
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Makan malam kali ini adalah makan malam tercanggung dalam hidup Juliet. Bagaimana tidak. Rencana menginap mereka telah berubah 180°.
Selain itu, Juliet tidak bisa lagi bersikap seperti biasa setelah apa yang dilakukan Romeo padanya. Lebih tepatnya setelah apa yang mereka lakukan.
Kesepakatan diawal untuk tidak terlibat satu sama lain, dan tidak akan memiliki perasaan antara satu sama lain, semuanya telah berubah.
Romeo telah jatuh hati. Dan sekarang pria itu sudah terjebak dalam permainan yang telah ia rancang sendiri.
Jika bicara tentang apa yang dirasakan, tentu saja Juliet merasa senang. Ini sama hal nya dengan ia memenangkan Game dari taruhan sebelumnya. Dan sepertinya Juliet juga memiliki perasaan yang sama dengan Romeo.
Hanya saja, ia masih belum bisa percaya pada Romeo sepenuhnya. Terlebih lagi, karena kontrak yang sudah mereka tandatangani.
Juliet tidak ingin terlalu terlena dengan pernyataan yang mungkin saja hanya berdasarkan perasaan sesaat.
Bisa saja semua itu karena kedekatan mereka yang tiba-tiba dan juga sedikit getaran membuat mereka sedikit kehilangan akal.
Semua ini masih terlalu dangkal untuk dikatakan sebagai seseorang yang jatuh hati.
Jika mempercayai semuanya begitu saja dan justru mendapati kenyataan yang jauh berbeda, bukankah hal itu hanya akan menyakiti diri sendiri? karena itulah Juliet sudah menetapkan bahwa semua ini hanyalah kesalahan saja.
Romeo bisa melakukan apa saja yang ia inginkan. Dan jika nanti skenario itu benar-benar terjadi, ada baiknya jika Juliet sudah mempersiapkan hatinya terlebih dahulu dengan membangun benteng pertahanan hatinya.
Tidak terlalu berharap adalah hal terbaik yang bisa Juliet lakukan.
...❄️...
"Apa makanannya gak enak?" Romeo melirik pada Juliet. Romeo sadar jika sejak tadi Juliet lebih diam dari biasanya.
Ini adalah reaksi yang wajar. Dan Romeo bisa memaklumi itu. Lagi pula ini memang salah dirinya yang tiba-tiba bersikap impulsif pada Juliet.
Kau benar-benar payah bung! Bisa-bisanya kau melakukan hal seperti ini tanpa mempertimbangkan masalah apa yang akan segera kau hadapi. Romeo menggerutu dalam hati.
Diseberang meja sana, Juliet diam-diam mencuri pandang kearah Romeo. Gadis itu bergerak gelisah seraya menaikan sedikit pandangan nya. "Makanannya enak." sahut Juliet dengan wajah memerah.
Melihat reaksi Juliet, Romeo hanya mengangguk samar. Ia juga merasa canggung dengan suasana yang meliputi mereka saat ini.
Memikirkan tindakannya yang sedikit kekanakan membuat Romeo merasa konyol sekaligus tidak bertanggung jawab.
Bisa saja kan Juliet berpikir bahwa ia telah mempermainkan gadis itu. Padahal kenyataannya ia hanya ingin menunjukkan perasaan dengan tulus.
Tak ingin membiarkan situasi tersebut bertahan lama, Romeo pun meletakan sendok nya kemudian melipat kedua tangannya diatas meja. Ia tersenyum sambil menatap pada Juliet.
''Mau melihat bintang?" Romeo menunggu reaksi Juliet. "Tadi aku pergi keluar dan langitnya terlihat cerah."
Sebisa mungkin Romeo ingin bersikap seperti biasa, agar atmosfir kecanggungan diantara mereka cepat berlalu.
"Hem. Baiklah."
Yes...
...❄️...
Setelah membereskan sisa makan malam, Romeo langsung beralih ke balkon yang ada di lantai dua. Di sana ia mulai menyiapkan beberapa perlengkapan. Mulai dari teleskop, dua cangkir coklat hangat yang wangi dan masih mengepulkan asap, sampai dengan selimut yang cukup tebal.
Berjaga-jaga jika cuaca malam itu berubah seperti biasanya. Romeo tidak ingin rencananya gagal hanya karena perubahan cuaca yang tiba-tiba saja ekstrim.
Dari depan kamarnya, Juliet bisa melihat semua kegiatan yang sedang Romeo lakukan. Juliet tersenyum.
Ia tahu bahwa Romeo pun pasti merasa canggung sama seperti yang ia rasakan, hanya saja pria itu tidak menunjukkan nya, atau bisa jadi karena Romeo lah ahlinya.
Setelah mengatur nafasnya secara berulang, Juliet pun datang ke balkon untuk menghampiri Romeo. Ia bersender di depan pintu dan bersikap setenang mungkin.
"Kamu bisa melihatnya?" Juliet bertanya sambil menunjuk kearah teleskop. Romeo tersenyum, "Mau mencoba ini? bintang nya terlihat cantik."
Jika ada hal termanis diantara mereka saat ini, itu pastilah senyum Romeo. Entah kenapa senyum pria itu terlihat lebih lembut dan lebih mendebarkan hati Juliet.
Gadis itu berjalan mendekat, kemudian mengambil posisi tepat dibelakang teleskop. Ia mengarahkan benda itu ke langit untuk membuktikan perkataan Romeo sebelumnya.
"Kamu melihatnya? cantik bukan?" Juliet terpukau. Baru kali ini ia melihat hamparan bintang yang begitu indah.
"Ini benar-benar cantik." Romeo bisa melihat bahwa Juliet mulai memiliki ketertarikan pada benda tersebut.
Dan saat keduanya saling memperhatikan pada fokus masing-masing, tiba-tiba saja angin berhembus dengan cukup kencang. Tubuh Juliet yang hanya dilapisi baju tidur mulai bergidik.
Menyadari gesture tubuh Juliet, dengan sigap Romeo mengambil selimut yang ada diatas kursi. Di bukanya selimut itu lalu disampirkan diatas bahunya sendiri kemudian ia memeluk Juliet.
Melihat Juliet yang mematung, membuat Romeo tersenyum, ia semakin mengeratkan pelukannya lalu meletakkan dagu di bahu Juliet.
Dada Juliet semakin berdebar, karena nafas pria itu terasa hangat saat melewati pipinya. "Aku senang bisa bersama mu seperti ini Juliet. Maaf jika sebelumnya aku membuat mu bingung." kata Romeo. Pria itu mencoba untuk menjelaskan dengan cara sederhana.
"Tapi tenang saja. Aku akan berusaha lebih baik lagi untuk membuat mu yakin dengan perasaan ku, kalau aku benar-benar menyukaimu."
Juliet diam. Dalam pikirannya sudah terlalu banyak pertanyaan. Dan ia tidak bisa menjawab semua itu sendiri.
"Bagaimana dengan teman-teman mu? bukankah sebelumnya kita sudah mengatakan jika kita adalah sepupu?"
Kebohongan yang telah mereka mulai sebelumnya, tidak mungkin mereka abaikan begitu saja, bukan?
"Tentang itu, biar aku saja yang mengurus nya. Lagi pula James sudah mengetahui kebenaran antara kita. Hanya saja yang tidak diketahui adalah aku yang benar-benar jatuh hati padamu." aku Romeo.
"Bagaimana?"
"Apanya yang bagaimana?"
"Apa kau mengijinkan aku untuk menyukai mu?"
"Bagaimana dengan kontrak kita? bukankah sebelumnya.."
"Aku tahu. Tapi sebelum membatalkan kontrak itu, aku akan membuat mu yakin terlebih dahulu dengan perasaan ku. Setelah nya, aku akan menyerahkan keputusan pada mu." Romeo menghela nafas kemudian mencium pelan bahu Juliet.
"Kenapa kamu menyukai ku?" Juliet benar-benar ingin tahu tentang ini. Ia masih ragu jika belum mendapatkan jawabannya dari Romeo.
Romeo diam sesaat. Pandangan mereka sama-sama sedang teralihkan. "Kenapa ya? aku tidak tahu. Aku tidak punya alasan untuk itu. Hanya suka saja."
Juliet mengernyit. Tatapan ragu kembali ia layangkan pada Romeo. "Apa menyukai seseorang harus memiliki alasan? karena jika ya, maka aku perlu memikirkan hal tersebut." Romeo tertawa kecil.
"Apa karena kamu begitu menyukaiku, sehingga kamu tidak tahu alasan yang tepat dari semua itu."
"Mungkin juga."
Juliet tertawa. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa senang dihatinya. "Kamu benar-benar pembohong. Peran ini tidak cocok untuk mu." kata Juliet lagi.
Kali ini giliran Romeo yang mengerutkan dahi. "Apa aku terlihat seperti seseorang yang sedang berbohong? aku benar-benar menyukaimu. Bahkan sekarang rasanya mau gila."
Juliet diam. Ia tidak tahu harus berkomentar apa lagi. Kini ia tahu bagaimana perasaan pria itu padanya, dan sisanya, hanya perasaan nya saja yang perlu dipastikan..
"Mau berciuman?"
Jika kau tidak tahu harus melakukan apa, mungkin saja dengan melakukan sesuatu kau yang bisa membuktikan hal tersebut.
Juliet memutar badannya untuk menghadap pada Romeo, tangannya memegang pinggiran baju Romeo dan menariknya hingga punggungnya menyentuh besi pembatas.
Melihat keberanian Juliet, membuat dada Romeo berdebar. Dari lubuk hatinya yang terdalam, ia yakin bahwa ia benar-benar telah jatuh hati pada gadis itu..
Ini adalah ciuman ketiga mereka. Juliet yang ada di depannya saat ini adalah Juliet yang telah menggenggam erat hatinya.
Dengan lembut Romeo menyatukan bibir mereka. Secara perlahan menyesapnya dan merasakan setiap rasa yang akan mengirimkan sinyal-sinyal berbahaya dalam dirinya.
Saat lidah Romeo masuk lebih dalam untuk menjelajah dan mengeksplorasi dirinya, Juliet mengerang seraya meletakkan tangan dibelakang kepala Romeo, menarik pria itu untuk lebih dekat lagi pada dirinya.
Menyentuh nya dan memeluknya erat. Juliet ingin merasakan Romeo lebih lagi, dan semua keinginan itu membuat Romeo hampir meledak.
Romeo menarik diri untuk memberikan waktu bagi mereka bisa bernafas, wajah Juliet bersemu sementara tubuh nya masih bergejolak.
"Jujur saja aku tidak akan puas hanya dengan begini." Romeo kembali mencium bibir basah Juliet. "Tapi aku tidak bisa melakukan yang lebih. Aku akan menunggu mu sampai kau benar-benar siap." bisik Romeo.
Ciuman yang lama dan bergairah menunjukkan betapa Romeo menginginkan Juliet. Hanya saja ia tidak bisa menuntaskan keinginannya sekarang.
Ia masih memiliki beberapa tugas sebelum Juliet benar-benar membuka hatinya. Romeo akan menunggu sampai Juliet juga merasakan apa yang ia rasakan.
"Aku benar-benar bisa gila jika seperti ini." Romeo menghujani wajah Juliet dengan ciuman. Sekali-kali ia juga menggigit gemas bahu Juliet yang sedikit terbuka.
"Kamu pikir aku tidak?" Juliet tertawa. Mereka benar-benar seperti remaja yang sedang dimabuk asmara.
Romeo membalik tubuh Juliet kemudian kembali memeluknya erat. "Hari ini adalah hari resmi dimana kita akan memulai hubungan yang sebenarnya. Aku benar-benar bahagia."
"Aku juga."
...❄️...
...❄️...
...❄️...