ROMEO & JULIET

ROMEO & JULIET
RJ-09



...❄️❄️❄️...


.......


.......


.......


Juliet tak henti-hentinya menatap marah kepada Romeo. Alasannya tentu saja karena pria itu sudah menunjukkan diri di depan kampus nya. Di hadapan banyak orang.


Bahkan memanggil nya dengan sebutan Wife. Astaga. Cepat atau lambat Juliet benar-benar akan dibuat gila oleh tingkah mengejutkan dari Romeo.


Rencana Juliet bahkan sudah gagal. Juliet yang berencana menyembunyikan siapa calon suaminya justru harus menghela nafas panjang saat pria itu sendiri lah yang memutuskan untuk menunjukkan diri di depan teman-teman kampusnya.


"Mata Lo gak sakit apa melotot gitu? gue tau sih gue ganteng, keren juga. Tapi gak usah gitu juga kali ngeliatin gue'nya." Romeo sengaja mengatakan itu karena sedikit risih dengan tatapan kesal Juliet.


Biasanya Romeo selalu di lihat dengan tatapan memuja dari para gadis. Dan ini pertama kalinya bagi Romeo di tatap dengan cara yang berbeda. Seperti Romeo bisa di telan seketika oleh gadis di depannya itu.


"Siapa yang nyuruh Lo ke kampus gue, hah?" suara ketus mulai meluncur satu persatu dari mulut Juliet, "Gue kan udah bilang gak usah datangin gue. Gak usah bikin janji apa-apa."


"Dan Lo gak perlu juga nunjukin diri Lo kaya tadi. Mau Lo apa sih. Lo mau bikin gue marah? belum puas Lo udah nyiksa hidup gue sama perjodohan kita? Sekarang Lo juga mau bikin ribet real life gue. Mau Lo apa sih Romeo?"


Juliet menutup mulutnya setelah semua unek-unek dihatinya di keluarkan sepenuhnya. Seraya menetralkan nafasnya yang naik turun karena rasa kesal Juliet masih enggan mengalihkan pandangannya dari Romeo.


"Oma Lo yang nelpon gue. Beliau udah bikin janji sama WO buat ngurusin pernikahan kita. Kenapa Lo jadi marah sama gue. Lo gak ada pelampiasan lain gitu selain ke gue. Rese banget sih Lo. Lo pikir hidup Gue juga gak ribet gara-gara Lo?" kesal Romeo yang sambil memfokuskan pandangannya ke depan.


Ia enggan untuk berdebat lebih panjang dengan Juliet. Gadis itu tidak akan mau mendengarkan penjelasan nya sedikit pun.


"Ya kan Lo bisa kasih tau gue. Lo bisa nelpon gue, jangan asal muncul terus bikin kehebohan kaya tadi. Lo emang sengaja kan? ngaku deh Lo! Emang Lo tipikal manusia semut." Juliet mendelik marah. Ia menyilang kedua tangannya dengan menunjukkan wajah masam kepada Romeo.


Mendengar kata-kata Juliet, Romeo pun mengambil ponselnya dan menyodorkan ponsel tersebut kepada Juliet;


Juliet mendengus, "Apaan?" katanya berucap kesal.


"Nomor ponsel Lo lah, apalagi?"


Juliet membuang wajah seketika, "Ih ogah. Buat apaan! Gak penting Lo tau nomor gue! Lo mau deket-deket sama gue? gak usah!" tolak Juliet seakan-akan Romeo adalah virus berbahaya.


Melihat tingkah Juliet Romeo semakin merasa heran. Ada apa dengan gadis di sebelah nya? "Katanya Lo pinter. Tapi kok Gue ragu ya..?" Romeo meletakan kembali ponselnya sambil berdecak heran.


"Maksud Lo apaan?" ujar Juliet tidak terima. Ia tidak suka orang lain meragukan kepintaran nya. Karena ia memang orang yang demikian.


Juliet adalah yang terpintar di angkatan nya. Lalu sekarang ada seorang pria yang berani meremehkan kecerdasan seorang Juliet, benar-benar tidak bisa di terima.


"Lo barusan marah karena gue datang tanpa nelpon Lo duluan kan?" Juliet mengangguk.


"Sekarang gue minta nomor Lo biar nanti gue bisa ngasih kabar duluan Lo malah nolak. Lah gue salahnya dimana? gak ngerti gue sama orang kaya Lo! Lo kenapa sih? kebanyakan makan Zat kimia atau gimana?" tiba-tiba saja Romeo turut merasa kesal atas sikap Juliet padanya. Gadis itu selalu saja berprasangka buruk pada apa yang ia lakukan. Apakah seburuk itu dirinya dimata Juliet?


Jika bukan karena Oma Dena yang menghubunginya dan meminta nya untuk menjemput Juliet, Romeo pun enggan untuk pergi dan menunjukkan dirinya pada gadis yang di anggap nya terlalu bar-bar tersebut.


Dan benar saja. Bukan nya berterima kasih atas perbuatannya, Juliet justru melemparkan seluruh rasa kesal dan kemarahan pada dirinya. Entah apa yang di bayangkan papa nya saat membayangkan Juliet adalah wanita yang tepat untuk dijadikan calon istri. Benar-benar konyol.


Juliet mendesis dan sedikit salah tingkah karena sikap nya pada Romeo, "Bilang dong biar gue tau." Juliet mengambil ponsel Romeo dan memasukkan nomor nya di sana.


"Makanya apa-apa jangan langsung marah. Lo pikir gue mau jemput Lo kalau bukan karena Oma Dena yang nyuruh." kini giliran Romeo yang bergumam kesal.


Setelah perdebatan singkat itu, sepanjang perjalan keduanya kembali hening. Baik Romeo ataupun Juliet terlalu enggan untuk memulai percakapan lain. Karena keduanya sama-sama menyadari jika mereka kembali buka suara yang ada keduanya akan kembali berselisih..


...❄️❄️❄️...


"Apaan sih Lo pegang-pegang gue segala? mau nyari keuntungan dari gue?" Juliet menarik lepas tangannya. Sekarang batas kesabaran Romeo sudah berada di puncak nya.


Romeo hanya menatap kesal pada Juliet. "Lo gak mati kan kalau gue gandeng? lagian ini juga biar Oma Lo bahagia. Atau Lo mau gue kasih tau Kalau cucu perempuan mereka tercinta ini terlalu bar-bar dan mudah marah. O ya satu lagi, Lo juga gak mau deket-deket sama calon suami Lo. Lo mau gue bilang gitu ke Oma Dena?" Romeo mendekatkan wajahnya mengintimidasi.


Juliet yang terkejut dengan sikap Romeo membulatkan matanya karena merasa tertekan, "Lo ngancem gue?" ujar Juliet dengan mata berkedip-kedip. Romeo justru menunjukkan senyum evil miliknya, "Lo pikir?" Romeo merasa senang karena menemukan sedikit kelemahan gadis bar-bar di depannya itu. Baru Lo bisa takut? Cih!


Mau tidak mau Juliet pun menuruti perkataan Romeo. Kini bukan lagi Romeo yang menggandeng tangan Juliet, tapi Juliet lah yang memegang tangan Romeo dan membawa pria itu masuk untuk bertemu dengan Oma Dena.


Juliet benar-benar merasa tertekan saat melihat Romeo begitu marah pada dirinya. Bukan berarti Juliet takut, hanya saja ia merasa tidak nyaman saat merasakan perubahan suasana hati pria itu. Juliet sedikit merasa gelisah.


Apalagi jika Romeo menatap nya seperti tadi. Memang bukan tatapan merendahkan, hanya saja Juliet merasa Romeo sedang menunjukkan sikap dominan atas dirinya.


"Oma?" Juliet melambaikan tangan nya. Oma Dena tersenyum seraya memanggil keduanya dengan isyarat tangan. Masih dengan tangan yang terpaut, Juliet berjalan beriringan bersama dengan Romeo.


"Sini sayang. Ini Viona. WO yang akan menangani pernikahan kalian nanti. Kalian bisa langsung memberitahukan bagaimana konsep pernikahan yang kalian inginkan padanya." Oma Dena memegang tangan Juliet, tersenyum lembut kepada Romeo.


"Kalau gitu Juliet mau pernikahan sederhana aja Oma. Gak mau yang mewah-mewah. Lagian sayang duit nya. Ya kan?" Juliet meminta persetujuan Romeo.


Romeo tidak langsung menjawab, terdiam sesaat, kemudian meminta waktu untuk berdiskusi sendiri dengan pemilik WO tersebut.


"Lo barusan ngomong apaan? Lo gak minta yang aneh-aneh kan buat acara wedding nya?" Juliet menatap ragu pada Romeo. Entah kenapa Juliet selalu merasa was-was setiap kali Romeo bersikap misterius di depannya.


"Tidak ada. Hanya mengatakan bagaimana konsep pernikahan sederhana seperti yang Lo mau." pernikahan dengan konsep elegan seperti pernikahan yang ada di drama Korea. Lengkap dengan dekorasi dan juga tata cara pernikahan yang sudah di adaptasi. "Gue udah minta pernikahan yang paling sederhana. Biar gak buang-buang duit. Itukan yang Lo mau?"


Juliet terdiam. Jika saja ia menikah dengan pria yang di cintanya maka pastilah Juliet menginginkan pernikahan yang luar biasa romantis seperti kisah yang ada di drama-drama Korea kesukaan nya. Hanya saja karena ia menikahi jenis pria seperti Romeo, maka Juliet akan memendam keinginan nya untuk dirinya sendiri.


"Iya lah. Ngapain buang-buang duit. Lagian cuma pernikahan bo'ongan juga, ngapain heboh-heboh." ujar Juliet terdengar ragu.


"Lo mau kemana lagi? kampus atau langsung pulang?" tawar Romeo saat keduanya sudah keluar dari gedung WO. Sementara Oma Dena sudah pergi lebih dalu bersama dengan supir pribadi mereka. Dan meninggalkan Juliet bersama dengan Romeo.


"Gue mau ke toko buku. Lo pulang aja duluan. Gue bisa naik taxi." Juliet berjalan meninggalkan Romeo seorang diri dan langsung mencari taxi.


Romeo yang memiliki kesibukan lain pun tidak ingin memaksa Juliet. Ia membiarkan gadis itu untuk melakukan apa yang ia mau. Lagipula bukan dirinya yang membiarkan gadis itu pergi seorang diri, tapi gadis itu sendiri lah yang ingin melakukan nya.


...❄️❄️...


"Halo pa. Ada apa? tumben banget papa nelpon?" Romeo mengaktifkan bluetooth di mobil nya saat panggilan sedang berlangsung. "Bagaimana persiapan pernikahan mu, apakah baik-baik saja?" "Baik kok pa. Barusan balik dari WO sama Oma Dena, sama Juliet juga." jawab Romeo.


"Bagus. Ingat ya Rom, jangan bikin papa malu. Perjanjian kita masih berlaku. Sampai hari pernikahan papa gak mau denger alasan kamu. Kamu harus bisa bujuk Juliet untuk pergi ke California dan tinggal di sini sama kamu. Kamu juga harus bisa meyakinkan opa Adam dan Oma Dena agar membantu mu membujuk Juliet. Kalau Juliet menolak, maka perjanjian kita juga batal." Romeo hanya mengangguk saat mendengar ceramah dari ayahnya.


"Iya pah. Romeo ngerti. Romeo akan bujuk Juliet. Lagian Juliet juga gak akan nolak untuk ikut pergi sama Romeo ke California." sahut Romeo dengan percaya diri. Karena ia memang akan memastikan Juliet pergi bersamanya.


"Papa percaya sama kamu. Juliet adalah pilihan yang tepat. Dan Kamu tidak akan menyesal sudah papa jodohkan dengan Juliet." Wiratama bersuara senang. "Iya pa, Romeo tau. Romeo masih di jalan. Udah dulu ya pa. Bye."


Setelah mematikan panggilan yang terhubung dengan mobil nya, Romeo kembali fokus pada jalan dan melajukan mobilnya menuju ke salah satu resort ternama di Jakarta.


Romeo akan memastikan sendiri bahwa konsep pernikahan yang di pilihnya akan mampu membuat Juliet menuruti semua permintaan Romeo dan juga memastikan bahwa gadis yang di anggap nya bar-bar itu bisa menjalankan kesepakatan dalam pernikahan mereka nanti.


Romeo tidak ingin rencana nya gagal. Kebebasan sudah menanti di depan mata. Mereka hanya perlu meraih semua itu.


"Lo milik Gue. Jadi Lo harus nurut sama Gue."


...❄️...


...❄️...


...❄️...