
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Setelah keputusan untuk menginap disepakati, baik Juliet maupun Romeo hanya menghabiskan waktu mereka didalam kamar. Bukan karena mereka tidak ingin saling bertemu, hanya saja bagi Juliet sendiri, ia merasa sedikit canggung jika terus berada disekitar Romeo.
Pria itu membuat nya berdebar. Lagi pula tidak ada alasan khusus yang mengharuskan mereka terus bersama. Tidak ada kursi atau pun meja yang harus di geser. Tidak ada perabotan yang tidak berada di tempat semestinya.
Piring atau gelas yang kotor. Bahkan tidak ada sampah yang berserakan dirumah itu. Semuanya sudah terlihat rapi dan bersih, bahkan bisa di katakan, semuanya sempurna. Karena itu....
...Tok.. Tok.....
"Juliet, ini aku." kata Romeo yang saat ini tengah berdiri balik pintu. Juliet yang tadinya hanya berbaring, langsung bangun begitu mendengar suara pria itu.
"Jangan gugup. Biasa saja." Juliet membuka pintu kamarnya. "Ada apa?" katanya sambil berdiri di sela-sela pintu yang terbuka.
"Aku ingin pergi ke supermarket untuk membeli beberapa kebutuhan yang kemarin belum sempat ku beli. Apa kau mau ikut?" ajak Romeo. Tidak ada maksud lain. Ia hanya tidak ingin meninggalkan Juliet seorang diri.
"Hem. Aku ikut." Begitu juga dengan Juliet. Tidak ada alasan baginya untuk menolak ajakan Romeo. Lagi pula ia juga perlu membeli beberapa barang. Karena itulah ia akan ikut.
Setelah merapikan dirinya, Juliet pun menghampiri Romeo yang sudah menunggu di teras.
"Aku sudah siap. Kita berangkat sekarang?"
"Ayo."
...❄️...
Setelah tiba di supermarket, Romeo dan Juliet memutuskan untuk pergi ke arah yang berbeda. Romeo pergi untuk membeli beberapa kebutuhan pribadi serta kebutuhan lainnya, begitu pula dengan Juliet.
"Kita bertemu di sini tiga puluh menit lagi, bagaimana?" kata Romeo saat mereka akan berpisah.
"Hem. Aku akan mengirim pesan jika sudah selesai."
"Baiklah."
Setelah Juliet pergi ke arah yang berlawanan dengan dirinya, Romeo pun beranjak untuk mencari barang-barang yang ia perlukan. Mulai dari yang mudah ia dapatkan.
Romeo memiliki cukup banyak daftar belanjaan yang yang harus ia beli. Tidak hanya kebutuhan pribadi tapi juga bahan-bahan makanan untuk mengisi kulkas mereka yang masih kosong.
Ini adalah kali pertama bagi Romeo berbelanja dengan senang hati seperti ini. Rasanya ia benar-benar telah menjadi seorang suami sungguhan.
Membayangkan saja membuat nya berdebar. Apalagi saat memikirkan malam ini mereka akan melewati malam bersama, wajah Romeo tiba-tiba saja menghangat. Ia benar-benar menantikan malam ini.
Sepertinya, ini adalah dampak dari ciuman malam itu. Tidak hanya mengubah sebagian besar dari dirinya tapi juga caranya memperlakukan Juliet.
Hanya saja, Romeo masih belum merasa yakin sepenuhnya dengan perasaannya. Apakah semua ini hanya sementara ataukah akan terus berlanjut nanti nya.
Sepertinya, aku harus memastikan perasaanku sekali lagi..
...❄️...
Saat menyusuri lorong di sebelah barat, tanpa sengaja Romeo berpapasan dengan seseorang yang cukup familiar, hanya saja ia lupa dimana mereka pernah bertemu. Tapi sekali lagi, intuisi nya mengatakan jika wajah orang itu adalah wajah yang ia kenali.
Karena tidak yakin dengan ingatan nya, Romeo pun memutuskan untuk mengabaikan orang tersebut dan melanjutkan kegiatan berbelanja nya.
Setelah hampir mengisi penuh seluruh troli yang di bawa, Romeo pun kembali ke tempat dimana ia berpisah dengan Juliet. Hanya saja, sepertinya gadis itu masih belum selesai dengan belanjaannya.
Saat menunggu, Romeo terus berdiam di sana. Ia tidak peduli saat orang-orang mulai memperhatikan dirinya, yang Romeo pikirkan hanyalah; apakah Juliet tidak kesusahan berbelanja seorang diri. Apakah gadis itu tahu dimana harus menemukan barang-barang nya, ataukah...
"Harusnya aku ikut saja tadi." gumam Romeo yang mulai merasa cemas.
Tanpa terasa waktu sudah berlalu begitu saja, tapi Juliet masih belum datang juga. Karena hatinya merasa was-was, Romeo pun memutuskan untuk kembali mengelilingi supermarket dan mencari keberadaan Juliet.
Saat melihat sosok Juliet dari kejauhan, entah kenapa Romeo bisa bernafas dengan lega. Bahkan sebuah senyuman mulai mengembang di wajahnya, dan kakinya terus melangkah untuk segera mendapati Juliet.
Dan perasaan itu muncul lagi. Perasaan aneh dalam dada Romeo. Perlahan-lahan hatinya mulai terasa panas. Dan Romeo tahu bahwa ia tidak menyukai pemandangan itu. Dimana Juliet tersenyum dengan begitu sumringah, sementara pria didepannya menatap istrinya dengan wajah seorang yang sedang merindu. Brengsek!
Ingin memastikan bagaimana situasi yang sebenarnya, Romeo pun hanya memperhatikan dari kejauhan. Dan semakin di lihatnya, Romeo mulai mengingat dimana ia pernah bertemu pria itu.
...❄️...
"Menakjubkan bukan?" pria di depan Juliet tersenyum dengan mata berbinar. "Di dunia yang begitu luas ini, bagaimana bisa kita bertemu di sini. Bukankah ini seperti takdir?" Randy. Pria yang saat ini tengah berdiri di hadapan Juliet.
Juliet pun tak bisa berkata-kata. Ia sendiri merasa takjub dengan pertemuan ini. Baginya, hal ini benar-benar suatu kebetulan yang luar biasa. "Randy, kau disini?" Juliet tersenyum dengan binar yang sama. "Senang bisa melihat mu lagi." sambutnya setengah tak percaya.
Alih-alih membalas sapaan Juliet dengan kata-kata, Randy justru langsung memeluk gadis itu dengan cukup erat. Ia benar-benar senang bisa bertemu Juliet ditempat ini.
Selama ini Randy hanya bisa memikirkan Juliet dan merindukan gadis dengan diam-diam. Sebab Juliet masihlah gadis yang di cintai nya.
"Aku juga. Kau tidak tahu betapa terkejut dan bahagia nya aku saat melihat mu tadi Juliet. Aku kira ini semua hanya halusinasi ku. Tapi ternyata tidak. Kau benar-benar nyata." ucap Randy senang.
Sementara itu, di kejauhan ada sosok lain yang tengah memperhatikan keduanya dengan tatapan tajam.
Ckck. "Lihat! Bagaimana bisa wanita yang sudah bersuami ini malah berpelukan dengan pria lain. Mana ditempat terbuka seperti ini lagi." kecam Romeo dengan tangan terkepal.
Tak ingin membiarkan kedua semakin bermesraan, Romeo pun segera mendorong troli nya menghampiri Juliet.
Ehmm. Romeo sengaja bersuara untuk menginterupsi Randy dan Juliet. Dan benar saja, Randy langsung melepaskan pelukannya dari Juliet.
Setelah itu, dengan lihainya Romeo langsung mengambil alih dengan melingkarkan tangannya dengan posesif pada pinggang Juliet.
"Sayang, kamu sudah selesai? aku mencari mu sejak tadi." Romeo sengaja menunjukkan kepemilikan atas Juliet.
"Rom, kamu di sini. Kamu ingat dia?" kata Juliet yang tidak menyadari tatapan nyalang Romeo pada pria di depannya.
"Ini Randy. Teman kuliah ku di indo. Kami bertemu di sini tanpa sengaja. Benar-benar sebuah kebetulan, bukan?" ucap Juliet masih tidak menyadari situasinya.
Romeo yang sejak awal sudah melihat keduanya hanya berpura-pura tersenyum saat menanggapi perkataan Juliet, "Ah, benarkah?" katanya kembali memberikan tatapan tak suka pada Randy. "Senang bertemu dengan mu." kata Romeo berusaha bersikap sopan seadanya.
Randy hanya menganggukkan kepala untuk membalas sapaan Romeo. Ia juga sama tak sukanya dengan pria itu. "Kau sudah selesai sayang?" ujar Romeo lagi, sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Hem. Aku baru saja selesai."
Baru? cih! "Benarkah, kalau begitu sebaiknya kita segera menyelesaikan semua barang-barang ini." kata Romeo menunjuk pada troli miliknya dan juga milik Juliet.
Romeo sengaja mengabaikan keberadaan Randy. Atau lebih tepatnya, ia tidak ingin pria itu ada di sana. Di depan istrinya.
"Ah.. maaf. Sepertinya, kami harus pergi sekarang." kata Romeo dengan tatapan ramah yang dibuat-buat.
"Ya. Silahkan saja." sahut Randy, yang menyadari tatapan tak suka Romeo pada dirinya. "Rand, aku pergi dulu. Senang bisa bertemu dengan mu lagi." ucap Juliet tulus.
"Berhati-hati lah saat kembali nanti." seru Juliet lagi sebelum mereka benar-benar berpisah.
"Hem. Kau juga, Juliet."
Masih dengan sikap posesifnya, Romeo bahkan tidak melepaskan tangannya dari pinggang Juliet.
"Sudah tidak ada yang melihat. Kamu bisa melepaskan tanganmu." ucap Juliet tak terbiasa dengan kedekatan Romeo.
"Kenapa aku harus melepaskan tanganku? lagi pula aku bukan orang asing. Aku suami mu Ju-li-et." balas Romeo seakan menegaskan posisinya.
Juliet hanya bisa menggeleng heran dengan perubahan sikap Romeo yang tiba-tiba. "Ya. Ya. Terserah kau saja."
...❄️...
...❄️...
...❄️...