicara hingga tak terasa waktu sudah semakin siang.
...
"Eh, sudah jam 10," Ujar Saki. "Satu jam lagi kelas akan dimulai. Sebaiknya aku harus kembali ke kamarku,"
"Oh, begitu, ya sudah, sampai nanti Saki," Ucap Hiro.
Sebenarnya masih ada yang ingin dikatakan Saki kepada Hiro. Namun Saki tidak sempat mengatakannya.
Sebelum keluar dari kamar Hiro, Saki mengucapkan sepatah kata yang dia harapkan dapat membantu Hiro menentukan keputusannya.
"Hiro.., aku akan senang jika kekasihku adalah seorang bintang sepakbola,"
Setelah mengucapkan itu, Saki pun langsung keluar dari kamar Hiro dan menutup pintunya.
...
...
Tubuh Hiro masih membeku, sekalipun rasa perhatian dari Saki telah mencoba untuk melelehkannya.
Hiro ingin berbicara dengan Ryota mengenai hal ini. Hiro membutuhkan seseorang yang sudah tahu betul bagaimana cara untuk membuat keputusan. Tapi sejak kemarin, Ryota belum terlihat. Ryota telah pesta minum-minum semalam suntuk hingga dia masih tertidur hingga saat ini akibat kelelahan.
"Kepada siapa aku harus mendapatkan saran terbaik?" Pikir Hiro.
Tidak ada lagi orang yang bisa untuk Hiro ajak bicara mengenai masalah pribadi selain Ryota ataupun Saki. Hiro sudah tidak lagi tahu siapa orang yang bisa mengerti perasaannya. Kecuali.., "Ayah..," Gumam Hiro.
Ya, Hiro masih memiliki Ayahnya.
...
Namun sayangnya, Hiro tidak bisa keluar dari asrama jika bukan akhir pekan. Maka dari itu, Hiro tidak bisa menemui Ayahnya secara langsung. Inilah yang membuat sejak awal Hiro masuk Universitas, Hiro jadi jarang bertemu dengan Ayahnya.
Pada akhirnya, Hiro hanya bisa menelepon Ayahnya dari asrama.
...
Hiro pun langsung mengambil telpon kabel yang berada di meja belajarnya. Dia sudah sedikit lagi ingin menekan nomor telepon rumahnya, berharap ayahnya menerima teleponnya.
"Semoga Ayah sedang di rumah," Gumam Hiro.
Namun ada sebuah kalimat yang terlintas di benak Hiro hingga dia menghentikan jari-jarinya saat sedang menekan tombol-tombol pada telepon.
Kalimat itu adalah, "Hiro.., aku akan senang jika kekasihku adalah seorang bintang sepakbola," Sebuah kalimat yang baru saja dikatakan oleh Saki sebelum dia pergi.
...
Entah apa yang terjadi pada pikiran Hiro saat ini. Hiro pun langsung mengambil kartu nama milik Darwin yang terselip di antara buku-buku pelajaran. Di kartu nama itu, terdapat nomor telepon Darwin.
Tanpa pikir panjang, Hiro langsung menghubungi nomor Darwin saat itu juga.
Tuut..tuut..tuut..
Saat sedang menunggu Darwin menjawab panggilannya, Hiro sempat membayangkan apa yang akan dikatakan Ayahnya jika dia benar-benar meminta sarannya.
"Jika aku meminta saran kepada Ayah, dia juga pasti akan langsung menyarankan untuk menelpon juga Darwin bukan?" Pikir Hiro. "Iya kan..?"
...
Hingga dalam khayalan yang terasa begitu nyata itu, tiba-tiba terdengar suara lain yang keluar dari telepon yang di genggam Hiro.
Setelah beberapa saat, Darwin pun menjawab panggilan telepon Hiro. "Halo..dengan Darwin Benjiro di sini.., ada yang bisa saya bantu?"
"Halo Darwin! ini-- Takehiro Miyoko. Yang kau temui semalam selepas Pertandingan final Turnamen UFF."
"Oh! Hiro, apa yang ingin kau katakan?"
...
"Begini Darwin..," Hiro terdiam beberapa saat. Tubuhnya seakan tidak bisa bergerak. Hingga akhirnya Hiro mengatakan, "Darwin.., aku memutuskan untuk menerima tawaranmu,"