
"Guaahhh..," Hiro mengusap keringatnya. Suasana pagi hari di Kota Akihabara terasa lebih panas daripada di Sapporo.
...
Di tempat Hiro berada saat ini, adalah tempat dimana ia dan rekan-rekannya sedang melakukan latihan tim secara rutin.
"Oper ke aku!!" Teriak Hiro bersemangat ketika latihan bersama Tim Akihabara FC.
Hiro berlari masuk ke kotak penalti dan menerima umpan silang dari rekannya dari sisi kiri pertahanan.
Hiro menanduk bola itu. DUUKK!!... Goll!!
...
...
Meskipun Hiro masih baru di tim ini, namun Hiro sudah menjadi poros kekuatan serangan tim yang baru. Playmaker 22 tahun itu kini mendapatkan nomor punggung 10. Sebuah nomor punggung yang sangat berat di tanggung oleh Hiro. Pemegang nomor punggung 10 di Akihabara FC sebelumnya kini sudah pergi ke klub lain yang lebih besar. Kini tanggung jawab itu telah berpindah di pundak Hiro.
...
Setelah 3 hari pertama sudah dilalui Hiro dan Ryota, mereka berdua masih sedikit mengalami permasalahan komunikasi dengan para pemain senior di tim. Hiro dan bahkan Ryota pun masih kesulitan untuk berbicara dengan sesama rekan mereka. Meski itu bukan masalah serius, situasi ini membuat Hiro dan Ryota sulit untuk mencari kesempatan untuk bermain di tempat utama. Di sisi lain, Mereka harus cepat karena beberapa minggu lagi Liga 2 Jepang akan segera dimulai. Target yang ditetapkan oleh Manajer tim pun sungguh berat, yaitu finish di peringkat 3 besar kelasemen akhir musim ini.
"Tiga besar? apakah pelatih yakin?"
"Sepertinya kita tidak akan bisa..,"
"Tidak turun ke Liga 3 saja sudah sangat baik untuk kita.."
Begitulah reaksi para pemain Akihabara FC ketika 'ditantang' pihak manajemen untuk bisa menjadi 3 besar. Ini juga sekaligus menjadi masalah terbesar bagi tim Akihabara FC, yaitu kurangnya rasa percaya diri. Karena alasan inilah yang membuat Hiro direkrut oleh pihak Akihabara FC. Mereka tahu bahwa Hiro adalah pemain yang tidak pernah menyerah. Mereka berharap agar semangat Hiro juga menular kepada rekan-rekan satu timnya.
Sebagai perbandingan, musim lalu Akihabara FC mengakhiri musimnya dengan berada di peringkat 13 dari 20 tim. peringkat 1-3 promosi (naik ke Liga 1) sedangkan peringkat 18-20 degradasi (turun ke Liga 3). Sekarang, Akihabara FC ditargetkan untuk menyelesaikan musim dengan finish di 3 besar.
...
Berbagai laga ujicoba telah dimainkan oleh tim Akihabara FC. Dari tim lemah hingga tim kuat, semua sudah mereka jajal. Dari segala hasil yang diperoleh, serta bagaimana cara main tim, ada satu hal yang disadari oleh pelatih Akihabara FC. "Tanpa Hiro.., Akihabara FC tidak akan bisa mengatur serangan dengan mulus," Gumam pelatih Akihabara FC, yaitu Seichi Gako, sering dipanggil Seichi. Pelatih berusia 65 tahun ini selalu melihat jika ada potensi yang begitu besar pada sosok Hiro setiap kali dia bermain bola di lapangan.
Namun, Semua yang dirasakan Hiro saat ini, begitu berbeda dengan yang dirasakan oleh sahabatnya. Ryota, alih-alih menjadi pemain penting di tim, dia justru tidak pernah diberikan kesempatan bermain oleh Seichi untuk unjuk gigi di lapangan. Posisi Ryota di pemain bertahan tergantikan oleh para pemain senior. Seichi masih belum yakin Ryota akan siap tepat waktu untuk Liga. Seichi lebih memilih untuk memakai bek tua 30+ tahun di skuadnya yang lebih berpengalaman.
...
Melihat Ryota yang kesulitan, Seichi pun memutuskan untuk melatih Ryota secara khusus dan pribadi atas saran dari Hiro. Hiro tidak ingin sahabatnya itu kehilangan percaya diri, makanya dia meminta Seichi untuk melatih Ryota secara khusus.
...
(3 Minggu sebelum Liga dimulai)
...
"Hey Ryo! tetap semangat ya! kesempatan itu pasti akan datang jika kau berusaha! percayalah!" Seichi memompa semangat Ryota.
"Iya! aku akan berusaha!" Tekad Ryota.
...
(2 Minggu sebelum Liga dimulai)
"Ryota.. Ryota.., berlatihnya dengan sungguh-sungguh!" Teriak Seichi.
"Aku sedang berusaha..," Ucap Ryota.
...
(1 Minggu sebelum Liga dimulai)
"Sebenarnya kau ini niat menjadi bek tidak? lompat saja tidak bisa!" Bentak Seichi.
"M--Maaf..," Desis Ryota.
"B--Baik pak,"
...
Sudah di latih secara khusus oleh pelatih, tetap saja Ryota seperti ini. Seichi mulai memalingkan wajahnya dari Ryota. Kini Ryota sudah kehilangan kepercayaan dirinya. Tinggal beberapa hari lagi Liga dimulai, namun dirinya masih saja terus berjalan di tempat, tidak ada perubahan terhadap kemampuannya. Di sisi lapangan latihan Akihabara FC yang lain, Ryota melihat Hiro yang sedang di berlatih dengan yang lain. Hiro terlihat menonjol dengan skill-nya di lapangan.
"Huuhh..,, Hiro memang Hebat. Wajar saja semua orang langsung takjub dengannya," Gumam Ryota sambil memandang.
Hiro memang pemain menjadi roh serangan tim. Walaupun masih muda, namun Hiro sudah dipandang seperti pemain senior, tidak seperti Ryota yang masih kesulitan berada di tim. Setidaknya, Ryota bisa merasakan bahagia ketika tahu bahwa sahabatnya telah berhasil sampai di sini, bahkan lebih baik dari dirinya.
🍃🍃🍃
...
...
(Ini adalah hari dimana pertandingan pertama Liga 2 Jepang dimulai)
Dan hari yang telah dinanti pun datang. Hari ini adalah pertandingan pertama dari 38 pertandingan yang harus dimainkan musim ini oleh tim Akihabara FC. Target 3 besar sudah menanti mereka di akhir musim. Namun itu sudah pasti bukan misi yang mudah, namun mereka tetap yakin.
...
Sebelum laga dimulai, Seichi memberikan ucapan semangat kepada 11 pemain terbaiknya untuk bertarung di lapangan.
"Anak-anakku, pernahkah kalian bermimpi..suatu hari kalian akan mengangkat piala di kedua tangan kalian?" Tanya Seichi kepada para pemain. Tentu saja para pemain tidak mengerti yang dimaksud.
Tanpa menunggu jawaban dari pemain, Seichi pun melanjutkan ucapannya, "Apakah kalian merasa senang ketika kalian bermimpi seperti itu?! apakah kalian akan tertawa bersama teman-teman dan menuangkan minuman pada gelas-gelas kosong kemudian bersulang bersama?"
Mata para pemain menjadi lebih berbinar. Mereka membayangkan bagaimana rasanya ketika berada di kondisi yang dikatakan oleh pelatih mereka. Mereka menjadi lebih percaya diri.
"Sudah pasti.."
"..akan sangat senang."
Dalam hati Hiro dan Ryota.
"Jika kalian berharap demikian..maka sematkan kata-kataku ini..!" Seichi memberikan jeda kepada pidatonya.
Seichi mengambil napas panjang dan kemudian berteriak sambil mengepalkan tangannya, "Hari itu akan tiba!" Teriaknya.
"Hari itu akan tiba!" Teriak pemain yang lain.
"HARI ITU AKAN TIBA!!" Hiro juga berteriak sambil merangkul Ryota yang mengenakan rompi pemain cadangan. "Ayo Ryo! katakan juga!!"
Ryota juga tersenyum dan mengatakan hal yang serupa. "hari itu..akan tiba..," Kalimat yang sama, pengucapan yang sama, namun memiliki makna yang berbeda.
...
Setelah itu, 11 pemain pilihan Seichi yang akan bertanding kali ini pun keluar dari ruangan pemain menuju lapangan pertandingan. Tampak Hiro yang sedang berjalan dengan gagah memasuki lapangan. Sementara Ryota hanya memperhatikannya dari bangku cadangan. Di sisi lain, ada Saki yang hadir di Stadion tanpa sepengetahuan Hiro. Dia hadir untuk memberikan semangat sekaligus melihat kekasihnya bermain bersama dengan klubnya untuk pertama kali di Liga.
"Semangat Hiro!" Gumam Saki dari kejauhan.
.
.
.
Secara tidak langsung, Hiro juga langsung ikut bersemangat. Dia sudah berada di tengah lapangan hijau, menanti peluit tanda pertandingan dimulai dari wasit ditiupkan. Hiro sudah tidak sabar karena inilah yang dia tunggu-tunggu selama ini.
...
PRRIIIITTT!!
Kick off! Peluit dibunyikan. Hiro pun menendang bola ke rekannya. "AYOOO!" Teriak Hiro bersemangat memulai pertandingan.