ROMEO & JULIET

ROMEO & JULIET
RJ-45



...❄️...


...❄️...


...❄️...


Dalam perjalanan pulang, Romeo dan Juliet sama-sama bungkam. Romeo sendiri masih menyimpan perasaan marah dalam hatinya. Terlebih lagi jika mengingat bagaimana pria itu memeluk istrinya.


Brengsek. Seharusnya aku tidak lengah. gerutu Romeo dalam hati, sedang tangannya menggenggam erat setir mobil.


Jika saja ini bukan pertemuan pertama mereka, mungkin Romeo sudah menghadiahkan sebuah pukulan di wajah Randy. Ckck. Apa-apaan tatapan itu. Dia pikir siapa yang sedang ditatapnya?


"Rom, kamu baik-baik aja kan?" tanya Juliet saat melihat raut wajah Romeo yang selalu berubah-ubah. Kadang lembut, kadang terlihat marah.


"Hem. Aku gak apa-apa kok." Sahut Romeo. Ia masih belum bisa menyampaikannya perasaan nya pada Juliet. Karena itu ia memilih untuk menyimpan nya sendiri.


Romeo masih belum menemukan alasan kenapa ia bisa merasa marah seperti ini. Seharusnya ia diam saja, atau mungkin mengabaikan apa yang terjadi sebelumnya.


Tapi entah kenapa, mengabaikan hal itu dan menganggap nya tidak pernah terjadi sangat sulit bagi Romeo.


Dalam hati Romeo hanya ada satu kebenaran, bahwa Juliet adalah miliknya. Miliknya yang tidak bisa seenaknya disentuh begitu saja. Apalagi oleh pria lain.


...❄️...


Lima belas menit kemudian, mereka akhirnya tiba di rumah. Dengan sigap Romeo mengeluarkan semua barang belanjaan yang ada di bagasi dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Sementara Juliet hanya membawa barang-barang pribadi miliknya. Dalam hatinya ia masih bertanya-tanya dengan perubahan sikap Romeo barusan.


Apa aku melakukan kesalahan lagi? kenapa pria itu jadi aneh Begitu? pikir Juliet gelisah.


"Juliet..?" panggil Romeo dan tentu saja suara itu langsung menghentikan langkah Juliet. Gadis itu berbalik disertai dengan sebuah senyuman samar. "Ya..?"


"Biar aku saja yang menyiapkan makan malam. Kamu bisa mengerjakan yang lainnya." ujar Romeo.


"Kau yakin? aku bisa membantu." sahut Juliet yang sedikit ragu untuk membiarkan Romeo mengerjakan semuanya seorang diri. Yah, meskipun sebenarnya, kemampuan memasak pria itu jauh lebih unggul dari dirinya.


"Hem. Biar aku saja." kata Romeo meyakinkan.


"Baiklah kalau begitu aku akan merapikan semua ini." Julie memilih untuk membereskan barang belanjaan yang masih tertumpuk diatas meja.


...❄️...


Tidak butuh waktu lama, semua makanan sudah tertata rapi diatas meja. Senyum puas pun terbit di wajah Romeo.


Tidak sia-sia ia belajar memasak selama ini, akhirnya ia bisa menunjukkan kemampuan nya pada orang yang tepat.


Dengan perasaan bahagia, Romeo mendatangi Juliet yang sedang berada diruang santai. Gadis terlihat fokus saat menonton drama Korea kesukaannya.


"Filmnya seru?" tanya Romeo sengaja duduk di samping Juliet. Gadis itu bisa mencium wangi rempah-rempahan yang menguar dari tubuh Romeo.


Hidung Juliet berkedut saat membaui Romeo. "Masakan mu udah selesai?" katanya berusaha menghilangkan debaran aneh dalam dadanya.


"Sudah. Kau lapar?" Romeo tersenyum sambil menatap lekat pada Juliet. "Em, sedikit." sahutnya masih terlihat canggung.


Padahal sebelumnya Juliet merasa biasa saja jika berada di sebelah Romeo. Bahkan ini bukan yang pertama bagi mereka untuk duduk di satu ruangan dengan jarak sedekat ini. Tapi sekarang, kenapa hatinya justru berdebar tak menentu..


Ah... pasti ini gara-gara mimpi sialan itu. Gerutu Juliet dalam hatinya.


"Aku tidak suka." kata Romeo kembali bersuara saat Juliet masih sibuk berkutat dengan isi pikirannya. "Aku benar-benar tidak suka." ulang pria itu lagi.


Juliet pun berpaling untuk memastikan apa yang Romeo tidak sukai. "Maksud mu Filmnya?" dahi Juliet. berkerut.


"Bukan." Romeo menatap Juliet dan mengunci tatapan itu. Lagi dan lagi. Juliet tidak suka dengan jantung nya yang selalu berdebar cepat setiap kali Romeo menatap nya seperti ini. Romeo seperti penyihir.


"Lalu?"


"Pria itu." ucap Romeo dengan wajah datar. "Pria yang memeluk mu tadi." Kening Juliet semakin mengernyit. Ia masih belum mengerti maksud dari perkataan Romeo.


Yang memeluk ku tadi? Randy? apakah ada yang salah? atau aku yang salah memahami maksud nya?


"Maksud mu Randy?" menyebutkan nama pria yang membuat Romeo uring-uringan sejak tadi.


"Hem. Aku benar-benar tidak suka padanya." ulang Romeo dengan raut wajah yang menegaskan perkataannya. "Aku tidak suka apa yang dilakukan nya pada mu."


Yang dilakukan?


Juliet tertawa. Romeo benar-benar lucu. "Rom, kami tidak seperti yang,-


"Aku tahu." Sela Romeo. Wajah pria itu masih sama. Matanya masih tajam dan menusuk. Juliet terdiam. Sedetik kemudian, binar mata itu berubah sendu. "Tapi pria itu menatap mu dengan tatapan yang berbeda Juliet. Dan aku tidak suka." kata Romeo lagi.


"Rom, Randy itu sahabat ku. Dia tidak mungkin..-" Juliet tercekat. Ah.. benar juga. Bagaimana bisa ia melupakan hari itu begitu saja?


Aku benar-benar bodoh jika tidak tahu maksud Romeo. Tentu saja aku tahu. Tapi apa benar itu masalah nya? tapi kenapa? Juliet kembali menatap pada Romeo.


Juliet sudah teralihkan sepenuhnya. Ia tidak bisa lagi fokus dengan layar televisi di depannya. Sepertinya mereka memang harus menyelesaikan kesalahpahaman ini secepat mungkin.


"Aku tahu maksud mu Rom. Tapi aku dan Randy benar-benar hanya teman. Tidak ada yang lebih dari hubungan kami." tegas Juliet.


"Aku akui jika Randy memang pernah menyatakan perasaannya pada ku, tapi,-


"Kapan?" sela Romeo dengan tubuh pria itu yang tiba-tiba menjadi lebih dekat menghimpit pada Juliet.


"Wak, Waktu itu." mata Juliet berkedip-kedip. Sial. Kenapa aku harus gugup lagi! "Setelah kita selesai fitting." sahut Juliet tak berani menatap Romeo.


"Tapi,-


"Kau hanya milik ku Juliet. Milik Romeo. Aku tidak perbolehkan mu untuk menerima pernyataan cinta dari pria manapun." Kali ini Romeo benar-benar mengunci Juliet dengan kedua tangannya.


Sama seperti Romeo. Juliet juga tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Momen ini benar-benar terasa aneh sekaligus mendebarkan. Juliet terpaku. Ia tersihir sepenuhnya.


Saat kewarasan Juliet mulai kembali, tiba-tiba saja bibir Romeo sudah begitu dekat dengan bibirnya. Deg..


Rasa manis dan juga hangat itu membungkam Juliet seketika. Bahkan otak Juliet perlahan-lahan mulai membeku. "Aku mau mencium mu, bolehkan?" ujar Romeo dengan binar yang asing. Tatapan itu seakan-akan meluluhlantakkan hati Juliet yang saat ini sedang ingin melompat keluar dari tempatnya.


"Kenapa kau harus bertanya? bukankah tadi kau sudah mencium ku?"


Deg.. Deg deg...


Ah... ayolah. Jangan berdebar seperti ini. Juliet merasa senang sekaligus malu akan suara degup jantung nya yang begitu keras. Bagaimana bisa ia mengatakan tidak jika jantung nya saja meneriakkan sesuatu yang lain.


Romeo tersenyum samar, "Tutup saja matamu kalau kau tidak menolak ku Juliet." bisik Romeo. Dan dengan patuh Juliet pun melakukan sesuai dengan permintaan Romeo.


Damn!


Saat bibir Romeo mulai menyentuh bibir Juliet, Juliet bisa merasakan jika ada sensasi terbakar diwajahnya. Tidak hanya wajahnya, tapi juga di sekujur tubuhnya.


Ada segelintir perasaan asing yang terus mendesak hebat ingin segera dibebaskan dari dalam sana. Anehnya lagi, ciuman itu sama persis seperti ciuman yang Juliet mimpikan malam sebelumnya.


Begitu lembut, manis dan hangat di saat yang bersamaan. Juliet benar-benar terbuai. Ciuman Romeo membuat nya merasakan sesuatu yang lain dalam dirinya. Membuat nya merasa begitu cantik dan begitu di inginkan.


Ciuman yang seakan-akan mampu menerbangkan dirinya menembus keluar dari titik kesadaran. Pertahanan dirinya selama ini di luluh lantahkan begitu saja hanya karena sebuah ciuman.


Ah.. perasaan apa ini? Juliet mengerang frustasi saat lidah Romeo menerobos masuk melewati sela-sela mulutnya dan ******* nya lebih dalam.


Saat pria itu mendesak namun menarik diri setelahnya, membuat Juliet merasa kehilangan. Ia ingin merasakan sentuhan itu lagi. Lagi dan lagi. Tapi kewarasan nya menegur Juliet dengan keras.


Bagaimana ia bisa begitu menyukai ciuman Romeo. Pria yang bahkan hanya menganggapnya sebagai seorang sepupu.


"Juliet...?" panggil Romeo dengan tatapan asing yang mulai Juliet kenali. Gadis itu tak bisa berkata-kata. Ia malu sekaligus merasa frustasi. Ia ingin lebih.


"Hem..?"


Romeo membelai pelan pipi Juliet dan menciuminya di sana dengan begitu lembut. "Aku rasa aku menyukai mu." sebuah pengakuan.


Romeo tak bisa lagi menahan dirinya untuk mendeklarasikan kenyataan tersebut. Bahwa ia terpikat pada gadis itu.


Juliet bergeming. Jantung nya masih berdebar dengan begitu cepat. Ia bingung dengan perasaannya sendiri. Pria itu baru saja mengatakan suka, seharusnya Juliet merasa bahagia?


Tapi ia sendiri tidak yakin dengan hatinya. Perasaan Juliet seperti sesuatu yang misterius. Dapat dirasakan namun begitu sulit untuk di jelaskan dengan kata-kata.


"Aku,-


"Ssttt.. kau tidak harus menjawab ku sekarang." Romeo membungkam Juliet sekali lagi dengan sebuah ciuman singkat.


"Aku bisa menunggu. Aku tahu kamu pasti bingung. Aku pun masih bingung dengan diriku." pria itu tiba-tiba saja memberi jarak diantara mereka. Wajah Romeo memang tak bisa berbohong. Ia memang terlihat bingung.


"Aku akan turun sekarang. Kamu bisa turun kalau sudah siap." kata Romeo memberikan waktu pada Juliet untuk mencerna semuanya. Termasuk apa yang baru saja terjadi diantara mereka.


Meskipun tidak yakin dengan perasaannya, tapi Juliet tidak membenci ciuman Romeo. Bahkan dengan kesadaran penuh ia masih menginginkan ciuman Romeo. Ciuman yang ternyata mampu meluluhkan egonya.


Juliet masih menginginkan Romeo untuk menciumnya lagi, dan lagi. Di sini, saat ini juga...


...❄️...


...❄️...


...❄️...