
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Seharusnya mereka tidak bersikap seperti ini. Terlalu kekanak-kanakan. Dan juga menyebalkan. Mereka adalah orang dewasa yang bahkan sudah menikah dan terikat dalam satu janji yang suci.
Meskipun kenyataan di balik itu berbeda. Tapi tetap saja. Baik Juliet ataupun Romeo; tidak seharusnya mereka menjadi seperti orang asing.
Meskipun tidak bisa bersikap seperti sepasang kekasih, bukankah sebelumnya hubungan mereka baik sebagai seseorang yang saling mengenal..? lantas kenapa harus berubah seperti ini?
Meskipun tidak saling mencintai, bukankah mereka bisa bertahan sebagai seorang teman? setidaknya sampai perjanjian mereka berakhir.
"Juli, maafin gue." Romeo masih membujuk. Dan ya, Juliet tidak ingin bersikap seperti anak-anak lagi. Mungkin dirinya lah yang bereaksi terlalu berlebihan.
Juliet membuka selimut yang menutupi wajahnya dan menatap langsung kepada wajah Romeo yang terlihat menyesal.
"Gue tau gue salah. Gak seharusnya gue ikut campur urusan Lo. maaf." pengakuan seperti inilah yang membuat penilaian Juliet tentang Romeo selalu berubah.
Juliet tidak bisa menebak seperti apa sosok Romeo yang sesungguhnya. "Gue udah gak marah lagi kok." Juliet duduk bersandar di tepi dinding.
"Kayaknya kita harus ngomong serius tentang batas yang ada di dalam kontrak." Juliet hanya ingin ada batas yang jelas dalam hubungan mereka.
"Gue juga gak suka kaya gini. Kita udah kaya anak kecil. Gue mau kita kaya biasanya aja. Gue juga nyaman kok temenan sama Lo." karena memang itulah yang Juliet rasakan.
Romeo sosok yang tidak buruk sebagai seorang pria. Bahkan seorang boyfriend material jika saja hubungan mereka tidak seperti ini.
"Kita cuma gak perlu saling jatuh cinta aja kan? gue rasa itu gak sulit." entah kenapa perasaan Romeo terasa aneh. "Kita bisa kaya biasanya tanpa harus saling suka atau apapun. Gue rasa itu gak akan sulit."
Memikirkan tentang Juliet yang bahkan tidak akan menyukai dirinya membuat dada Romeo terasa berat. Apakah ia kecewa? tapi bukankah memang seharusnya begitu?
"Jadi Lo udah gak marah?" Romeo yakin bahwa saat ini dirinya lah yang sedang merasa tidak baik-baik saja.
"Hem. Gue gak marah. Maaf kalau tadi gue berlebihan." Juliet tersenyum seakan tadi bukanlah apa-apa baginya.
Dan Romeo tidak tahu harus menyikapi seperti apa pernyataan Juliet sebelumnya. Karena jujur saja, semakin mengenal Juliet, Romeo semakin menginginkan hal yang lain.
"Tapi di depan orang lain ada beberapa hal yang harus kita lakuin di luar sebatas hanya terlihat mesra." seharusnya Romeo tidak mengatakan itu. Tapi sudah sewajarnya Juliet juga memikirkan hal tersebut bukan?
"Maksud gue; mungkin suatu hari gue harus." Romeo sedikit ragu mengatakan kepada Juliet bagaimana ia akan memperlakukan gadis itu nanti.
"Lo gak keberatan kan kalau misalnya ada kegiatan fisik? maksud gue like Kiss or more.." wajah Juliet terasa menghangat. Ia belum pernah memikirkan tentang itu sebelumnya. Apalagi melakukan nya bersama Romeo.
"Maksud gue, ya seperti itu di depan orang lain. Lo gak masalah?" apakah Romeo sedang menunggu persetujuan darinya?
"Gue,- mungkin sesekali it's oke. Di depan orang-orang yang menurut Lo harus." keputusan yang gila. Tapi Juliet memang tidak akan keberatan jika harus berpelukan mesra ataupun berciuman dengan Romeo. Lagi pula itu hanya sebatas akting, dan tidak harus melibatkan perasaan.
"Hanya akting kan? gue gak masalah kok." Ah benar-benar gila. Bahkan Juliet sendiri tidak yakin dengan apa yang barusan keluar dari mulutnya.
"Bagus deh Kalau gitu." Romeo tersenyum, dan sekali lagi ada yang tidak beres dengan jantung Juliet. "Kalau gitu Lo lanjutin aja istirahat nya. Gue mau jalan-jalan bentar. Atau Lo mau ikut gue?"
"Gue ikut Lo aja."
...❄️...
...❄️...
...❄️...