
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Romeo tersenyum manis saat melihat Juliet meninggalkan kamar dengan wajah yang merona. Awalnya Romeo tidak menyangka jika menggoda sang istri akan menimbulkan satu perasaan yang membuat hatinya juga turut berdebar.
"Sangat menggemaskan." Romeo mengulum senyum saat wajah Juliet terlintas dalam bayangan nya.
Romeo bahkan hampir tak percaya. Ia yang awalnya menolak untuk memiliki hubungan yang lebih dekat dengan Juliet justru menjadi seperti ini. Entah sejak kapan kebiasaan baru nya untuk menggoda Juliet dimulai. Jika tidak bisa menggoda sang istri hingga hingga pipinya senada dengan warna tomat, hati Romeo belum merasa puas.
Hal ini seperti ia menemukan satu kebiasaan baru yang akan terus membuat dirinya merasakan jantung berdebar karena bahagia.
...❄️❄️...
Sementara itu, ditempat lain, Juliet juga mengulum senyum karena merasa malu bercampur bahagia. Perlakuan manis dari membuat perasaan Juliet berbeda. Keinginan dan keegoisan nya juga sedikit demi sedikit terkikis tanpa ia sadari.
Juliet juga mulai bisa menerima keberadaan Romeo dalam hidupnya. Juliet juga mulai terbiasa untuk mengekspresikan perasaannya dengan cara yang sederhana.
Perlahan-lahan Romeo juga mulai membuka diri dan menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya. Dan tentu saja Juliet menyukai semua perubahan kecil yang terjadi dalam hubungan mereka.
"Ada yang bisa Juliet bantu, Oma?"
Juliet tersenyum dengan wajah yang berbinar. Melihat kebahagiaan cucu bungsunya itu membuat hati Dena merasa lega. Dena juga merasa bersyukur telah memilihkan seorang pendamping yang tepat bagi cucunya.
"Tidak sayang. Semuanya sudah siap." Dena tersenyum lembut. "Tugas mu sekarang hanyalah memanggil opa dan juga suamimu." kata Oma Dena memberikan tugas yang terbilang sangat mudah kepada Juliet.
Juliet menganggukkan kepala setuju, "Baiklah. Kalau begitu Juliet akan panggilkan opa dan Romeo.
Dengan langkah yang riang Juliet menaiki tangga menuju ke lantai 2 dan tiga rumahnya. Lantai dua dimana ruang kerja opa Adam, dan di lantai tiga adalah dimana kamar miliknya yang saat ini sedang di isi oleh seorang pria penggoda yang cukup berbahaya.
Di depan pintu berwarna coklat gelap khas kayu Cendana, Juliet berdiri dengan senyum yang masih belum memudar, "Opa?" Juliet mengetuk kemudian memutar kenop dan membukanya. Opa Adam tersenyum pada Juliet. "Oma meminta kita untuk segera keruang makan. Makan siang sudah siap." kata Juliet.
"Baiklah sayang. Opa akan pergi sebentar lagi." balas opa Adam yang terlihat masih memeriksa beberapa berkas.
"Jangan lama-lama opa, Oma sudah menunggu kita." kata Juliet lagi.
Dan selanjutnya: adalah kamar miliknya. Jantung Juliet berdegup. Detak jantung nya juga berdebar terlalu cepat.
Juliet bersiap-siap untuk mengetuk pintu. Meskipun itu kamarnya sendiri tetap saja Juliet tidak ingin Romeo berpikir bahwa dirinya adalah wanita mesum yang tidak tahu etika.
"Rom? kalau Lo udah selesai mandinya langsung keruang makan aja ya. Oma sama opa udah nungguin." kata Juliet dari depan pintu. Juliet menunggu, sebab Ia tidak ingin masuk ke dalam sana.
Setelah beberapa detik berlalu, tidak ada suara balasan dari Romeo. Dengan gerak perlahan Juliet mendekatkan telinganya pada pintu kamar. Tidak ada suara pergerakan apapun di dalam sana. Suara desiran air pun tidak terdengar.
"Masa tidur sih?" Juliet berpikir sesaat.
"Rom? lo udah selesai belom sih?" Juliet memanggil untuk terakhir kalinya, tapi untuk yang saat ini pun tetap tidak ada jawaban. Pada akhirnya, Juliet memutuskan untuk membuka pintu kamar dan memastikan nya secara langsung.
"Dar...!"
"Astaga!"
Benar kecurigaan Juliet. Romeo sengaja menunggu dibalik pintu untuk menjahili dirinya. "Apaan sih. Gue kira Lo ketiduran!" kata Juliet sedikit kesal dengan ulah Romeo.
Romeo menarik tangan Juliet hingga gadis itu berada dalam pelukannya. "Kenapa gak masuk aja sih? Lo malu sama gue? iya?"
Kali ini Juliet tidak akan termakan dengan godaan pria di hadapannya ini, ia tahu jika Romeo selalu ingin mengganggu dirinya.
"Pala Lo malu." Juliet menginjak kaki Romeo dengan sendalnya, "Aww.. sakit tau." Romeo meringis sambil mengangkat kakinya yang telah sengaja di injak oleh Juliet.
"Emang enak. Lo duluan yang mulai." senyum mengejek dan penuh kemenangan tergurat di wajah cantik itu. Setelahnya Juliet meninggalkan Romeo dengan setengah berlari menuruni tangga.
"Awas aja Lo." Romeo mengejar Juliet yang sudah lebih dulu menuruni tangga. "Juliet tungguin gue!"
"Siapa suruh Lo lama! kejar gue kalau Lo bisa."
Mendengar keributan dan suara tawa yang cukup nyaring membuat Dena dan Adam ikut mengulum senyum;
"Eh.. eh.. pelan-pelan sayang." Juliet mengambil tempat tepat di sebelah Oma Dena. Gadis itu masih tertawa cekikikan saat melihat Romeo juga menuruni tangga dengan cepat.
Saat menyadari semua mata sedang melihat kearahnya; Romeo pun melambatkan langkah kakinya; sementara di sana ada seorang gadis yang masih mengolok dirinya dengan penuh kemenangan.
"Nak Romeo. Ayo sini, kita makan siang dulu." ajak opa Adam seraya tersenyum maklum dengan ulah kedua cucunya yang nampak begitu harmonis.
"Iya opa."
Rasain Lo. Emang nya Lo doang yang bisa jahilin gue.
...❄️...
...❄️...
...❄️...