ROMEO & JULIET

ROMEO & JULIET
RJ-33



...❄️...


...❄️...


...❄️...


Satu jam berlalu. Juliet yang sudah merampungkan semua tugas kuliahnya langsung bersiap-siap seperti janjinya pada Romeo.


Sejak tadi ia selalu bertanya-tanya, hal penting apa yang ingin Romeo bicarakan pada dirinya, karena itulah Juliet tidak menolak ajakan pergi yang Romeo tawarkan.


"Lo udah siap?" Romeo berdiri di ujung tangga sambil memperhatikan istrinya. "Hem udah." sahut Juliet. Namun perhatian gadis itu tidak terfokus pada dirinya. "Lo liat opa sama Oma gak sih? kok gue cariin gak ada. Masa di kamar?" Juliet balik bertanya seraya mencari-cari.


Kini Romeo tahu alasannya, "Opa sama Oma barusan keluar. Ketemu gue tadi di depan." sahut Romeo menjelaskan mengapa istrinya tidak akan bisa menemukan keberadaan kedua orang tersebut.


"Hah, seriusan? kok gak bilang. Biasanya Oma pasti kasih tau kalau mau keluar." Juliet memanyunkan bibirnya, terlihat sedikit kecewa.


...Juliet turun selangkah demi selangkah......


Romeo hanya bisa mengulum senyum. Sebab ia tahu, bagaimana dekatnya hubungan opa dan Oma dengan istrinya. "Tadi Oma nyariin kok, cuma gue bilang Lo lagi nugas, makanya Oma sama opa pamit sama gue doang." jelas Romeo lebih terperinci.


Seketika raut wajah Juliet berubah, sedikit lebih ceria dari sebelumnya. "Oh gitu. Ya udah. Gue kira tadi mereka pergi diam-diam."


Juliet pun sampai di ujung tangga. Berdiri di depan Romeo yang masih menatap dirinya lekat. "Lo gak mau ganti baju dulu?" Juliet mengalihkan perhatian Romeo. Jujur saja ia sedikit malu mendapat tatapan seperti ini.


"Udah lah ntar aja di apartment. Lo udah benar-benar siapa atau mau ngabsenin yang lain?" goda Romeo membalas ucapan istrinya. Juliet memicingkan mata gemas pada Romeo. "Apaan sih. Ya udah yuk jalan." ajak Juliet, malu.


Romeo pun mengulurkan tangannya untuk menangkup tangan mungil milik Juliet. Hangat dan juga menggelitik. Begitulah perasaan Romeo saat ini.


...Kurang lebih 20 menit perjalanan, keduanya pun tiba di apartemen milik Romeo....


Kebersamaan mereka selama ini membuat Romeo tidak pernah merasa canggung ataupun sungkan saat berada di dekat Juliet. Baginya, Juliet sudah menjadi bagian dari dirinya, karena itulah, ia menganggap keberadaan Juliet sudah seharusnya seperti ini.


Bukankah mereka bisa berteman dan bergaul dengan lebih akrab tanpa ada perasaan-perasaan yang mungkin akan merepotkan? Romeo harap ia bisa melakukan perannya dengan baik.


"Gue mandi bentar ya. Mau ganti baju juga." ujar Romeo sambil mencium aroma tubuhnya sendiri. Meskipun jujur saja, ia terbilang wangi untuk ukuran seseorang yang belum berganti pakaian sejak pagi.


Juliet mengangguk, acuh. "Hem."


Selama berada di Bali, Juliet tidak pernah membayangkan jika mereka akan kembali lagi ketempat ini.


Pikirnya, setelah kembali ke Jakarta, mereka akan langsung berpisah dan kembali pada kehidupan masing-masing. Tapi syukurlah, keberadaan mereka saat ini terasa jauh lebih baik dari pada harus menjadi orang asing.


Seraya menunggu Romeo selesai mandi, Juliet pun berinisiatif untuk membersihkan ruang tamu yang terlihat cukup berdebu. Memang tidak berantakan. Tapi tetap saja, sudah cukup lama mereka membiarkan apartemen itu kosong.


Hanya berdiam diri saja membuat perasaan Juliet semakin gelisah. Karena itu ia harus bergerak.


...❄️...


Setelah selesai mandi. Romeo pun keluar dari kamar karena mendengar suara yang cukup bising, dan saat keluar ia justru mendapati Juliet yang sedang menggunakan alat penyedot debu diruang tamu miliknya. Bukan. ruang tamu milik mereka.


Romeo hanya diam memperhatikan. Ia tidak ingin menyela apapun yang sedang di lakukan istrinya. Awalnya Romeo berpikir jika Juliet tidak bisa melakukan hal-hal seperti ini. Namun ternyata gadis itu sedikit melebihi ekspektasinya.


"Huh.. akhirnya beres juga. Ternyata gue bisa juga beres-beres." Juliet tersenyum bangga pada dirinya sendiri. Ruang tamu apartemen itu kini terlihat lebih bersih dan juga lebih rapi dari sebelumnya. Terlihat lebih nyaman juga untuk bersantai.


Romeo tersenyum. "Beres-beres dimana lagi ya?" Juliet memperhatikan sekeliling apartemen. Ia sudah membuka balkon, dan juga menata barang-barang kembali ke tempat yang seharusnya.


Dan ternyata semuanya terlihat masih baik-baik saja. Karena tidak ada lagi yang bisa ia bersihkan, Juliet pun kembali menyimpan peralatan yang tadi ia gunakan ketempat semula.


"Mau minum?" tiba-tiba saja Romeo menyodorkan segelas jus jeruk pada Juliet. Tentu saja Juliet tidak menolak, karena ia memang merasa sedikit haus setelah melakukan beberapa pekerjaan kecil.


"Makasih." ujar Juliet tersenyum senang. "Kayanya kita gak perlu pake ART deh, kerjaan Lo rapi gini." puji Romeo yang juga ingin menggoda istrinya itu.


...Wajah Juliet bersemu....


...Apa Romeo dari tadi merhatiin gue?...


"Kalau cuma apartemen gini sih gue gak masalah bersihin sendiri. Tapi masalahnya..."


Romeo menaikan satu alisnya, menunggu. "Gue gak bisa masak." aku Juliet dengan wajah polos. Romeo kembali mengulum senyum. Bagaimana tidak? Meskipun Juliet bisa membersihkan rumah, belum tentu gadis itu bisa melakukan pekerjaan lainnya bukan?


Apalagi istrinya itu bukan berasal dari kalangan biasa, tapi cucu dari seorang pengusaha yang namanya cukup di kenal banyak orang. Mungkin saja sejak kecil Juliet sudah terbiasa melakukan apapun dengan bantuan ART.


Jadi, melihat Juliet yang sebelumnya mau membersihkan ruang apartemen dengan hasil yang seperti ini saja sudah merupakan suatu pekerjaan luar biasa bagi Romeo, dan ia tidak akan pernah menuntut Juliet untuk melakukan hal lainnya lagi.


"Iya gue tau kok. Kita sama." Romeo tersenyum. "Gue juga gak bisa masak." sambungnya. "Urusan makanan sih gampang, kalau lapar ya tinggal beli aja. Iya kan? jadi Lo gak usah khawatir."


Romeo tidak ingin menjadikan hal-hal sepele seperti itu sebagai penghambat dalam hubungan mereka. Ia punya uang, dan juga warisan yang berlimpah, jadi untuk hal seperti ini bukan apa-apa baginya.


...Jangankan hanya makanan, bahkan untuk hal lainnya pun Romeo bisa memberikannya pada Juliet.....


...Juliet tersenyum lega....


Jujur saja awalnya ia sempat khawatir saat memutuskan untuk menjadi istri Romeo. Ia takut jika nantinya Romeo akan menuntut banyak hal pada dirinya untuk memenuhi peran sebagai seorang istri. Tapi ternyata, Romeo lebih pengertian dari yang ia bayangkan. Syukurlah.


...❄️...


"O, ya. Tadi kan Lo bilang mau ngomong. Emangnya mau ngomongin apaan?" tanya Juliet lebih dulu. Ia rasa tidak perlu lagi menunda-nunda lebih lama.


Jik memang ada hal penting yang harus mereka bicarakan, bukankah berdiskusi lebih awal akan lebih praktis di bandingkan menunda-nunda hanya untuk mencari opsi lain yang justru mungkin saja berpotensi untuk mengaburkan makna yang di anggap penting dari pembicaraan tersebut.


Sebenarnya, Romeo pun ingin mulai bicara, tapi sepertinya istrinya termasuk wanita yang sedikit tidak sabaran.


"Ehem. Lo tau kan rencana gue mau balik ke CF?" ujar Romeo memulai. Juliet menanggapi dengan anggukan, "Yup. Tau kok. Emang kenapa?"


"Gue mau pergi bareng Lo. Gimana?" pinta Romeo tanpa basa-basi. Sedikit ragu, namun tetap tenang. "Jadi maksud yang Lo penting itu karena Lo mau ngajakin gue?"


"Iya. Bisa di bilang gitu." Romeo tidak mungkin mengatakan jika itu adalah permintaan dari opa Adam. Ia tidak ingin Juliet berpikir yang bukan-bukan tentang permintaan ini.


"Ya udah. Berangkat aja. Gue bakal ikut sama Lo." jawab Juliet membuat Romeo sedikit terperangah. "Lo mau ikut?" ulang Romeo masih tidak percaya. "Iya. Kan Lo yang ngajak."


"Serius?"


"Iya."


"Udah, gitu doang. Segampang itu?" Gumam Romeo heran. Karena awalnya Juliet menolak. Tapi sekarang..


Romeo tersenyum lebar. "Beneran kan? Lo gak lagi becandain gue kan Jul?" tanya Romeo curiga. "Iya. Ngapain juga becanda. Gue bisa kok ikut Lo ke CF." Akhirnya, Romeo bisa juga menepati janji pada papanya, dan juga memenuhi permintaan opa Adam. Syukurlah.


"Yes. Makasih ya. Gue senang banget."


...❄️...


...❄️...


...❄️...