
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Saat mobil berhenti di depan rumah, Romeo yang sudah menantikan kepulangan istrinya buru-buru untuk melihat keluar.
Dan benar saja itu adalah Juliet, tapi sebelum Romeo menyongsong Juliet ia berhenti sejenak untuk mengamati mobil yang dinaiki istrinya, dan menyadari bahwa mobil itu bukan taksi, melainkan sebuah mobil pribadi.
"Rand, makasih udah nganterin gue. Dan makasih juga buat makan siangnya." Juliet berdiri di samping mobil yang terparkir dengan perasaan sungkan karena telah merepotkan Randy.
Ini adalah salahnya karena masih belum bisa menghafalkan rute dengan baik.
"Gak apa-apa kok santai aja." Balas Randy. Pria itu tersenyum sambil terus mengeluarkan barang-barang belanjaan Juliet, hingga tak ada yang tersisa di dalam sana.
Untuk sesaat keduanya sempat terdiam, perasaan kikuk pun muncul lagi. Randy yang menyadari posisinya buru-buru untuk menyudahi semua hal yang tak seharusnya itu, "Kalau gitu gue langsung balik ya. Kalau Lo perlu apa-apa Lo bisa hubungin gue. Anytime."
Juliet membalasnya dengan senyuman samar, merasa bersyukur atas kebaikan yang diterimanya dari Randy. "Iya. Makasih ya, hati-hati dijalan." meskipun masih merasa canggung, tapi syukurlah pertemanan mereka tak berubah.
Dan semua interaksi yang terjadi di sana tidak satupun yang luput dari perhatian seorang Romeo. Pria itu bergeming sambil menatap tajam pada istrinya.
Setelah mobil Randy pergi, Juliet pun membawa semua barang belanjaan nya masuk ke dalam rumah. Saat melewati garasi, Juliet pun menyadari jika mobil Romeo ada di sana. Yang artinya Romeo sudah pulang.
Dalam hati Juliet kembali merasa tak nyaman. Ia takut Romeo salah faham jika tahu bahwa sebelumnya ia pulang bersama Randy.
Apa Romeo melihat Randy barusan? tapi kalau dia melihat Randy, kenapa Romeo gak keluar? pikir Juliet. Tapi kemudian ia mengenyahkan pikiran tersebut. Itu hanyalah kekhawatiran nya saja. Lagi pula jika memang Romeo melihatnya, maka ia akan menjelaskan semuanya.
Tak ingin berspekulasi lebih jauh, Juliet pun buru-buru masuk ke dalam rumah. Lantai satu terlihat sepi, tidak ada tanda-tanda keberadaan Romeo di sana.
"Rom? kamu udah pulang?" panggil Juliet. Ia buru-buru membereskan semua belanjaannya dan memasukkan sebagian ke dalam kulkas dan sebagian lagi ke dalam lemari.
Selesai membereskan semuanya Juliet pun naik ke lantai atas. "Rom?" Juliet sekali lagi bersuara. Pertama-tama ia mencarinya ke kamar tidur Romeo, tapi kamar itu juga terlihat kosong.
"Apa perasaan aku aja ya? jangan-jangan aku salah lihat. Bisa ajakan tadi pagi Romeo gak bawa mobil." dengan pikiran seperti itu, Juliet merasa sedikit lega. Setidaknya ia tidak harus menjelaskan tentang Randy pada suaminya.
Setelah menutup kembali kamar Romeo, Juliet pun pergi ke kamarnya. Karena merasa lelah, Juliet berencana ingin beristirahat sejenak sambil menunggu suaminya pulang.
Saat masuk ke dalam kamarnya, mata Juliet langsung tertuju pada sosok pria yang berbaring diatas ranjangnya. Itu adalah suaminya.
Tapi kenapa Romeo di sini? apa tadi dia melihat semuanya? Jantung Juliet tiba-tiba saja berdegup tak beraturan.
Untuk satu alasan, merasa tak nyaman akan hal tersebut. Ah tidak bisa. Aku tidak bisa begini. Bersikaplah seperti biasa Juliet, lagi pula aku tidak melakukan kesalahan apapun.
"Rom?" Juliet menghampiri suaminya untuk melihat lebih dekat. Romeo sedang tertidur. Atau pura-pura tidur? "Aku kira kamu belum pulang. Ternyata kamu malah tidur di sini." Juliet memperhatikan Romeo sesaat.
Melihat Romeo yang begitu nyaman di sana, Juliet pun menarik bedcover nya untuk menyelimuti Romeo. Setelahnya, Juliet berniat ingin mengganti pakaian. Tapi belum lagi ia beranjak tangan Romeo sudah mencengkeram pergelangan tangan Juliet dengan cukup erat.
"Kamu udah pulang?" kata Romeo dengan suara khas bangun tidurnya. Juliet kembali terduduk disebelah Romeo sambil tersenyum canggung. "Hem, baru aja. Aku ngebangunin kamu ya?"
Romeo bergerak lalu memeluk pinggang Juliet dengan kepalanya yang diletakan diatas pangkuan gadis itu. "Aku kangen kamu. Lain kali kalau mau pergi bilang aku, biar aku yang temenin." ucap Romeo sambil melenguh manja.
Jujur saja Juliet tidak ingin terlibat perselisihan dengan Romeo. Lagi pula memang tidak ada hal yang perlu di khawatirkan antara dirinya dan Randy. Karena itulah Juliet lebih memilih untuk menyimpannya sendiri.
Melihat Romeo yang kembali tertidur diatas pangkuannya, membuat Juliet juga tergoda untuk ikut berbaring. Jadilah mereka tidur siang bersama.
...❄️...
Pukul empat sore. Juliet terbangun lebih cepat. Sedangkan Romeo masih tertidur lelap. Dengan keadaan mereka saat ini, Juliet tidak perlu disibukkan untuk mengurus pekerjaan rumah.
Karena tidak ada hal-hal yang menuntut dirinya harus menjadi istri yang perfeksionis. Dan itu jugalah yang membuat dirinya merasa bahwa saat ini mereka tengah menikmati masa-masa kesenangan tinggal bersama.
Dalam diam Juliet juga memperhatikan wajah Romeo sambil tersenyum. Ia memikirkan apa jadinya jika pria yang dinikahinya bukanlah Romeo, apakah semuanya akan berbeda?
Saat memperhatikan Romeo lebih dalam, Juliet tidak tahan untuk tidak menggoda suaminya itu. Perlahan-lahan Juliet mengulurkan tangan untuk menyentuh hidung Romeo, kemudian ia juga merapikan anak-anak rambut yang sedikit menutupi alis matanya.
Wajah teduh Romeo benar-benar bisa meluluhkan hatinya. Hah. Benar-benar wajah yang berbahaya.
"Rom.. bangun.." bisik Juliet sambil terus menyentuh wajah Romeo. Tapi pria itu tidak bergerak sedikitpun. Sekali lagi Juliet melakukan hal yang sama. Ia menekan pipi Romeo kemudian menjepit hidung Romeo dengan kedua jarinya.
"Rom..ayo bangun." ulang Juliet. Pria itu merespon dengan sedikit mengerang. Namun masih enggan untuk membuka matanya.
"Panggil sayang dulu baru aku bangun." ucapnya yang tiba-tiba saja melingkarkan tangan di pinggang Juliet dan memeluknya erat.
Sayang. Juliet tersipu. Ia belum terbiasa memanggil Romeo dengan cara seperti itu. sedikit canggung baginya untuk bersikap manis, saat menyadari bagaimana hubungan mereka selama ini. Sepertinya ia memang harus membiasakan diri dengan hal-hal yang baru.
"Ayo bangun." ucap Juliet masih menolak untuk menuruti permintaan Romeo. "Akan ku buatkan coklat hangat kalau kamu bangun.." belum lagi Juliet menyelesaikan kalimatnya, bibir Romeo sudah lebih dulu membungkam mulut gadis itu.
"Aku lebih suka kalau kamu membangunkan aku dengan cara seperti ini." bisik Romeo. Dan tentu saja hal tersebut membuat wajah Juliet menghangat sepenuhnya. Ah... sialan. Dasar pria ini.
"Jangan menggoda ku seperti itu. Dasar curang!"
Juliet mendorong badan Romeo, agar bisa lepas dari pelukan pria itu. Setelah mendapat celah, Juliet buru-buru bangun dan beranjak dari sana. Di balik selimut, Romeo hanya mengulum senyum saat memperhatikan tingkah malu-malu Juliet. Sangat menggemaskan.
"Mau kemana, tunggu aku!"
"Kamu kan bisa bangun sendiri!" Juliet keluar dari kamar dengan terburu-buru.
"Julieeeet..! Sayang... ? Istriku.. mau kemana?" panggil Romeo sengaja menggoda wanita itu.
Aaaaaaaakkkkkkkk..... "Aku gak dengar!" Juliet sengaja menutup telinganya karena malu.
"Sayang tunggu. Kita belum lama berciuman nya...!"
"Aaaahhhhhh...bodo amat. Aku gak denger!"
...❄️...
...❄️...
...❄️...