ROMEO & JULIET

ROMEO & JULIET
RJ-06



...❄️❄️❄️...


Hanya dua minggu Juliet merasakan kedamaian dan melupakan statusnya yang sudah bertunangan.


Baru saja ia bersantai, ponsel nya sudah kembali bergetar, karena ada panggilan masuk dari Omanya, "Ya oma sayang, ada apa?" sahut Juliet malas-malasan di atas tempat tidur.


"Segera datang ke butik Z. Oma sudah siapkan gaun pernikahan mu." kata oma Dena membuat Juliet menghela nafas. "Oma, Juliet bisa melakukan nya sendiri. Lagi pula pernikahan itu masih Lama, jadi-


"Datang sekarang juga!" potong oma Dena tidak ingin mendengarkan alasan yang di berikan oleh Juliet.


"Oma apa sih, Juliet masih bikin skripsi tau, gak bisa di ganggu. Mending oma pulang deh besok Juliet bakal pergi sendiri." tolak. Juliet lagi. Namun ternyata Juliet tidak bisa menghindar. "Datanglah sekarang juga Juliet Dominique, atau, -


"Ya, ya..baik oma..baik! Juliet akan datang." turut Juliet dengan rasa enggan yang teramat sangat. Tapi tetap saja ia harus pergi. Juliet tidak akan membiarkan Oma nya merasa kecewa.


Juliet memang sedang berada di kamarnya, tapi bukan untuk mengerjakan skripsi seperti yang di katakan nya, melainkan untuk menonton drama korea kesukaan nya.


Alhasil, Juliet hanya bisa mematikan televisinya dan bersiap untuk menemui oma nya seperti perintah yang ia dengarkan.


"Park seo joon, annyoung." gumam Juliet dengan wajah cemberut.


Juliet mengambil sweater dan mencepol rambutnya asal-asalan. Ia terlalu malas untuk berganti pakaian, apalagi berdandan. Karena itulah Juliet hanya mengenakan pakaian rumahan. Kaos oblong dengan celana pendek serta sendal teplek andalan nya.


Tidak lama setelahnya, Juliet pun turun dan bersiap untuk pergi, "Mang Legend, yuk ahh cuss di tungguin Oma bridal wedding." perintah Juliet jelas.


"Siap meluncur non.." sahut Mang Danang cekatan, lalu membuka kan pintu mobil untuk Juliet.


...❄️❄️...


Tiga puluh menit kemudian, mobil sudah tiba di tempat tujuan.


"Selamat datang di butik Z, silahkan masuk." sapa seorang pegawai butik saat Juliet tiba di depan toko tersebut.


"Saya sudah buat janji dangan oma saya disini, bisa tunjukan tempatnya?" kata Juliet lalu pelayan itu pun mengangguk.


"Silahkan lewat sini nona."


Setibanya di ruangan yang di maksudkan, oma Dena sedikit terkejut dengan penampilan cucunya. Terlihat sangat rumahan.


"Juliet!" geram oma Dena yang melihat wajah serta style yang di gunakan sang cucu. "Apa kau ingin pergi ke pasar? lihat dirimu!" tegur oma pelan.


"Oma, kalau fitting baju juga bakal di lepas kan? Kenapa harus ribet sih." sahut Juliet dan langsung mendapat tatapan melotot dari oma Dena, "Kau ini, benar-benar!"


Saat keduanya tengah sibuk beradu pendapat, tirai di depan mereka pun sudah di buka. Dan sosok yang tidak juliet harapkan untuk dilihat justru muncul di balik tirai.


"Ini style yang akan di gunakan oleh mempelai pria." kata sang desainer. "Romeo, kapan pria ini datang?" gumam Juliet mengerutkan dahinya.


"Awww..! Juliet menggeliat saat pinggang nya mendapatkan cubitan kecil dari oma. "Karena itulah oma katakan kau harus memperhatikan penampilan mu, gadis nakal!"


Juliet tidak akan malu dengan apa yang ia kenakan. Lagi pula siapa Romeo? pria itu hanyalah calon suami bohongan bagi dirinya. Juliet tidak perlu berdandan, atau harus terlihat baik di hadapan pria itu.


"Cucu menantu oma terlihat sangat tampan mengenakan stelan ini." puji Oma Dena menilai penampilan Romeo.


Cih!


"Tampan dari mana nya?"


"Ssttt.. jaga bicaramu Juliet." tegur oma Dena yang masih bisa mendengarkan dumelan sang cucu.


Romeo mengulas sebuah senyuman sopan menanggapi perkataan oma Dena, lalu melirik kepada Juliet.


Pria itu menatapnya. Apa yang dia lihat? Juliet memutuskan kontak di antara mereka.


"Sekarang giliran anda, nona." ujar salah satu pelayan toko yang akan bertugas membantu Juliet memasang gaun nya.


"Tunggu,-


"Pergilah Juliet, jangan menolak." kata oma Dena.


"Tapi oma,-


Juliet benar-benar tidak bisa menolak. Dirinya sudah di giring ke ruangan tempat ia harus mengganti pakaian dengan gaun terbaik dari butik itu. Gaun yang akan ia kenakan untuk pernikahan nya nanti.


"Tunggu! Aku bisa melepas pakaian ku sendiri." cegah Juliet saat para wanita di ruangan itu ingin menyentuhnya.


"Silahkan menunggu disini." kata sang desainer kepada Romeo dan oma Dena.


"Mari oma." Romeo menggandeng tangan oma Dena dan menuntun nya ke sofa di ruang tunggu.


"Mari makan siang bersama setelah ini, oma ingin kita bertiga makan siang bersama." pinta oma Dena kepada Romeo, "Kau tidak keberatan kan menerima permintaan wanita tua ini?" Dena tersenyum penuh harap pada Romeo.


"Baik oma."


...Sementara itu, di dalam ruang ganti.......


Juliet merasa sedikit risih saat para wanita di sana tidak hanya mengganti pakaian nya, akan tetapi mereka juga mengaplikasikan make up tipis ke wajah Juliet dan menata rambutnya agar terlihat lebih rapi.


"Sudah selesai nona," kata wanita perias.


Juliet pun melihat pantulan dirinya di cermin. Wajah cantik dengan pipi merona, serta gaun yang cantik sudah menempel dengan sempurna di tubuhnya.


"Oma benar-benar memilihkan gaun yang cantik." puji Juliet, merasa senang. Juliet sedikit pangling dengan dirinya sendiri. Ternyata ia bisa terlihat cantik seperti ini dengan mengenakan gaun pengantin.


"Anda memang terlihat sangat cantik nona" puji salah seorang pegawai menimpali perkataan Juliet. "Apa anda sudah siap?"


Juliet pun mengangguk lalu berdiri di balik tirai. Entah kenapa Juliet merasa antusias memperlihatkan perubahan nya saat mengenakan gaun tersebut. Ia tidak sabar ingin melihat bagaimana reaksi Omanya.


"Tuan dan nyonya, kita akan segera melihat mempelai wanita." kata sang desainer dengan begitu bersemangat untuk memamerkan Juliet.


Hanya dalam hitungan detik, tirai di hadapan Juliet pun akhirnya terbuka.


Oma Dena yang sejak tadi menantikan penampakan Juliet pun menatap cucunya dengan mata berbinar senang, Oma Dena juga merasa terpukau melihat penampilan Juliet "Cucu oma terlihat sangat cantik, seperti seorang peri." puji nya dengan mata berkaca-kaca.


"Hanya peri? padahal aku berharap seperti seorang angel." sela Juliet lalu tersenyum.


"Terima masih oma. Semua ini karena gaun yang oma pilihkan." sahut Juliet tersenyum.


"Kau suka?" Juliet mengangguk sambil memeluk oma Dena. "Nak Romeo yang memilihkan untuk mu. Dan selera nya sangat cocok untuk mu."


BOOM!


Seketika rasa senang itu menghilang dari wajah Juliet. "Ah, jadi bukan oma, pantas aja, gaun ini gak nyaman dipakai." cibir Juliet mengubah pendapatnya, dan menatap enggan pada Romeo.


"Tidak nyaman?"


"Hem. Benar, gak nyaman!"


"Kau cantik mengenakan itu, tu-na-ngan-ku." Romeo memberikan suaranya menilai.


Juliet hanya bisa mendengus kesal, "Awas aja Lo nanti!" cibir Juliet sedikit salah tingkah. Romeo tidak memperdulikan gertakan lucu dari Juliet.


...❄️❄️❄️...


Setelah ketiganya selesai makan siang, oma Dena meminta Juliet untuk menemani Romeo. Dengan alasan agar keduanya menjadi lebih akrab sebelum menjelang pernikahan.


"Mau kemana?" Tanya Juliet ketus saat Romeo telah melajukan mobilnya. Mereka sudah meninggalkan restoran dan Romeo juga tidak tahu harus membawa tunangan nya pergi kemana.


"Lo maunya kita kemana?" Tanya Romeo membalik pertanyaan, "Lo mau pergi kemana aja yang gue mau?"


"Jika itu masuk akal, kenapa tidak." sahut Romeo bersikap biasa saja.


"Lo punya rumah?" Tanya juliet berubah antusias. Tiba-tiba saja otak kecilnya mendapatkan ide cemerlang.


"Rumah? gak ada. Tapi gue punya apartment." balas Romeo masih tidak mengerti apa tujuan tunangan nya menanyakan tempat tinggalnya.


"Perfect!"


Romeo mengernyit. "Lo terbiasa pergi kerumah cowok?"


"Lo mikir apaan sih? Lo gak denger Oma tadi bilang apa? kita harus menghabiskan waktu bersama. Gitukan?" ujar Juliet mengulang kata-kata Oma Dena.


"Ya, tapi gue gak,-


"Lo punya TV kan di apartment Lo?"


"Yups. Di kamar gue." sahut Romeo yang masih tidak mengerti dengan jalan pikiran Juliet.


"Perfect. Sebaiknya kita segera meluncur, gue udah gak sabar."


Gak sabar apaan sih? Romeo mengernyit heran.


"Lo mau ngapain di apartemen gue? Gue bukan laki-laki seperti yang Lo pikirin! tapi gue juga gak akan nolak kalau,-


"Gue pengen lihat suami gue. Gue udah kangen banget. Lagian Lo yang ngerusak me time gue." sela Juliet membuat wajah Romeo merona.


Entah apa yang Romeo pikirkan. Mendengar kata suami membuatnya marasa kikuk.


Suami? cewek ini kangen sama gue? Cih.


Seperti nya Romeo sudah salah paham dengan perkataan Juliet. Buktinya wajah Romeo tersipu. "Apa yang mau lo lihat, gue gak,-


"Berisik banget sih Lo! bisa gak sih Lo fokus nyetir aja? nanti nabrak Lo." protes Juliet lalu membuang wajahnya keluar jendela.


Mendengar protes Juliet, Romeo pun menutup rapat mulutnya, Romeo pikir Juliet akan malu jika membicarakan hal seperti ini secara terang-terangan.


Tidak butuh waktu lama mobil Romeo pun sudah memasuki parkiran apartment dan Juliet pun segera turun dari dalam mobil tidak sabar ingin secepatnya melihat sang idola yang ia sebut-sebut sebagai suami masa depan nya.


"Di lantai berapa?" Tanya Juliet bersiap menekan tombol lift saat Romeo sudah berdiri di samping nya, "Lantai 13."


"Kok jadi horor gini sih!" Juliet bergidik sambil memeluk tubuhnya sendiri. "Horor, apa maksud Lo? gue gak ngerti." balas Romeo. Dimana letak horor yang gadis itu maksudkan. Benar-benar membuat sakit kepala.


Romeo menekan tombol, lalu lift pun mulai bergerak naik.


Gubrak!


Lift tiba-tiba berhenti di pertengahan. "Tuh kan, serem banget sih." Juliet menyembunyikan wajahnya di pelukan Romeo. Untuk sesaat Romeo merasa dadanya berdebar dengan cepat, "Lo gak bisa apa ganti apartment. Lantai berapa kek gitu, masa di lantai yang horor kaya gini!" protes lagi-lagi terdengar dari mulut Juliet.


Karena Romeo tidak tau apa yang juliet katakan, ia hanya menepuk pelan bahu gadis itu untuk menenangkan Juliet sampai lift mereka kembali bergerak.


"Lo masih takut? lift nya udah kembali bekerja." ujar Romeo membuat Juliet mendorong kan tubuh Romeo agar menjauh darinya.


"Sial banget sih apartment Lo, tau gini mending gue pulang." kesal Juliet yang masih merasa takut sekaligus malu.


"Lo yang minta datang kesini, bukan gue yang mau. Malah nyalahin apartemen gue lagi." sahut Romeo tak terima disalahkan. Romeo juga membuang wajahnya. Romeo sudah gila karena berdebar dengan pelukan sebelumnya. Gadis ini telah merusak ekspektasi Romeo.


"Berisik Lo!"


Setelah tiba di lantai 13, Juliet hanya berjalan di belakang Romeo. Bagi Juliet, ini adalah kengerian yang sebenarnya. Meskipun diluar sana masih terang benderang, namun di dalam sini sungguh terasa mencekam.


"Lo.." Romeo berbalik tiba-tiba hingga Juliet menabrak tubuhnya dan membuat Romeo oleng hingga keduanya sama-sama terjatuh ke lantai.


"Awww.." keduanya sama-sama mengaduh.


Juliet merasa sakit di bagian tangan nya. Namun tubuhnya tidak merasakan apa-apa. Semua itu karena Juliet jatuh tepat di atas tubuh Romeo.


"Lo gak apa-apa?" Tanya Juliet yang tidak merasa bersalah, padahal dialah yang membuat mereka berdua terjatuh dan terbentur cukup keras di lantai.


Romeo meringis karena merasa ngilu di punggung nya. "Bisa gak sih Lo bangun sekarang? gue gak bisa gerak." kata Romeo meringis.


Juliet tersadar dengan cepat kemudian berusaha bangun secepat mungkin, "Ommmoo! Mianhae!"


...❄️...


...❄️...


...❄️...