ROMEO & JULIET

ROMEO & JULIET
RJ-55



...❄️...


...❄️...


...❄️...


"Ayo!" Romeo menarik tangan Juliet. Tapi Juliet menahan dirinya. Matanya menatap Romeo dari atas ke bawah dan berulang.


"Kamu yakin..?" Juliet memberi isyarat pada penampilan Romeo. Astaga.


Karena panik, Romeo lupa jika dirinya masih mengenakan pakaian yang tidak layak untuk dipamerkan.


"Makasih udah ingatin aku sayang. Kamu tunggu di sini sebentar ya, aku mau ganti baju dulu." kata Romeo yang dengan cepat berlari kedalam kamarnya.


Setelah merapikan dirinya dengan benar Romeo pun langsung menghampiri Juliet. "Kunci kamar kamu mana?" tanyanya dengan nafas memburu.


Juliet mengernyit, "Buat apa?"


"Ya buat ngunci kamar kamu lah. Emang buat apa lagi. Gak mungkin dong buat ngunciin kita berdua di dalam." Romeo bergerak dengan cepat menuju ke balik pintu dan mengunci kamar Juliet. "Siapa tau aja papa mau lihat-lihat rumah kita. Kan bahaya." tambah Romeo.


Ais.. baru saja Juliet memikirkan hal lain karena mendengar perkataan Romeo barusan. Dasar aku!


Masuk akal memang yang dikatakan oleh Romeo. Jika papa Wiratama tau mereka tidur dikamar terpisah, maka semuanya akan semakin runyam. Dan hal seperti itu tidak boleh terjadi sekarang.


Karena itulah Juliet diam saja dan membiarkan Romeo membereskan semuanya.


"Nah sudah selesai. Ayo.." Romeo tersenyum kemudian menggandeng tangan Juliet agar mereka bisa turun bersama untuk menyambut kedatangan papanya sambil menunjukkan kemesraan.


"Gak harus pegang-pegang juga bisakan?" Elak Juliet dengan nada sinis sambil menepis tangan Romeo saat menyentuh tangannya, tapi Romeo bukan pria yang menerima begitu saja saat dirinya ditolak.


Sekali lagi Romeo mencoba meraih tangan Juliet hingga menyudutkan Juliet diatas tangga. "Kalau gitu kamu mau aku gimana? memeluk kamu seperti ini?" tangan Romeo beralih ke pinggang Juliet dan melingkar di sana sehingga menutup jarak diantara keduanya.


"Ap..ap yang...?" Aih, kenapa aku malah jadi gugup begini sih! Dasar Romeo sialan.


Romeo tersenyum karena berhasil menggoda istrinya. "Sekarang pilih mau yang mana? Pegangan tangan, atau.." Romeo sengaja mendekatkan wajahnya pada Juliet membuat istrinya itu tak bisa berkutik lagi..


Sialan!


"Ya udah gandeng aja." Cicit Juliet memalingkan wajahnya karena merasa malu dengan kedekatan Romeo yang tiba-tiba. Dalam hati Romeo bersorak kegirangan.


"Gitu dong.." Romeo pun kembali menggandeng tangan Juliet dengan erat dan menuntun nya untuk turun ke bawah.


Dari hatinya yang terdalam Romeo ingin mengucapkan terimakasih pada papanya. Dengan begini, ia punya alasan untuk bicara dan juga berdekatan dengan Juliet. Romeo juga berharap bahwa ini adalah kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka.


Aih, tau begini sejak awal aku akan minta papa datang kesini. Kenapa aku tidak terpikir cara seperti ini sejak awal... jelas-jelas aku bisa manfaatin papa. Hehe


"Jangan pasang wajah cemberut seperti itu sayang. Papa adalah orang yang teliti.." tegur Romeo saat memandangi wajah tanpa ekspresi yang Juliet tunjukan.


"Berisik!"


Aih..lihat, lucunya istriku. Romeo merasa gemas sendiri setiap kali melihat wajah kesal Juliet. Rasanya ia ingin cepat-cepat membungkus wanita itu dan menyimpannya agar bisa dipeluk sepanjang malam.


"Kamu tahu? kamu cantik sekali dengan piyama seperti ini. Aku jadi gak sabar .." bisik Romeo tepat sebelum pintu dibuka.


Blussshh... wajah Juliet langsung merona..


What? apa.. gak sabar untuk.. untuk apa maksudnya?


Lagi-lagi Romeo berhasil menggoda Juliet. Saat pintu dibuka, Juliet sudah tak memiliki waktu lagi untuk memikirkan bagaimana harus menunjukkan ekspresi yang semestinya di depan papa mertuanya..semuanya sudah terlambat..


Romeo Sialan!


...❄️...


"Pa?" sambut Romeo saat melihat papanya yang sudah berdiri tegak di depan pintu. Pria paruh baya itu tersenyum dengan hangat, tapi dalam detik berikutnya raut wajah Wiratama berubah karena menyadari sesuatu..


"Nak Juliet kenapa? lagi sakit? wajahnya merah begini?" tanya Wiratama mengkhawatirkan menantu satu-satunya itu.


Ais.. benarkan? semua ini gara-gara Romeo. Dasar berandalan! Kucing Kurap! Awas aja..!


"Gak kok pa. Juliet gak sakit. Sehat gini kok.." sahut Juliet refleks memegang kedua pipinya yang sedang menghangat. "Papa gimana sih.. kaya gak tau aja." Sela Romeo tertawa kecil. "Kitakan pengantin baru.."


Nah.. Nah.. kata-kata seperti inilah yang bisa membuat orang salah paham! Wajah Juliet pasti sudah seperti kepiting rebus. Dasar mulut tengil Romeo tak bisa di kendalikan.


Wiratama hanya tersenyum menanggapi celetukan dari mulut putranya, dulu ia juga pernah melewati masa-masa seperti ini. Bahkan lebih parah.


"Rumahnya nyaman pa. Kami juga suka tinggal di sini, ya kan sayang?" Romeo lagi-lagi melingkarkan tangan di pinggang Juliet, membuat Juliet kembali salah tingkah. "Iya pa. Yang dibilang Romeo benar." sahut Juliet yang kemudian langsung mengambil alih paper bag yang dibawa oleh Wiratama.


"Kalau papa gimana? sehat?" Juliet balik bertanya.


"Papa juga baik-baik saja."


"Ayo pa, masuk. Juliet siapin makan malam dulu ya.." katanya meninggalkan Romeo dan papa Wiratama yang saat ini tengah berjalan menuju ke ruang keluarga.


Ruang keluarga dirumah mereka adalah ruangan yang terhubung langsung dengan pantry, Jadi, dari tempatnya saat ini Romeo bisa melihat dengan wajah istrinya yang sedang salah tingkah.


"Juliet lucu kan pa?" celetuk Romeo saat terus-terusan memandangi wajah Juliet. "Hah, apa?" ulang Wiratama karena tidak terlalu mendengar perkataan putranya.


Aih..."Gak kok pa. Tadi cuma ada nyamuk lewat." elak Romeo tersenyum lebar. Wiratama hanya menggeleng setelahnya.


"O, ya, gimana kuliah kamu Rom? udah beres semua?" tanya Wiratama, kali ini dengan nada serius.


"Udah pah. Tinggal wisuda aja kok." Feeling Romeo mengatakan jika kali ini papanya akan mulai lagi untuk membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan perusahaan, yayasan, kemanusiaan dan lain-lain..


Ya Tuhan..


"Baguslah kalau begitu. Papa mau setelah semua urusan kuliah kamu selesai, kamu bantu papa di perusahaan." Nah.. benarkan!


"Sementara yayasan akan papa serahkan pada Juliet. Waktu itu papa lihat nak Juliet cukup berminat dengan yayasan kita yang ada El Monte. Dan papa rasa, Nak Juliet memiliki jiwa yang sama dengan papa." kata Wiratama dengan yakin.


Romeo mengernyit kemudian tertawa..Hah, ada-ada saja. "Apa papa pikir begitu? menurut papa Juliet bisa mengurus yayasan kita?" bukannya Romeo ingin meragukan kemampuan istrinya. Hanya saja, menurut Romeo Juliet tak akan cocok dengan pekerjaan yang disebutkan oleh papanya tadi.


Juliet adalah orang yang berjiwa bebas dengan caranya sendiri. Sedikit introvert, dan hanya menyukai hal-hal tertentu. Seperti; nyaris menggilai drama yang hanya berisikan pria-pria tampan asal Korea Selatan.


Selain itu istrinya adalah tipe yang lebih suka menghabiskan waktu dirumah dibandingkan pergi keluar. Menekuni sebuah pekerjaan yang notabenenya harus selalu bersosialisasi dengan banyak orang merupakan ide yang sangat konyol yang pernah Romeo dengar untuk Juliet lakukan.


"Kenapa? memangnya papa salah?" Wiratama menautkan kedua alisnya, bingung dengan eskpresi yang di tunjukkan putranya.


"Kamu tahu, menurut papa, menantu papa itu adalah wanita yang lembut dan juga sangat perhatian. Selain itu, Juliet juga pintar. Karena itulah nak Juliet akan sangat cocok jika mengurus yayasan milik keluarga kita." kata Wiratama masih kekeh dengan pendapatnya.


Juliet lembut dan perhatian? Aih.. sejak kapan istrinya begitu? yang ada selama ini mereka hanya bisa berdamai sebentar lalu berubah menjadi tom & Jerry.


"Tapi pa, Romeo kan mau jalan-jalan keliling dunia dulu sama Juliet. Romeo udah janji, lagian juga ni ya, Romeo udah bikin daftar yang panjang buat rencana bulan madu kami." jelas Romeo berpegang pada semua rencana yang sudah di susunnya.


"Romeo juga belum mau gabung di perusahaan dalam waktu dekat pah, begitu juga dengan Juliet." Lagi-lagi Romeo berusaha menolak secara halus.


Sejak awal, perjanjian yang mereka sepakati bukan seperti ini. Sebagai seorang pria yang memegang perkataannya, Romeo tetap ingin mewujudkan semua mimpinya dulu, barulah setelahnya ia akan memikirkan untuk bekerja.


Lagipula, kekayaan yang dimiliki oleh papanya tidak akan habis meskipun Romeo tiga kali melakukan perjalanan keliling dunia..


"Keliling dunia nya kan bisa sambil kerja Rom. Kalian bisa berhenti sebentar di yayasan kita yang ada diluar negeri. Anggap saja kamu sedang mengajari Juliet karena kamu sudah lebih berpengalaman. Kalau bukan kalian, siapa lagi yang akan meneruskan semua ini?" kata Wiratama dengan sungguh-sungguh.


Selama ini harapan hanya satu, yaitu agar putranya mampu menjaga apa yang sudah ia bangun dengan susah payah.


"Ya lagian papa sih ada-ada aja. Hobi kok bangun yayasan.. bingung kan jadinya!" cibir Romeo tak mau mengalah.


"Bukan begitu Rom. Ini bukan sekedar hobi buat papa, tapi..


"Iya.. iya... Romeo tau.. misi kemanusiaan kan?" sela Romeo lagi. Ia sudah tahu apa yang papanya maksudkan dan menurut Romeo tidak ada yang salah dengan hal itu. Hanya saja...


"Romeo akan Pikirkan lagi permintaan papa. Bukan berarti Romeo tidak mau. Romeo tahu betul kalau semua ini nantinya pasti akan menjadi tanggung jawab Romeo. Hanya saja, Romeo belum mau memulai semuanya dalam waktu dekat. Romeo masih mau..-"


"Pa, Rom, makan malamnya sudah siap.." sela Juliet ditengah-tengah pembicaraan. Sepertinya, pembicaraan ini hanya cukup sampai di sini. Syukurlah.


Romeo tersenyum sebelum bangun dari tempat duduknya..


"Nanti Romeo bicarakan lagi dengan Juliet pah. Bagaimanapun kita harus mendengar bagaimana pendapatnya kan?"


"Kamu benar. Kalau begitu, kita akhiri pembicara ini sampai di sini. Sementara itu, jangan lupa kalau papa nasih menunggu kabar baik dari kalian berdua." sahut Wiratama mengedipkan matanya.


Kabar baik? maksudnya..


...❄️...


...❄️...


...❄️...