
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Sore itu hari terasa begitu dingin. Entah cuaca berubah lagi ataukah karena memang Romeo yang sedang malas untuk berada di sana.
Tapi mau bagaimana lagi, Romeo harus menyeret dirinya yang terlalu malas untuk mengerjakan laporan akhirnya yang sengaja ditunda.
Beruntung rumah mereka ada rumah yang dilengkapi dengan perapian. Setidaknya rasa dingin yang menyelimuti seluruh ruangan akan sedikit berkurang dengan kehangatan yang bersumber dari perapian tersebut.
"Hei, mau ku buatkan sesuatu? camilan atau secangkir coklat hangat, mungkin?" Juliet berdiri di depan pintu dengan menyenderkan bahunya di sana. Romeo diam sejenak untuk memperhatikan.
Sedang senyuman nya terbit begitu saja. Entah kenapa ia selalu suka memperhatikan Juliet seperti ini. Istrinya sangat menggemaskan. Terutama jika Juliet sedang bersikap manis seperti ini.
"Hem, terimakasih." jawab Romeo singkat. Dikiranya Juliet akan langsung pergi begitu saja setelah ia menjawab begitu, tapi Juliet justru menghampiri dirinya.
Juliet mencondongkan badannya hampir tepat di depan Romeo. Rambut gadis itu jatuh terurai. Romeo bisa mencium dengan jelas wangi sampo yang harum bercampur dengan harum manis dari sabun pada tubuh Juliet. "Sedang apa? ini laporan akhir mu?"
Gadis itu terlalu dekat. Sampai-sampai membuat Romeo berdebar seperti ini "Yups. Hanya tinggal memasukkan beberapa file saja. Setelah itu semuanya selesai." Romeo berusaha menahan gugup.
Ia memperhatikan wajah Juliet yang terlihat begitu fokus membaca tulisan di dalam layar laptopnya. Cantik. "Bagaimana dengan milikmu? Sudah selesai?" Romeo mengalihkan fokus dengan memulai percakapan lain.
Jika ia terus memperhatikan Juliet, mungkin saja ia akan menerkam gadis itu saat ini juga. "Semuanya sudah selesai. Hanya menunggu waktu wisuda saja." waw.. bisa dipastikan jika istrinya tidak hanya cantik, tapi juga sangat pintar.
Romeo memang tidak menyangkal hal tersebut, terlebih lagi karena dulu istrinya pernah menyombongkan kepintarannya.
"Baguslah. Setelah itu aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Tapi setelah semua tugas milikku selesai." kata Romeo lagi. Juliet mengalihkan pandangannya, kini mata mereka saling bertemu.
Mata indah yang selalu membuat Romeo terseret kedalamnya. Begitu tenang dan juga bercahaya. Seakan-akan mampu menunjukkan apa itu keindahan yang sesungguhnya.
"Mau pergi kemana?" bibir manis Juliet basah akibat sedikit digigit dan juga lidah nya yang sedikit mengintip. Selain suka membuat berdebar, Juliet memang terlalu lihai untuk menjungkirbalikkan perasaan Romeo.
...Ah . sial. Godaannya terlalu besar. ...
Romeo melingkarkan tangannya di pinggang Juliet dan menarik gadis itu untuk lebih dekat, Juliet sedikit terperanjat namun sudah lebih terbiasa dengan sikap Romeo.
"Menurut mu kita bagusnya kemana? bukankah kita juga harus memiliki bulan madu kita yang sebenarnya?" Romeo hanya berniat menggoda dengan kata-kata. Tapi respon gadis itu sungguh menggelitik hati Romeo.
Manik indah milik Juliet berkedip-kedip dengan pipi yang sudah merona sepenuhnya, "Apa?" jika begini, Romeo akan semakin suka melanjutkan semuanya.
"Kenapa, kau tidak mau? bukankah kita belum melakukan itu?" Romeo sengaja mendekatkan wajahnya, hingga bibir mereka nyaris bersentuhan.
Dengan cukup keras Juliet mendorong bahu Romeo, lalu memukul pelan dada Romeo. "Dasar mesum!" katanya, dan saat itu juga, Romeo langsung tergelak.
"Kenapa aku mesum? bukankah kita sudah menikah? Kau tidak mau melakukan itu dengan ku?" Juliet yang tidak tahan dengan keisengan Romeo kembali memukul bahu Romeo. Kali ini lebih keras dari sebelumnya.
Romeo meringis kesakitan karena bahunya terasa pedas akibat tangan Juliet. "Aww... kalau begitu aku jadi lebih bersemangat." Romeo masih belum berhenti dengan candaannya.
"Aku benar-benar tidak tahan." balas Juliet. Wajah gadis itu benar-benar telah memerah sepenuhnya. Meskipun ingin menutupi rasa malunya, tapi Romeo tak akan membiarkan istrinya begitu saja.
"Baiklah. Baiklah. Aku menyerah. Aku hanya bercanda, sedikit." kata Romeo lagi. Wajah Romeo sendiri sudah memerah akibat menahan tawanya.
"Kemarilah. Ada yang ingin ku tunjukan padamu." kata Romeo kembali memanggil Juliet. "Apa?"
"Sini. duduklah di sini. Setelah itu akan ku beritahu." kata Romeo tak ingin kalah. Karena tahu bahwa istrinya adalah tipe yang mudah penasaran akan berbagai hal, Romeo pun memanfaatkan hal itu dengan baik.
"Aku tidak akan menerkam mu sayang. Hanya ingin menunjukkan sesuatu saja. Sungguh." bujuk Romeo sambil menahan senyumnya. Hatinya benar-benar tergelitik saat melihat raut tak percaya yang Juliet tunjukkan.
Mata Juliet membulat dengan hidung yang sedikit berkedut. Gadis itu meragu, tapi di sisi lain juga ingin tahu sepenuhnya.
Dengan wajah yang masih memerah, Juliet pun kembali duduk di sebelah Romeo. Setelah cukup dekat untuk meraih gadis itu, dengan cepat Romeo kembali melingkarkan kedua tangannya untuk mengurung Juliet.
"Rom! kamu bilang tidak akan seperti ini." protes Juliet. "Kenapa? aku kan cuma ingin memeluk istriku. Apa salahnya?" inilah yang disebut trik. Romeo kembali tertawa.
"Kamu membohongi ku?" Juliet membulatkan matanya hingga wajah gadis itu terlihat benar-benar menggemaskan.
"Baiklah. Baiklah. Aku akan melepaskan mu." kata Romeo yang langsung melepaskan satu tangannya, sedangkan tangan lain masih melingkar di pinggang Juliet.
Romeo meraih ponselnya yang ada di atas meja dengan cepat dan membuka isinya,. "James mengirimkan undangan." kata Romeo menunjukkan sebuah pesan.
"Party?* Juliet mendengus. Ia tidak tertarik untuk datang ke pesta yang berisi begitu banyak minuman beralkohol seperti sebelumnya. Terlebih lagi di sana ada banyak orang yang tidak Juliet kenali.
Ia tidak terlalu suka keramaian.
"Sebenarnya ini bukan pesta James, tapi Rachael." jelas Romeo. Juliet mengernyit. Romeo kembali tersenyum. "Disini tertulis pesta ulangtahun yang ke tujuh belas."
Segala sesuatu yang ada di pikiran Juliet bisa terlihat dengan jelas dari ekspresi wajahnya. Dan Romeo sangat menikmati waktu dimana ia bisa melihat semua itu. "Kalau begitu harus ada kado."
"Aku kurang begitu tahu bagaimana pesta seorang anak gadis. Apa menurut mu kita harus membeli kado?" Romeo kembali melingkarkan tangannya, kali ini kepalanya juga bersandar dengan nyaman di bahu Juliet.
"Akan sangat sopan jika kita menyiapkan kado. Karena hadiah lah tujuan utama dari pesta." sahut Juliet.
"Kalau begitu, kamu mau pergi dengan ku?" ajak Romeo sekali lagi. Karena sejujurnya dalam undangan tersebut, tertulis dengan jelas bahwa undangan itu ditujukan hanya untuk Juliet. Hanya saja Romeo tidak rela jika istrinya pergi sendirian.
Juliet menoleh pada Romeo dan menangkap raut enggan yang ditunjukkan pria itu, "Sebagai sepupu mu?" apa sepupu? Romeo mengernyit tak suka mendengar gagasan itu. Bagaimana bisa ia menganggap Juliet sebagai sepupu lagi seperti waktu itu, tidak. Tentu saja tidak.
Semuanya sudah berubah. "Sebagai istriku, tentu saja." Romeo tersenyum sambil memandangi mata Juliet yang terus saja berkedip-kedip.
Senyum manis langsung terbit di wajah Juliet, membuat gadis itu terlihat cantik sepenuhnya. "Oke. Kalau begitu kita pergi."
...❄️...
...❄️...
...❄️...