
...❄️...
...❄️...
...❄️...
"Apa yang dilakukan wanita itu di sini?" Jessie menatap sinis pada Rebecca yang telah melenggang masuk ke ruang perkumpulan mereka.
Tempat yang seharusnya hanya bisa dimasuki oleh orang-orang tertentu yang sudah mendapatkan persetujuan dari James ataupun Romeo.
"Hai James. Gabe, semuanya." Sapa Rebecca mengabaikan tatapan sinis yang mengarah pada dirinya..
"Becca, apa yang kau lakukan di sini?" James jelas terkejut saat melihat siapa Gadis yang Jessie maksudkan.
Sambil tersenyum canggung James menghampiri Becca yang berdiri tidak jauh dari anak-anak lain. Gadis itu benar-benar datang tanpa pemberitahuan.
Tak langsung menjawab pertanyaan James, Becca diam sejenak untuk memperhatikan sekelilingnya dan mendapati bahwa tempat itu tidak terlalu banyak berubah. Kecuali tambahan lemari minuman dingin dan beberapa video game terbaru. Selain itu semuanya masih sama seperti dulu.
"Aku hanya mampir sebentar James. Apa Romeo sudah datang?" Becca tersenyum ramah. Wanita itu bersikap santai seolah-olah semuanya memang masih sama seperti dulu. Saat ia masih berstatus sebagai kekasih Romeo.
"Sepertinya,-"
"Yo.. aku kira kau datang karena merindukan aku." Gabe menyela diantara James. Pria itu berjalan dengan cepat untuk memberikan pelukan selamat datang pada Becca.
"Kebiasaan mu memang tak pernah berubah. Aku sedikit kecewa karena kau selalu menganggap aku tidak ada." Protes Gabe dengan wajah sedih yang dibuat-buat, kemudian pria berisi itu tersenyum.
Yah, hanya seperti inilah hubungan diantara mereka. Tidak ada yang terlalu spesial. Hanya saling menyapa.
"Hei, apa aku begitu? aku juga ingin bertemu dengan mu, Gabe. Lama tidak berjumpa." Becca mengarahkan pandangannya pada Gabe dari atas ke bawah. "Kau tidak banyak berubah, Kecuali bentuk perut mu." katanya, tersenyum.
"Well, inilah yang terjadi saat para pria benar-benar menikmati hidup sayang." Gabe menyunggingkan senyum penuh karisma. Pria itu tampan dengan pesonanya sendiri. "Yang perlu dikhawatirkan kaum kami hanyalah isi dompet, selebihnya bisa dibicarakan."
"Yooo... itu benar kawan!" seru para pemuda lainnya.
"Duduk lah.. mungkin sebentar lagi Romeo akan datang." kata James bersikap ramah pada Becca. Wanita itu mengangguk kemudian memilih untuk duduk di sofa santai milik Romeo.
"Hei, kau tidak boleh duduk di sana." peringat Jessie sambil menunjukkan wajah tak sukanya.
Semua orang yang ada di ruangan itu tahu jika Romeo tak suka berbagi tempat dengan orang lain, termasuk James. Karena itulah mereka memiliki sofa singgel masing-masing.
Tapi lihatlah, sekarang tidak ada yang berani memperingati wanita asing ini. Jessie semakin kesal.
"Ssstt.. tidak apa Jessie." bisik James menghalangi Jessie untuk berdebat dengan Becca.
"Siapa dia, kekasihmu?" Becca bertanya pada James sambil mengarahkan jari telunjuk nya kearah Jessie.
Dasar gadis aneh! Bersikap manja seolah-olah dia adalah seorang tuan putri yang harus dihormati dan juga dipatuhi oleh semua orang. Yang benar saja.
"Aku tidak tahu kalau kau tertarik padaku." Jessie memicingkan matanya dengan senyuman mengejek. "Asal kau tau saja, aku memang cukup sering dibicarakan. Jadi wajar jika kau juga ingin tahu." nada sombong Jessi saat menjawab Becca membuat James merasa gemas sendiri.
Lain Jessie, lain pula Becca. Wanita itu tak terpancing dengan sindiran Jessie pada dirinya. Justru sebaliknya, Becca hanya membalas dengan tatapan mengabaikan.
"Kau terlalu percaya diri." katanya membuang muka. "Aku bertanya bukan karena ingin tahu. Hanya saja aku tahu bahwa gadis seperti dirimu bukanlah tipe dari orang-orang yang ada di ruangan ini." cibirnya.
"Karena itulah aku bertanya. Karena jika kau bukan salah satu dari kekasih pria-pria ini, jadi, kenapa kau ada di sini." Becca menampilkan senyum memprovokasi.
Atmosfir di ruangan itu tiba-tiba saja terasa aneh. Semacam ada dua kutub magnet yang saling bertolakbelakang.
"Wow.. " Gabe merinding melihat persaudaraan tak kasat mata dari kedua gadis itu.
"Apa tidak masalah kalau kita hanya menonton saja Gabe?" tanya pemuda yang bernama Riley.
Ssssttt... "Ini pertengkaran para gadis. Kita dilarang untuk ikut campur." bisik Gabe mulai serius memperhatikan.
"Kau lihat, bahkan James tidak bisa berbuat apa-apa." bisik nya lagi.
Pemandangan ini terlihat seru bagi Gabe dan juga teman-temannya. Jessie yang adalah bintang kampus melawan Becca yang dulunya juga merupakan salah satu bintang kampus dengan bakat melukis yang luar biasa.
Persamaan diantara keduanya juga jelas, sama-sama memiliki lidah yang tajam..
"Dan kau sendiri, kau pikir siapa dirimu? Jangan lupa bahwa kau juga merupakan orang asing di sini. Aku tidak tahu jika ruang khusus seperti ini bisa dimasuki hama seperti dirimu." lidah Jessie tak kalah tajam dari Becca.
Gadis itu juga membuang wajahnya, bersikap angkuh. Cih.. baru kali ini Jessie bertemu wanita seperti Becca.
Tak terima dengan cibiran Jessie, kemarahan Becca juga mulai terpancing.
"Tidak tahu diri. Bisa kalian usir saja wanita itu dari sini James. Menyebalkan."
"Sialan, berani-beraninya kau mengatakan itu padaku! Memangnya kau pikir siapa dirimu?" Jessie tak terima dengan perkataan Becca yang mulai merendahkan dirinya.
"Kau lihat sendiri bukan, wanita yang tidak jelas asal usulnya ini yang lebih dulu mengacaukan semuanya." kata Jessie menolak keberadaan Becca.
"Memangnya apa yang aku lakukan? kau saja yang terlalu percaya diri. Hello.. sadarlah. Kau pikir kau seterkenal itu? Cih.
"Becca, please. Jangan begitu, Jessie adalah teman ku, sama seperti dirimu. Oke?" bela James. "Well, baiklah. Maaf kalau itu membuat mu tersinggung James, aku tidak bermaksud begitu." balas Becca acuh.
"Hanya saja, aku heran kenapa kau bisa berteman dengan gadis seperti ini. Benar-benar dibawah standar."
Mendengar hal itu Jessie semakin geram, tapi sebelum ia membalas, James lebih dulu berdiri di depan Jessie untuk menghalanginya.
"Jessie, please. Ku mohon jangan begini. Hem..?" pinta James.
Setelah percekcokan kecil itu, baik Jessie maupun Becca sama-sama terdiam. Keduanya duduk ditempat masing-masing, dan tontonan pun berakhir.
"Aku rasa begini lebih baik." Celetuk Gabe yang kembali pada Video gamenya. Tak ada untungnya bicara pada manusia yang menyebalkan. Pikir keduanya lagi.
...❄️...
Selang waktu berganti, pintu di ruangan itu kembali terbuka, dan muncullah sosok yang membuat pertikaian pada waktu sebelumnya..
"Romeo..?" Jessie dan Becca sama-sama bersuara.
Dibelakang Romeo, langkah kaki Juliet juga tiba-tiba ikut terhenti, "Kenapa?" tanya Juliet. Saat itu semua mata langsung tertuju pada sumbernya suara.
"Matilah." Gumam James yang menyadari situasinya.
"Hai, Juliet, kau datang bersama Romeo?" Jessie menghampiri dengan cepat, bersikap seperti keduanya saling mengenal dengan cukup akrab. Sedangkan Juliet sendiri menjadi tak nyaman saat menyadari kehadiran Becca di sana.
"Ada apa ini?" Romeo mengernyitkan dahinya tak mengerti mengapa Becca tiba-tiba saja ada di sana.
"Ayo masuklah." Jessie menarik tangan Juliet hingga melewati Romeo. "Ayo, jangan malu-malu." saat itu wajah Becca jelas sekali mempertanyakan keberadaan Juliet, dan mengapa keduanya datang bersama.
Romeo yang juga ikut canggung dengan situasi ditempat itu tak hanya bisa menatap Juliet dengan wajah kaku.
"Aku sudah melarangnya untuk duduk di sana, tapi wanita itu bersikeras." celetuk Jessie dengan keberadaan Becca.
"Oh ayolah Jess," sela James. Melihat tatapan James Jessie pun akhirnya diam saja.
"Kenapa,-
"Aku datang untuk melihat mu." Becca tersenyum sambil menyentuh tangan Romeo. "Papa mengundang mu untuk makan malam, dan sepertinya sekarang papa akan merestui hubungan kita." katanya dengan senang.
"Apa?" Romeo menarik diri menjauhi Becca, berhati-hati agar Juliet tidak salah faham lagi dengan hubungan diantara mereka.
"Iya, papa,-
"Maaf. Bukannya aku tidak mengerti Becca." sela Romeo. Wanita itu masih menunjukkan senyum di wajahnya. "Tapi sepertinya kau salah faham." sekali lagi Romeo mencuri pandang ke arah Juliet.
Wanita itu bersikap seolah tak peduli, tapi Romeo tahu kebenarannya. Dan ia tak ingin mengulang kesalahan yang sama.
"Apa maksud,-
"Maaf, tapi aku sudah menikah." Romeo menunjukkan cincin yang baru pertama kali ia kenakan saat pergi ke kampus."
Saat itu juga semua yang ada di ruangan itu menjadi tercengang..
"Jangan bercanda Romeo. Aku tahu kau berbohong padaku." Becca menyela. "Aku serius, sekarang aku tidak akan meninggalkan mu lagi, aku ingin kita kembali seperti dulu, karena aku,-
"Aku sudah menikah Becca, dan aku tidak bercanda." Tegas Romeo lagi. "Kau bisa memastikan kebenarannya pada James." Romeo melewati Becca untuk menghampiri Juliet.
Deg..
Mata Juliet membulat dengan sempurna, saat menyadari bahwa saat ini Romeo sudah berdiri di depannya..
"Ayo. Sebaiknya kita pergi." Romeo menarik tangan Juliet dan berlalu begitu saja.
"Romeo!" Wanita itu berteriak tak terima. "Apa-apaan ini. Dasar sialan." marah Becca yang juga langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Kini semua tatapan penuh tanda tanya mengarah pada James..
"Aku bisa jelaskan."
...❄️...
...❄️...
...❄️...